DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Manusia Kalkulator


__ADS_3

Aku menemui mas Damar di cafe X sendirian. Tapi sebelum sampai, aku menelpon Sinta terlebih dahulu. Karena takut ada sesuatu hal yang tak aku inginkan, Sinta aku minta untuk menyusul ku belakangan.


Aku masuk kedalam cafe yang aku maksud kemarin, karena aku lah yang merekomendasikan cafe ini untuk bertemu dengan mas Damar.


Aku edarkan pandangan sampai ke sudut-sudut namun tak nampak batang hidungnya mas Damar.


Di parkiran pun, aku tak melihat mobil nya atau mobil milik Bianca.


Oh ya, aku lupa. Sekarang mereka sudah tak ada mobil. Karena mobil Bianca sudah di sita oleh pak Handoko.


Aku ambil handphone di dalam tas, berniat untuk menghubungi mas Damar untuk menanyakan posisinya sekarang ada dimana.


Panggilan pun berdering, tapi masih belum ada jawaban.


Aku duduk di kursi yang kosong, dan memanggil waiters. Karena tenggorokan terasa kering, ingin sekali minum minuman yang segar.


Minuman sudah ku pesan, aku kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru cafe. Namun tetap saja hasilnya nihil. Mas Damar tak ada disini.


Beberapa menit, minuman yang aku pesan pun datang. Sedangkan mas Damar masih belum datang.


Aku sudah malas untuk menghubungi nya lagi, seakan-akan aku saja yang membutuhkan nya. Harga diri donk!.


Padahal sama sekali aku sangat malas untuk menemuinya lagi setelah kejadian kemarin dirumah bapak.


"Akhirnya kamu datang juga, Sarah!," Suara mas Damar di belakang.


"Mas Damar!," aku pun menoleh kebelakang untuk melihat kebenaran suara yang aku dengar. Benar saja, ternyata mas Damar baru saja datang.


"Kenapa kamu kok kaget begitu, Sarah?," tanya nya sambil berjalan menuju kursi yang kosong di depanku. Dan mas Damar duduk berhadapan dengan ku.


"Aku tau dari tatapan mu yang terkejut itu, kalau masih ada namaku di hati mu." lanjut nya.


"Ayo lah, aku sudah memberi mu kesempatan untuk rujuk dengan ku. Jadi kamu harus benar-benar menggunakan kesempatan ini dengan baik." ucapnya lagi.


"Jangan sampai kesempatan itu hangus dan kamu menyesal di kemudian hari, Sarah!." Ia berbicara tanpa jeda, tak memberikan ku waktu untuk menjawab semua perkataan nya.


"Bukankah aku sudah katakan berkali-kali kepada mu, kalau aku sama sekali tak mau kembali rujuk dengan mu, mas Damar!," ucapku tegas. Karena bicara dengan orang seperti mas Damar ini perlu di tegaskan dan langsung pada intinya.


"Jadi aku harap ini terakhir kali kita membahas ini. Dan jawaban nya tetap, aku tidak mau rujuk dengan kamu!! Dan kalau bisa ini terakhir kali juga kamu menemui aku, mas!," ku pertegas lagi ucapan ku. Agar mas Damar tak mengulang-ulang masalah ini.


"Kamu memang wanita sombong, sok kaya!!, Baru saja mempunyai usaha toko roti seperti itu sudah belagu!! Aku pastikan kamu akan menyesal dengan keputusan mu ini." ucapnya sambil menatap ku sinis.


"Kamu tak bisa melarang ku bertemu dengan mu. Karena sampai kapan pun kamu dan aku pasti akan dipertemukan. Karena diantara kita ada Kean yang juga membutuhkan kasih sayang ku." lanjut nya dengan senyuman yang tak dapat ku artikan. Karena tatapan mata mas Damar sangat membuat ku tidak nyaman.

__ADS_1


"Kalau di lihat-lihat, sekarang kamu makin cantik Sarah." ucapan nya semakin membuat aku tak nyaman.


"Kenapa kamu dulu tak seperti ini?, kalau seandainya kamu dulu seperti ini. Mungkin khilaf itu tak akan pernah terjadi." ucapnya dengan terus menatap ku. Dan dengan sengaja aku alihkan pandangan ku untuk tak menatap mata nya.


Karena ada rasa geli dan makin ilfeel dengan sikap mas Damar.


"Aku sangat berharap sekali kamu mau rujuk kembali dengan ku. Aku janji kamu akan ku jadikan ratu di rumah ku."


"Kemana saja kamu selama ini, mas?. Kenapa baru kali kamu menyadari keberadaan ku? kamu bilang dulu yang kamu lakukan itu sebuah kekhilafan? Kalau menurut ku sih itu bukan khilaf. Tapi memang itu hobi mu, mas!!!,"


"Berapa kali harus aku katakan pada mu, kalau sebenarnya aku itu khilaf!!!, aku melakukan itu juga tak sepenuhnya salah ku. Kamu juga ikut andil dengan kekhilafan ku yang dulu. Karena kamu sedikit pun tak bisa berdandan waktu itu, membuat ku malas memandang mu!!."


"Bukan karena aku yang tak bisa berdandan, mas!! Asal kamu tau, baik buruk dan cantik jelek nya seorang istri itu ada ditangan suami. Jadi kalau suami mengijinkan dan mencukupi semua kebutuhan istri untuk merawat diri, istri pun akan kelihatan cantik." ucapku dengan sangat kesal. Seenaknya saja dia menyalahkan aku, karena tak bisa merawat diri.


"Jangan kan uang untuk merawat diri, uang untuk belanja yang dimakan setiap hari untuk keluarga nya pun jarang di beri. Bukan jarang, tapi nyaris tak pernah!!!," lanjut ku dengan suara pelan tapi penuh penekanan.


"Kamu jangan memfitnah ku tak memberi nafkah ya, Sarah!! Sebagian gaji ku sudah aku berikan pada mama, bukan hanya sebagian. Kadang juga hampir semua gaji ku sudah aku berikan pada mama untuk kebutuhan makan sekeluarga!!, jadi jangan seenaknya kamu ngomong kalau aku tak pernah memberi mu uang!!!," kali ini mas Damar sangat emosi, bisa dilihat dari cara ngomong dan tatapan matanya yang melotot padaku.


"Heh!!," decak ku.


"Aku tak pernah memfitnah mu, mas! Dari ucapan mu itu kan sudah jelas kalau kamu duku sama sekali tak pernah menafkahi ku. Kamu hanya memberi uang pada mamamu saja, bukan padaku yang waktu itu masih berstatus menjadi istrimu. Jadi pertanyaan nya, saat itu yang menjadi istri mu itu aku atau mama mu, mas?!!" aku tak kalah kesal dengan ucapan mas Damar. Dia ini pura-pura bod*h apa memang beneran bod*h. Sehingga tak bisa membedakan mana nafkah untuk istri dan uang untuk orang tua nya.


Mas Damar tambah emosi mendengar ucapan ku, ia berdiri dan mengangkat tangan kanannya. Aku yang tau maksudnya dan tujuan mas Damar, dengan sigap menangkis tangan nya yang hampir saja mendarat ke pipi kiri ku.


"Sekali kamu lakukan kekerasan padaku, aku tak segan menyeret mu kekantor polisi!!," ancam ku.


"Kenapa dulu aku memberikan semua uang kebutuhan rumah ke mama, itu karena kamu tak bisa menghandle keuangan. Uang yang kamu pegang habis terus. Makanya uang itu kuberikan pada mama, karena mama lebih berpengalaman dari mu." ucapnya dengan suara lembut.


"Terserah kamu mas, toh sekarang aku dan kamu sudah tidak ada hubungan apapun. Jadi menurut ku tak usah kita membahas masalalu, karena itu akan semakin membuat ku sakit hati padamu. Bisa bercerai dengan mu saja aku sangat bahagia." ucapku sambil menghela nafas panjang setelah akhir kalimat.


"Kalau begitu, aku pulang duluan. Aku rasa sudah tidak ada lagi yang dibahas antara kita. Untuk masalah Kean kamu bisa temuin dia, tapi jangan pernah membawanya. Kalau kamu mau bertemu Kean, kamu bisa menghubungi ku. Aku akan menyuruh paman Udin mengantarkan Kean untuk bertemu dengan mu. Dengan cara seperti ini, aku dan kamu tak perlu bertemu lagi."


Aku tak boleh egois, aku tak mau karena keegoisan ku Kean tak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Dengan aku mengijinkan mas Damar bertemu dengan Kean, agar Kean bisa mendapatkan hak nya mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya. Dan mas Damar dapat memenuhi kewajiban nya, memberi kasih sayang pada anak kandungnya.


"Jadi tak perlu rujuk, agar kmu bisa memenuhi tanggung jawab mu pada Kean." lanjut ku.


Aku pun berdiri dengan menaruh uang seratus ribu diatas meja. Dan setelah membetulkan tali tas yang mengait di pundakku, aku melangkah untuk keluar dari cafe ini.


"Tunggu...!!,"


Mas Damar menghentikan langkah ku,


Dan aku pun menghentikan langkah ku, dan menatap kembali mas Damar yang masih duduk ditempat nya.

__ADS_1


"Tak semudah itu kamu lepas dariku, Sarah!!," ucapan mas Damar kali ini sangat menakutkan. Ia berkata dengan wajahnya tertunduk tanpa melihat ku.


"Kenapa aku jadi takut seperti ini?," ucapku dalam hati.


"Sekarang duduklah kembali, kita selesaikan semua nya!!," Dia masih tak menatap ku. Dan aku semakin takut, takut ia nekat berbuat sesuatu padaku.


Dengan menenangkan hati, aku pun kembali duduk di tempat duduk ku. Aku mencoba bersikap tenang dan santai walau hati ini ada rasa cemas dan takut.


Karena kalau aku menunjuk rasa takutku, aku yakin mas Damar akan lebih mudah menekan ku.


"Maksud mu belum selesai, mas?!," tanyaku. Karena aku menganggap semua urusan ku sudah selesai saat ketukan palu hakim menyatakan aku sah bercerai dengan nya.


Kalau urusan nya dengan Kean, itu yang tak akan ada selesainya. Sampai mati pun, ia akan terlibat dengan urusan Kean anaknya.


"Kalau kamu memang tak mau rujuk dengan ku, karena takut dengan kedua orang tua mu. Aku terima keputusan mu. Tapi semua ada syaratnya." ucapnya. Kini i berbicara dengan menatap ku.


"Syarat?, maksud mu, mas?," jujur aku tak mengerti dengan apa yang mas Damar katakan tentang syarat.


Dan lagi ia mengira bahwa aku tak mau rujuk karena desakan orang tua ku. Padahal memang aku tak mau rujuk dari hati ku sendiri yang sedalam-dalamnya.


"Iya, kamu akan aku lepas. Asal kamu memenuhi syarat ku."


"Syarat apa, mas?," ada rasa Ingin tau, apa yang akan diminta oleh mas Damar padaku. Jika aku sanggup aku akan melakukan, Agar aku tak di teror setiap hari dengan pesan singkat ataupun telepon. Karena itu membuat ku sungguh tidak nyaman.


"Kamu harus mengganti semua biaya hidupmu saat bersama ku dulu." ucapnya dengan mengangkat wajah dan menatap ku.


"Hah?!,"


Benar berarti apa yang dikatakan Lidya kemarin padaku. Mereka memang keluarga aneh, bisa-bisanya nafkah yang diberi dulu sekarang diambil lagi.


Padahal dulu ia tak sepenuhnya menafkahi ku, karena akhir-akhir aku mau pisah dengan nya. Aku sudah mempunyai penghasilan sendiri dengan menjual makanan secara online.


Bukan aku yang dinafkahi, yang ada aku yang tekor untuk menghidupi nya dan semua keluarganya.


"Kamu meminta ganti rugi nafkah yang telah kamu berikan padaku, mas? Nafkah yang mana yang kamu maksud? Bukankah uang yang kamu beri dulu itu kembali kepadamu dan keluarga mu?! Seharusnya aku lah yang pantas meminta ganti rugi, Karena uang hasil aku jualan makanan secara online ikut kamu dan keluarga makan."


"Tapi aku tak sejahat itu, untuk meminta ganti rugi padamu. Karena aku berfikir dulu kita hidup bersama jadi apa yang aku punya itu juga punya mu. Tapi sekarang aku baru menyadari, bahwa pola pikir ku itu salah. Seharusnya untuk menghadapi kamu dan keluarga yang mempunyai otak kalkulator, aku harus mengikuti cara berpikir mu yang perhitungan itu!," Lanjut ku.


Aku heran, kok ada lelaki yang mempunyai otak kalkulator seperti mas Damar.


"Aku nggak mau tau!!! kamu harus mengganti semua uang ku yang telah aku berikan dulu!!!," bentak mas Damar dengan suara keras, sehingga banyak pasang mata yang menatap kami berdua. Seperti nya ia memang lelaki yang hilang akal, sehingga tak malu meminta semua itu di depan umum.


"Sudah seperti tontonan gratis saja", ucapku dalam hati. Malu kini menyelimuti diriku, karena kelakuan mas Damar.

__ADS_1


"Baiklah, hitung semua uang yang kamu keluarkan untuk menafkahi ku!, aku akan mengembalikan semuanya kontan. Tapi dengan satu syarat!!," kini aku yang memberi persyaratan pada mas Damar.


Dia pikir, hanya dia yang memiliki otak kalkulator? Aku juga bisa. Dia yang memulai, maka aku juga mengikuti cara pemainan nya.


__ADS_2