DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Tujuan Busuk Linda POV Linda


__ADS_3

"Kean, cucu nya nenek. Sini nenek gendong," ucapku pada Kean anak Damar dan Sarah.


Bukan nya Kean mau, tapi ia malah menangis histeris. Kenapa juga ini bayi?


Nggak di apa-apain kok malah nangis? Dasar lebay.


"Biarkan Kean aku gendong, Sarah!," ucapku pada Sarah.


Namun Sarah tak menjawab ucapan ku sama sekali, malah ia tersenyum sinis kepada ku. Dasar perempuan udik!!


Dan Sarah sepertinya sedang berusaha mengambil kunci mobil yang saat ini di pegang oleh Damar.


Lalu Sarah berhasil mengambil nya, karena Kean anak nya nangis histeris. Damar tak tega melihatnya. Dan akhirnya diberikan lah kunci mobil itu.


Sarah pun berlalu dari hadapan kami bertiga. Kami bertiga akhirnya masuk rumah.


Dan betapa kagetnya aku, melihat Lidya pingsan di ruang tamu. Sepertinya ia sudah mandi dan berganti pakaian.


Wajahnya sangat pucat, dan Damar langsung menggendong Lidya untuk dibawa ke kamarnya.


Telapak tangan dan kaki nya ku gosok dengan minyak kayu putih, berharap Lidya segera sadar. Namun ia tak kunjung sadarkan diri.


Damar pun membawa nya kerumah sakit, untung saja ada mobil Bianca.


Kalau tidak, mungkin kita masih bingung untuk memesan taksi online. Pasti akan lama untuk menunggu kedatangannya.


Sampai di rumah sakit, Damar menggendong Lidya sendiri. Ia tak sabar harus menunggu suster, karena lama sekali.


Sampai di depan IGD, kami bertiga dilarang masuk oleh suster yang jaga.


Beberapa menit kemudian, dokter yang akan menangani Lidya pun masuk ke dalam IGD.


Kami bertiga menunggu sambil duduk di depan IGD. Damar terlihat sangat cemas.


Lalu Damar menanyakan perihal aku dan Lidya yang pergi tak pulang selama dua hari.


Aku saat bingung untuk menjawab nya, tapi aku harus tetap bercerita tentang apa yang aku lakukan dengan Lidya dirumah nenek Peki.


"Jadi, mama menggugurkan kandungan Lidya di seorang dukun?!!, Ya ampun ma, kan Damar sudah bilang, jangan bertindak gegabah seperti ini!!, Gini kan akibatnya."


Damar terlihat sangat frustasi mendengar pengakuan ku. Aku pun tak berani membantah nya dengan memberi alasan. Karena kalau beralasan ia akan semakin marah.


Lagian kenapa lagi dengan Lidya? bukannya kemarin juga baik-baik saja?.


Setelah dokter itu masuk, tak lama kemudian seorang suster keluar dan memanggil kami selaku keluarga dari Lidya.


Dan suster itu mengatakan bahwa Lidya telah kehabisan banyak darah. Dan saat ini membutuhkan darah yang sama dengan Lidya.

__ADS_1


Karena persediaan darah yang sama dengan Lidya, saat ini sedang habis. Pihak rumah sakit juga sudah menghubungi PMI, namun disana persediaan darah yang sama dengan Lidya juga memang kosong.


Kami bertiga di minta untuk mendonorkan darah untuk keselamatan Lidya. Kalau Bianca saya pastikan golongan darah nya tidak akan sama dengan Lidya.


Sedangkan Damar? Duh aku kok takut semua bakalan terbongkar.


Semoga saja darah ku yang sama dengan Lidya, agar semua rahasia yang sudah kusimpan puluhan taun ini tak terbongkar.


Kalau sampai ini terbongkar, aku takut Damar akan mengusir.


Ah... tidak!!!!! pikiran ini mulai mengingat beberapa puluh taun yang lalu. Saat Damar masih bayi, dan ia masih menyusu.


Aku harus bisa menutupi nya rapat-rapat. Aku tak mau diusir oleh Damar.


Suster itu bertanya lagi siapa yang bersedia menjadi pendonor darah untuk Lidya.


Pertanyaan suster itu, mengagetkan ku. Dan aku tersadar dari lamunanku.


Sebelum Damar menunjuk dirinya, untuk menjadi pendonor untuk Lidya.


Aku menawarkan diri lebih dulu, dengan alasan aku sudah tua. Nyawaku akan ku pertaruhkan untuk anak-anak ku.


Awal nya Damar menolak, karena kondisi ku yang memang sudah berumur ini.


Namun tetap saja aku memaksa, dan Damar pun akhirnya mengijinkannya.


Sejujurnya aku tak pernah tau, golongan darah ku dengan Lidya sama atau tidak.


Karena kita tak pernah memeriksa kan golongan darah kita.


Setelah mengikuti serangkaian pemeriksaan, ternyata darah ku dan Lidya tidak sama.


Menurut suster yang menangani pemeriksaan darah ku ini. Biasanya anak akan mewarisi golongan darah dari bapak nya.


Deg!.


Aku cari dimana bapak nya Lidya?


Ah..bisa setres aku memikirkan ini, masalah satu sudah terselesaikan. Sekarang muncul lagi masalah baru.


Kenapa kamu selalu bikin masalah sih, lidi?? pusing mama dibuat mu!.


Akhirnya mau tak mau Damar pun di periksa, karena ia merasa saudara lelaki satu-satunya Lidya.


Padahal....


Aku nggak mungkin membuka semua nya. Dan doa ku saat ini semoga ada mukjizat agar golongan darah Damar dan golongan darah Lidya sama. Agar tak ada kecurigaan pada diri Damar.

__ADS_1


Damar pun diajak oleh suster ketempat pemeriksaan darah yang sama dengan ku.


Namun pemeriksaan itu tak membutuhkan waktu yang lama. Karena hanya berselang beberapa menit. Damar dan suster itu kembali keruang tunggu. Yang saat ini aku dan Bianca sedang duduk.


Melihat wajah kecewa Damar membuat hati ku berdetak kencang.


Takut kabar buruk yang akan di bawanya kemari.


Damar duduk disamping ku, dengan membuang nafas secara kasar. Sangat terlihat rasa kecewa yang begitu besar diwajahnya.


"Aku tidak diperbolehkan untuk mendonorkan darah ku, ma. Karena tekanan darah ku saat ini sangat rendah," ucap Damar dengan wajah lesu.


Orang-orang satu-satunya disini yang belum diperiksa adalah Bianca.


Lalu aku alihkan pandangan ku pada Bianca, dan secara bersamaan dia juga memandang ku.


"Kenapa mama melihat ku seperti itu?, jangan bilang mama menyuruh ku untuk mendonorkan darah ku untuk Lidya!,"


Sebelum aku ngomong, Bianca sudah mengerti dengan maksud tatapan ku.


Oh... sungguh menantu idaman, sudah kaya raya, cantik dan pengertian pula.


Aku menganggukkan kepala, membenarkan apa yang Bianca katakan tadi.


Tapi.....


"Maaf ma, aku nggak bisa. Tidak semudah itu aku memberikan darah ku pada orang lain!! Aku juga sangat takut dengan jarum suntik."


Ternyata Bianca menolak permintaan ku secara mentah-mentah. Dengan nada yang sangat tinggi.


"Tapi kan, kita ini akan menjadi keluarga,Bi." ucapku lagi menyakinkan Bianca, kalau setelah ia menikah dengan Damar. Dia sudah masuk keluarga ku.


"Pokok nya Bianca tidak mau ya, lagian Lidya itu orang lain bagi ku. Jadi mama jangan rayu-rayu aku untuk mendonorkan darah ku pada Lidya,"


Bianca seperti orang lain saat ini, biasa nya ia tak pernah menolak setiap permintaan ku.


Tapi kini....


Apa mungkin ia sedang cemburu karena tadi Damar bicara dengan Sarah?


Masak iya, hanya bicara seperti itu ia harus cemburu?


Aku harus mengambil hati Bianca lagi, agar segera mau dinikahi oleh Damar. Karena hanya dia lah harapan ku saat ini.


Harapan ku bisa memulihkan perekonomian keluarga ku, dan siapa tau ia akan membelikan aku mobil.


Karena semenjak aku tak punya mobil, aku malu mau berkumpul dengan teman-teman sosialita ku.

__ADS_1


Akhirnya selama tiga jam menunggu, dokter yang menangani Lidya pun keluar.


__ADS_2