
"Tapi ma, Sarah juga berhak tau karena mas Damar kan suaminya Sarah. Emang mas Damar darimana?", tanyaku dengan mengarahkan pandangan ke arah mas Damar yang ada di samping mama Linda dan Lidya.
"Punya hak apa kamu disini?!, tugasmu cuma masak dan beres-beres di rumah!!. Dan ini juga tugasmu!!." ucap mama Linda dengan kasar menyerah kan tas ransel yang berisi pakaian-pakaian kotor.
"Mas, aku butuh penjelasan pada mu. Darimana saja kamu selama seminggu tanpa kabar sedikit pun untuk aku istrimu? dan kenapa telepon ku juga tak pernah kamu angkat mas?," tanyaku pada mas Damar yang masih berdiri menatap ku.
Dia menatap ku dengan tatapan heran. Menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mungkin dia bertanya-tanya kemana perutku yang buncit.
"Kamu ini jadi istri kok cerewet banget sih mbak, yang jelas mas Damar selama seminggu itu ya kerja. Cari uang untuk menghidupi kamu yang nggak pernah ngapa-ngapain dirumah!!." Bentak Lidya.
"Seharusnya jadi istri itu, kalau lihat suami baru pulang disediakan makanan dan minuman. Suruh istirahat, bukan di cerca dengan pertanyaan-pertanyaan konyol mu itu?!!," hardik mama Linda mendorong pundak ku dengan jari telunjuk nya.
Mas Damar berlalu begitu saja mengabaikan semua pertanyaan ku. Aku mengikutinya ke kamar, ingin ku melihat ekspresi wajah nya ketika dia melihat Kean yang sedang tertidur pulas.
"Ini anak kamu, Sarah?," dengan menunjuk Kean yang masih tertidur pulas.
"Bukan anak ku aja mas, tapi juga anak mu!!!," jawabku ketus. Pertanyaan macam apa itu, kok bisa-bisanya dia bilang itu anak ku.
"I... iya maksud ku seperti itu," jawabnya dengan gugup.
"Emang kamu kemana saja mas?, sesibuk apa kamu mas, sampai tak bisa mengangkat telepon ku dan membalas pesan-pesan ku?," ku cerca mas Damar dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Aku berjuang melahirkan anak kita sendiri, tak ada suami dan sanak keluarga yang mendampingi. Tega kamu ya mas?!."
"Kamu harus mengerti posisi ku dong. Disini kan aku sedang bekerja diluar kota. Tidak mungkin kan aku harus pulang dulu sebelum pekerjaan ku selesai? itu namanya tak profesional. Tapi ngerti apa kamu tentang profesionalitas? secara kamu cuma lulusan SMA!," jawab mas Damar dengan wajah menghina ku.
"Setidaknya kamu bisa kan mas, angkat telepon ku? atau cuma balas pesan yang ku kirim? aku yakin itu semua tak akan mengganggu ke profesionalitasan mu!!!," jawabku tak kalah ketus nya.
__ADS_1
"Sudah!!!! aku capek berdebat sama kamu!!! aku mau mandi dan istirahat!!!." Bentak mas Damar dengan berlalu menuju kamar mandi.
"Astaghfirullah...," ucapku sambil mengusap dada.
Pandangan ini menuju pada Kean yang masih tertidur pulas. "Seperti ada yang aneh, kenapa Kean masih nyenyak tidurnya? Padahal tadi aku sama mas Damar bertengkar dengan suara yang lumayan keras kalau kita ada pada satu ruangan. Tapi kenapa Kean tak sedikitpun terganggu dengan suara ku dan mas Damar? apa memang bayi itu seperti ini?," aku bertanya pada diriku sendiri.
"Mungkin memang semua bayi seperti itu, jadi kamu nggak boleh berfikir macam-macam, Sarah," ucapku menenangkan pikiran ku sendiri.
Tak lama mas Damar keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang terlilit di pinggangnya. Dan terlihat dadanya yang bidang dan perutnya yang sixpack. Membuat darah ini berdesir seperti berhasrat.
Tapi rasa ini segera ku tepis setelah melihat banyak sekali tanda merah mulai dari leher ,dada sampai perutnya. Tiba-tiba terlintas hal yang menjijikan dipikiran ku.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu, Sar?," tanyanya mengagetkan ku yang sedang berfikir macam-macam.
"Itu leher, dada, dan perut kamu kenapa mas?, kok banyak tanda merah nya?!," tanyaku sambil menunjuk pada bagian yang merah-merah.
"I... ini ini bukan apa-apa kok. Cuma kemarin aku masuk angin, iya aku masuk angin jadi aku kerokan. Kamu kenapa sih?! Kok curiga terus bawaan nya!!!. Uda aku mau tidur, aku capek. Sekarang kamu masak, nanti kalau Uda matang, kamu bangunin aku. Aku Uda lapar!!!!," ucapnya dengan sorot mata yang seperti ada kebohongan.
Saat berjalan menuju dapur, terlihat mama Linda dan Lidya di ruang keluarga sedang membuka tas belanjaan nya.
Sepertinya mereka sangat bahagia karena terlihat sesekali tertawa cekikikan dan saling mencoba baju, tas dan sepatu yang dibeli nya.
Dan aku berlalu ke dapur tanpa menyapanya, karena kulihat mereka sedang asyik sendiri.
"Mbak Sarah!! bikinin aku lemon tea anget ya. haus nih!," perintah Lidya.
"Aku juga bikinin teh hangat ya!! Oya jangan manis-manis!! Dan satu lagi nggak pakai lama!!!," bentak mama Linda.
__ADS_1
"Iya ma,"
Lemon tea dan teh hangat sudah ku buat dan segera ku antar kepada pemesan nya. Sepertinya mereka masih belum selesai membuka semua belanjaan nya.
"Ini ma, teh nya. Dan ini punya kamu Lid," ku taruh minuman itu didepan masing-masing pemesanan nya sesuai yang diminta.
"Eh, perut kamu kemana Sarah? kok uda kempes?," tanya mama Linda dengan kata-kata yang sangat tak enak di dengar.
"Sarah sudah melahirkan ma, apakah mama tak ingin melihat cucu mama?!," tanyaku pelan tapi dengan penuh penekanan.
"Duh, mama masih sibuk dan capek. Lagian mama juga nggak begitu penasaran sama anak kamu!," ucapnya dengan mengambil secangkir teh hangat yang baru aku hidangkan.
"Tapi Kean itu cucu mama, masak mama nggak mau melihat dan menggendongnya?!," ucapku dengan perasaan yang sangat dongkol melihat tingkah laku mama yang seperti tak punya hati sedikitpun.
"Iya,,, nanti kalau aku sudah mood aku lihat. Sekarang kamu masak aja dulu. Aku sudah lapar!!!," bentak mama Linda.
Aku berbalik badan untuk menuju dapur, "Dasar nenek-nenek aneh, mau melihat cucunya sendiri aja nunggu mood", gerutuku sambil jalan menuju dapur.
"Apa yang kamu bilang Sarah!!!!!! Kamu bilang aku nenek aneh?!!!! awas kamu ya, ku bilangin ke Damar kamu!!. Lama-lama kamu ini makin kurang ajar ya!!!!." Teriaknya marah-marah saat mendengar ucapan ku.
"Ups...." ku menutup mulutku. Kukira mama Linda tak mendengar ucapan ku tapi ternyata pendengaran nya masih baik.
Aku tak memperdulikan teriakan nya itu, dan kutinggal pergi ke dapur untuk masak.
Makanan pun sudah terhidang di meja makan, dan segera ku panggil mas Damar di kamar. Saat pintu terbuka terlihat mas Damar sedang menggendong Kean dan mengajak nya bicara dengan memakai bahasa bayi. Terlihat lucu dan manis sekali, membuat aku bahagia dan terharu. Ternyata mas Damar mau menggendong anak nya.
"Mas,,,,." panggil ku.
__ADS_1
"Hmmm i.. ini ini tadi," ucapnya terputus karena kebingungan.
"Kean, Keandra Sadam Saputra nama nya mas," ucapku memberi tahu nama panjang anaknya.