DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Mengikuti Permainan nya


__ADS_3

"Dan waktu aku kerumahnya, duh... gayanya udah kayak orang yang kerja kantoran saja pakai laptop segala. Padahal kan cuma pelayan toko kue. hihihi." ucap Dewi cekikikan.


"Memang kenapa kalau pelayan toko kue, Wi?," tanya ku dengan suara datar dan berjalan mendekat disamping Dewi yang sedang berdiri.


Dewi dan dua orang yang ada disitu pun terkejut saat mengetahui aku berada di belakang mereka.


"Mbak Sarah?!," Dewi melotot kaget saat melihat ku sudah ada disampingnya.


"Ada yang salah dengan pelayan toko kue?," tanyaku, kali ini ku tatap tajam mata Dewi. Sengaja tubuh semakin ku dekatkan pada tubuh Dewi.


Karena ingin sekali memberi pelajaran Dewi, agar mulut nya di jaga kalau ngomong.


"Ya kan hanya pelayan toko kue, mbak." jawab Dewi dengan wajah ketakutan, karena tatapan ku.


"Trus bedanya pelayan toko kue dengan pegawai kantoran itu apa?," tanya ku lagi dengan terus aku menatap mata Dewi. Terlihat sekali ekspresi wajah Dewi yang salah tingkah dan ketakutan.


"Kalau pegawai kantoran kan keren mbak? baju nya rapi dan bersih serta wangi. Tapi kalau pelayan kue pasti bajunya penuh tepung dan kotor-kotoran. Dan pasti berminyak banget, iuuuuh..". ucapan nya masih tinggi.


"Ya jelas beda lah, kalau pegawai kantoran Uda pasti lebih mulia dari pada hanya pelayan toko roti." kali mbak Ana ikut bersuara.


"Kalau menurutku sama aja, pelayan toko kerja ikut orang dan pegawai kantoran pun kerja juga ikut orang. Ya... kecuali dia pemilik kantornya. Jadi seharusnya kita tak boleh saling merendahkan pekerjaan orang lain." ucap mbak Sri.


Ya sekali lagi aku sangat setuju dengan apa yang dikatakan mbak Sri.


"Ternyata mbak Sri lebih pintar ya.. daripada dua orang yang ada di sampingku ini." ucapku dengan melirik kedua orang yang suka memutar lidah ini.


Lalu aku berjalan untuk memilih sayur kedepan, dan dengan sengaja aku menyenggol bahu Dewi.


Setelah membayar semua belanjaan ku, aku segera pulang. Malas rasanya lama-lama di sini.


"Sayang, masak apa hari ini," tanya mas Bima yang tiba-tiba ada dibelakang ku dan memeluk ku dari belakang.


"Mas... ada Kean." ucapku sambil mencoba melepaskan pelukannya.


"Kean masih tidur," ia mengecup leher ku.


"Mas Bima.....," rengek ku.


"pingin....," bisik mas Bima.


"Bentar mas, aku selesaikan dulu masaknya." ucapku sambil membalikkan badan dan memegang pipi kedua pipi mas Bima.


"Tapi sudah nggak tahan....," rengek nya.


"Memang mas Bima hari ini nggak ke toko?," tanya ku.


"Ke toko sih...maka dari itu, yuk bentar aja!," ajaknya.


"Kamu tunggu di kamar dulu, setelah ini Sarah akan menyusul." bujuk ku.


Mas Bima mengikuti semua yang aku ucapkan, ia kembali masuk ke kamar. Dan aku menyelesaikan tugas memasak ku yang sebentar lagi sudah selesai.


Setelah semua masakan terhidang di meja makan, aku menyusul mas Bima. Dengan harapan mas Bima lupa dengan permintaan nya tadi, tapi apa yang aku lihat saat aku membuka pintu kamar?


Betapa terkejutnya aku, saat melihat mas Bima sudah tidur telentang tanpa sehelai benang di tubuh nya.


"Sayang sini..." mas Bima melambaikan tangan nya, memanggil ku agar aku mendekat padanya.


"Baik, mas." ucapku sambil membuang nafas dengan kasar.


Dan tak dapat dihindarkan, pergulatan panas di pagi hari akhirnya terjadi juga.


Setelah bermain beberapa kali, mas Bima terkulai lemas begitu juga dengan ku.


Kami berdua terkapar tak berdaya diatas ranjang dengan tubuh polos.


Drrrttttt


Drrrttttt


"Mas handphone mu berbunyi." Aku membangunkan mas Bima saat mendengar suara nada dering dari handphone mas Bima.

__ADS_1


Dan mas Bima langsung terbangun dari tidurnya. Lalu ia bergegas mencari benda pipih itu. Ternyata benda pipi yang ia cari berada dibawah bantal nya.


"Iya waalaikumsalam ada apa?." jawab mas Bima.


"oo...iya, tunggu sebentar. Ini aku sudah siap-siap untuk berangkat." jawab mas Bima.


Entah siapa yang menelepon nya dan apa yang dibicarakan mas Bima dengan orang yang menelpon nya.


Aku bergegas kekamar mandi untuk membersihkan tubuh ku. Dan mas Bima juga mengikuti ku kedalam kamar mandi.


Setelah berpakaian rapi, mas Bima berpamitan pada ku.


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Mas mau ketemu teman mau menawarkan barang dengan harga murah." pamit mas Bima sambil mengecup kening ku.


"Kamu nggak sarapan dulu, mas?," tanya ku.


"Maaf sayang, nggak keburu." ucap mas Bima sambil berjalan dengan sedikit berlari kearah mobil.


"Nanti kamu yang antar Kean ya!," perintah nya. Mas Bima begitu perhatian pada Kean.


"Beres mas," jawabku.


"Ingat jangan sampai telat!," mas Bima mengingatkan ku.


Kini mobil mas Bima sudah tak terlihat dari pandangan ku.


Dan aku kembali masuk untuk melihat Kean dikamar nya.


"Udah siap, nak?," tanya ku setelah mengetuk pintu kamar nya.


"Sudah amma." jawab Kean, ia keluar dengan pakaian seragam nya. Dan rambutnya disisir dengan sangat rapi.


"Ya sudah, kita sarapan dulu yuks!," ajak ku pada Kean.


"Kean bawa bekal aja, amma. Ini sudah siang." ucap Kean.


"Baik lah." aku bergegas menyiapkan bekal untuk di bawa kesekolah oleh Kean. Lalu aku segera masukan kotak bekal ke dalam tas Kean.


"Kean masuk sendiri ya kedalam." perintah ku. Karena tas ku ketinggalan di rumah, aku ingin putar balik untuk mengambil tak ku.


"Oke siap, ma." ucap Kean dengan mengacungkan kedua jempol tangan nya. Lalu ia melambaikan tangan nya. Aku pun membalas dengan lambaian tangan juga.


"Pak kembali kerumah yang tadi ya." ucapku pada taksi online yang aku pesan.


"Baik, Bu." jawab pak sopir taksi.


Kini aku sudah sampai rumah, entah mengapa tiba-tiba aku malas aja mau pergi ke toko.


Mungkin badan ini minta di istirahat kan, karena terasa capek sekali.


Pintu rumah aku kunci, dan aku langsung masuk kedalam kamar, untuk merebahkan tubuh.


Saat tubuh ku jatuhkan ke atas ranjang, terasa ada yang mengganjal di punggung ku.


"Auw.." pekik ku.


Aku ambil benda itu, ternyata handphone mas Bima ketinggalan lagi.


"Mungkin tadi dia terburu-buru, sampai lupa handphone nya tak dibawa." gumamku.


Entah kenapa tiba-tiba muncul ide untuk melihat lihat isi handphone mas Bima lagi. Ini kedua kalinya handphone mas Bima ketinggalan.


Aku mulai mengambil posisi duduk yang nyaman dengan punggung bersandarkan bantal.


Ku buka yang pertama adalah aplikasi WhatsApp milik mas Bima.


Chat yang berada di urutan pertama adalah chat dari ibu mas Bima.


"Bu, uang bulanan nya sudah Bima transfer. Ibu cek ya." pesan dari mas Bima dikirim kemarin malam.


"Iya Bim, sudah masuk. Bim, ibu pingin beli gelang emas seperti punya Sarah. Kamu belikan ya..."

__ADS_1


"Ibu beli dengan uang bulanan yang sudah Bima transfer itu aja Bu."


"Trus, jatah bulanan untuk makan ibu gimana?, kan jadi kurang?, pokoknya ibu minta kamu belikan ibu gelang seperti punya Sarah!!!."


"Iya, Bu. Bima akan belikan, tapi tunggu ada uang dulu ya."


"Ibu mau nya secepatnya, Bim!,"


"Tapi Bima masih belum ada uang. Uang nya sudah Bima transfer ke ibu."


"Kurangi jatah belanja istri mu, Bim. Ingat Bim kamu ini anak laki-laki jadi kamu yang harus memenuhi kebutuhan ibu."


"Iya Bu, Bima akan usahakan. Atau gini aja, ibu beli pakai uang yang Bima transfer itu. Nanti kalau Bima sudah dapat uang, ibu Bima kasih lagi."


"Baiklah Bim, besok ibu mau ke toko perhiasan dulu. Biar bundanya Putri yang antar ibu besok. Karena mbak Veni ada acara dengan teman-teman nya."


"Iya Bu."


Ternyata mas Bima habis transfer uang pada ibu nya. Aku jadi penasaran berapa uang yang ia transfer.


Jari-jari tangan ku berselancar untuk mencari M-banking. Siapa tau mas Bima punya aplikasi itu.


Namun sayang sekali, aplikasi itu tidak ada di handphone mas Bima.


"Hufftt..." aku membuang nafas dengan kasar.


Aku kembali lagi ke aplikasi WhatsApp, karena disitu ada chat dengan Putri.


"Ayah, pokok nya Putri minta di buatkan rumah."


"Iya put, ini ayah lagi nabung untuk rumah mu."


"Putri mau rumah yang di tunjukkan bunda kemarin, yah."


"Tapi kalau sekarang uang nya belum ngumpul. Sabar ya sayang....,"


"Tapi bunda takut rumah itu laku duluan ayah!."


"Putri kamu kira beli rumah itu seperti beli kacang goreng?, Kalau memang bunda mu mau dengan rumah itu, bunda mu suruh membeli nya."


"Ayah jahat sama Putri, kalau istri baru ayah aja minta rumah langsung di belikan. Padahal Putri anak kandung ayah, tapi serasa anak tiri."


"Makanya, Putri tinggal bersama disini. Jadi Kan rumah ini rumah bersama."


"Jujur sih Putri ogah tinggal bareng sama istri baru ayah!, sukanya perintah-perintah Putri. Masih ngantuk dibangunkan suruh sholat. Kan dingin yah.....pokoknya Putri mau tinggal dirumah nenek terus sebelum ayah membelikan Putri rumah sendiri."


"Iya, sayang. Ayah akan belikan Putri rumah. Harta ayah memang untuk Putri. Kamu tenang ya, nggak boleh ngambek seperti itu. Ini aja mama Sarah tidak ayah kasih uang bulanan untuk belanja. Jadi jatah uang bulanan mama Sarah bisa papa tabung untuk beli rumah buat Putri."


Aku tak habis pikir dengan pikiran mereka, seperti nya mereka mempunyai sifat iri dan dengki padaku.


Jadi ini alasan mas Bima tak memberi ku nafkah bulanan. Jujur kalau memang ia tak mampu dan benar-benar usaha nya sedang di titik bawah, aku tak akan hitung-hitungan masalah uang untuk dimakan.


Tapi ternyata itu hanya alasan mas Bima, agar ia bisa memberikan semua uang nya pada ibu dan Putri.


"Oke mas, aku ikuti permainan mu." gumam ku lirih sambil tersenyum getir.


Drrrttttt


drrrttttt


Handphone mas Bima berbunyi, ternyata satu pesan masuk.


Segera ku buka pesan itu, ternyata dari ibu. Sepertinya ibu mengirimkan sebuah foto.


"Bim, ini gelangnya sudah ibu beli. Jangan lupa uang nya segera di ganti ya."


Pesan ibu di ikuti dengan foto gelang yang sama persis dengan punyaku waktu aku pakai makan malam waktu itu.


Gelang itu difoto beserta nota pembelian nya, di nota itu tertera harga belinya yaitu Tujuh juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.


"Baiklah, permainan akan segera di mulai." ucapku sambil ku kepalkan tangan ini.

__ADS_1


__ADS_2