
"Yakin sekarang kita turun?!," tanya ku. Sedikit ada keraguan untuk turun, karena malas terlihat oleh keluarga mas Damar.
Malas untuk ribut dan bertengkar lagi, karena malu kalau menjadi tontonan orang sekitar.
"Iya, donk. Tenang aja tak ada orang sama sekali disana." Sinta menunjuk rumah mas Damar yang terlihat pintunya tertutup rapat.
Mungkin saja mas Damar belum kembali kerumahnya, setelah menemui aku tadi.
Aku pun memberanikan diri untuk turun dari mobil, dan segera masuk kedalam teras rumah baru Sinta.
Sinta segera membuka pintu rumahnya dengan kunci yang ia bawa di tangan kanannya.
"Yuk, buruan masuk!," perintah Sinta. Dan Aku berjalan mendahului Sinta.
Tipe rumah ini tak jauh beda dengan type rumah mas Damar. Karena satu komplek ini type rumah nya sama semua.
"Aku lapar Sint." ucapku pada Sinta. Baru ingat ternyata aku hanya makan bekal yang dibuatkan ibu tadi dijalan bersama Sinta, Mayang dan pengasuh Kean.
Dan tadi waktu dicafe, aku nggak jadi makan. Karena berdebat dengan mas Damar, sehingga membuat selera makan ku langsung hilang.
Tik tok tik tok!!!
"Wah kebetulan tuh, Sar. Ada penjual bakso." ucap Sinta.
Lalu Sinta bergegas membuka pintu dan keluar rumah.
"Kang, bakso!!," teriak Sinta memanggil penjual bakso terdengar dari dalam rumah.
"Sar, sini. Lihat nih bakso nya." panggil Sinta padaku, dan aku pun keluar. Dari pintu aroma bakso yang panci nya dibuka membuat perut ini semakin lapar.
Aku dan Sinta menikmati bakso di teras rumah. Rasa lapar perutku melupakan rasa takut bertemu dengan keluarga mas Damar.
Karena dengan tenang aku menikmati bakso di teras rumah Sinta.
Makan bakso selesai, dan kang bakso juga sudah pergi. Namun aku masih menikmati duduk santai di teras rumah Sinta.
Sinta masuk untuk mengambil minum di dalam, walau rumah ini masih belum ditempati. Namun semua furniture dan peralatan dapur sudah tersedia lengkap.
"Sarah!!!!," tiba-tiba ada yang memanggil saat aku sedang asyik bermain ponsel.
Dan pandangan, ku arahkan ke sumber suara yang memanggil ku.
"Bianca?!," Dan ternyata Bianca lah yang memanggil ku.
Bianca berdiri di depan pintu gerbang pagar rumah nya, dengan membawa dua kantong kresek besar di kedua tangannya.
Sepertinya ia akan membuang sampah didepan. Sungguh miris ku melihat Bianca saat ini.
Tubuh nya makin kurus dengan perut semakin membesar. Mungkin usia kandungan nya sekarang sekitar delapan bulanan. Wajah yang dulu putih dan mulus kini berubah kusam.
Sungguh kehidupan yang sekarang berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu.
Mungkin dia merasakan apa yang aku rasakan dulu saat menjadi istri mas Damar.
"Untuk apa kamu datang kesini?!," tanya nya dengan tatapan ketus padaku.
"Kamu sengaja datang kesini untuk menggoda suamiku?!," lanjut nya.
Sama sekali aku tak ada niat untuk itu, tak ada pikiran yang dituduhkan Bianca padaku.
Aku tak menjawab pertanyaan-pertanyaan Bianca, karena menurut ku itu sia-sia.
Aku segera berdiri untuk masuk kedalam, demi menghindari keributan. Karena hati ini tak tenang kalau setiap hari harus bertengkar dan bertengkar. Yang aku inginkan adalah ketenangan.
"Mau kemana kamu!!!, sungguh tidak sopan!!! Percuma Khimar mu panjang tapi kamu tak menghargai lawan bicara mu!!. Main pergi saja!!." ucapan Bianca sangat lantang padaku.
Aku pergi bukan takut melawan nya, tapi aku menghindari keributan yang akan terjadi.
"Mau kamu apa sih, Bi?," tanyaku. Ku balik kan badanku ke belakang, kearah Bianca yang sedang menatap ku.
"Kamu bilang mau aku apa?!, yang harusnya bertanya seperti itu aku. Bukan kamu!!!!." kali ini Bianca berjalan mendekat padaku yang masih berdiri di teras rumah Sinta. Lalu Bianca berdiri sambil berkacak pinggang.
"Mau apa kamu datang-datang kesini?, kamu mau tebar-tebar pesona pada suamiku? Dasar wanita gat*l!!," tangan Bianca ingin menarik Khimar panjang ku.
Namun segera ku pegang erat tangan nya, dan ku hempas secara kasar.
"Khimar panjang itu tak pantas kamu pakai, karena kelakuan mu masih suka menggoda suami orang!!,"
"Hah?."
"Suami siapa yang aku goda?, suami mu?. Maaf aku sudah tak ada perasaan apapun sama dia!!!,"
__ADS_1
"Jadi kamu tak perlu cemburu buta seperti ini. Jangan buang-buang waktu dan tenaga mu buat cemburu padaku!," lanjut ku. Lalu kutinggal kan ia, dan aku masuk kedalam rumah Sinta.
"Ada apa, Sar?, bicara sama siapa kamu?," tanya Sinta. Mungkin Sinta mendengar keributan ku dengan Bianca di luar.
"Tuh, ada tetangga mu yang mau kenalan dengan mu." aku menunjuk ke arah luar pada Sinta.
"Siapa? kok nggak kamu suruh masuk aja." ucapnya sambil mengintip kebelakang ku. Lalu ia berjalan keluar. Dan aku tak mengikuti nya, kurasa Bianca masih ada di teras rumah Sinta.
"Bu Bianca?!," terdengar samar-samar suara Sinta, namun masih jelas di pendengaran ku yang duduk di kursi ruang tamu.
"Hmmm... anu.. hmm apa kabar Bu?," tanya Sinta pada Bianca, kelihatan sekali kalau ia saat ini sedang berbasa-basi. Mungkin Sinta tak siap, kalau ternyata yang di temui nya ada Bianca mantan atasan nya dulu.
Aku terus menyimak percakapan dan sesekali melihat mereka berdua dari balik gorden jendela rumah Sinta.
"Sinta?!, ngapain kamu disini?," tanya Bianca masih dengan suara jutek dan sok wibawa. Mungkin dia masih merasa kalau ia adalah atasan Sinta.
"Hmmm ... ini Bu, ini rumah aku. Aku baru beli rumah ini, satu bulan yang lalu." terdengar suara Sinta.
"Hah?!, ini rumah mu??!,"
"Banyak uang ternyata kamu ya, Sin?. Setau ku di komplek ini harga rumah lumayan mahal loh." ucapnya sambil mengangkat bibir nya yang sebelah.
"Alhamdulillah Bu." jawab Sinta. Kurasa Sinta sendiri tak nyaman dengan omongan Bianca yang masih saja seperti dulu.
Ia tak sadar kalau saat ini dia sudah tak seperti dulu lagi. Dimana dulu dia bergelimang harta karena menjadi istri orang terkaya di kota ini.
Aku terus menyimak percakapan mereka berdua dari ruang tamu.
"Jadi kamu kesini bersama perempuan murahan itu?!," tanya Bianca pada Sinta sambil menunjuk kearah dalam rumah.
Aku yakin sekali, kalau aku lah yang dimaksud oleh Bianca.
Kenapa aku risau?, toh aku tak pernah melakukan hal yang di tuduhkan Bianca pada ku.
"Maaf, Bu. Maksud ibu perempuan murahan itu siapa?," masih terdengar suara Sinta bertanya kepada Bianca.
"Ya teman mu itu, si Sarah!!, penampilan nya saja yang alim. Tapi kelakuan nya suka menggoda suami orang." jawabnya.
"Memang suami siapa yang digoda Sarah, Bu?," perdebatan dan tanya jawab rupanya masih berlanjut.
Biarkan saja mereka lakukan, aku akan menonton nya sambil makan cemilan yang aku bawa tadi dari mobil.
"Apa suami ibu yang di goda?!," Sinta melanjutkan pertanyaan nya.
"Asal ibu tau, Sarah tak pernah menggoda pak Damar sama sekali. Tapi pak Damar lah selalu datang menemui Sarah untuk mengajak Sarah rujuk." jelas Sinta. Dari suara yang keluar dari mulut Sinta, terdengar ia sangat kesal sekali pada mantan atasan nya itu.
"Kamu berani ya sama aku. Kamu lupa aku ini siapa?!," sepertinya Bianca memang tak sadar diri dengan posisi dan kondisi nya saat ini seperti apa. Sehingga ia masih menganggap Sinta itu masih menjadi asisten nya.
"Dan satu lagi, kamu jangan suka memfitnah Damar. Karena aku percaya kalau suami ku tidak akan melakukan hal yang seperti kamu tuduhkan tadi!!!," ucap Bianca dengan rasa percaya yang tinggi.
Namun kenapa ia kemarin berkomentar seperti itu di status yang diunggah mas Damar di Facebook?
Mungkin ia menutupi semuanya dari Sinta, mungkin ada rasa gengsi pada Sinta karena aku teman dekat Sinta.
"Maaf Bu, sebenarnya tak ada maksudku untuk berani atau kurang ajar pada ibu. Tapi, sepertinya ibu susah sekali kalau di bilangin secara baik-baik. Dan lagi, aku tak pernah lupa sama ibu. Aku tau kok siapa ibu, ibu kan ibu Bianca MANTAN atasan ku." kali ini kekesalan Sinta di luapkan.
Dari sini terdengar sekali Sinta menekan kata mantan pada Bianca. Mungkin tujuan Sinta agar Bianca tau dan sadar diri kalau ia sekarang bukan siapa-siapa.
"Makin kurang ajar kamu ya!!!," Bianca kali ini berucap sambil menunjuk Sinta.
"Maaf Bu, aku masih banyak urusan. Jadi ibu bisa pergi dari sini." usir Sinta pada Bianca sambil tangan nya menunjuk kearah jalan.
Aku menikmati sekali pertunjukan ini, mungkin ini tidak baik dilakukan. Karena senang melihat orang lain berdebat, tapi aku hanya melihat nya tak melerainya.
Namun kembali lagi, aku hanya manusia biasa. Pasti ada rasa senang saat orang telah jahat padaku terkena karma nya.
"Astaghfirullah..... maaf kan aku ya Allah." gumamku lirih.
"Dasar wanita aneh!," gerutu Sinta sambil berjalan masuk dan duduk di sofa tepat di depan ku.
Aku yang mendengar nya hanya tersenyum pada Sinta.
"Siapa yang aneh, Sin?, tetangga mu?," tanyaku sambil terus tersenyum dengan penuh ejekan pada Sinta.
"Ternyata tetangga mu adalah mantan atasan mu ya, Sin?. hi hi hi." aku tertawa. Sehingga Sinta terlihat wajahnya cemberut.
"Tapi kalau aku melihat Bianca saat ini, kasian banget ya hidup?!," ucap Sinta.
"Ia terlihat kurus dan wajahnya pun sangat kusam. Apa mungkin Damar tak pernah memberi nya uang? sehingga ia tak bisa merawat diri?," lanjut nya.
"Mana aku tau," jawab ku sambil mengangkat kedua bahu ku. Lalu aku berdiri mengambil gelas yang berisi air putih diatas meja. Dan kembali duduk di samping Sinta.
__ADS_1
Kali ini posisi duduk ku menghadap ke depan, langsung kearah rumah mas Damar.
Rumah nya kelihatan sangat tertutup sekali, seperti tak ada orang yang menempati. Tak kelihatan mantan mama mertua dan Lidya beraktifitas diluar rumah. Kalau mas Damar mungkin masih belum kembali setelah menemui ku di cafe tadi.
"Ya mungkin itu karma buat dia ya, Sar? Karena uda merusak rumah tangga mu dan membohongi suami nya yang kaya raya itu." ucap Sinta berasumsi sendiri.
"Mungkin saja," jawab ku. Lalu aku menenggak air satu gelas, karena dari selesai makan bakso aku masih belum minum sama sekali.
Saat mata ini menatap ke depan, terlihat ada mobil berhenti di depan rumah mas Damar.
"Itu siapa yang datang, Sar," ucap Sinta sambil menunjuk mobil yang berhenti itu.
"Kita lihat saja, mungkin mas Damar." jawab ku.
"Wah, sekarang mobilnya baru ya."
"Mungkin saja, karena tadi diparkiran cafe aku tak melihat mobil lama mas Damar. Bisa jadi sekarang mobilnya ganti yang ini." ucapku dengan terus melihat pergerakan orang yang ada di seberang jalan kompleks.
Lalu turun lah lelaki gagah, dan aku tau postur tubuh siapa itu. Itu adalah mas Damar, ia turun dari mobil dan berjalan masuk.
Kalau memang itu mobil mas Damar, harus nya mobil itu di masukan ke dalam garasi. Tapi ini malah mobilnya pergi meninggalkan rumah mas Damar.
"Ha ha ha....," tiba-tiba Sinta tertawa dan membuat ku kaget. Seketika lamunan ku buyar karena suara tawa Sinta lumayan memekik telinga ku.
Untung saja mas Damar sudah masuk kedalam rumahnya. Kalau belum, pasti dia mendengar suara tawa Sinta yang menggema.
"Kamu kenapa, Sin?," tanyaku dengan tatapan heran dan takut. Heran karena ia tiba-tiba tertawa dan takut kalau ia kesurupan. Karena ini tempat asing baginya, takut penunggu rumah ini terganggu dengan kedatangan kita berdua disini.
"Ha ha ha... aku tau ternyata itu bukan mobil baru Damar, tapi itu taksi online.Ha ha ha...." Sinta kembali tertawa lebar dengan tangan nya mengambil handphone yang ada diatas meja tamu. Dan aku hanya bergidik melihat kelakuan Sinta.
"Sudah sore, Sin. Yuk kita pulang." ajak ku pada Sinta yang sedang fokus dengan handphone nya. Kulihat jam di handphone menunjukkan pukul lima sore.
"Bentar, sekalian nunggu Maghrib aja." jawab Sinta dengan terus fokus pada handphone nya tanpa menoleh kearah ku.
"Kasian Kean, Sin. Seharian aku tinggal." ucapku, aku kepikiran Kean. Karena sudah jam pulang pengasuhnya, Sebenarnya dirumah juga ada Mayang. Tapi kenapa rasanya kangen banget sama Kean.
"Apa benar kamu masih suka menemui Sarah dibelakang ku, Mar?!!," Suara itu sangat terdengar jelas di telingaku. Mungkin juga ditelinga Sinta.
Dengan refleks mata kami berdua menatap kearah sumber suara. Karena dengan sangat jelas nama ku disebut di kalimat yang terlontar dari perempuan yang berbicara itu.
"Kenapa dengan Bianca?," tanya ku dengan mata ini masih melihat kearah Bianca dan mas Damar yang sedang bersitegang.
"Mungkin Bianca cemburu, Sar. Mungkin ini karena ucapan ku tadi." ucap Sinta dengan wajah merasa bersalah.
"Abisnya Bianca nyebelin banget." lanjutnya lagi dengan pembelaan sendiri.
Tapi memang sikap Bianca bikin emosi, jadi tak salah juga Sinta berbicara seperti itu.
"Aku menemui Sarah, karena Kean anak ku!! Jadi kamu tak usah cemburu buta seperti itu!!," suara mas Damar terdengar jg jelas, Kali ini ia menjadikan Kean untuk alasan.
Padahal tadi waktu ketemu, sama sekali ia tak menanyakan anaknya sekali pun.
"Kamu jangan beralasan ya, Mar!! Aku tau kok, kalau kamu masih berharap Sarah kembali padamu!!!."
"Kecewa aku sama kamu, Mar. Menyesal aku meninggalkan Handoko demi kamu, yang ternyata kamu melakukan aku seperti pembantu disini."
Deg!
Ucapan Bianca mengingat kan aku dengan apa yang pernah aku alami saat aku tinggal dirumah itu.
Dan ternyata Bianca kini merasakan apa yang kurasakan. Mungkinkah ini yang namanya karma Instan.
"Aku juga kecewa dengan mu, ternyata kamu bukan anak orang kaya yang seperti kamu ceritakan dulu padaku!!, Yang seharusnya kecewa dan menyesal itu aku, karena kamu telah membohongi ku dan keluarga ku!!." Mas Damar tak mau kalah, ia juga menyalahkan Bianca.
"Rumah tangga penuh kebohongan." gumam ku lirih sambil tersenyum getir.
Sinta berdiri diambang pintu, ia sangat menikmati drama rumah tangga yang ada di depan nya.
"Sin, ngapain kamu disitu?, Sini!!!." panggil ku. Karena tak enak saja melihat orang yang sedang bertengkar dengan sangat terang-terangan.
"Tuh, lihat!! Diluar sudah banyak orang yang menonton." jawab Sinta sambil menunjuk ke luar rumah nya.
Ku coba mengintip dari belakang korden, karena mau keluar langsung aku tak enak. Takut mas Damar melihatku, dan semakin memperunyam masalah.
Benar yang dikatakan Sinta, ternyata dipinggir jalan sudah banyak ibu-ibu yang berdiri. Seperti sedang menonton pertunjukan drama saja. Dan tak ada satu pun yang mencoba melerai mas Damar dan Bianca yang sedang bertengkar.
Kini mereka berdua sudah masuk rumah, mungkin mereka sadar kalau mereka menjadi tontonan warga saat ini.
Dan para warga yang berdiri tadi, kini mereka dengan sendirinya bubar tanpa ada instruksi dan komando.
"Yuk Sin, kita pulang!! Mumpung sepi tuh?," anakku sambil menunjuk arah jalan yang sudah tak ada orang sama sekali.
__ADS_1
Dan kami berdua pun pulang.