DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Tak Mau Berteman Dekat Dengan Bianca


__ADS_3

Hari ini aku dan para karyawan ku mempersiapkan pesanan-pesanan kue yang akan di antar oleh paman Udin.


"Bu, handphone nya berbunyi." Mita mendatangi ku dengan menyodorkan handphone padaku.


"Makasih, ya Mit." aku mengulurkan tangan untuk mengambil handphone yang Mita berikan.


"Sama-sama, Bu." jawab Mita. Dan ia kembali ke toko.


Ternyata setelah aku lihat handphone, ternyata panggilan dari nomor Bianca.


Antar malas dan kasihan untuk mengangkat panggilan nya. Karena aku tak ingin terlalu dekat dengan Bianca. Mengingat ia yang telah membuat hidup ku dan Kean dulu menderita.


"Halo, assalamualaikum." ku sapa dengan mengucapkan salam. Ada rasa tak tega kalau aku mengabaikan panggilan nya. Yang terpenting aku tak akan dekat-dekat dengan nya.


"Waalaikumsalam, Sarah bisa kah kita bertemu?," Bianca langsung to the point menyampaikan apa yang ia inginkan.


"Untuk apa kamu ingin bertemu dengan ku?, kalau untuk membahas tentang masalah rumah tangga mu dengan mas Damar atau apapun yang menyangkut tentang mas Damar. Lebih baik kamu urungkan niat mu untuk bertemu dengan ku, karena aku tak mau." ucapan ku kali ini ku pertegas, agar Bianca mengerti dengan maksud ku.


"Apa kamu tak ingin membalas dendam pada Damar dan keluarga nya, Sar?," tanya Bianca dari balik telepon.


"Untuk apa aku membalasnya, tanpa aku membalasnya pun, mereka sudah mendapatkan balasannya." ucap ku.


"Hmm.... eee..... maafkan aku ya Sar. Dulu karena ku kamu di tinggal oleh Damar. Dan sekarang aku merasakan apa yang kamu rasakan dulu." ucap Bianca, entah dia benar-benar menyesal atau hanya bersandiwara padaku. Agar aku mau diajak untuk bekerja sama membalas dendam pada mas Damar dan keluarga nya.


"Apa aku bisa menemui mu sekarang, Sar?," tanya nya lagi.


"Maaf, aku tak bisa. Apalagi hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan." jawabku tanpa basa-basi. Rasa muak pada kehidupan mas Damar dan antek-anteknya cukup mendominasi hati dan pikiran ku saat ini.


Telepon pun aku tutup secara sepihak, karena hati ini tak ingin luluh dengan kata-kata sedih yang Bianca dendangkan pada ku.


Aku segera menyelesaikan pekerjaan ku, karena setelah ini aku ingin mengajak Kean jalan-jalan ke mall sambil menyambangi outlet cabang di sana.


Rencananya hari ini Sinta yang menjemput ku. Sebelum ke mall aku dan Sinta berencana melihat rumah yang ingin aku beli.


Pekerjaan telah selesai, aku menyiapkan Kean. Memandikan dan memakaikan baju. Kini Kean sudah selesai, tinggal aku uang pergi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


Setelah semua nya sudah selesai, aku bermain handphone sambil menunggu Sinta datang menjemput ku.


Notifikasi pesan masuk berbunyi, segera ku pindah aplikasi. Yang awalnya aku berselancar di dunia Maya. Kini ku alihkan layar handphone ku di aplikasi pesan WhatsApp.


Ada pesan masuk dari mas Damar.


"Ada apa lagi dia!!," dengusku kesal.


"Sarah kamu lagi apa?, aku ingin bertemu dengan mu dan Kean." Isi pesan yang dikirim oleh mas Damar padaku.


Namun aku tak membalasnya, pesan hanya aku baca tanpa membalasnya. Sengaja ku lakukan itu, agar mas Damar sadar diri. Dan tak berharap padaku lagi.


Sampai saat ini pun aku tak ada niatan untuk kembali menjalani rumah tangga dengan nya lagi.


Aku yakin sekarang mas Damar melihat tanda centang biru di pesan wa nya karena pesannya sudah aku baca. Sebentar lagi dia akan menelpon ku.


Sungguh tak melesat tebakkan, baru beberapa menit yang lalu aku bergumam dalam hati. Sekarang mas Damar sudah menelponku.


Namun sengaja aku abaikan penggilan telepon nya, karena hari ini aku ingin terbebas dari manusia-manusia toxic seperti mereka.


Hari ini aku ingin hati ini bebas dan bahagia bersama anak ku.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Sinta pun datang. Sempat berkali-kali aku menelpon dan mengirim pesan pada Sinta untuk menanyakan kapan ia akan menjemput ku. Namun tak ada satu pun panggilan ku diangkat olehnya. Begitu juga dengan pesan yang aku kirim. Ia sama sekali tak membalasnya, jangankan membalas sepertinya beberapa pesan yang aku kirim pun tak di baca oleh Sinta.


"Dasar gemblung!," gerutu ku sendiri.


Tin...


Tin...


Tin....


Dengan seenak hati ia main tekan klakson, sehingga membuat para customer yang ada di toko dengan bersamaan menoleh kearah mobilnya.


Saat ia menyadari dengan apa yang ia lakukan. Sinta hanya nyengir kuda dan menempelkan kedua telapak tangan nya. Yang artinya ia meminta maaf pada semua customer toko kue ku.


"Kamu ini gimana sih, Sint? sudah lama banget, pas sampai eh... main pencet klakson aja!!," gerutuku pada Sinta, yang sedang menikmati alunan musik reggae yang ia puter sekarang di dalam mobilnya.

__ADS_1


"Hi hi hi, aku lupa." jawabnya seperti tak ada rasa bersalah sedikitpun.


Aku sudah duduk di jok depan bersama Sinta. Namun Kean aku dudukkan diatas car seat di jok belakang ku.


Aku beri Kean mainan, agar Kean nyaman dan tidak rewel saat duduk dibelakang selama perjalanan.


"Kemana dulu kita, Sar?," tanya Sinta sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Ke perumahan dulu saja, Sin. Setelah itu kita ke mall." jawabku.


"Ok," sahut Sinta sambil mengangkat jari tangan yang berbentuk bulat diantara kari telunjuk dan jempol nya.


Kini Sinta melaju dengan kecepatan sedang, ia berjalan sesua dengan jalur yang aku ucapkan. Karena Sinta masih belum begitu mengenal dengan daerah yang aku maksud.


Memang sih, daerah rumah yang aku beli masih dalam kota yang sama. Namun karena Sinta belum pernah sama sekali jalan di daerah ini, jadi ia masih kebingungan dengan jalan yang akan ia lewati.


Aku memberi panduan jalan pada Sinta yang terus fokus melihat arah depan.


"Nah sebentar lagi kita sampai," ucap ku.


"Iya kah, Sar?," tanya Sinta tak percaya.


"Tuh, lihat saja." aku menunjuk gapura pintu masuk warga komplek.


"Wah, lumayan elit perumahan disini ya Sar?," gumam Sinta dengan memandang ke depan kearah perumahan.


"Hebat kamu, Sar. Sekarang kamu sudah mampu membeli rumah yang mewah itu." lanjut Sinta.


Dan kini mobil Sinta memasuki pintu kompleks. Ada pesan masuk di handphone ku. Segera ku buka, ternyata pesan dari developer yang sudah menunggu ku di rumah yang akan aku lihat.


Sinta pun langsung mengarahkan mobilnya sesuai dengan petunjuk ku.


Sekarang aku sudah sampai di rumah yang aku maksud. Benar saja ada mobil yang terparkir di halaman depan rumah.


Aku dan Sinta dengan menggendong Kean masuk kedalam rumah.


Singkat kata, setelah aku melihat semua isi rumah dan bernegosiasi masalah harga. Akhirnya rumah ini menjadi milik ku.


Setelah transaksi selesai, aku dan Sinta serta Kean meluncur ke mall. Sesuai dengan janjiku pada Kean tadi pagi sebelum berangkat.


Sekarang waktunya menyenangkan hati Kean untuk bermain di Timezone dengan puas.


Sampai di mall, aku mendatangi outlet cabang dan menemui mbak Indah terlebih dahulu, Untuk melihat proses produksi. Dan alhamdulilah selama ini outlet tak pernah ada masalah apapun, walau jarang sekali aku datang kesini. Karena aku terlalu sibuk mengurus toko yang dirumah.


Sedangkan Kean sudah di bawa Sinta terlebih dulu ke area permainan anak. Karena Kean sudah tak sabar untuk menunggu ku yang masih ingin menemui mbak Indah.


Kini aku berjalan sendiri menuju area permainan anak yang ada di mall ini.


Brak!!!!!!...


Ada lelaki berumur yang sedang menabrak ku. Sehingga barang belanja yang ia bawa jatuh semua.


"Oh.. maaf-maaf." ucapku meminta maaf terlebih dahulu, walau sama sekali aku tak merasa bersalah. Karena dia lah yang menabrak ku, bukan aku yang menabrak nya.


Aku segera mengambil beberapa paper bag yang jatuh tak jauh dari kaki ku.


Setelah paper bag aku ambil, kira-kira ada lima paper bag yang jatuh tak jauh dari kaki. Segera ku berikan pada lelaki yang seumuran dengan bapak ku. Mungkin karena dia orang kaya, jadi tak begitu terlihat keriput diwajahnya. Beda sekali dengan bapak ku.


Aku menyodorkan tas tas belanjaan itu pada nya, lalu ia mengambil tas tas itu dengan terus menatap ku. Dan tatapan itu sangat membuat ku tidak nyaman.


"Sayang!! Ternyata kamu disini? Aku bingung mencari mu dari tadi." Suara itu sangat tidak asing ditelinga ku.


Aku segera menoleh pada sumber suara yang menurut ku sangat familiar ditelinga ku.


Betapa kagetnya aku, ternyata benar dugaan ku. Suara yang memanggil lelaki yang seumuran dengan bapak yang saat ini ada di depan ku itu adalah Lidya. Adik kandung perempuan satu-satunya mas Damar.


"Lidya?!," ucapku kaget.


"Mbak Sarah?!," tak dapat di pungkiri, Lidya pun terlihat shock saat melihat ku berdiri didepan nya.


"Ngapain kamu kesini, mbak?! Sengaja kamu mengikuti ku?!," ucap Lidya dengan sangat ketus dan sombong.


"Sayang, kamu kenal dengan dia?," tanya lelaki yang aku tebak adalah gadun Lidya.

__ADS_1


"Hah?! Aku kenal dia?, oh...tidak sayang." ucap Lidya pada lelaki tua itu. Sepertinya ia tak malu memanggil sayang pada lelaki yang pantas menjadi bapaknya itu.


"Tapi kenapa dia sepertinya kenal dengan mu?," ucap lelaki itu sambil memeluk pinggang Lidya dan sesekali mengecup bahu Lidya yang saat ini memakai baju tanpa lengan.


Seperti nya dua orang yang ada di depan ku saat ini sudah tak punya urat malu. Dengan bangganya mempertontonkan kemesraan di depan umum.


"Ya jelas donk, sayang. Jaman sekarang banyak orang yang bukan siapa-siapa tapi mengaku kenal bahkan kadang mengaku kalau masih kerabat." ucap Lidya sambil melirik kearah ku dengan tatapan menghina.


Namun aku tak ambil pusing dengan apa yang di ucapkan oleh Lidya. Dari semua ucapan Lidya, tak ada satu pun yang berhasil menyakiti hati ku.


Bahkan aku sangat bersyukur kalau Lidya tak mengakui aku sebagai orang yang ia kenal. Karena aku tak perlu malu pada orang yang melihat Lidya bersikap tak tau malu di depan dan ditempat umum.


Jujur saja, saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian pengunjung mall yang berjalan berlalu lalang di samping mereka berdiri.


"Aku kira, kamu sudah taubat dengan perbuatan mu setelah hal besar terjadi padamu waktu itu. Namun nyatanya... saat ini kamu semakin menjadi-jadi. Semoga Allah segera membuka hidayah buat kalian berdua." ucapku dengan lirih, tapi ku ucapkan dengan sangat jelas. Agar Lidya bisa mencerna setiap kata yang aku ucapkan.


Setelah aku berucap, aku melangkah meninggalkan mereka berdua.


"Tunggu!!, maksud kamu apa mbak?!!, Ingat ya!!! jangan bawa-bawa nama Tuhan disini. Karena Tuhan tak pernah adil di dalam hidupku!!," ucap Lidya sangat lantang.


Aku tak menghiraukan ucapan Lidya, aku terus melangkah meninggalkan nya.


Bukan Tuhan yang tak Adil, tapi manusia nya lah yang tak bisa mensyukuri ketetapan yang sudah Tuhan berikan padanya.


Saat aku melangkah, dengan sengaja aku berhenti dan mencoba menengok ke belakang, mencari tahu keberadaan Lidya. Namun ternyata Lidya dan gadun nya sudah pergi meninggalkan tempat itu.


Lalu aku kembali melangkah ke tujuan semula, yaitu menghampiri Kean yang sedang main di Timezone.


Terlihat dari kejauhan, Kean sangat bahagia. Dia tertawa lepas saat bermain motor balap bersama Sinta.


"Hay, sayang. Kamu bahagia?," tanyaku pada Kean yang masih tertawa lebar dengan Sinta.


"Ean bahagia mama. Ean cuka dicini, Ean tak mau ulang." jawab Kean dengan keluguan bayi yang belum genap tiga tahun.


"Oke sayang, kita pulang kalau Kean sudah puas bermain-main nya." ucapku pada Kean sambil ku peluk tubuh kecilnya itu.


"Sekarang Kean main lagi ya, tapi ingat kalau bermain harus hati-hati. Oke?," lanjut ku.


"Ote, amma..." Kean pun berlari kearah mainan Yang ia suka, Yaitu itu balap motor. Karena ia sering melihat MotoGP di televisi. Sinta mengikuti Kean yang sedang berlari meninggalkan aku.


Aku juga berjalan pelan di belakang mereka. Sungguh hati ini tenang dan damai, saat melihat anak ku satu-satunya bahagia seperti saat ini.


Aku duduk santai sambil menunggu Kean yang sedang asyik bermain.


Sinta juga menyusul ku, dan langsung duduk di sampingku.


"Kamu tau nggak, tadi aku ketemu siapa?," ucap Sinta main tebak-tebakan dengan ku.


"Siapa?," tanya ku balik. Sebenarnya aku tau siapa yang dimaksud oleh Sinta. Tapi aku mencoba untuk. pura-pura tidak tahu.


"Ah.. kamu tidak asyik, Sar!!. Tebak donk!," gerutu Sinta.


"Ya memang aku nggak tau. Aku kan bukan dukun." jawabku sambil tertawa. Karena lucu sekali melihat ekspresi Sinta yang terlihat kesal karena jawaban ku tak memuaskan.


"Ya nggak harus jadi dukun juga kali, Sar. Cukup kamu tebak siapa kira-kira menurut mu!!," jawab Sinta dengan sewot.


"Uda jangan manyun gitu, sekarang kamu cerita. Kamu tadi ketemu siapa??,"


"Males ah... kamu nggak asyik." jawab Sinta dengan ketus.


Sikap Sinta yang seperti ini, membuatku semakin ingin tertawa.


"Amma...amma... Ean lapal." Kean berlari ke arah ku yang sedang duduk bersama Sinta.


"Kean lapar? Kean main nya sudah?," tanyaku.


"Ean main nya udah amma. Sekalang Ean lapal." jawab Kean sambil mengelus perutnya.


"Kalau gitu, yuk kita cari makan." ajak Sinta.


Tanpa banyak kata dan pertanyaan, Kean pun langsung minta gendong pada Sinta.


Sinta dan Kean sangat dekat, Sinta terlihat sayang banget pada Kean. Walau ia belum pernah mempunyai anak, namun ia sangat luwes meladeni Kean yang kadang-kadang rewel karena permintaan nya tak segera dituruti.

__ADS_1


__ADS_2