
Sekarang aku punya kesibukan lain yaitu menulis novel. Ku tekuni menulis ini karena memang menulis adalah dunia ku.
Drrrttttt
Drrrttttt
Ponsel ku berbunyi, kulihat ternyata pesan dari mas Damar.
"Sarah!! kapan kamu pulang?!,"
"Sarah masih Betah disini, mas", balasku.
"Jangan lama-lama kamu disana. Disini rumah seperti kapal pecah. Pokoknya besok kamu aku jemput!!!"
"iya, mas". jawabku.
Aku nggak bisa menolak permintaan mas Damar. Karena aku takut mas Damar marah. Akhirnya aku putuskan untuk pulang besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV Damar.
"Ma, mana kemeja putihnya Damar?", tanyaku teriak dari dalam kamar.
"Putih yang mana Mar?", tanya mama.
"Putih yang kombinasi hitam itu loh, ma", jawabku.
"Mama nggak tau Mar, masih kotor mungkin", jawab mama.
"Kok bisa masih kotor ma? bukannya itu kemeja udah seminggu yang lalu aku pakai? kan harus nya Uda dicuci?", tanyaku sambil keluar kamar menuju sumber suara mama berada.
"Aduh Mar, siapa yang mau nyuci? wong baju kotor mama sama Lidya aja segunung", ucap mama sinis.
"Ya mama dong yang nyuci, masak Damar yang nyuci?. Yang ada dirumah kan mama.", ucapku.
"Enak aja mama disuruh nyuci baju kotor. Ini semua itu gara-gara istri mu yang udik itu. Pulang kampung kok nggak balik-balik. Ini semua kan tugas istri mu", jawab mama yang menyalahkan Sarah.
"Mana rumah berantakan, sampah berserakan, debu dimana-mana", gerutu mama.
"Iya, ma. Besok Sarah pulang", jawab ku menenangkan mama.
Akhirnya aku pakai kemeja lain yang belum disetrika, terlihat kusut dan lusuh.
"Ma, lihat kemeja kusut", ucapku sambil menunjuk kan kemeja yang aku pakai.
"Ya, itu harus nya istri kamu yang menyetrika",
__ADS_1
"Tapi kan kalau darurat gini bisa mama atau di yang laundry aja ma",
"laundry kamu bilang? uang yang kamu kasih buat jatah sebulan loh Uda habis Mar. Apa yang dipakai ongkos laundry?", ucap mama.
"Hah, habis ma??. kok cepet banget, baru seminggu yang lalu mama Damar kasih",
"Ya kamu kira makan tiap hari nggak beli pakai uang?!", ketus mama.
"Makanya mama masak, biar agak hemat. Sarah aja dengan uang segitu bisa untuk satu bulan. Malah banyakan yang Damar kasih ke mama", jawabku.
"Kamu banding-bandingin mama dengan Sarah?!Kamu perhitungan sama mama?!, kalau nggak karena mama kamu nggak akan bisa seperti ini!!. Jadi kamu nggak usah ya ajarin mama!!!", ucap mama dengan berkacak pinggang.
"Damar nggak perhitungan ma, cuma Damar ingin mama hidup hemat aja", ucapku sambil masuk kamar lagi.
Aku ambil tas kerjaku di meja kerja yang berada di dalam kamar. Dan keluar lagi untuk sarapan.
"Ma, mana sarapannya? Aku Uda kesiangan ini?", tanyaku pada mama sambil melihat jam yang melingkar di tangan.
"Mama nggak pesen makan Mar, uang mama habis. Kamu sarapan dikantor aja ya pagi ini. Oya mama minta uang lagi, buat makan mama nanti", ucap mama dengan menengadahkan tangan nya.
"Ma, uang Damar juga sudah habis. Mama minta Lidya aja ya?", usulku. Karena setiap harinya Lidya tak pernah mengeluarkan uang untuk urusan dapur dirumah.
"Kamu sekarang kok pelit banget sama mama? perhitungan juga sama saudara. Lidya itu adek mu, masak mama disuruh minta Lidya yang perempuan?!", timpal mama.
"Ya Uda ma, Damar berangkat dulu. Ini Uda siang takut Damar telat ", ucapku sambil mengambil tangan mama dan mencium punggung tangan mama.
Menyetir mobil sangat kencang karena memang takut sekali aku telat. Sampai depan kantor ku parkir kan mobil ku. Saat aku turun dari mobil, entah mengapa banyak mata memandang diriku. Seakan-akan ada sesuatu di diri ini.
Tanpa menghiraukan pandangan orang-orang aku pun berjalan menuju ruangan ku yang berada di lantai dua.
"Hai, Mar. Tunggu dulu", panggil seseorang dari belakang.
Aku pun menoleh kearah belakang. Ternyata Dafa teman satu divisi dengan ku.
"Hai, bro. Ada apa?", tanyaku sambil berhenti menunggu dia.
"Kok kelihatan buru-buru banget Mar? Sampai baju kusut kamu pakai?, istri kamu nggak sempat setrika ya?", ledek Dafa dengan suara agak keras. Sehingga banyak orang memandang ku dengan tersenyum mengejek.
Semenjak ditinggal Sarah kerumah ibu nya, baju-bajuku lusuh tak ada yang menyetrika. Kamar pun berantakan, rumah pun seperti kapal pecah.
Malu? pasti malu dong diledekin teman ke kantor dengan pakai baju kusut.
"Sarah!!!!! kenapa kamu nggak pulang-pulang. awas kamu ya!!!", geram ku dalam hati pada Sarah.
"Istri ku, lagi pulang kampung. Jadi nggak ada yang setrika", jawabku sambil nyengir. Padahal hati ini gondok banget mengingat Dafa sudah mempermalukan tadi didepan banyak orang.
Sesampainya di ruangan tempat aku bekerja, aku ambil ponsel dan kukirimkan pesan untuk Sarah. Agar dia segera pulang.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama , akhirnya dia membalas pesan ku. Dan katanya besok dia pulang.
Syukurlah besok udah ada yang setrika baju-bajuku dan beres-beres rumah.
Drrrttttt
Drrrttttt
ku buka pesan di ponsel pintar ku, ternyata ada pesan singkat dari Bianca.
"Sayang, aku kangen", pean Bianca dengan ditambah emoticon love.
Seketika pikiran terbayang ke kejadian malam itu bersama Bianca. Dan itu langsung membuatku berhasrat, karena membayang kelincahan Bianca di atas tubuh ku. Di tambah lagi sudah satu Minggu lebih hasrat ini tak di salurkan, jadi tanpa di komando pusaka warisan nenek moyang ini pun langsung tegak.
"Aku juga kangen kamu, sayang. Apalagi dengan kelincahan dirimu diatas tubuh ku",
Kubalas pesan singkat Bianca, dan disertai emoticon cium biar makin maksimal ucapan rindu ku.
"Gimana kalau pulang kantor, kita bertemu untuk menumpahkan hasrat kita?",
jawaban Bianca membuat pusakaku semakin kencang sampai sesak terasa di dalam celana.
"kenapa harus menunggu nanti, sayang? sekarang aja, kerjaan ku juga Uda selesai", balasku sangat tidak sabar.
"Oke, aku share lokasi ya sayang",
"oke".
Aku pun segera merapikan meja kerja ku dan buru-buru untuk pulang cepat hari ini. Kebetulan atasan ku sedang diluar kota meeting bersama Lidya.
Ku pakai jas ku untuk menutupi pakaian ku yang kusut ini.
Tak lama aku sampai ditempat yang Bianca maksud, karena tempat itu tidak jauh dari kantor ku. Ku berjalan menuju ruangan yang sudah Lidya siap kan.
Di Lorong ini sangat sepi dan agak sedikit remang-remang walau hari masih siang.
Setelah sampai didepan pintu kamar yang Bianca pesan, Ku ketok pintunya.
Tanpa menunggu lama, pintu pun terbuka. Dan wow apa yang aku lihat. Ternyata Bianca disana sudah memakai lingerie berwana hitam yang yang sangat tipis. Sehingga terlihat semua tubuh nya dan dua gundukan besar yang sangat mempesona.
Apa yang terjadi selanjutnya?????? stay trus di Bab selanjutnya ya readers 😘
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
jangan lupa mampir di karya temanku ya .
__ADS_1