DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kerja Sama


__ADS_3

Siang ini aku berangkat ke cafe Bintang Ceria diantar Sinta, hari yang membuat hati ku deg deg kan. Hari dimana aku pertama kali presentasi di depan orang lain. Semoga saja semua berjalan dengan lancar dan selalu di mudahkan jalan oleh Allah.


Sinta menjemput ku di rumah, dan kita berangkat bertiga dengan Kean. Ku menikmati sekali perjalanan ini, karena hampir tidak pernah aku diajak jalan keluar oleh mas Damar walau sekedar cari angin.


"Keluar seperti ini saja membuat hati ku bahagia, otak terasa lebih segar. Apalagi kalau mas Damar mengajak ku belanja? ah... itu rasanya sangat mustahil", ucapku dalam hati.


Sinta pun bercerita tentang kenapa dia sampai kerja di kantor pak Handoko. Orang terkaya di kota ini, tapi aku tak pernah tau seperti apa orang nya dan bagaimana cerita tentang nya. Nama nya saja baru dengar dari Sinta.


Sinta pun menatap ku aneh dan tak percaya kalau aku tak tahu tentang orang yang paling kaya di kota ini. Tapi memang nyata nya seperti itu, karena yang ku tau hanyalah dapur dan alat bersih-bersih di rumah.


Ternyata awalnya Sinta bekerja di perusahaan besar milik pak Handoko, dan dia sekarang dipercaya pak Handoko untuk menjadi asisten pribadi istri pak Handoko. Tapi saat ini mereka sedang berlibur ke luar negeri, jadi Sinta terbebas dari pekerjaan nya untuk sementara waktu.


Tak terasa kita sudah sampai di depan cafe dan resto Bintang Ceria. Aku dan Sinta pun masuk kedalam cafe itu.


"Cafe nya keren ya, Sar? Kekinian banget luas lagi." ucap Sinta dengan pandangan nya mengelilingi seluruh penjuru cafe yang didesain outdoor ini.


Kita berjalan masuk ke dalam resto dan didampingi satu pelayan yang memang ditugaskan untuk menunggu kedatangan kami depan.


Lalu kami dibawah ke satu ruang ber AC dan ruangan itu cukup nyaman dan terkesan mewah.


"Ibu tunggu di sini sebentar ya, owner masih ada tamu. Sebentar lagi beliau akan menemui ibu," ucap lelaki yang bekerja sebagai waiters di cafe ini.


"Iya, mas." jawabku dengan mengangguk kan kepala.


Lalu lelaki muda tadi pergi dari ruangan ini. Dan Sinta mengambil alih menggendong Kean. Agar nanti aku lebih leluasa mempresentasikan kue-kue yang aku buat.


Berselang beberapa menit, datang seorang lelaki tampan, gagah dan kelihatan sangat berwibawa sekali. Ku perkirakan lelaki ini seumuran dengan mas Damar suami ku.


"Selamat siang, bu Sarah," sapa lelaki itu.


"Kenalkan nama saya Randy pemilik cafe dan resto Bintang Ceria ini," ucapnya mengenalkan diri dengan mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan. Lalu pak Randy duduk di single sofa sebelah sofa yang kami duduki.


"Sarah," ucap ku singkat dan meraih tangan nya untuk berjabat tangan dan ku balas dengan senyum simpul.


"Dan ini teman ku Sinta," tak lupa ku kenalkan Sinta pada pemilik cafe ini yang saat ini sedang menggendong Kean.


Lalu mereka juga berjabat tangan dan saling melempar senyum.


"Ini anak nya?," tanya pak Randy pada Sinta.


"Ehmmm.... bukan. Ini Kean anak saya," sebelum Sinta menjawabnya, aku lebih dulu menjawab pertanyaannya.


"Oh... jadi ibu Sarah sudah punya anak?, hmmm saya kira ibu Sarah masih single," ucap pak Randy dengan senyum simpul nya, terlihat diwajahnya dia memang sedang bercanda untuk memecah ke tenggangan di otak ku.


Aku membalas nya hanya dengan seulas senyum. Lalu aku mengeluarkan berbagai macam kue-kue yang akan di cicipi pak Randy selaku owner cafe ini.


"Bu Sarah, ini ibu bikin sendiri?," tanya pak Randy sambil mengambil bolu coklat kesukaan mas Damar.


"Iya, pak." aku anggukan kepala.


"Sendiri? atau ada yang membantu?," tanya nya dengan mengunyah bolu coklat yang dia ambil tadi.


"Iya, pak. Aku buatnya sendiri tanpa ada yang membantu. Karena produksi ku masih bisa di handle sendiri, " jawabku menjelaskan.


Pak Randy pun menganggukkan kepala, sambil terus menguyah bolu coklat. Setelah bolu coklat di tangannya sudah habis lalu dia mengambil kue kue yang lain. Dia mencoba satu persatu kue kue yang aku buat.


Setelah menikmati beberapa kue yang aku buat, pak Randy pun langsung meminum segelas air putih.


"Begini, bu Sarah. Cafe dan resto kami ini beberapa hari lagi di boking pemilik perusahaan besar di kota ini. Untuk acara santunan yatim piatu dan kaum duafa. Jadi beliau ingin semua nya itu yang terbaik dari yang paling baik. Kebetulan bagian pembuat kue di sini sudah aku pindah ke resto cabang yang ada di luar kota. Dan teman saya merekomendasikan kue kue ibu Sarah. Karena dia sudah pernah order kue pada bu Sarah, dan katanya rasa kue buatan ibu Sarah tak pernah gagal, " ucap nya menjelaskan maksudnya.


"Dan setelah aku mencoba semua varian kue ini, memang recommended sekali rasa nya. Apalagi yang ini, rasa nya aku suka banget," lanjutnya dengan menunjuk bolu coklat yang juga menjadi kesukaan mas Damar.

__ADS_1


"Rasa coklatnya enak, pas, dan nggak bikin eneg. Aku yakin ini akan menjadi best seller nya," puji nya lagi.


"Terimakasih, pak," ucapku dengan tersenyum saat pak Randy memuji kue yang aku buat.


"Jadi gimana Bu Sarah, bisa kita kerja sama untuk acara santunan yatim piatu dan kaum dhuafa?, masing-masing varian 300 biji kue dan ini ada 5 jenis kue. Jadi total kue 1.500 kue," ucap pak Randy.


"hah? 1.500 kue?," ucap ku dalam hati membuat aku terperangah.


"Dan pelaksanaan nya Minggu depan," lanjut nya.


"Iya, saya menerima kerja sama itu, pak." jawab ku yakin.


Akhirnya kami semua menyepakati kerjasama itu. Dan pak Randy meminta nomor rekening ku, untuk mentransfer Down Payment nya.


Setelah berbincang-bincang dan menandatangani surat kerja sama. Dan uang DP nya sudah masuk. Akhirnya aku dan Sinta pamit pulang.


Aku pulang dengan perasaan bahagia bercampur dengan haru. Karena bisa kerjasama dengan cafe sekelas cafe Bintang Ceria.


Saat ku lihat di sosmed cafe ini memang cafe yang cukup besar dan terkenal di kota ini. Aku saja yang tak pernah tahu tentang cafe ini.


"Halo,, Sarah. Kemana saja kamu selama ini??," ucapku dalam hati sambil menertawakan diriku sendiri.


"Selamat ya, Sarah. Akhirnya kamu mendapat kerjasama dengan cafe yang cukup besar dan terkenal di kota ini," ucap Sarah memecah lamunanku yang merutuki nasib ku.


"Terimakasih Sinta, doakan semuanya berjalan dengan lancar ya," balasku.


Lalu aku dan Sinta membahas tentang keinginan ku untuk mempunyai rumah produksi sendiri. Jadi aku punya rencana menyewa satu rumah dan mencari beberapa orang untuk membantu ku memproduksi masakan frozen dan kue-kue yang aku buat.


Jadi aku tidak harus petak umpet dengan orang-orang rumah saat mengerjakan pekerjaan ku.


Dan Sinta mengerti akan rencana yang aku maksud. Dan dia selalu siap membantu ku. Sekarang dia sedang mencari rumah yang di kontrak kan. Sinta yang lebih tau tentang itu, karena dia sudah lama dan lebih pengalaman disini.


Akhirnya ada salah satu teman Sinta yang menghubungi, memberitahu kalau ada satu rumah di sewakan beserta isi nya. Dan letaknya sangat strategis.


Mumpung kita lagi diluar, jadi kita putuskan untuk ke lokasi yang dimaksud. Mobil dilaju dengan kecepatan tinggi, karena dirasa jalanan sedikit lenggang. Mungkin karena jam jam kerja.


Dan sampai lah kita di tempat yang dimaksud, ternyata ini bukan rumah tapi ini ruko. Dan saat kita masuk, ternyata peralatan rumah tangga nya sangat lengkap. Dan yang seperti ini yang aku mau.


"Tapi apa cukup tabungan ku untuk menyewa ruko ini?," tanyaku dalam hati.


"Hei!!! kok malah melamun? gimana Bu owner dengan ruko ini? cocok?," celetuk Sinta membuyarkan lamunanku dengan candaan nya.


"Cocok banget sih Sin, tapi.......," tak ku lanjutkan ucapan ku.


"Tapi kenapa Sarah? udah ambil saja, ini tempat nya sangat strategis loh." ucap Sinta meyakinkan ku.


"Aku takut tabungan ku tak cukup untuk menyewa ruko ini." ku utarakan uneg-uneg dalam hati ku.


"Sekarang kita tanya dulu pada orang nya, baru kita ambil keputusan." ucap Sinta.


Lalu Sinta pun bertanya kepada pemilik ruko itu. Dan pemilik membuka harga dua puluh lima juta per tahun nya.


Saat ku cek saldo di M-banking ku ternyata hanya dua puluh juta selain DP dari owner cafe Bintang Ceria tadi. Akhirnya aku dan Sinta bernegosiasi dengan pemilik ruko itu.


Dan terjadi kesepakatan ruko aku sewa dua puluh juta dalam setahun. Ternyata pemilik ruko itu menyewakan rukonya karena memang lagi membutuhkan biaya untuk berobat ayahnya yang sedang sakit keras.


Lalu kesepakatan dengan pemilik ruko sudah ditandatangani. Sekarang tinggal aku mencari dua orang untuk membantu proses produksi ku.


Ku buka iklan lowongan pekerjaan di akun sosial media dan aku mencari yang sudah berkompeten di bidang masak memasak.


Untung saja semua akun sosial media ku, sudah aku hidden dari mas Damar dan Lidya tentunya. Jadi aku bisa leluasa untuk promosi dan up lowongan pekerjaan.

__ADS_1


Setelah kurasa semua sudah beres, kita putuskan untuk pulang. Dan menunggu hasil iklan lowongan pekerjaan yang aku buat di akun sosial media ku tadi.


Sesampainya di rumah, Sinta berpamitan untuk langsung pulang dan dia menolak saat ku ajak masuk kerumah.


Saat aku masuk kedalam rumah, terlihat rumah sangat sepi. Karena tak ada satu orang pun yang berkeliaran. Seperti rumah tak berpenghuni. Dan jam di dinding ruang tamu menunjukkan jam 4 sore.


"Sebentar lagi mas Damar pulang, lebih baik aku mandikan Kean dulu. Baru aku masak untuk mas Damar makan malam," ucapku sendiri.


Kean pun langsung aku mandikan, dan setelah Kean sudah harum, tapi dan ganteng pastinya. Aku taruh dia diatas kereta dorong nya, lalu aku tinggal memasak di dapur.


Setelah semua masakan sudah matang. Kuh hidangkan makanan di atas meja makan. Tak lupa beberapa potong bolu coklat di atas piring ku taruh disamping masakan yang aku masak tadi.


Lalu aku gendong Kean yang sedang tidur, ku pindah dia ke tempat tidur. Lalu ku tinggal mandi, untuk membersihkan tubuh agar rasa capek ini hilang setelah seharian keluar rumah.


Terdengar suara mobil mas Damar yang sedang parkir diluar. Langsung aku tinggalkan kegiatan mengetik novel online ku. Aku bergegas keluar untuk menyambut kedatangan mas Damar.


Ku buka pintu dari dalam, dan aku keluar untuk mengambil tas kerja yang dibawa mas Damar.


"Mas, mas Damar mau mandi dulu atau langsung makan?," tanya ku.


"Masakan nya udah siap di meja makan, mas." Lanjut ku.


"Aku mandi dulu, Sar. Capek dan gerah sekali badan ku," jawab nya.


Lalu ku ambilkan handuk baru untuk nya, dan kusiapkan baju ganti nya. Ini memang sudah menjadi rutinitas ku.


Walau rasa curiga ku ke mas Damar atas perselingkuhan nya begitu besar. Namun aku tak mau meninggalkan tugas ku sebagai seorang istri.


Namun untuk masalah kebutuhan biologis, mas Damar tak pernah meminta nya padaku. Walau tak ku pungkiri ada rasa lega saat mas Damar tak memintanya padaku. Mungkin ini dosa besar buatku, tapi yang aku takutkan kalau memang mas Damar selingkuh diluar sana. Aku takut dia akan membawa penyakit ke dalam rumah.


Setelah selesai mandi dan ganti baju, mas Damar pergi kemeja makan. Aku pun mengikutinya dengan menggendong Kean.


"Kamu nggak makan juga, Sarah?, " tanya mas Damar.


"Nanti aja, mas.Mas Damar aja yang makan dulu," jawabku sambil tersenyum. Jujur perhatian kecil ini lah yang juga membuat aku bahagia.


"Tumben mas Damar perhatian pada ku? apa mungkin karena tak ada mama dan Lidya? seandainya kami hanya hidup bertiga. Mungkin perhatian kecil seperti ini yang setiap hari aku dengar di telinga ku," ucapku dalam hati sambil menatap kosong kearah mas yang sedang makan dengan lahap.


"Sar, Sarah...!," panggil mas Damar membuyarkan lamunan ku. "Kok kamu bengong aja?, " tanyanya.


"I.. iya mas, maaf. Ada apa mas?," tanya ku.


"Tumben kamu bikin bolu coklat?," tanya nya sambil mencomot satu potong bolu coklat ke mulut nya.


"Iya, mas. Kebetulan tadi ada pes..... ", tak ku lanjut kan ucapan ku. Hampir saja aku keceplosan.


" Maksudku, kebetulan tadi di dapur ada sisa bahan. Jadi aku buat bolu coklat deh," aku alihkan ucapan ku agar tidak ketahuan mas Damar.


"Enak, aku suka," jawab mas Damar jujur dan tak curiga sama sekali dengan ucapan ku yang pertama.


"Makasih, mas." Senyum mengembang di bibir ini. Betapa hati ini langsung meleleh saat ia memuji kue buatan ku.


"Seandainya setiap hari kamu seperti ini, mas? mungkin aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia," batin ku.


"Sini biar Kean aku yang gendong, kamu makan aja dulu," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk mengambil Kean dari gendongan ku.


"Kamu yakin mau gendong Kean, mas?," tanya ku tak percaya.


"Memang kenapa?!," tanya nya.


Lalu ku berikan Kean ke mas Damar. Lalu ku tinggal makan, tak pernah hati ku sebahagia ini.

__ADS_1


__ADS_2