DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#337


__ADS_3

"Pokoknya, besok kamu harus segera mengambil uang mu itu Wan. Ibu sudah tidak sanggup hidup seperti ini. Dan ibu tak mau rumahku di sita oleh Siska." ucap Laras sambil menyandarkan tubuhnya di di sofa ruang tamunya.


"Ibu sangat malu dihina seperti itu oleh Sarah si perempuan kampungan!!," lanjutnya dengan sangat marah.


"Dan kalau uang mu sudah cair, jangan lupa ibu belikan gelang yang seperti punya Sarah, Wan. Ibu sangat menginginkan itu." ucapnya lagi.


"Sarah?, ibu bertemu dengan Sarah?," tanya Bima yang langsung keluar dari kamarnya setelah mendengar nama Sarah disebut oleh Laras.


"Iya, perempuan kampungan itu berhasil membuat ibu malu!!," jawab Laras.


"Bima sudah lama tak bertemu dengan Sarah, bagaimana keadaan nya Bu?, pasti ia makin cantik sekarang." ucap Bima sambil senyum-senyum sendiri.


"Apaan sih kamu ini?!!!, jangan membayangkan Sarah seperti itu. Ingat kamu sudah bukan suaminya lagi!!!," ucap Awan yang cemburu mendengar Bima memuji Sarah.


"Kamu itu cari kerja sama, Bim. Agar ada yang membantu perekonomian keluarga kita." sahut Laras.


"Yang menghabiskan dan menghancurkan usaha Bima kan ibu. Jadi ibu harus menanggung semua nya dong!!," ucap Bima, lalu ia kembali lagi masuk kedalam kamarnya.


"Awan mau istirahat dulu, Bu. Besok Ku akan kesalon Siska untuk meminta waktu lagi." ucap Awan sambil berdiri dari duduknya.


Lalu Awan masuk kedalam kamarnya, kebetulan Ambar sudah pulang. Jadi satu kamar kosong dan ditempati oleh Awan.


"Assalamualaikum, Bu." Areta masuk kedalam rumah saat pintu terbuka lebar.


"Waalaikumsalam, Areta?!, ada apa kamu malam-malam kesini?," tanya Laras.


"Areta mau antar mobil Bima, Bu. Bima mana?," tanya Areta.


"Didalam kamarnya." ucap Laras.


"Ini ada martabak manis buat ibu." Areta menyodorkan kantong kresek yang berisi martabak manis dengan toping coklat dan keju kesukaan Laras.


"Wah, Kebetulan banget. Perut ku saat ini sedang lapar." sahut Laras sambil mengambil kantong kresek itu.


"Areta sengaja beli dengan toping kesukaan ibu loh, full keju dan coklat." ucap Areta dengan senyum manis pada Laras.


"Aku ke kamar Bima dulu ya, Bu?," pamit Areta sambil menunjuk kamar Bima.


"Ya masuk saja, Bima baru saja masuk." jawab Laras sambil mulutnya penuh dengan martabak manis.


Areta pun langsung membuka pintu kamar Bima, dan masuk kedalam kamarnya.


"Bim, kamu dimana?," Areta memanggil Bima, karena Bima tak ada di kamarnya. Namun di dalam kamar mandi terdengar gemericik air.


"Sepertinya dia ada di kamar mandi." gumam Areta.


"Biar aku tunggu sini aja." ucap Areta sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang Bima.


"Areta?!," Bima terkejut melihat Areta tidur di ranjangnya.

__ADS_1


"Bim, kamu Uda selesai dari kamar mandi?, dari tadi aku memanggilmu. Tapi kamu tak mendengar nya." Areta bangun dari tidurnya, ia pun duduk di bibir ranjang Bima.


Areta menelan Saliva nya saat ia melihat Bima hanya memakai ****** ***** saja.


"Sebentar aku pakai celana dulu." ucap Bima sambil membalikkan tubuhnya ke arah lemari pakaian nya.


"Kamu tak perlu memakai celana, Bim. Aku suka kamu seperti itu." Areta menarik tangan Bima, sehingga tubuh Bima jatuh diatas tubuh Areta.


"Aku merindukan mu, Bim." bisik Areta di telinga Bima. Dan membuat semua bulu-bulu halus Bima pun berdiri tanpa di komando. Areta pun memeluk erat tubuh Bima, dan membelai lembut area sensitifnya. Dan membuat Bima semakin tak berkutik.


Bima pun langsung membalas sentuhan-sentuhan lembut Areta. Kebetulan sekali Bima sedang berhasrat sedari tadi, saat ia mendengar nama Sarah di sebut-sebut oleh ibu nya.


Dipikiran Bima, yang ada di depannya saat ini adalah Sarah.


Bima mulai merespon balik semua sentuhan-sentuhan lembut Areta. Sampai akhirnya, hasrat Bima pun tersalurkan dengan sempurna.


"Terimakasih, Sar." bisik Bima di telinga Areta dengan mata terpejam.


"Sar?!," tanya Areta Dengan alis berkerut.


"Sarah maksud mu, Bim?," ucap Areta lebih jelas.


"Benar-benar kamu ya!!, ini aku Areta bukan si Sarah perempuan kampungan itu!!!," Areta emosi saat Bima menyebut nama Sarah setelah Bima melepas hasrat nya bersama Areta.


"Mmmm... Maaf Areta, bukan maksud ku seperti itu. Aku tadi tiba-tiba teringat Sarah saat....," Bima tak meneruskan ucapannya, karena tak mungkin Bima berkata jujur saat melakukan dengan Areta yang ia bayangkan adalah wajah Sarah.


"Tidak seperti itu, Areta. Aku tak memikirkan Sarah sama sekali." ucap Bima mencoba membujuk Areta yang sedang merajuk.


"Tega kamu, Bim." Areta menangis dengan memeluk kaki nya yang ditekuk.


"Areta, aku tak seperti yang ada dipikiran mu. Aku melakukan itu sadar kalau aku melakukan nya dengan mu." ucap Bima berbohong. Bima sengaja berbohong untuk menghindari perdebatan antara dia dan Areta.


"Ini sudah malam, apa kamu tidak pulang?," tanya Bima pada Areta yang tubuhnya masih tertutup selimut.


"Kamu mengusirku, Bim?, aku ini perempuan. Tidak mungkin aku pulang sendiri di jam tengah malam ini!!." jawab Areta.


"Lalu, kamu mau aku antar pulang?," tanya Bima.


"Biarkan aku bermalam disini, Bim." jawab Areta dengan wajah memohon.


"Kalau kamu malam ini tak pulang, lalu Putri bagaimana?," tanya Bima yang mengkhawatirkan keadaan anak perempuan nya itu.


"Kamu tenang saja, Putri malam ini nginap dirumah teman nya." jawab Areta, sambil merebahkan kembali tubuhnya.


"Temannya?, laki-laki apa perempuan!?!," tanya Bima dengan penuh kekhawatiran.


"Entah lah, Bim. Aku lupa menanyakan nya." jawab Areta.


"Aku lelah, Bim. Aku mau tidur." ucap Areta lagi sambil memejamkan matanya di atas ranjang Bima.

__ADS_1


"Kenapa kamu tak menanyakan nya, Areta?," tanya Bima. Namun pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sia-sia. Karena Areta tak menjawab nya, dan Bima di tinggal tidur lebih awal oleh Areta.


"Dasar tidak sopan!!, main tinggal tidur saja." gerutu Bima.


Lalu Bima pun merebahkan tubuhnya di samping Areta, didalam satu selimut yang sama.


"Sarah, aku sangat merindukanmu." gumam Bima sebelum memejamkan matanya.


***


Pagi ini, Awan disibukkan dengan menyiapkan diri untuk pergi ke salon Siska. Untuk meminta tambahan waktu untuk jatuh tempo nya.


Awan harus bisa mengambil hati Siska untuk mau memberi tambahan waktu pembayaran hutang nya yang di lakukan oleh Veni.


Sedangkan di dalam kamar Bima, Areta sedang bersiap-siap untuk pulang.


Bermalam nya Areta disini tak ada yang tau. Termasuk Laras, ibu nya Bima. Walau Laras tau masuknya Areta, tapi ia tak tau pulangnya Areta.


Laras pikir, setelah Areta masuk kedalam kamar Bima, Areta pulang saat Laras sudah masuk kedalam kamarnya.


"Bu, aku akan pergi ke salon Siska." pamit Awan setelah selesai sarapan.


"Iya, Wan. Ibu harap Siska mau bernegosiasi dengan kita." jawab Laras.


Lalu Awan berjalan keluar dan di ikuti oleh Laras dari belakang.


Dan berapa kagetnya Awan saat dirinya berpapasan dengan Areta yang baru keluar dari kamar Bima.


"Areta!!!," ucapan serentak Awan dan Laras yang terkejut melihat kemunculan Areta dari kamar Bima.


"Ngapain kamu pagi-pagi gini ada disini?!," tanya Laras dengan mata nya melotot.


"Atau mungkin kamu semalam...?," Laras Semakin menatap lekat pada Areta. Dan tatapan Laras, membuat Areta diam tak berdaya. Ia tak ingin membantah Laras, karena ia takut Laras akan berubah pikiran untuk merujukkan nya dengan Bima.


"Ya, aku sangat yakin kalau kamu semalam tidak pulang, dan tidur dikamar Bima!!, benarkan?!!," teriak Laras penuh dengan keyakinan. Laras sangat yakin seyakin-yakinnya kalau Areta memang bermalam di Ar Bima. Karena baju yang dipakai Areta saat ini masih sama dengan baju yang semalam ia pakai.


"iiii....iya, Bu. Semalam Areta bermalam disini, karena Areta takut kalau harus pulang ke kost sendirian." Areta beralasan.


"Ibu, harap kalian lebih segera rujuk. Agar rumah ini tidak mendapatkan kesialan karena kelakuan kalian berdua." ucap Laras.


Tak seperti yang di takutkan oleh Areta, ternyata sebaliknya, Laras menyuruh Bima segera menikahi Areta lagi.


"Bim, kamu dengarkan apa yang dikatakan oleh ibu?," ucap Areta manja sambil tangannya bergelayut di lengan Bima.


"Iya, Areta. Kamu bersabar saja, aku pasti akan menikahi mu." ujar Bima.


Kini mereka keluar rumah dengan tujuan masing-masing.


Bima mengantarkan Areta pulang, dan Awan pergi ke salon milik Siska.

__ADS_1


__ADS_2