
Aku tak menghiraukan panggilan itu, sungguh tak ada keinginan untuk tahu siapa pemilik nomor baru itu.
Setelah sampai rumah Sinta, mobil pun ku parkir di sebelah mobil Sinta.
"Assalamualaikum," salam ku ucap sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Sinta yang terdengar dari tempat aku berdiri saat ini.
Cekleeek... Gagang pintu di tarik, dan daun pintu pun terbuka.
"Kamu lagi apa, Sin?," tanyaku, jujur sih aku takut menganggu privasi nya kalau aku ingin bermalam beberapa hari disini.
"Aku lagi santai aja, Sarah! Kamu dari mana, Sar?," tanya Sinta.
"Aku dari swalayan di sini, trus aku keingat dengan dirimu." jawabku beralasan.
"Kok jauh sekali kamu pergi ke swalayan disini?," tanya Sinta penuh selidik. Ada tatapan kecurigaan padaku.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padamu!," tebak Sinta.
"Ya sudah!!, ayo masuk!!, kita cerita di dalam saja!," ajak Sinta.
Aku berjalan masuk mengikuti Sinta di belakang nya. Sengaja tas yang berisi pakaian masih belum aku bawa masuk.
"Duduklah, Sar!! Kamu mau minum apa?" tanya Sinta. Ia berjalan ke belakang meninggalkan aku yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Terserah kamu saja, Sin." jawab ku dengan pasrah.
Tak lama Sinta kembali dengan membawa nampan yang berisi secangkir cappuccino hangat. Tanpa di minta pun, Sinta tau apa yang aku inginkan.
Mungkin secangkir cappuccino hangat, bisa mencairkan isi otak ku yang sedang kalut.
"Kamu kenapa, Sarah?, apa kamu lagi punya masalah?," tanya Sinta. Walau aku tak cerita, seperti nya Sinta sudah tau.
"Kamu ini seperti dukun saja, kok suka sekali main tebak-tebakan." gumam ku.
"Kamu kira aku kenal kamu baru satu tahun kemarin?, Kita ini bersama sudah dari orok, Sarah!. Jadi kamu mau menyembunyikan masalahmu dari aku itu percuma, Sarah!!. Aku sudah tau tanpa kamu bercerita." ucap Sinta dengan menaruh beberapa potong brownis.
"wow.. brownis??, ini kamu buat sendiri, Sint?," tanya ku sambil mengambil satu potong brownis dari atas piring yang baru saja di taruh oleh Sinta.
"Kamu tak usah mengalihkan pembicaraan, Sar!!, Sekarang kamu ceritakan semua masalah mu padaku!!. Dan jangan kebanyakan alasan!," ucap Sinta.
"Dikira aku ini bisa bikin kue, apa? Pakai tanya aku yang bikin brownis. Kalau mengejekku itu jangan keterlaluan!," gerutu Sinta.
Aku pun tersenyum saat melihat ekspresi wajah Sinta yang sedang menggerutu. Dengan bibirnya yang manyun kedepan.
"Sekarang cepat cerita kan padaku!! Semua masalah mu tanpa terkecuali," ucapnya lagi.
"Sebenarnya, aku abis bertengkar dengan mas Bima, Sin." ucap ku.
Tin...
Tin..
Tin..
Baru akan mulai bercerita, suara klakson mobil di depan rumah Sinta, tepat nya di halaman rumah mas Bima, sungguh sangat menggangu.
Sehingga aku dan Sinta secara bersamaan menoleh ke sumber suara itu.
"Itu mobil siapa, Sin?," tanya ku.
"Mungkin mobil sugar Daddy nya Lidya, karena sudah sekitar dua mingguan mobil itu terparkir disana." jelas Sinta.
"Aku rasa lelaki simpanan Lidya kali ini duda kaya raya." ucap Sinta dengan asumsinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu berasumsi seperti itu, Sin?, apa kamu pernah menayangkan nya?," tanya ku.
"Gila saja aku menanyakan hal itu pada orangnya. Bisa-bisa aku di gampar sama Lidya." ucapnya dengan wajah kesal padaku. Mungkin ia kesal karena pertanyaan ku tak masuk akal.
Lagi, ekspresi Sinta membuat aku tertawa terpingkal-pingkal.
"Kenapa kamu menertawakan ku seperti itu?," tanya Sinta dengan alis yang bertaut.
"Wajah mu itu loh yang membuat ku terpingkal-pingkal." ucapku dengan jujur pada Sinta.
"Eh... Sar?! Lihatlah itu lelaki simpan Lidya." Sinta menunjuk lelaki yang baru keluar dari mobilnya.
"Loh!! Bukankah itu mas Teguh?!," ucapku dengan mulut ku tutup telapak tangan kanan ku.
"Kamu kenal dengan lelaki itu?," tanya Sinta.
"Dia itu suami mbak Ambar kakak nya mas Bima sakti, Sin." ucapku dengan mata tetap menatap mas teguh yang masuk kedalam rumah.
"Yang benar kamu, Sar?," tanya Sinta tak percaya.
"Kasian banget nasib mu mbak Ambar. Ternyata benar, karma itu memang ada," gumamku.
"Maksud nya, Sar?," tanya Sinta.
"Cerita nya panjang Sin!," jawabku.
"Yang aku tau, mas Teguh pamit kerja keluar kota. Katanya dia ada tugaskan di sana. Bagaimana seandainya mbak Ambar tau tentang semua ini?." ucapku.
"Aku yakin, setelah tau ini semua. Mungkin cara bicara dan sikap mbak Ambar akan berubah." gumam ku sendiri.
"Sar, lihat itu!!," Sinta menunjuk kearah rumah mas Damar.
Dan aku mengikuti perintah Sarah dan pandangan ku tertuju pada sesuatu yang ditunjuk oleh Sinta.
"Astaghfirullah....," ucapku sambil mengelus dada. Betapa kagetnya aku, melihat mas Teguh dan Lidya berjalan dengan bergandengan tangan serta kepala Lidya bersandar di bahu mas Teguh. Sungguh sudah seperti pasangan yang sangat romantis.
"Buat apa, Sarah?," tanya Sinta saat melihat aku sedang memfoto mereka berdua.
"Buat jaga-jaga saja!!," ucapku sambil tersenyum jahat.
"Aneh kamu ini!!," celetuk Sinta.
"Aneh gimana maksud mu, Sin?," tanyaku.
"Kamu tak seperti biasanya, biasanya kamu sangat cuek dengan hal-hal seperti itu. Kata mu itu urusan mereka masing-masing. Tapi sekarang, sepertinya kamu sangat menikmati setiap pertunjukan yang ada di sebrang sana," ucap Sinta dengan panjang kali lebar kali tinggi sudah seperti rumus volume kubus.
"Stop, sin!!!!. Ucapan mu sudah sangat panjang seperti kereta api saja!!, Nanti kalau aku sudah cerita semua masalah ku. Aku yakin kamu pasti mengerti." ucapku menjelaskan pada Sinta.
"Maka dari itu sekarang cepat ceritakan semua masalahmu padaku Sarah," perintah Sarah padaku.
Dan aku pun menceritakan Semuanya dari awal sampai akhir.
Dan akhirnya Sinta pun mengerti dengan masalahku dan ia mengizinkanku untuk menginap di rumahnya untuk sementara waktu.
Kenapa aku memutuskan untuk menginap di rumah Shinta?, karena aku tak mau menceritakan semua masalahku kepada kedua orang tuaku.
Aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri tanpa ada ikut campur ibu dan bapak.
Aku tak ingin membebani pikiran ibu dan bapak dengan masalahku.
Jujur sebenarnya ada rasa malu kepada mereka berdua, karena dia kali berumah tangga harus berakhir dengan kegagalan.
Saat aku sedang asyik bercerita dengan Sinta handphone-ku pun berbunyi, saat ku lihat ternyata nomor baru yang tadi menghubungiku.
Karena merasa risih dan sangat terganggu aku pun segera memblokir nomor itu.
__ADS_1
"Panggilan telepon dari siapa, Sarah?," tanya Sinta.
"Bukan dari siapa-siapa?," ucapku dengan cepat aku memasukkan handphone ku kedalam tas ku.
"Kenapa tidak kamu angkat?," tanya Sinta dengan tatapan mata yang mencurigai ku.
"Kok kamu melihat ku seperti itu, Sin?," tanya ku. Karena tatapan Sinta membuat aku salah tingkah dan tidak nyaman.
"Sepertinya kamu sedang menutupi sesuatu dariku." tebak Sinta.
"Ya sudah, cepat bawalah bajumu ke dalam. Biar aku akan menyiapkan kamar untukmu." lanjut Sinta yang berlalu kedalam kamar yang akan aku tempati.
Aku pun berdiri untuk mengambil tas yang berisi beberapa baju yang ada di dalam mobil.
Saat berjalan ke mobil, aku melihat rumah mas Damar sangat sepi, setelah Lidya dan mas Teguh tadi keluar.
Sepertinya memang rumah itu hanya di tempati oleh Lidya. Kemana perginya mas Damar dan mama Linda?
"Apa mas Damar tak pernah merindukan Kean anaknya?, secara sudah tiga tahun lebih dia tak pernah bertemu dengan anaknya." gumamku dalam hati sambil ku menatap lekat rumah mas Damar.
"Hey...!!, lagi ngelamun ya?." Sinta berhasil membuat ku terkejut dengan ucapan dan tepukan tangan nya di pundak ku.
"Kamu ngagetin aku aja, Sin!," ucap ku sambil menurunkan tas yang berisi baju-baju ku.
"Memang nya kamu lagi mikirin siapa sih? Kok bengong. Apa kamu lagi mikirin Damar?," tanya Sinta. Aku rasa Sinta ini seorang dukun atau indigo, karena tebakan nya selalu benar.
Apa yang aku pikirkan pasti di tebak nya dengan benar.
"huuuufft...ayolah kita masuk." ajak ku setelah aku membuang nafas besar.
Lalu kami berdua masuk kedalam kamar yang sudah di siapkan oleh Sinta.
Drrrttttt
Drrrttttt
Ada Panggilan telepon dari mas Bima. Aku sangat malas untuk mengangkat nya. Dengan sengaja, aku mematikan telepon nya.
"Saraaaaah!!!, maksud kamu apa dengan menaruh baju-baju ku di teras rumah?!!,"
Karena panggilan telepon nya tak ku angkat, mas Bima mengirimkan pesan untuk ku.
Dari isi pesan yang aku terima dan ku baca, sepertinya mas Bima sangat marah padaku.
Namun aku tak membalas pesan dari mas Bima, aku hanya membaca nya.
"Sarah!!, kenapa kamu tak membalas pesan ku?!!!," satu pesan lagi di kirim oleh mas Bima. Dan aku tak membalas nya, hanya membaca nya.
"Aku akan membalas semua yang kamu lakukan padaku , Sarah!!!!, Camkan itu!!!," mas Bima seperti nya sangat emosi.
"Serius amat baca pesan WA nya, Sar?," tanya Sinta yang baru masuk kedalam kamar, sambil membawa selimut yang berwarna pink.
"ini ...," aku sodorkan handphone ku pada Sinta, agar ia membacanya pesan yang di kirim oleh mas Bima.
"Apa ini?," tanya Sinta, tangannya pun mengambil handphone yang aku berikan padanya.
"Kamu diancam oleh Bima?," tanya Sinta setelah membaca isi pesan dari mas Bima.
Aku menganggukkan kepala, mengiyakan apa yang di tanya oleh Sinta.
"Kamu harus waspada dengan Bima, Sarah. Sepertinya Bima ini orang yang nekat." ucap Sinta memperingatkan aku.
"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu Sarah." lanjut Sinta, lalu ia meninggalkan aku di dalam kamar sendirian.
Segera aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu aku lakukan sholat ashar.
__ADS_1
Aku pun merebahkan tubuh ku setelah ku tunaikan kewajiban ku, agar rasa capek dalam tubuh dan pikiran ini berkurang. Dan tak terasa mata ini terpejam dan kini aku berada di dunia mimpi.
Suara adzan magrib membangunkan ku, ternyata lumayan lama aku tertidur. Dan syukur alhamdulilah rasa nya tubuh ku terasa lebih segar dan lelah ku pun sedikit menghilang.