
"Siapa yang datang, Wan?," tanya Laras yang menghampiri Awan di ruang tamu sambil mencoba mengintip keluar pintu.
"Suruhan Veni." jawab Awan singkat.
"Untuk mengantarkan ini semua?," tanya Laras dengan menunjuk satu persatu bungkusan kantong kresek yang berwarna putih itu.
Awan menganggukkan kepala, sambil terus mengangkat bungkusan kantong kresek itu untuk di bawa kedalam rumah nya.
"Lalu mobil mu mana?," tanya Laras sambil melihat ke sekeliling depan rumah nya untuk mencari keberadaan mobil Awan.
"Seperti nya belum diantar, Bu. Tadi aku tanya pada orang yang mengantarkan ini. Katanya dia tidak tau, karena dia hanya disuruh mengantarkan baju-baju ku saja." jawab Awan.
"Segera hubungi Veni, Wan!!, bukankah dia sudah berjanji mau antar mobil itu hari ini?," ucap Laras memanas-manasi Awan.
"Iya, biar nanti Awan hubungi Veni. Sekarang Awan mau makan dulu, Bu. Uda sangat lapar perut ku." Awan terus mengelus perutnya, karena memang sudah sangat lapar.
"Ya sudah kamu sarapan saja dulu. Semua masakan nya sudah siap di meja makan." jawab Laras.
Awan berjalan menuju meja makan, dan di ikuti oleh Laras dari belakang.
"Wah, aroma nya sungguh menggoda Bu. Cacing di perut ku sudah pargoy sedari tadi." ucap Awan.
Awan langsung menyendok nasi yang sudah ada di atas piring nya itu, lalu dengan sangat lahap ia memasukkan nasi itu kedalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya, wan?," tanya Laras sambil tersenyum bangga.
Karena dia yakin Awan akan suka dengan masakan itu.
"Enak Bu, sangat enak. Dibandingkan dengan masakan Veni, masakan ibu tiada lawan." jawab Awan.
Mendengar jawaban Awan, Laras kembali tersenyum bahagia.
"ya sudah kamu habiskan saja makanan itu. Biar kamu kenyang dan tubuh mu makin sehat." ucap Laras.
"Iya, Bu." jawab Awan sambil menganggukkan kepalanya dan terus mengunyah makanan nya tiada henti.
Laras begitu setia menunggu Awan makan. Ia duduk di kursi makan tepat berhadapan langsung dengan Awan.
"Wan, hati ibu saat ini sangat tenang." ucap Laras.
"Memang kenapa, Bu?," tanya Awan sambil menatap Laras, ibunya. Dan menghentikan aktivitas mulutnya yang mengunyah itu.
"Ibu tenang, karena ibu tidak akan kehilangan rumah ini, Wan." ucap Laras.
"Nanti siang kita kesalon Siska ya, untuk menebus sertifikat rumah ini?!," ajak Laras.
"Alhamdulillah, iya Bu. Nanti Awan akan antar ibu kesana." jawab Awan dengan tersenyum.
"Kita langsung ke salon Siska, atau pergi ke toko perhiasan dulu, Bu?," tanya Awan.
"Hah?!," ucap Laras kaget dengan ucapan Awan.
"Kamu mau ajak ibu ke toko perhiasan, Wan?," tanya Laras.
"Ya kalau ibu mau kesana." jawab Awan.
"Iya, aku mau kesana." ucap Laras dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.
"Kalau begitu kita berangkat nya setelah kamu selesai sarapan aja ya, Wan. Biar nanti sampai nya tidak terlalu siang. Karena kalau siang biasa nya toko perhiasan langganan ibu sangat ramai." lanjut Laras.
"Iya Bu, ibu ganti baju aja dulu. Awan mau sarapan dulu." ucap Awan.
Tanpa menunggu lama, Laras segera kekamar mandi. Karena sedari tadi, Laras belum mandi.
Laras keluar dari kamar mandi, Awan masih duduk di kursi meja makan sambil menikmati sebatang rokok. Memang sangat nikmat, setelah makan langsung menyesap rokok dan di temani dengan secangkir kopi.
"Tunggu ibu ya, Wan. Ibu mau ganti baju dulu." ucap Laras saat keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Iya, Bu." jawab Awan sambil mengeluarkan gumpalan asap rokok dari hidungnya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Laras keluar dari kamarnya. Ia memakai pakaian yang terbaik milik nya dengan memakai semua perhiasan miliknya.
Kalung panjang sebesar jari orang dewasa menghiasi dadanya. Tak lupa pula, dua pergelangan tangannya di hiasi dengan gelang-gelang. Sudah mirip dengan pemain film Hollywood. Sepuluh jari tangan nya pun di penuhi dengan cincin yang Segede gaban.
"Ibu sudah siap, Wan." ucap Laras, yang berhasil mengagetkan Awan yang masih duduk santai di kursi meja makan itu.
Awan pun melihat ibunya sangat aneh dengan berdandan yang berlebihan.
"Ibu yakin mau pergi dengan dandanan seperti ini?," tanya Awan sambil melihat Laras dari ujung kepala sampai kaki nya.
"Loh?, kenapa harus nggak yakin, Wan?," tanya Laras.
"Asal kamu tau, ini itu pakaian terbaik ku. Aku yakin di luaran sana akan banyak orang yang iri melihat ku." lanjut Laras.
"Ya sudahlah, terserah ibu saja." ucap Awan sambil beranjak dari duduknya.
"Kita naik apa, Wan?," tanya Laras.
"Ya naik taksi online, Bu." jawab Awan.
"Lah kok naik taksi online?," tanya Laras dengan wajah yang seketika berubah seperti wajah-wajah yang sedang kecewa.
",Terus kita mau naik apa?, apa mobil Bima ada Bu?," tanya Awan.
Kalau mobil Bima ada, ya kita pakai mobil Bima saja." usul Awan.
"Mobil Bima tidak ada, Wan. Dari kemarin mobil Bima di bawa oleh Areta." jawab Laras.
"Ya sudahlah, kamu pesan taksinya." ucap Laras dengan pasrah.
Awan segera memesan taksi online. Dan sambil menunggu datangnya taksi yang sudah di pesan. Kini Awan dan Laras duduk santai di sofa ruang tamu.
"Perhiasan ibu banyak juga ya?," tanya Awan sambil menatap kalung panjang yang sebesar jari orang dewasa itu, dan beralih ke gelang-gelang yang ada di pergelangan tangan Laras.
"Ini masih belum semua yang di pakai, Wan." ucap Laras dengan sangat bangganya.
Tin Tin Tin...
Suara klakson taksi yang di pesan Awan terdengar di ruang tamu.
"Ayo, Bu. Sepertinya taksi yang aku pesan sudah datang." panggil Awan pada ibu nya.
Kini mereka berdua berjalan berdua keluar rumah menuju taksi yang sudah terparkir di tepi jalan.
Namun penampilan Laras, berhasil mencuri perhatian para tetangganya yang kebetulan mereka sedang berbelanja di warung sebelah rumahnya.
"Mau kemana, Bu Laras?," tanya satu tetangga yang melihat Laras berjalan menuju taksi.
"Biasa, Bu. Mau pergi menghabiskan uang. Kebetulan kemarin malam anak saya Wawan." jawab Laras dengan tersenyum seperti menghina.
"Waah...enaknya ya Bu Laras. Sering diajak jalan-jalan sama anak nya." sahut satu perempuan yang pake hijab itu.
"Iya, dong. Begini kalau kita mempunyai anak-anak yang sudah sukses." sahutnya lagi dengan bangganya menyanjung anak nya.
"Bu, bukan nya anak-anak Bu Laras sudah kaya raya?, tapi kenapa naik taksi online?!," teriak ibu-ibu yang paling ujung. Ia berkata dengan tertawa.
"Hey!!!, asal kamu tau. Sebentar lagi mobil Awan juga bakal datang!!," jawab Laras tak terima dengan ucapan perempuan yang seumuran dengan dia.
"Benarkah, Wan?, mobil kamu akan datang hari ini?," tanya Laras pada Awan, untuk meyakinkan pada tetangga nya.
"Iya, Bu. Hari ini mobil Awan akan datang." jawab Awan sambil tersenyum pada Laras.
"Ya uda yuk, kita berangkat saja. Percuma meladeni orang-orang kampung seperti mereka." ucap Laras sambil masuk kedalam taksi tanpa berpamitan terlebih dulu kepada para tetangga nya.
"Huh!!!, sombong banget dia." celetuk orang yang terakhir berkomentar pada Laras.
__ADS_1
"Iya, berangkat aja, tidak pura-pura pamitan sama kita." sahut ibu yang lain.
"Memang kamu baru tau dengan tabiat Bu Laras?, emang dari dulu Bu Laras kan seperti itu." sahut pemilik toko tempat orang-orang berbelanja.
Dan mereka semakin panas menggunjing Laras dan keluarganya.
Didalam taksi Laras terus mengibas-ngibaskan tangan nya.
"Panas ya, Wan?!," ucap Laras.
"Pak, AC nya tolong di hidupkan!," ucap Awan .
"AC nya Uda hidup pak." sahut sopir taksi.
"Sedikit besarin lagi, pak. Ibu saya kepanasan." ucap Awan sambil melihat kearah Laras.
Lalu sopir taksi itu melakukan permintaan Awan, sambil sesekali melirik Laras dari kaca spion nya. Setelah melihat Laras dari kaca spion, sopir taksi itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia heran sekali melihat perhiasan yang begitu banyak menempel di tubuh Laras.
Sepanjang jalan Laras hanya mengibas-ngibaskan tangan nya. Sampai tak terasa kalau taksi itu sudah berhenti di depan toko perhiasan langganan nya.
"Sudah sampai, pak Bu." ucap sopir itu pada Awan dan Laras.
"Oh ya, kok tumben ya rasanya cepat sekali." sahut Laras.
Kemudian mereka berdua turun dari taksi.
"Pak, bapak tunggu disini ya. Kami sebentar kok di dalam. Biar nanti aku tidak cari taksi lagi " ucap Awan.
"Baik pak." jawab sopir taksi itu.
Kini mereka berdua jalan menuju toko perhiasan yang sudah menjadi langganan Laras. Yang kebetulan toko itu ada di sebrang jalan. Jadi mau tidak mau mereka berdua harus menyebrang jalan terlebih dahulu.
Dan tak dapat di hindarkan, sepanjang jalan tatapan mata orang yang berlalu lalang tertuju pada Laras.
Laras yang mengetahui bahwa dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang. Ia tersenyum dengan sangat bangga.
"Lihat, Wan. Semua orang memandang kearah ku." ucap Laras pada Awan.
"Pasti mereka takjub melihat ku." ucapnya lagi.
"Bisa jadi, Bu." jawab Awan.
"Pasti mereka juga iri melihat perhiasan emas ku yang sangat banyak ini." ucap nya lagi dengan senyum miring.
"Selamat siang, Bu Laras." sapa pelayan toko perhiasan yang memang sudah mengenal Laras dengan baik . Karena memang Laras sudah sering sekali datang untuk membeli berbagai perhiasan emas.
"Siang, mbak." jawab Laras dengan tersenyum ramah pada pelayan toko itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Laras?," tanya pelayan toko perhiasan itu.
"Ada model baru, mbak?," tanya Laras.
Mendengar pertanyaan Laras, Awan mengerutkan dahinya. Dalam pikiran Awan, bukankah dia datang kesini untuk menjual perhiasan nya. Tapi kenapa malah menanyakan barang yang baru?.
Namun Awan hanya diam saja, ia 5ak berani bertanya langsung saat ini juga pada ibunya. Bisa-bisa Awan kena semprot Laras karena malu.
"Ada banyak Bu Laras. Bu Laras mau mencari gelang, kalung, cincin atau anting-anting?," tanya pelayan tokonya.
"Sepertinya aku mau menambah koleksi gelang deh." jawab Laras.
"Nggak apa-apa kan Wan? Kalau ibu menambah koleksi gelang?," tanya Laras pada Awan.
"Terserah ibu saja. Yang penting ibu bahagia."jawab Awan sambil tersenyum. Toh dalam benak Awan, ibu bayarnya pakai uangnya sendiri. Jadi terserah dia mau beli apa aja.
"Nah kebetulan disini kita ada model terbaru yang lagi viral, Bu Laras." ucap pelayan toko.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya, saya ambilkan didalam." lanjutnya lalu pelayan toko itu meninggalkan Awan dan Laras untuk mengambil gelang yang memang belum di pajang di etalase.
"Wah, berarti ini memang benar-benar masih baru, Wan." ucap Laras dengan girang.