
"Kenapa kamu tegang seperti itu, Sarah?," tanya Rama saat melihat Sarah seperti ketakutan.
"Aku tidak enak saja, karena kita hanya berdua." jawab Sarah dengan menundukkan kepalanya. Sarah tak berani menatap Rama.
"Kamu santai saja, bukan kah kita kesini untuk membicarakan tentang kerjasama kita?, Jadi tak akan terjadi apa-apa." ucap Rama sedikit membujuk untuk menenangkan hati Sarah yang kelihatan tidak nyaman dengan makan siang kali ini.
"Lebih baik kita makan dulu, kamu sudah lapar kan?, aku sudah sangat lapar banget, nih." ucap Rama sambil mengelus perutnya.
"Mbak!!," panggil Rama pada waiters yang berada agak jau dari nya.
Waiters itu pun berjalan menuju meja Rama dan Sarah. Lalu Rama memberikan selembar kertas yang berisikan menu makanan yang sudah mereka tulis tadi.
"Kamu santai aja, Sarah. Jangan tegang seperti itu, bukan kah kita sudah kenal sebelumnya?," ucap Rama.
Sarah pun mengangguk, namun dia masih saja menundukkan pandangan.
"Sebenarnya, ada hal yang ingin saya tanyakan pada pak Rama. Mungkin ini...,"
"Kamu tahan dulu, kita kesini mau makan siang. Jadi kalau kamu ingin membicarakan tentang pekerjaan, lebih baik nanti saja setelah kita selesai makan." ucap Rama yang sengaja memotong pembicaraan Sarah.
Sarah pun bingung dengan ucapan Rama, karena tujuan Sarah bertemu dengan Rama memang untuk membicarakan tentang kerjasama nya.
Namun, sepertinya Rama mengartikan lain dari pertemuan nya ini.
Tak lama kemudian, menu makanan yang mereka pesan pun datang. Rama yang terlihat sangat lapar itu segera menyantap nya.
Sarah pun juga menyantap makanan yang sudah terhidang di depan nya itu. Sarah tak begitu banyak bicara, Ia hanya menjawab seperlunya saja saat Rama bertanya pada nya.
Dipikiran Sarah saat ini adalah secepatnya menghabiskan makanan yang sudah ada di depan nya itu, lalu segera mengatakan tujuannya bertemu dengan Rama. Dan secepatnya nya ia pulang, sebelum ada orang yang tau kalau dia pergi makan siang berdua dengan laki-laki lain di saat proses perceraian nya sedang berjalan.
"Kenapa terburu-buru seperti itu, Sarah?," tanya Rama yang tengah melihat Sarah makan dengan cepat seperti tak menikmati makanan nya.
__ADS_1
"Iya, pak. Karena saya begitu lapar." jawab Sarah dengan menghentikan aktivitas mulutnya. Sarah menjawab dengan tidak menatap wajah Rama.
Rama pun melihat nya sangat aneh, karena dari tadi Sarah menghindari kontak mata dengan nya.
Dan kini makanan yang ada di depan nya itu sudah habis. Sarah segera menyilangkan sendok dan garpu diatas piring kosong itu.
Sarah mencoba melihat kearah Rama, ternyata Rama masih terlihat begitu menikmati makanan yang sedang ia makan itu.
Sarah pun menunggu Rama selesai, baru ia akan membicarakan hal mengganjal di hatinya itu.
Setelah beberapa menit, akhirnya Rama menyuap kan makanan yang terakhir di sendoknya itu.
Sarah sangat lega melihat nya, karena sebentar lagi ia akan pergi dari sini setelah bertanya dan mendapatkan Jawaban nya dari Rama.
"Silahkan, apa yang akan kamu katakan, Sarah." ucap Rama setelah meneguk air mineral yang ada di dalam gelas.
"Sebenarnya yang akan aku tanyakan ini, tidak terlalu penting untuk bapak. Namun aku sangat penasaran dengan jawaban yang akan bapak beri nanti." ucap Sarah mencoba memecahkan keheningan.
Sarah pun menyampaikan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada didalam hati dan pikiran nya.
Ia bertanya tentang apa yang di katakan oleh Natasya waktu itu lewat pesan singkat di platform novel online.
"Untuk masalah itu, kamu jangan berkecil hati. Memang awalnya mama lah yang merekomendasikan novel online mu. Karena mama begitu suka dengan semua karya tulis mu." Jawab Rama setelah mendengar pertanyaan dari Sarah.
"Awalnya mama menyuruhku untuk membaca karya mu, jujur sih aku sangat malas. Karena nama mu tidak ada di daftar para author yang sudah famous di platform itu. Karena memang aku biasanya menerbitkan novel penulis-penulis yang sudah terkenal." lanjut Rama menjelaskan awal mula ia menyetujui permintaan Natasya.
"Namun karena mama terus memaksa, aku pun membaca karya novel online mu. Dan aku suka dengan apa yang kamu tulis, tentang alur cerita nya yang tak terlalu bertele-tele. Lalu aku memutuskan untuk menghubungi mu, dan Yang membuat aku kaget ternyata penulis novel itu kamu." ucap Rama menjelaskan asal muasal ia ingin menerbitkan novel milik Sarah.
"Jujur saja, saat aku membaca novel mu. Aku tak tau kalau kamu lah penulis nya. Sungguh memang takdir tidak bisa ditebak, kita dipertemukan lagi." lanjut Rama sambil tersenyum pada Sarah.
Lalu Rama mengambil handphone nya karena ada panggilan masuk. Saat dilihat ternyata panggilan dari Anita.
__ADS_1
"Ada apa Anita?!," tanya Rama tanpa memberi salam terlebih dahulu setelah menggeser tombol terima yang ada di layar handphone nya.
"Kamu di mana?, ada klien yang ingin bertemu dengan mu." jawab Anita.
"Kenapa tak kamu atur saja, sih!!. Kan aku sudah bilang kalau aku saat ini sedang sibuk." Rama sangat jengkel pada Anita, karena Rama rasa Anita terus mengganggu nya.
"Tapi, ram....," belum selesai Anita bicara, Rama sudah memutuskan panggilan telepon nya.
"Kalau memang kamu sedang sibuk, saya pamit undur diri dulu, pak. Kebetulan saya juga ada janji." ucap Sarah yang seperti nya tau, kalau sebenarnya Rama sedang sibuk. Lagi pula jam makan siang juga sudah habis, jadi wajar saja Anita mencari atasannya.
Selain jam makan siang sudah habis, setelah ini memang Sarah ada janji untuk bertemu dengan pengacara nya yang sudah di sewa oleh Sarah untuk menyelesaikan kasus perceraian nya.
"Tidak, Sarah. Aku tidak sibuk, aku tau itu hanya akal-akalan Anita saja." ucap Rama. Rama sepertinya sudah hafal dengan sifat Anita.
"Tapi sebelum nya, saya minta maaf. Karena saya harus pergi lebih dulu, karena saya ada janji setelah ini." pamit Sarah sambil berdiri dan menangkupkan kedua telapak tangan nya dan diangkat nya sampai depan dada.
Rama terlihat pasrah, karena ia sadar kalau dia tak punya hak melarang Sarah pergi dari sini.
Rama pun membalas salam Sarah, yang kini telah berjalan meninggalkan Rama sendiri di situ.
Sarah menuju taksi online yang sudah ia pesan tadi. Perasaan Sarah saat ini sangat lega dan bahagia. Karena ternyata karya tulisnya benar-benar di baca dan di sukai oleh Rama.
Dan di dalam taksi, Sarah menghubungi pengacaranya. Untuk menanyakan hasil dari menemui Bima di kantor polisi.
"Assalamualaikum, pak." salam Sarah setelah panggilan telepon nya terhubung.
"Waalaikumsalam, Bu Sarah." jawab pengacara yang saat ini menangani perceraian nya dengan Bima.
"Bagaimana hasilnya setelah bapak pergi ke kantor polisi?," tanya Sarah, sengaja Sarah bertanya lewat sambungan telepon. Karena hari ini Sarah ingin visit ke outlet cabang. Jadi tak perlu repot-repot membagi waktu untuk bertemu dengan pengacara nya itu. Sarah sengaja berbohong pada Rama, agar bisa pergi dari situ.
"Awalnya pak Bima menolak dengan permintaan ibu Sarah, yang pak Bima tak akan dapat harta sepeser pun dari Bu Sarah. Namun karena saya bilang kalau pak Bima menandatangani surat cerai ini, dia akan keluar dari penjara. Dan akhirnya pak Bima menandatangani surat itu." ucap pengacara itu melaporkan semua nya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu." jawab Sarah. Lalu ia menutup telepon nya setelah mengucapkan salam pada pengacaranya.