
Terdengar suara adzan subuh berkumandang, aku segera bangun. Biasa nya kalau dirumah, sebelum subuh sudah terbangun.
Entah kenapa saat tidur dirumah ibu, rumah masa kecilku aku terbangun karena mendengar suara adzan subuh. Mungkin tidur ku terlalu nyenyak dan nyaman walau hanya di dalam gubuk yang sangat sederhana ini.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dan segera ku laksanakan kewajiban ku. Setelah selesai sholat, aku menghampiri ibu yang saat ini sedang memasak nasi di tungku yang terbuat dari tanah liat yang dicampur dengan semen.
Disini, dirumah ini masih menggunakan alat-alat tradisional saat memasak. Aku juga sudah terbiasa dengan hal ini, jadi dengan sangat mudah aku membantu ibu memasak di tungku yang masih memakai kayu sebagai bahan bakarnya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, Sarah! Temani Kean didalam, kasian dia. Pasti ia kedinginan, karena belum terbiasa tidur dirumah yang terbuat dari anyaman bambu." ucap ibu sambil membuka panci penanak nasi.
"Nggak apa-apa, Bu. Itung-itung tubuh Kean belajar beradaptasi di lingkungan ini. Agar ia betah disini." jawabku sambil memotong beberapa sayuran yang telah ibu petik dari halaman rumah.
"Kamu kan pasti capek, Sarah. Biar ibu saja yang masak. Nanti kalau semua Uda siap, baru Kalian akan ibu panggil." Ibu selalu begitu kepada anak-anak nya. Ibu tak mau merepotkan anak-anaknya, tapi aku dan Mayang selalu membantu ibu. Walau ia sering melarang kami.
"Ibu, Sarah kangen sama ibu. Biarkan Sarah bantu ibu masak ya?," ucapku sambil menatap wajah ibu yang sangat teduh. Dan kegiatan tangan ku yang sedang memotong sayur pun terhenti, saat aku menatap wajah ibu yang penuh ketenangan didalam tatapan nya.
Akhirnya ibu mengijinkan ku untuk membantu nya masak di dapur.
Aku dan ibu saling mengobrol, bercerita tentang keseharian masing-masing. Karena lama tak bertemu ibu, banyak cerita yang ingin aku ceritakan pada ibu.
Begitu juga dengan ibu, wajah ibu terlihat sangat bahagia saat bercerita tentang kehidupan nya disini.
"Bu, Sarah rencana mau membeli rumah. Tapi ibu dan bapak yang menempati. Ibu dan bapak pindah ke kota ya?," bujuk ku.
Ibu dan bapak sangat susah untuk di ajak pindah ke kota. Mereka berdua sangat mencintai kampung halamannya yang sudah ia tinggali beberapa puluh tahun yang lalu.
__ADS_1
"Tapi rasanya kalau ibu harus pindah dari rumah ini, ibu dan bapak nggak bisa, nak. Ibu sudah sangat nyaman dirumah ini. Walau rumah ini sangat sederhana. Tapi menurut ibu, disini lah kebahagiaan kami. Banyak kenangan yang terukir indah dirumah ini. Sewaktu belum ada kamu, sampai adanya Mayang di dunia ini." Ucap ibu dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin saat ini terlintas kenangan indah dulu waktu kami masih tinggal disini bersama-sama.
"Nanti biar kita bicarakan lagi dengan bapak ya, Bu?, siapa tau ibu dan bapak berubah pikiran." aku tersenyum pada ibu dan terus melanjutkan memotong sayuran.
"Hayooo...!!, lagi ngobrolin apa nih?, kayak seruuuu?!," Mayang mengagetkan kami yang sedang melakukan kesibukan masing-masing.
"Uda sholat subuh kamu, nak?," tanya ibu pada Mayang, yang baru keluar dari kamarnya.
"Mayang lagi halangan, Bu. Jadi Mayang sengaja bangun siang." jawab Mayang sambil terkekeh dengan mulutnya ditutup dengan telapak tangan kanan nya.
Aku tersenyum mendengar dan melihat tingkah laku adik perempuan ku satu-satunya itu. Walau sudah tunangan, tapi ia masih ku anggap seperti adik kecil yang lucu dan menggemaskan.
Kami pun memasak bertiga di dalam dapur yang dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu.
Kebetulan di dapur semua dinding terbuat dari anyaman bambu. Kalau di rumah, diruang tamu dan kamar-kamar masih terdapat dinding yang terbuat dari batu bata dan semen. Tapi, bagian atas tetap di sambung dengan anyaman bambu.
Masakan pun sudah terhidang di meja makan, saat kami bertiga memasak di belakang. Ternyata pengasuh Kean sudah terbangun dan membersihkan lantai dan meja yang ada diruang tamu. Kerja sama yang bagus menurut ku.
Kini sebelum kita sarapan, kita mandi terlebih dahulu secara bergantian. Karena disini kamar mandi hanya ada satu. Sambil menunggu bapak, yang sedari tadi setelah sholat subuh pergi ke sawah untuk melihat air yang masuk kedalam sawah yang saat ini sedang di tanami padi.
Dan akhirnya bapak pun datang dengan membawa dua buah kelapa, dan beberapa singkong diatas keranjang yang ia pukul di pundaknya.
"Bapak, itu bawa apa?," tanyaku saat melihat bapak masuk dari pintu dapur, sambil membawa singkong dan dua buah kelapa.
"Ini kelapa dan singkong, biar nanti ibu bikinin kalian kolak singkong kesukaan mu dan Mayang." jawab bapak, dengan seulas senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Waah itu favorit ku. Sudah lama tak makan kolak singkong," ucap ku dengan wajah penuh kebahagiaan.
Kini kami semua berkumpul di ruang tamu yang multifungsi untuk sarapan bersama. Ruang tamu ini sangat multifungsi banget, bukan karena terdapat barang-barang yang canggih dan super smart. Namun karena ruang tamu ini bisa dibuat ruang-ruang yang lain. Seperti ruang makan dan ruang berkumpul dengan keluarga.
Saat kita sedang asyik mengobrol setelah selesai sarapan. Terdengar suara ketukan pintu.
Tok!
Tok!!
Tok!!!
Ibu pun segera berdiri dari duduknya untuk membukakan pintu.
"Biar Sarah saja yang buka pintu, bu. Ibu duduk saja!" ucapku pada ibu, dan aku berdiri karena posisiku saat ini sedang berada di dekat pintu.
cekleeek!!!
Pintu ku buka, dan betapa terkejutnya aku saat melihat orang yang berada di balik pintu kayu yang sudah usang itu.
"Mas Damar!!!," Mata ini terbelalak melihat kedatangan mas Damar kerumah ini secara tiba-tiba. Padahal semalam ia menelepon ku, dan tak ada obrolan yang menunjukkan ia akan datang kesini.
Secara otomatis, orang-orang yang berada di dalam pun juga ikut kaget saat aku menyebut nama mas Damar dengan sangat keras. Sehingga mereka ikut berdiri dan melihat kearah pintu yang sudah terbuka.
"Ada apa dia kesini?, apa ia ingin segera menyelesaikan tentang yang dikatakan Lidya waktu itu?," banyak pertanyaan di dalam pikiran ku.
__ADS_1
Tak habis pikir, kalau seandainya tak ada urusan yang penting dia akan datang kesini. Karena sejak awal menikah dengan ku, ia sangat ogah-ogahan datang kerumah ini.
Kalau aku mengajak menginap dirumah ini, pasti banyak alasan yang muncul dari mulutnya.