DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Nafkah Pertama Dari Mas Bima


__ADS_3

"Kayla..!, kamu dimana?," mbak Veni memanggil dan mencari keberadaan Kayla.


Aku pun ikut mencari dengan mengedarkan pandangan ku. Betapa kagetnya aku, ternyata Kayla duduk bersanding dengan Kean sambil makan es krim.


"Aduh,,, bakal terjadi perang besar, nih." gumamku.


"Kayla!!!!," mata mbak Veni melotot saat mengetahui apa yang dilakukan Kayla dan Kean.


Aku harus bersiap-siap, takut terjadi sesuatu yang tidak ku inginkan pada Kean.


Aku harus menjadi tameng, untuk anak ku. Karena memang anak ku tak bersalah.


"Kamu ngapain dekat-dekat dengan dia?!," mbak Veni berjalan mendekati Kean dan Kayla yang duduk bersanding sambil makan es krim.


"Tapi kan Kean nggak jahat, mami. Kean baik kok, ini lihat. Kayla dikasih es krim." jawab Kayla dengan polosnya sambil mengangkat es krim nya di tunjukkan pada mami nya.


"He, kamu kan nggak boleh makan es krim, Kay." ucap mbak Veni, seperti mencari-cari kesalahan pada Kean.


"He kamu!!! Mulai sekarang kamu jangan dekati Kay!!! Siapa yang suruh kamu memberi Kay es krim?, ingat ya kalau terjadi apa-apa sama Kay, kamu yang bertanggung jawab!!," mbak Veni membentak Kean.


"Mbak, bisa nggak bicara nya pelan pada anak kecil? ini anak masih duduk di bangku TK loh. Lagian kenapa sih mbak Veni tidak suka sama anak ku?, memang apa yang dilakukan anak ku pada anak mu, mbak?!," tanya ku geram dengan apa yang dilakukan mbak Veni pada Kean.


"Seharusnya kamu sebagai ibunya harus bisa mendidik anak mu dengan benar!!, main kasih es krim aja pada anak orang!!," ucapnya ketus.


"Tapi bukan Kean yang ngasih, mami. Tapi Kay yang minta." pengakuan Kay membuat seketika wajah mbak Veni merah. Mungkin ia malu karena banyak mata menatap dirinya.


"Ayo kita pulang!!!," mbak Veni tak bisa berkata-kata lagi, lalu ia memegang tangan Kayla dan berjalan keluar.


Aku kembali kepada karyawan yang melayani ku tadi. Dan Kean masih duduk manis di kursi yang sudah disediakan untuk para pengunjung.


Setelah semua transaksi selesai, aku memesan taksi online. Sambil menunggu taksi online datang, aku duduk menemani Kean yang sedang menikmati es krim.


"Ma, kenapa sih mami nya Kay ngomong nya kasar gitu?," tanya Kean dengan wajah polos.


"Karena mami Kay sedang marah. Dia marah karena anak nya tidak ada disampingnya." jawabku.


"Tapi kan udah ketemu, amma. Kok jadi Kean yang dimarah-marah i?," tanya nya lagi.


"Karena Kean memberi Kay es krim." jawabku.


"Tapi kan kasihan Kay, amma. Kay meminta es krim itu pada Kean. Padahal Kean nggak jahat pada Kay. Tap Kean yang di marahi." Kean memanyunkan bibirnya, mungkin ia juga kesal dengan sikap mbak Veni pada Kean.


"Itu karena mami nya Kay sayang sama Kay. Takut anak nya kenapa-napa kalau makan es krim. Tapi kan Kay tadi sudah bilang pada mami nya, kalau dia yang minta es krim nya pada Kean. Bukan Kean yang memberi es krim itu. Jadi Kean nggak salah." ucapku sambil membelai rambut lebay dan hitam milik Kean.


"Sekarang anak amma senyum donk, nggak boleh cemberut gitu." bujuk ku.


"Iya, amma." jawab Kean sambil tersenyum dan wajah nya kembali ceria seperti semula.


Taksi yang ku pesan sudah datang, aku dan Kean langsung naik. Saat ini kita langsung menuju toko mas Bima.


Mas Bima hari ini minta di jemput, karena mobilnya ada di rumah ibu nya.


"Kita mau kemana, amma?, ini kan bukan jalan kearah rumah kita." tanya Kean.


"Kita mau jemput ayah dulu di toko, sayang." jawabku.

__ADS_1


"Oooo.... asyik nanti Kean mau main robot di toko ayah." Kean bersorak-sorai sambil mengeluarkan mainannya di dalam tas sekolah.


"Kean kesekolah bawa mainan?," tanya ku. Karena tanpa sepengetahuan ku, Kean memasukan mainan nya kedalam tas sekolah.


"Iya, amma." jawabnya sambil nyengir kuda.


"Lain kali tidak boleh seperti itu ya, nak. Nanti di marahin loh sama Bu guru, kalau kesekolah bawa mainan." Aku menasehati Kean dengan halus sesuai dengan umur nya. I masih sangat kecil kalau di nasehati dengan cara di bentak-bentak.


"Iya, amma. Maafkan Kean, abis Kean bosan kalau teman-teman Kean sudah pulang." ucapnya memberi alasan.


"Iya, amma paham nak. Tapi itu nggak boleh dilakukan." ucap ku.


"Kean janji nggak akan mengulangi nya lagi, amma." ucap Kean sambil mengangkat dua jari nya.


Sampai sudah di depan toko mas Bima. Saat ini terlihat toko sudah sepi, hanya ada dua orang yang sedang berbelanja.


Dari dalam taksi, terlihat mas Bima sedang duduk di meja kasir sambil bermain handphone.


Sepertinya ia tak melihat taksi yang aku tumpangi berhenti di depan tokonya.


Ia terlihat sedang bermain handphone dan senyum-senyum sendiri.


"Lagi ngapain, mas? kok sepertinya asyik banget. Sampai salamku tidak di jawab." ucap ku sambil berjalan menuju ia duduk.


"Sarah?!," mas Bima terkejut melihat kedatangan ku, ia langsung mematikan handphone nya dan langsung berdiri lalu berjalan kearah ku.


"Kamu kapan datang? kok nggak ngabarin dulu?," tanya nya dengan sangat gugup.


"Barusan, kamu nggak lihat kan kalau aku datang? Mas Bima lagi asyik main handphone sih." ucapku.


"Mas lagi chatting'an dengan teman kuliah mas dulu." jawabnya, kali ini terlihat lebih tenang. Mungkin saja benar yang di ucapkan nya.


"Ayah, ayo main robot sama Kean." Kean berlari kearah mas Bima. Dan langsung menghamburkan tubuhnya di pelukan mas Bima.


"Wah Kean bawa robot?," tanya mas Bima.


"Iya ayah. Yuk main bareng Kean!," ajak Kean.


"Sekarang Kean duduk dulu disini, setelah ayah bicara sama amma kita main bersama." ucap mas Bima sambil mengantar Kean untuk duduk diatas matras lantai.


Kean pun mengikuti apa yang diucapkan oleh mas Bima. Kean sangat patuh pada mas Bima. Kean terlihat bahagia saat bersama mas Bima.


Mungkin hati Kean sangat bahagia, akhirnya ia mempunyai sosok figur seorang ayah. Dan ia merasakan kasih sayang dari seorang ayah, walaupun hanya sebatas ayah sambung bukan ayah kandung.


"Kamu mau minum apa, sayang?," tanya mas Bima padaku sambil berjalan menuju lemari es yang berisi minuman-minuman ringan.


"Apa aja mas, yang penting jangan yang bersoda." jawab ku sambil duduk di kursi yang ada di situ.


"Ini, minumlah." ucap mas Bima sambil menyodorkan satu kaleng minuman ringan yang sudah di buka.


"Makasih, mas." ucapku.


Glek!!


Glek!!

__ADS_1


Glek!!


Minuman yang diberi mas Bima, langsung aku minum. Karena tenggorokan ku terasa sangat kering.


"Sayang, tunggu di sini ya. Ada orang, mas Bima mau layani dulu." pamit mas Bima. Karena hari sudah sore dan lima karyawan mas Bima sudah pulang.


Toko kelontong mas Bima cukup ramai, jadi karyawan nya pun harus banyak. Agar bisa melayani customer dengan baik.


Aku menunggu mas Bima sambil memainkan gawai ku. Ku buka Facebook untuk menghilangkan kejenuhan. Biasanya kalau sedang menunggu seperti ini, aku buat untuk mengetik novel online ku.


Namun untuk sekarang, aku tidak melakukan nya. Karena aku bersama mas Bima. Takut saja mas Bima tiba-tiba tau dengan hobi ku ini.


Saat aplikasi berwarna biru itu aku buka, di beranda ku muncul di barisan atas akun mbak Veni.


Sepertinya mbak Veni membuat status di sosial media dengan beberapa komentar dan like serta beberapa emoticon di bawah status yang ia posting. Tak banyak sih yang komen, tapi berhasil membuat ku penasaran.


"Dasar perempuan sok sosialita, sosokan pamer beli perhiasan emas. Padahal uang hasil dia moroti suaminya."


Aku yakin yang dimaksud mbak Veni di status nya adalah aku. Namun aku tak akan ambil pusing selama di status itu tidak menyebutkan nama ku.


Sebenarnya aku tak mau sakit hati, tapi ada rasa penasaran untuk membaca komentar-komentar yang ada di postingan mbak Veni.


"Pasti si istri baru ya, mbak?," komentar dari @momputri. Aku yakin ini akun milik mantan istri mas Bima. Karena ia selalu ada di setiap postingan mbak Veni.


"Benar, seratus buat kamu. Ingat kamu harus hati-hati dan pasang badan. Jangan sampai perempuan itu menghabiskan harta yang menjadi hak anak mu." mbak Veni membalas komentar akun @momputri yang aku duga itu akun mama nya Putri anak sambung ku.


"Tidak semudah itu dia akan menghabiskan harta yang menjadi hak anak ku mbak." akun @momputri kembali memberi balasan pada komentar mbak Veni.


"Apapun yang kamu lakukan, ingat aku akan menjadi pendukung mu." komentar terakhir dari mbak Veni tidak ada balasan dari akun @momputri.


"Dasar kompor meleduk." gumamku lirih, lalu ku teguk lagi minuman kaleng yang diberi mas Bima tadi.


"Ada apa, sayang?. Kok mukanya manyun gitu?," tanya mas Bima mengagetkan ku. Rupanya dia sudah selesai melayani pembeli.


"Nggak ada apa-apa kok, mas. Sarah hanya capek aja." ucapku beralasan.


"Kalau gitu kita pulang, yuk." ajak mas Bima.


"Aku pesan taksi online dulu ya, mas?," aku mengeluarkan handphone dan mencari aplikasi untuk memesan taksi online.


"Iya, nanti kita mampir kerumah mama untuk mengambil mobil dan menjemput Putri." jawab mas Bima.


Aku menganggukkan kepala, dan mas Bima langsung beberes toko. Ia menutup pintu harmonika toko sebelum taksi datang.


Aku duduk sambil menunggu taksi datang dan tiba-tiba mas Bima menyodorkan amplop padaku.


"Ini uang belanja." ucap mas Bima sambil menyerahkan amplop berwarna putih padaku.


"Terimakasih ya, mas." ucapku pada mas Bima. Walau aku mempunyai uang sendiri tapi ku tetap menerima nafkah yang di beri oleh suami ku.


Karena memang sudah menjadi kewajiban nya menafkahi keluarga.


"Maaf, mas hanya bisa memberikan segitu. Kalau ada rejeki lagi, nanti mas akan beri lagi." ucap mas Bima yang berhasil membuat hati ku meleleh.


"Dan mas minta maaf lagi, baru bisa memberikan nafkah itu hari ini. Hari ke tiga kira menikah." lanjut nya dengan mata berkaca-kaca dan tangan nya memegang erat tangan ku.

__ADS_1


Sebenarnya mudah sekali membuat hati seorang istri itu meleleh. Dengan ucapan ringan seperti itu saja, istri sudah merasa di anggap dan merasa menjadi prioritas.


__ADS_2