DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Puncak Nikmat POV Damar


__ADS_3

Ku ketuk pintu kamar hotel yang sudah dipesan Bianca, tanpa harus menunggu lama. Pintu pun terbuka dan kulihat didalam ada Bianca dengan tampilan yang sangat menggoda.


Dia memakai lingerie berwarna hitam yang sangat transparan dan tipis. Sehingga aku bisa melihat semua bagian tubuhnya yang mulus.


Tanpa berpikir panjang, dan hasrat ini sudah memuncak. Karena sudah seminggu lebih tak disalurkan, ditambah dengan tampilan Bianca yang sangat begitu menggairahkan. Aku pun langsung menyambar tubuh s3ksinya.


Ku gendong dan ku letakkan tubuh Bianca diatas sofa empuk yang berwana kopi susu. Ku c1umi di setiap inci kulitnya yang putih dan harum parfum mahal ini.


Tanpa harus menunggu lama, aku pun terbawa dengan suasana yang membangkitkan hasrat.


Aku puas dengan permainan Bianca yang sangat lincah ini, sehingga hasrat ini tersalurkan.


Dan kita berdua mencapai titik kenikmatan bersama.


Tak khayal kami berdua pun langsung lem4s tak bertenaga, karena beberapa kali menyemburkan lava panas.


Drrrttttt


drrrttttt


Tiba-tiba handphone ku berbunyi, disaat tubuh ini terkulai lemas tak berdaya. Kulihat handphone, ternyata Lidya yang menelepon.


"Mas, kamu dimana? di kantor kok nggak ada? ini kan belum jam pulang kantor kan?", cerocos Lidya tanpa jedah.


"Mas pulang, Lid. Lagi nggak enak badan", jawabku beralasan. Lalu ku tutup telponnya.


"Siapa Mar?", tanya Bianca dengan tubuh tak berbusana hanya tertutup selimut.


"Lidya, sayang", ku menjawab sambil mengecup keningnya, karena ia bersandar di dada ku yang terbuka.


"Mar, makasih ya?", ucap Bianca. "Kamu memang hebat Mar, aku puas dengan permainan mu", lanjut Bianca dengan mengecup bibirku lagi.


Aku Pun membalas kecupan nya, dan lidah kita saling bermain. Tak bisa di elakan, karena kita sama-sama masih berhasrat. Terjadilah pertempuran untuk yang kedua kali.


Bianca memang hebat, Sarah kalah telak dengan Bianca kalo urusan ranjang. Bianca begitu agresif dan sangat lincah bergerak di4tas tubuhku ini.


Secara bersama-sama kita memuntahkan l4h4r p4n4s, yang menandakan kita berdua mencapai kenikmatan. Dan lagi tubuh ini terkulai lemas tak berdaya berdua dibawah selimut tanpa ada baju yang menempel.


Kulihat jam menunjukkan bahwa ini sudah sore. Akhirnya kami berdua menyudahi permainan ini. Walau masih ada rasa ingin dan ingin.

__ADS_1


"Bi, makasih ya untuk hari ini. Aku pulang dulu karena ini Uda sore", pamit ku pada Bianca setelah aku mandi dan memakai baju.


"Iya, Mar. Sama-sama. Aku sangat puas hari ini," ucap Bianca yang masih telanjang di bawah selimut tebal. Entah kenapa Bianca tak beranjak dari dalam selimut yang menutupi tubuh nya.


"Kamu nggak pulang, Bi?", tanya ku.


"nanti aja, Mar.",


"Yakin, kamu aku tinggal?", tanyaku.


"Iya kamu pulang aja dulu ",


Aku pun mencium kening Bianca dan berjalan keluar dari kamar hotel.


Drrrttttt


drrrttttt


"Halo, Sarah?",


ternyata Sarah yang menelepon ku.


Aku lihat jam di tangan sudah jam lima sore, kalau aku menjemput Sarah sore ini otomatis sampai rumah akan larut malam. Karena membutuhkan tiga jam untuk ke rumah ibu nya Sarah.


"Ini Uda sore Sarah, kamu naik go car aja ya?," usul ku.


"kalau begitu besok pagi aja mas Damar jemput Sarah. Besok kan hari Sabtu, mas Damar libur kantor ", ucap Sarah dari sebrang telepon.


" Iya, mas jemput besok aja", ku tutup telpon dari Sarah.


Saat aku berjalan menuju mobil diparkiran, tiba-tiba aku bertabrakan dengan lelaki yang sudah ber umur. Ku lihat lelaki itu sepertinya sangat familiar, iya ternyata ia pak Handoko pemilik beberapa perusahaan besar di kota ku. Dan dia adalah bapaknya Celvin pacar Lidya.


"maaf, pak", ucapku sambil menganggukkan kepala.


"iya, tak apa", jawabnya sambil melihat wajah ku.


Aku pun berlalu masuk ke mobil ku. Dan ku laju kan mobil ku dengan kecepatan tinggi. Biar cepat sampai rumah takut keduluan Lidya.


Karena tadi beralasan pulang lebih awal karena sakit. Sesampainya di rumah, rumah terlihat sepi dan sangat kotor. Banyak sampah berserakan dihalaman rumah. Semenjak dua Minggu ditinggal Sarah rumah sangat kotor dan tak terawat.

__ADS_1


Aku pun masuk rumah, terlihat mama nonton tivi diruang keluarga sambil menaruh kaki nya diasmtas meja.


"Uda pulang, mar?", tanya mama.


"Iya, ma", jawabku langsung masuk kamar untuk ganti pakaian.


"Kamu pulang nggak bawa makanan, mar? Mama lapar nih", ucap mama masih terdengar dari dalam kamar.


"Emang mama nggak masak? Damar juga lapar nih", tanyaku keluar kamar sambil mengelus perut.


"Ya enggak lah, masa harus mama yang masak?, Lagian kamu juga belum kasih mama uang",


"Semua uang Damar uda Damar kasih ke mama. Ini aja Damar pegangan Damar udah nipis",


"Kamu ini, nggak seperti Lidya. Setiap mama minta uang pasti langsung kasih nggak pake ngomel-ngomel kayak kamu", ucap mama.


"Si Sarah itu kapan pulang, Mar?. Lihat rumah kotor banyak sampah, cucian menggunung tak ada yang nyuci. Baju-baju bersih mama hampir habis di almari gara-gara si Sarah nggak pulang-pulang ", gerutu mama.


"Besok Sarah pulang, ma. Dia minta dijemput ", jawab ku


"Huuu... dasar manja. Gitu aja minta jemput. Nggak bisa apa pulang sendiri?!", celetuk mama.


Aku menuju dapur untuk mengambil air putih, dan terlihat di atas meja makan ada kotak bungkus makanan dari restoran bintang 5.


"Ma, harus nya mama masak aja. Daripada order makan terus apalagi makan mahal dari restoran terkenal. Pasti harga nya mahal ", ucapku sambil memperlihatkan kotak makanan itu.


"Kamu perhitungan banget sih Mar, mama ini Uda tua. Sudah seharusnya makan yang enak-enak. Dulu mana bisa makan enak, wong uang mama habis untuk biaya sekolah kamu. Jadi sekarang sudah waktunya mama itu kamu manjakan", ucap mama.


Ada benarnya juga kata mama, mungkin mama dulu mau makan pun susah. Karena harus membiayai sekolah aku dan Lidya.


Mungkin ini saatnya aku menuruti semua permintaan mama. Hitung-hitung balas Budi ke mama walaupun aku tak akan pernah mampu membalas kasih sayang yang mama berikan mulai aku kecil sampai sekarang.


Aku pun masuk kamar untuk istirahat, karena seharian ini tenaga ku terkuras habis. Untung saja aku tadi sudah makan sebelum pulang. Jadi aku nggak kelaparan saat sampai rumah. Karena aku tau, pasti tak ada makanan terhidang di meja makan.


"Damar, istirahat dulu ma. Damar capek, kerjaan numpuk di kantor", pamit ku.


"Lidya, masih belum pulang Mar, dari luar kota?", tanya mama.


"Uda ma, tadi sudah dikantor. Mungkin dia masih lembur ma", jawabku sambil berlalu masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Ku rebahkan tubuhku diatas ranjang, masih terbayang permainan ku bersama Bianca tadi siang.


__ADS_2