DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Air Comberan


__ADS_3

Sinta segera mendekati tubuh mbak Veni yang masih bergetar.


Lalu tangan Sinta mencubit lengan mbak Veni dengan sangat keras.


"auuw..," pekik mbak Veni dengan refleks.


Setahu ku, kalau orang benar-benar kesurupan, ia tak akan merasakan rasa sakit karena cubitan. Jangan kan cubitan, sekali pun dipukul ia tak akan merasa sakit.


Tapi kenapa mbak Veni menjerit seperti kesakitan?


Dan kenapa juga Sinta tersenyum seperti sangat puas dengan apa yang ia lakukan?


Lalu mbak Veni kembali meraung-raung dengan tubuh yang makin bergetar.


"Sin, kamu yakin caramu akan berhasil?," tanya Siska.


"Kamu tenang saja, ini hanya permulaan." jawab Sinta dengan sangat tenang.


"Tapi kenapa dia semakin menjadi-jadi, Sin?," Siska sangat khawatir melihat keadaan mbak Veni dengan rambut yang sebelumnya rapi dan halus kini menjadi awut-awutan.


"Kamu tenang saja, Sis." Lagi-lagi Sinta menjawab dengan penuh keyakinan.


Lalu ia berjalan meninggalkan mbak Veni yang masih menjerit, dan meminta dua satpam yang tengah berdiri di belakang untuk mengikutinya berjalan keluar dari dalam salon.


Entah kemana mereka bertiga, sudah tak nampak dari pandangan mataku.


Siska benar-benar terlihat sangat cemas pada keadaan mbak Veni.


Beberapa menit kemudian Sinta dan dua orang satpam itu datang dengan membawa Sember di tangan kanan salah satu satpam.


"Apa yang mereka bawa?," gumamku dalam hati.


"Hmmm.. bau apa ini?," teriak salah satu pengunjung salon yang telah di lewati Sinta dan kedua satpam sambil menutup hidung dengan tangan nya.


"Iya nih, bau apa ini?, busuk sekali?!," sahut pengunjung salon yang lain, dengan hidung yang ditutupi tas.


Bau yang tidak sedap itu kini menyebar di satu ruangan yang luas ini.


Semua pengunjung termasuk aku pun tak mau melepaskan tangan yang saat ini menutupi hidung. Terkecuali mbak Veni, ia sangat kuat menghirup aroma yang tidak sedap itu.


Jujur aroma busuk itu membuat perut ku mual, dan ingin sekali mengeluarkan semua isi perut ku. Namun dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk menahan nya.


Siska terlihat pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Sinta, mungkin yang ada di pikiran nya saat ini hanya ingin mbak Veni cepat sadar kan diri.


Byuuurrrrr....!!!!!!!!


Tanpa banyak bicara dan menunggu lama, air yang beraroma sangat menusuk di hidung itu disiram ke muka dan tubuh mbak Veni.

__ADS_1


Mbak Veni yang awalnya memejamkan mata dengan sangat erat dan tubuh yang kejang-kejang, seketika membuka lebar mata nya dan tubuhnya beranjak bangun dari tidurnya.


"Huweeeeekkkk.... apa ini?!!!," mbak Veni berteriak marah pada Sinta.


"Alhamdulillah...." serentak semua pengunjung salon termasuk juga aku, mengucap syukur.


"Akhirnya ia sadar." celutuk salah satu pengunjung yang ada di belakang ku.


"Waah.... benar-benar hebat kamu mbak. Satu jurus saja dia sudah dmsadarkan diri." sahut pengunjung yang lain.


Siska dan semua pengunjung salon yang berada di sini terlihat sangat bahagia dan lega, setelah melihat mbak Veni sudah sadarkan diri dari kesurupan nya.


Namun berbeda deymbak Veni, dia menatap Sinta dengan penuh kebencian dan emosi yang membara. Terlihat sekali dari sorot mata nya.


"Sis, tolong aku..." rengek mbak Veni pada Siska yang berdiri menjauhinya sambil ia mengulurkan ke dua tangan nya.


"Tapi kamu bau." jawab Siska dengan tangan memencet hidung nya.


"Sekarang kamu ke kamar mandi, gih!!!!," perintah Siska.


"Bau kamu seperti air comberan." ucap Siska dengan tangan nya masih tetap menutup mulut dan hidung nya.


Dengan rasa malu, mbak Veni pun segera berlari kearah toilet untuk membersihkan tubuhnya.


"Mbak, segera antar baju ganti untuk Veni!!. Ambil sekarang diruangan ku." Siska memerintah karyawan nya dan ia berjalan menuju ruangan kerjanya. Karyawan yang ia perintahkan pun mengikuti nya dari belakang.


Setelah semua biaya perawatan sudah dibayar, aku dan Sinta segera berjalan menuju mobil ku yang terparkir di tempat parkir khusus pengunjung salon ini.


"Sin, kamu dapat ilmu dari mana kok bisa sadarkan orang kesurupan seperti tadi?," tanyaku, sambil tangan ini mengendalikan kan setir mobil.


Namun bukan nya menjawab Sinta hanya tersenyum dengan wajah yang sangat puas.


"Kenapa kamu tak menjawab pertanyaan ku dan kenapa kamu hanya tersenyum seperti itu, Sin?," tanya ku dengan sekilas aku memandang lagi wajah Sinta.


"Kenapa aku tersenyum seperti itu? ya karena aku merasa bahagia aja." jawab nya.


"Kamu dapat ilmu darimana kalau untuk menyadarkan orang kesurupan itu dengan menyiramkan air comberan?," tanya ku.


"Setau ku, kalau orang yang sedang kerasukan jin atau setan, cara menyadarkan nya dengan di ruqyah. Bukan disiram dengan air comberan seperti itu." lanjutku.


"Beda orang yang kesurupan, beda pula penanganan nya, Sar!!," jawabnya dengan santai sambil mengangkat kedua kaki ke atas jok mobilku.


"Kalau untuk orang seperti Veni, memang harus di siram dengan air comberan, ha ha ha." lanjut Sinta di ikuti dengan suara tawa yang keras penuh dengan kepuasan.


"Kenapa bisa begitu, Sin?," tanya ku. Sengaja ingin memancing pengakuan Sinta, siapa tau pikiran nya tentang mbak Veni sama dengan pikiranku.


"Karena Veni tadi hanya pura-pura kesurupan, Sarah." ucap Sinta.

__ADS_1


Yap!! Berarti apa yang ada dalam pikiran ku, ternyata sama dengan apa yang di pikirkan Sinta.


"Oh ya?, kamu jangan mengada-ada Sin!. Kalau yang kamu ucapkan itu bohong nanti malah jatuhnya fitnah!!!," ucapku.


"Aku sama sekali tidak mengada-ada, Sarah. Logikanya, mana ada orang yang kesurupan merasakan sakit saat di cubit. Dan sering sekali, mata Veni menatap ke arah kamu dan Siska." ucap Sinta berasumsi.


"Aku rasa dia pura-pura kesurupan, karena dia tidak bisa membayar biaya perawatan nya, he he he." celetuk Sinta.


"Hussst,,, kamu itu nggak boleh berburuk sangka." ucap ku sambil meletakkan jari telunjuk di bibirku.


Jujur sih, aku sepemikiran dengan Sinta. Namun aku tak berani mengungkapkan nya, karena tak enak saja berpikir buruk pada kakak ipar.


"Memang kamu kenal dengan dia, Sar?, kok sepertinya dia sangat membencimu?," tanya Sinta.


"Membenci bagaimana maksud mu, Sin?," tanya ku pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Sinta.


"Ya... kalau melihat Veni menatap mu, seperti nya dia punya dendam pribadi dengan mu. Apa jangan-jangan, dia mantan pacar Bima?," ucap Sinta dengan menatap dalam padaku.


"Ih... apaan sih kamu Sin? menatap aku kok begitu banget. Aku jadi salah tingkah nih!!," jawabku, karena risih saja dengan tatapan Sinta.


"Asal kamu tau ya, Sin. Mbak Veni itu istri dari kakak lelaki mas Bima." jawab ku.


"Hah???, jadi dia saudara ipar mu?, hmmm pantas saja dia tidak suka dengan mu." celetuk Sinta.


"Kamu harus hati-hati menghadapi orang seperti ular semacam Veni itu." lanjut Sinta.


Aku tak menjawab ucapan Sinta, dan aku terus fokus ke depan melihat jalan yang aku lewati.


Aku mengantarkan Sinta untuk pulang kerumahnya. Dan sengaja kali ini mobilku akan ku bawa pulang. Kita lihat saja bagaimana nanti ekspresi wajah mas Bima saat ia mengetahui aku pulang mengendarai mobil.


"Sin, aku langsung pulang ya. Ini sudah sore banget." pamitku pada Sinta yang sudah keluar dari mobil.


"Kamu yakin? kamu nggak makan dulu didalam?," Sinta menwarkan makanan yang sudah ia masak.


Namun aku menolak nya, karena setelah ini aku akan ada acara di rumah ibu mertua alias ibu nya mas Bima.


"Lain kali aja ya, Sin." jawab ku.


Setelah berpamitan pulang, aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Karena takut sekali kalau nanti aku terlambat datang.


Sebelum pulang kerumah, aku sengaja mampir ke toko. Mengambil beberapa potong kue-kue untuk aku bawa kerumah ibu nya mas Bima.


"Sudah tutup, Ren?," tanyaku pada Reni, yang saat ini sedang menyapu didalam ruko.


"Baru saja di tutup, Bu. Karena kue-kue nya sudah habis." jawab Reni.


"Tinggal milik Bu Sarah, yang tadi sudah ibu pesan." jawab Reni.

__ADS_1


"Baik Ren. Kamu bisa lanjutkan kegiatan mu sekarang. Biar aku yang mengambil kotak kue yang ada meja tamu itu." ucapku pada Reni sambil berjalan kedalam toko, untuk mengambil satu kotak kue yang ada diatas meja kasir.


__ADS_2