
"Kurang ajar, Sarah sudah mempermalukan aku!!!," gerutu Laras saat berada di dalam mobil.
Akhirnya mereka berdua pulang dengan tangan kosong, tak ada hasil. Tak ada negoisasi dengan Sarah, karena mereka hanya sebentar bertemu dengan perempuan yang berhasil memenjarakan mantan suami nya itu.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Bu?," tanya Veni yang saat ini posisi duduknya berada di belakang setir.
"Kita ke toko Bima saja, Ven. Kita lihat ada berapa uang yang ada di toko nya saat ini." Laras mengajak Veni untuk pergi ke toko milik Bima, yang menjadi sumber penghidupan nya saat ini.
"Baik, Bu." Veni menjawab dengan semangat. Karena ia sangat senang melakukan ini untuk keluarnya Bima dari penjara. Asalkan ia tidak disuruh untuk memohon dan meminta kepada Sarah, Veni akan melakukan apapun asal Bima bisa keluar dari penjara secepatnya.
"Seandainya aku punya tabungan sebesar lima puluh juta, aku akan memberikan nya untuk mu cuma-cuma, Bim. Agar kamu bisa menghirup udara bebas." gumam Veni di dalam hati, sambil terus mengendalikan kuda besinya itu.
"Yang kenceng bawa mobilnya, Ven!!, jangan lelet seperti ini?!," ketus Laras pada Veni.
"Tapi, Bu. Keselamatan kita itu juga penting." jawab Veni.
"Kamu kalau dibilangin orang tua pasti membantah!!!," sengit Laras.
"Baik, kalau ibu minta kecepatannya ditambah." ucap Veni didalam hati.
Lalu tanpa banyak bicara, Veni menginjak pedal gas sampai dalam. Sehingga laju mobil yang mereka tumpangi itu, melaju dengan kecepatan tinggi.
Terlihat Laras kebingungan saat mobil melaju semakin tinggi. Ia bingung mencari pegangan, agar keseimbangan tubuhnya terjaga. Sehingga tubuh yang sedikit bongsor itu oleng karena tidak bisa menjaga keseimbangan.
"Pelan kan Veni...!!," teriak Laras dengan tubuh yang sempoyongan.
Veni yang melihat itu pun tertawa puas di dalam hati nya.
"Makanya, jadi orang tua itu jangan banyak omong dan jangan nyebelin." gumamnya dalam hati.
Lalu dengan sengaja, Veni pun menginjak pedal rem dengan mendadak. Alhasil tubuh bongsor Laras pun terjungkal kedepan.
__ADS_1
"Auw!!!." pekik Laras sambil memegang jidatnya yang terpentok dasboard mobil.
Veni pun tersenyum jahat, saat melihat ibu dari suami nya itu kesakitan karena ulah nya.
"Kamu ini sengaja mau membunuh ku dengan membuatku jantungan ya, Ven!!," Laras sangat marah dengan perlakuan Veni itu.
"Maaf, Bu. Veni tidak sengaja, menginjak rem. Karena ibu tiba-tiba teriak menyuruhku untuk berhenti." sangkal Veni.
"Memang aku menyuruh mu menghentikan mobil ini. Tapi ya nggak harus jidatku terpentok ini!!!," ibu meluapkan emosi nya dengan memukul dasboard mobil yang membuat jidatnya itu kesakitan.
Veni yang mendengar dan melihat rintihan mertua nya yang seperti devil itu pun secara tak sengaja cekikikan.
"Diam kamu Veni!!!, kurang ajar kamu ya, ada orang tua sedang kesakitan. Kamu malah menertawakan." kini tanduk di kepala Laras pun keluar karena ulah Veni.
"Tidak mau minta maaf karena kesalahan mu jidat ku sakit, malah kamu tertawa. Seakan-akan aku ini lelucon."
"Maaf kan Veni, Bu." ucap Veni dengan wajah takut saat melihat ibu mertuanya itu marah-marah.
"Nah, begini cara membawa mobil. Kecepatan nya tidak terlalu tinggi. Jadi pemandangan sekitar jalan masih bisa di nikmati." celetuk Laras dengan duduk tenang dan bersandar. Sambil mata terus mengedarkan pandangan nya ke samping kiri jalan.
Tak beberapa lama, akhirnya mereka sampai di depan toko kelontong milik Bima. Toko itu sekarang lebih terlihat ramai. Mungkin karena stok di toko ini kembali banyak dan lengkap. Setelah di beri stok oleh Bara, pemilik agen sembako terbesar di toko ini.
"Ternyata toko Bima, lumayan ramai juga." gumam Laras, yang di dengar Veni yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.
"Aku rasa, Bima mempunya uang itu, Bu. Karena di lihat dari tokonya saat ini, banyak pembeli yang datang. Dan aku rasa setiap hari nya pasti pembeli seperti ini." timpal Veni.
"Ya sudahlah, aku akan masuk." ucap Laras sambil meninggalkan Veni yang masih berdiri menatap ke arah toko Bima.
Ia membayangkan, kalau dirinya ada di sana sebagai nyonya Bima yang ikut mengelola bisnis suaminya.
Veni memang sangat antusias menjadi istri Bima. Dia sudah jatuh hati pada adik kandung suaminya itu.
__ADS_1
"Ven!!!, apakah kamu akan terus berdiri bengong seperti patung disitu??!!," teriak Laras membuyarkan lamunan Veni tentang keluarga kecilnya dengan Bima.
"Ii..iya Bu!," sahut Veni, lalu ia berlari kecil menyebrang jalan menuju toko kelontong milik Bima.
"Itu siapa, Bu?," tangan Veni menunjuk Ina yang sedang duduk di meja kasir.
"Itu Ina, karyawan yang sudah sangat di percaya oleh Bima untuk mengelola toko ini." Jawab Laras menjelaskan tentang Ina pada Veni.
"Lihat saja hasil kerja nya, toko Bima semakin melesat saat ia mengatur dan menjalankan nya." lanjut Laras memuji ketekunan Ina.
"Sebenarnya, aku akan menyuruh Bima untuk menikahinya setelah bercerai dengan Sarah. Namun ternyata Putri menginginkan Bima agar kembali rujuk dengan Areta." Laras terus bercerita tentang rencana yang akan ia lakukan pada Bima.
Veni yang mendengar nya pun, langsung patah hati. Ia merasa tak akan ada kesempatan untuk hidup berdampingan dengan Bima.
Tiba-tiba mata Veni pun berkaca-kaca, air mata sudah memenuhi matanya. Dan tak dapat di hindari, air mata itu pun jatuh ke pipi mulusnya.
"Ven!!, kenapa kamu menangis?," tanya Laras yang tidak sengaja melihat air mata Veni yang membasahi pipinya.
Dengan sangat cepat, Veni pun segera menyeka air mata itu.
"Mata Veni kelilipan, Bu." jawab Veni sambil terus mengedipkan kelopak matanya, agar Laras percaya kalau dia memang lagi kelilipan.
"Kamu bikin kaget aku saja!!, aku kira kamu merasa terharu saat mendengar ceritaku tentang Bima anak ku!!," ucap Laras sambil berjalan masuk kedalam toko dan meninggalkan Veni, yang masih sibuk membersihkan bekas airmata yang mengalir di pipinya.
"Ina, bagaimana toko pagi ini?," sapa Laras sangat ramah pada Ina.
Entah setan apa yang merasuki tubuh Laras pagi ini, karena tidak seperti biasanya. Biasanya tak ada ucapan ramah pada siapapun, apalagi pada orang yang status nya ada di bawahnya.
"Alhamdulillah, pagi ini toko sangat ramai Bu. Seperti yang ibu lihat ini." jawab Ina sambil tersenyum sangat manis pada Laras.
Melihat keakraban Ina dan Laras, Veni sangat marah. Dia terbakar api cemburu.
__ADS_1
Veni sangat tidak rela kalau seandainya Bima menikah dengan perempuan miskin seperti Ina. Karena kalau ia orang kaya, minimal anak orang kaya. Veni yakin dia tidak akan bekerja menjadi pelayan toko kelontong seperti ini.