
Sampai di rumah, Kean tidur dengan nyenyak setelah melaksanakan sholat ashar. Mungkin dia terlalu capek hingga dengan cepat ia terlelap.
Aku mulai memasak untuk makan malam nanti, sebelum mas Bima datang.
Aku harus bertingkah laku seperti biasanya, agar mas Bima tak mengetahui tentang apa yang aku sudah ketahui.
Kali ini aku masak menu kesukaan mas Bima, yaitu cumi saos Padang.
Bau harum bumbu nya sungguh membuat perut semakin keroncongan.
Setelah masakan sudah selesai dan sudah terhidang diatas meja makan.
Aku segera mandi dan berdandan cantik seperti biasanya. Dan memakai pakaian yang bagus, kalau di dalam rumah aku melepas Khimar panjang ku.
Sehingga rambut panjang sebahu ku ini tergerai indah.
Jam sudah pukul lima sore, sebentar lagi mas Bima akan datang.
Kini aku duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu kedatangan mas Bima.
Sambil mengetik novel online ku lewat handphone. Karena mau mengambil laptop langkah ini terasa berat.
Baru dapat satu bab, tiba-tiba terdengar suara mobil mas Bima masuk kedalam garasi.
"Assalamualaikum." ucap salam mas Bima sambil membuka pintu rumah. Karena sengaja pintu tak aku kunci.
"Waalaikumsalam," jawabku seraya berdiri menyambut mas Bima, dan mencium punggung tangan mas Bima.
"Kamu cantik sekali, sayang." bisik mas Bima.
"Terima kasih, mas." jawab ku saat dipuji kecantikan ku.
"Putri mana, mas?," tanya ku sambil melihat dibelakang mas Bima yang memang tak ada Putri disitu.
"Putri tidur dirumah ibu." jawab mas Bima. Yang berjalan menuju kamar, dan aku mengikutinya di belakang dengan membawa tas milik mas Bima.
"Mas Bima mau mandi dulu?," tanya ku sambil membuka kancing kemeja mas Bima.
"Aku mandi dulu aja, setelah itu aku mau makan. Sudah lapar nih!," ucap mas Bima sambil menunjuk perut nya.
Mas Bima masuk kedalam kamar mandi, dan aku menyiapkan baju ganti Untuk nya.
Setelah baju aku taruh diatas kasur, aku keluar meninggalkan kamar. Untuk melangkah ke dapur untuk membuatkan mas Bima kopi.
"Masak apa kamu, sayang?, kok bau nya bikin perut ku tambah lapar?," tanya mas Bima sambil menghirup aroma masakan yang aku masak.
"Lihat aja, mas. Sarah yakin kamu pasti suka." jawab ku sambil mengaduk kopi yang baru aku tuangi air yang mendidih.
"Waahhh.... kamu benar-benar istri idaman sayang. Kamu pintar sekali memanjakan aku." ucap mas Bima saat membuka tudung saji yang ada diatas meja makan.
"Bukan hanya pintar di ranjang, kamu juga sangat pintar di dapur. Aku memang tak salah menjadikan mu seorang istri. Sudah cantik, sholehah pula." mas Bima mulai mengeluarkan gombalan nya, jujur wanita mana yang tak mabuk kepayang mendengar gombalan-gomabalan mas Bima. Aku saja seperti diajak melayang saat mas Bima memuji ku dengan kata-kata manis nya.
"Terimakasih mas," ucap ku sambil tersenyum.
Mas Bima menyodorkan piring padaku, dan aku segera menyendokkan nasi untuknnya.
__ADS_1
"Cukup, sayang." ucap mas Bima. Lalu aku memberikan beberapa sendok cumi saos Padang di atas nasi nya.
"Sebentar aku panggil Kean dulu, mas." ucapku pada mas Bima saat mas Bima menyendokkan nasi kemulut nya.
"Kean, ayok kita makan!, di tunggu ayah tuh!," ucap ku pada Kean yang masih berbaring di atas kasur nya.
"Iya amma." Kean bergegas berdiri dan berjalan menuju meja makan.
Kini kita bertiga makan bersama, sungguh kebahagiaan luar biasa yang dulu tak pernah aku rasakan.
"Amma, Kean udah selesai. Piring kotor nya Kean taruh di belakang ya?," tanya Kean.
"Iya, nak." Kean memang sudah terbiasa selesai makan langsung ia bersihkan dan piring bekasnya makan pun langsung ditaruh di wastafel tempat pencucian piring.
"Kamu nggak nambah, mas?," tanya ku pada mas Bima.
"Boleh, sayang!," mas Bima menyodorkan piringnya, dan aku sendokkan lagi nasi putih yang masih hangat ini tak lupa cumi yang ku masak tadi juga kutaruh diatas piring nya.
"Memang masakan mu tak pernah gagal, sayang. Membuat aku tambah lagi, tambah lagi dan lagi." ia mengunyah makanan nya sambil matanya menatap ku. Aku hanya tersenyum pada nya tanpa berucap apapun.
"Oh ya sayang, tadi handphone ku ketinggalan. Kamu lihat nggak ada dimana?," tanya mas Bima menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah.
"Tidak, Sarah tidak melihat nya mas." jawab ku, pura-pura tidak tau. Agar mas Bima tidak curiga kalau aku telah membuka-buka handphone nya.
"Biar mas cari sendiri setelah ini." jawab mas Bima sambil menyelesaikan makan nya. Sisa satu sendok suapan saja nasi dipiring mas Bima.
Setelah suapan terakhir masuk, dan sudah ditelan pula. Ku ambilkan segelas air putih, dan segera kuberikan pada mas Bima. Ia pun mengambil nya dan segera meminumnya.
"Alhamdulillah...," ucapnya setelah selesai minum segelas air putih.
"Iya, mas. Sarah beresin ini dulu." Aku menumpuk piring-piring kotor sisa makanan. Dan mas Bima langsung bergegas kekamar.
Setelah selesai cuci piring, aku menuju kamar Kean. Untuk melihat aktivitas anak ku.
Dan ternyata ia sudah tertidur, mungkin ia kecapean. Karena tadi tidak tidur siang.
Lalu aku berjalan menyusul mas Bima yang masih ada di kamar. Untuk pura-pura membantu mencari handphone nya
Padahal aku sudah tau tempat handphone yang ku letakkan tadi.
"Sudah ketemu, mas." tanya ku dari pintu kamar. Dan ternyata handphone mas Bima sudah ketemu. Terlihat ia sedang berbicara lewat ponsel nya, tapi entah dengan siapa. Sampai ia tak mendengar pertanyaan ku
Lalu aku duduk di bibir ranjang untuk menunggu mas Bima yang sedang berbicara lewat telepon membelakangi ku.
"Sepertinya mas Bima tidak tahu kedatangan ku." ucapku dalam hati.
"Sarah?!, sudah dari tadi kamu disini?!," tanya mas Bima terkejut, saat ia membalikkan badannya dan melihat ku sedang duduk di belakang nya.
"Iya, mas. Sepertinya kamu sedang serius menelpon, jadi aku tak mau ganggu." ucapku.
"Hmmm... sebenarnya itu telpon dari anak-anak ditoko. Tadi mereka mas suruh merekap ulang laporan pengeluaran dan pemasukan uang toko. Dan ternyata toko ku saat ini sedang rugi besar Sarah Dan butuh suntikan dana yang lumayan besar. Karena tadi barang baru yang datang dari pabrik, harganya naik sangat drastis." ucap mas Bima dengan wajah lesu. Terlihat sekali diwajahnya seperti banyak pikiran. Lalu mas Bima duduk di sampingku.
"Sabar, mas. Mungkin ini ujian kita. Yang penting kamu tetap berusaha." ucapku memberi semangat padanya.
Lalu mas Bima menggeser tubuhnya menjauh dariku, dan ia menaruh kepalanya di atas pangkuanku.
__ADS_1
"Maafkan aku, kalau saat ini aku masih belum bisa memberikan mu nafkah lahir untuk mu." ucap mas Bima dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, mas. Gaji ku kerja di toko, inshaallah masih cukup kok untuk makan kita setiap hari." Aku sangat kasihan melihat mas Bima, untung saja aku punya penghasilan sendiri. Jadi walau usaha mas Bima sedikit goyah, aku masih mempunyai kemasukan.
"Maafkan mas ya, Sarah. Mas janji kalau keadaan toko ku kembali lagi seperti dulu, semua hasil toko biar kamu yang handle." ucap mas Bima sambil menatap ku.
Lalu ia duduk dari tidur nya dan ia memelukku dengan erat. Aku tepuk pelan punggung untuk menguatkan hati mas Bima.
"Hari ini aku capek banget, sayang. Aku mau istirahat dulu." pamit mas Bima sambil menggeser tubuhnya ke tengah ranjang.
"Kamu istirahat saja dulu, mas. Sarah masih belum kantuk. Sarah mau lihat Kean dulu." pamit ku seraya berdiri dari duduk ku. Dan mas Bima menjawab dengan anggukan kepalanya dan matanya sudah terpejam.
Aku keluar dari kamar, dan segera ku tutup pintu kamar.
Sebenarnya tujuan ku keluar kamar, selain untuk melihat Kean, aku juga mau mengetik novel online ku.
Setelah melihat Kean dan membetulkan selimut ditubuh kecilnya, aku segera keluar dari kamar Kean.
Sofa depan televisi lah, tempat ternyaman ku. Entah kenapa kalau mengetik duduk di sofa ini. Ide cerita dari otak ku ini mengalir terus seperti tidak ada putus nya.
Kadang dalam satu jam aku bisa mendapatkan dua ribu lebih kata.
Aku mulai mengetik novel online ku lewat handphone, menuang ide-ide cerita yang muncul serta yang sudah aku rancang sebelum nya.
Dua jam mengetik, alhamdulilah empat bab lebih sudah aku dapat. Kini rasa kantuk sudah mendatangi ku.
Setelah up bab-bab yang sudah aku buat, aku segera mematikan handphone.
Lalu ku susul mas Bima yang sudah tertidur terlebih dahulu. Saat kaki akan melangkah, lagi-lagi ada suara mobil berhenti di depan rumah.
Aku masih penasaran dengan mobil itu, sudah malam ini mobil pak Edi terparkir di depan rumah ku.
Ku intip lagi dari balik korden, ternyata masih sama dengan yang kemarin malam. Dengan wanita yang sama pula.
Walau tak kelihatan wajahnya, karena memang keadaan di luar gelap. Aku masih bisa mengenali tubuhnya, dia wanita yang sama dengan wanita dinihari yang di bawa oleh pak Edi.
"Apa yang dilakukan pak Edi dengan wanita itu? apa dia anaknya?," tanyaku dalam hati. Karena mereka terlihat berbeda usia sangat jauh.
Kini mereka sudah hilang dari pandangan ku, dan lagi mobilnya masih terparkir di depan rumah ku.
Aku segera masuk kamar, karena memang mata ini sudah tak bisa diajak kompromi.
Mas Bima terlihat sangat nyenyak tidurnya, terdengar suara dengkuran kecil di telinga ku.
Aku merebahkan tubuhku dan segera memejamkan mata ku yang daya nya sudah tinggal beberapa Watt lagi.
...****************...
Jam dua pagi aku terbangun. Aku berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dan segera kulakukan sholat malam. Dalam sholat malam ku itu, aku meminta petunjuk pada Allah untuk kehidupan rumah tanggaku yang sekarang ku jalani ini.
Betah sekali aku bersimpuh di atas sajadah di malam yang sunyi ini. Hanya ada suara jarum jam yang berputar dan dengkuran halus dari mas Bima yang menemani ku.
Sungguh malam yang sunyi, suasana yang sangat pas untuk menangis meminta ampun dan berdoa pada sang pemilik semesta.
__ADS_1