
"Sabar Sarah, kamu jangan mudah terpancing emosi. Karena kamu harus tau kalau mbak Veni tidak menyukai mu." aku mensugesti diriku sendiri sambil ku usap dada ku.
Selama mas Bima tidak menanggapi nya, aku akan percaya padanya. Demi keutuhan keluarga yang aku jalani saat ini.
Jujur aku tak ingin gagal lagi berumah tangga, setelah kegagalan di rumah tangga yang pertama bersama mas Damar.
Kali ini aku harus benar-benar bisa mengontrol emosi ku, selama aku tak melihat mas Bima menanggapi mantan istri nya. Aku akan mencoba percaya padanya.
Karena beberapa kali Putri mengirimkan foto bundanya pada mas Bima. Mas Bima tak pernah menanggapinya. Itu yang membuat hati ku sedikit tenang, walau kadang ada juga rasa jengkel.
Segera ku tutup aplikasi itu, karena membaca komentar-komentar mereka berdua bisa merusak kesehatan mental ku.
Dari pada aku berpikir aneh-aneh lebih baik aku tak membacanya. Karena menjaga kesehatan mental itu sangat lah penting.
Karena aku lihat komentar yang mereka tulis, seperti sengaja di buat-buat. Untuk memancing emosi ku, dan tujuannya agar aku cekcok dengan mas Bima.
Handphone ku taruh diatas sofa, kini aku membuka laptop untuk mengetik.
Aku lihat jam, masih belum waktunya mas Bima pulang. Jadi aku mengisi waktu luang ini dengan mengetik. Mungkin ini lebih bermanfaat dari pada melihat postingan mbak Veni di akun Facebook, yang isinya bisa saja berniat untuk menyakiti hati ku.
Sesekali aku melihat Kean yang masih tengah asyik mewarnai gambaran nya. Kalau untuk gambar dan mewarnai Kean bisa betah seharian di dalam kamarnya. Karena itu memang hobinya.
Baru mengetik dapat satu bab, terdengar suara mobil mas Bima masuk kedalam garasi rumah.
Laptop segera ku tutup dan langsung ku taruh di dalam lemari pakaian.
Setelah kurasa semua sudah aman, aku keluar untuk membukakan pintu rumah.
"Assalamualaikum, sayang." mas Bima mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, mas." jawab ku sambil meraih tangan dan mencium punggung tangan mas Bima. Serta tas yang di jinjing mas Bima pun segera aku ambil.
"Assalamualaikum...," Ternyata kali ini Putri ikut pulang bersama mas Bima.
"Waalaikumsalam," jawabku. Lalu Putri mencium punggung tanganku, walau terlihat sekali wajah nya saat ini sedang badmood. Mungkin saja ia dipaksa mas Bima untuk ikut pulang kesini.
__ADS_1
"Aku langsung mandi dulu aja." ucap mas Bima langsung menuju ke dalam kamar.
"Kamu sudah mandi, put?," tanya ku pada Putri.
"Udah!," jawabnya singkat. Lalu ia masuk kedalam kamar nya, dan pintu kamar nya ia hempaskan dengan kuat. Sehingga keluar suara yang sangat keras.
"Astaghfirullah.....," ucapku sambil mengelus dada. Akibat mendengar suara pintu yang keras itu, jantung ku berdebar dengan kencang.
"Suara apa itu, Sarah?," tanya mas Bima dari dalam kamar.
Aku segera berjalan masuk kedalam kamar, rasa nya ingin sekali mengatakan semua uneg-uneg yang ada di hati ini tentang perilaku Putri anak mas Bima.
"Suara apa Sarah? kok keras sekali, aku sampai kaget." Mas Bima mengulang pernyataan nya.
"Putri menutup pintu kamar." ucap ku dengan wajah jengkel.
"Emang dia kenapa, mas? sepertinya ia sedang jengkel?," tanyaku.
"Tadi aku memaksanya untuk pulang, dia nya nggak mau. Mungkin karena itu." jawab mas Bima yang masih duduk di bibir ranjang.
"Kamu jangan bilang seperti itu, Sarah. Putri sayang kok sama kamu." mas Bima meyakinkan aku, kalau anak nya itu sayang sama aku.
Namun sikap dan perilaku nya sudah sangat bisa dibaca, kalau ia tidak menginginkan aku ada disini.
"Mungkin dia bilang seperti itu pada kamu, mas. Sedangkan sikap nya padaku? masa sih kamu nggak merasa, kalau sikap Putri padaku itu tidak pernah menunjukkan kalau aku ini ibu nya. Ya... walau hanya seorang ibu sambung." ucapku, sambil membereskan baju kotor yang habis di pakai mas Bima.
"Memang kamu tidak pernah merasa, mas? dari hal sepele aja , kalau kamu peka. Aku yakin kamu tau kalau Putri tak pernah menganggap dan menghargai aku."
Kali ini sengaja aku mengungkapkan semua uneg-uneg yang ada di hati dan pikiran ku. Ya...tujuan nya untuk menyehatkan mental ku.
Karena kalau aku memendam ini semua, dan membiarkan Putri seenaknya di sini. Bisa-bisa mental dan pikiran ku yang sakit. Dan aku nggak mau rugi untuk itu.
"Sekarang coba kamu jujur, apa yang kamu rasa tentang sikap Putri padaku?," aku mencoba bertanya dan meminta pendapat mas Bima atas sikap Putri padaku dari pandangan matanya.
"Sebenarnya sih, apa yang kamu rasa aku juga merasakan nya, Sar. Padahal aku sudah berkali-kali menasehati Putri agar ia merubah sikapnya padamu. Tapi sangat susah sekali." Mas Bima berkata sambil menatap kosong kedepan.
__ADS_1
"Memang apa yang dia mau, mas?," tanyaku.
"Putri ingin sekali tinggal bersama bundanya. Katanya disana hidupnya lebih terjamin dan bahagia. Tapi aku melarang nya, karena menurut ku Putri tidak layak tinggal bersama bundanya."
"Memang kenapa, mas?," tanyaku.
"Aku takut Putri akan salah pergaulan, karena kehidupan bundanya Putri sangatlah bebas." Jawab mas Bima.
"Kalau menurut mu, aku harus bagaimana, Sarah?," kali ini mas Bima melempar pertanyaan yang sebenarnya maksud dari pertanyaan itu, ia ingin tahu pendapat ku.
"Maksud menurut ku itu apa, mas?," tanya ku, sambil duduk di samping mas Bima.
"Apakah aku harus membiarkan Putri tinggal bersama bundanya?,"
"Itu semua sudah menjadi hak mu, mas. Dalam masalah ini aku tak bisa ikut campur. Karena aku tak punya hak pada Putri. Dan dalam hal ini, aku yang akan menjadi orang yang serba salah." jawabku.
"Maksud nya?," tanya mas Bima tidak mengerti dengan apa yang aku katakan.
"Kamu kan tau mas, posisiku disini hanya ibu sambung bukan ibu kandung. Kalau seandainya aku membiarkan Putri tinggal bersama bundanya, aku yakin orang lain akan mengira kalau aku lah yang tak mau merawat dan tinggal bersama putri."
"Dan kalau aku melarang Putri untuk tinggal bersama bundanya, aku punya hak apa? sedangkan bundanya Putri itu ibu kandungnya dan mempunyai hak pada Putri."
"Terus aku harus bagaimana?," tanya mas Bima.
"Memang aku boleh berpendapat dan memberi saran?," tanyaku.
Lalu mas Bima menganggukkan kepalanya, yang berarti ia mau aku berpendapat.
"Kalau menurut ku, lebih baik kamu melarang Putri untuk tak tinggal bersama bundanya. Karena banyak hal yang akan jadi masalah." jelas ku.
"Seperti?," tanya mas Bima sambil menoleh kearah ku.
"Pertama, putri itu anak kandung mu dan sudah menjadi kewajiban untuk memenuhi semua kebutuhan nya sebelum dia menikah. Yang kedua kali kamu mengijinkan Putri tinggal bersama bundanya, nama ku yang akan jelek di mata keluarga mu seakan-akan aku tak mau merawat Putri."
"Jangankan Putri akan tinggal bersama bundanya, begini saja semua keluarga mu tidak menyukai ku," gumamku dalam hati.
__ADS_1