DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Perkelahian


__ADS_3

 Tak lama pesan singkat masuk ke handphone Sarah. Dan benar saja dugaan Sarah, pesan itu dari Bara.


Sarah pun membuka pesan yang isi nya titik posisi Bara berada.


Sarah mengamati map yang dikirim oleh Bara. Sepertinya ia sangat familiar dengan daerah itu


"Bukannya ini rumah nya mas Bima?," gumam Sarah dalam hati.


Lalu ia memperjelas lagi map itu lagi. Untuk menyakinkan tebakan. Dan benar saja, itu daerah rumah Bima.


Sarah pun bingung, mau kesana untuk mengambil bahan-bahan untuk kue-kue nya, malas karena pasti nanti bertemu dengan Bima dan komplotannya.


Kalau tak diambil, bahan membuat kue untuk dijual besok sudah habis tak ada sisa sedikit pun.


Lalu dengan terpaksa, Sarah pun mengajak paman Udin untuk mengambil bahan-bahan kue itu di rumah Bima, dengan menggunakan mobil pick up milik toko.


"Kita mau kemana, Bu?," tanya pak Udin saat Sarah sudah masuk kedalam mobil.


"Kearah ini, pak." jawab Sarah sambil menunjuk layar handphone nya.


Pak Udin pun mengerti dengan arah jalan yang ada di google map itu.


Hanya memerlukan beberapa menit dari toko roti milik Sarah, mereka berdua pun telah sampai di depan rumah Bima.


Dan benar saja, didepan rumah Bima ada mobil yang terparkir dengan muatan bahan-bahan kue.


"Aku kira pak Bara bercanda, ternyata dia benar-benar ada disini." gumam Sarah dalam hati.


Saat Sarah keluar dari mobil, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Bara. Namun, Sarah tak menemukan nya.


Sarah mencoba untuk menghubungi nya, untuk memberi kabar kalau dia sudah sampai dan sudah berdiri di samping mobilnya. Namun nomor Bara tak bisa di hubungi.


"Hufftt, kemana si pak Bara ini?," gerutu Sarah. Karena Sarah tak mungkin masuk kedalam rumah Bima, walau ia tahu kalau pintu rumah nya saat ini terbuka.


"Sepertinya pak Bara ada di dalam rumah mas Bima." gumam Sarah.


"Apa aku masuk saja kedalam?, tapi.....," Sarah tak melanjutkan ucapannya. Ia masih terus berpikir, bagaimana caranya menyuruh pak Bara keluar, tanpa Sarah harus masuk kedalam rumah Bima.


Sarah mencoba untuk menunggu Bara, siapa tau Bara akan keluar dari dalam rumah Bima.


Namun, sudah berselang beberapa menit tak ada tanda-tanda kemunculan Bara dari dalam rumah.


Sarah sudah merasa bosan menunggu Bara di luar rumah Bima. Berkali-kali sudah pindah posisi tempat untuk menunggu. Namun Bara tak keluar-keluar.


Hari sudah semakin sore, dan berkali-kali panggilan telepon di lakukan oleh Kean, anaknya.


"Aku harus kedalam, tak mungkin aku harus menunggu pak Bara di sini sampai malam," gumam Sarah dalam hati.


"Paman Udin, paman tunggu Sarah disana ya?!, nanti kalau ada apa-apa pada Sarah, paman Udin langsung masuk aja kedalam." ucap Sarah menyuruh paman Udin untuk menunggu nya di dekat pintu masuk rumah Bima.


Paman Udin pun mengangguk mengerti dengan apa yang di minta Sarah.


Kini, Sarah berjalan menuju teras rumah Bima. Dan di ikuti oleh paman Udin di belakang nya.


"Assalamualaikum," Sarah mengucap salam sebelum masuk kedalam rumah Bima.


Bima yang mendengar suara yang sangat tidak asing ditelinga nya itu pun, langsung mengalihkan pandangan nya ke sumber suara itu berasal.


"Sarah?!," panggil Bima dengan suara pelan dengan wajah bahagia penuh dengan harapan.


Bima merasa, rumah tangganya kali ini masih bisa di selamatkan dengan kedatangan Sarah kerumahnya.


"Sarah!!, silahkan masuk!!," Bima langsung berdiri dari duduk nya, berjalan menuju Sarah yang masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ayo Sarah, silahkan masuk!," Bima terus saja mempersilahkan masuk Sarah.


Sarah pun melangkah masuk kedalam rumah Bima. Dan ternyata, yang saat ini berada di dalam ruang tamu itu. Ada beberapa orang yang sepertinya sedang melakukan obrolan yang sangat serius.


Di dalam ruang tamu, ada Laras, Bima, Ambar, Teguh, serta Teguh.


"Akhirnya kamu datang kesini juga, Sarah. Aku sangat yakin kalau kamu memang masih berharap rujuk kembali dengan Bima." ucap Laras dengan senyum penuh percaya diri.


"Rujuk?!," Celetuk Bara, dengan menautkan kedua alisnya. Sepertinya ia bingung dengan apa yang dikatakan oleh Laras ibu nya Bima itu.


"Iya, rujuk." jawab Laras sambil tersenyum pada Bara.


"Kalau Sarah kembali rujuk dengan Bima, ini suatu keberuntungan untuk ku. Bima tak akan lagi mengungkit uang lima puluh juta yang sudah aku ambil dari toko nya." gumam Laras dalam hati dengan senyum licik yang mengembang di bibirnya. Dan otak nya mulai memikirkan hal-hal yang jahat untuk dilakukan pada Sarah dulu.


"Berarti pak Bima adalah suami ibu...,"


"Iya!!, Sarah itu istri Bima yang sudah di talak oleh Bima. Dan ia datang kesini untuk kembali rujuk dengan Bima." jelas Laras memotong omongan Bara. Laras menjelaskan dengan sangat detail, tapi menurut pikiran nya sendiri.


"Benar Bu Sarah?, bukannya Bu Sarah kesini untuk menemui ku?," tanya Bara pada Sarah, yang memang mereka berdua sudah membuat janji. Bara kaget dengan pengakuan Laras, kalau Sarah adalah mantan istrinya Bima.


"Iy.....,"


"Hah?, Sarah datang kesini untuk menemui anda?!, ya tidak mungkin lah. Karena Sarah tidak kenal dengan anda yang jadi tukang rentenir." ucap Laras mendahului ucapan Sarah, dengan menghina Bara. Mengatakan kalau Bara adalah seorang rentenir.


"Sarah!, akhirnya kamu datang kepada ku." ucap Bima lirih dengan tatapan matanya terus memandang Sarah.


"Aku tau, kalau kamu tidak bisa jauh dari ku, Sarah." lanjutnya dengan senyum penuh percaya diri.


"Lihat lah Bima, kamu dengar kan ucapan ibu? Dia bakal datang kesini untuk mencari mu, Bim." sahut Laras dengan tersenyum penuh kemenangan.


Bima pun seperti itu, ia juga ikut tertawa. Saat melihat kedua orang itu, sudah seperti melihat dua orang yang sedang gila.


"Stop!!!, hentikan!!," Teriak Sarah untuk menghentikan Laras dan Bima yang makin tak ke kontrol.


Seketika mereka berdua, Laras dan Bima. Menghentikan ketawanya yang sangat lebar itu. Karena mereka berdua mendengar maksud dari kedatangan nya ke tempat Laras itu.


"Lantas??, kamu kesini untuk melakukan apa?!!," tanya Laras yang ingin tau tujuan Sarah datang kerumahnya.


"Sudah lah Sarah, kamu jangan gengsi. Aku tau kamu menginginkan untuk kembali lagi ke keluarga ini kan?," ucap Laras dengan sudut bibir diangkat.


"Ya jelas dia pasti ingin kembali, Bu. Kalau dia tak lagi bersama Bima, mana mungkin dia bisa hidup glamor seperti dulu!," sahut Ambar dengan mata nya melirik kearah Sarah, dengan lirikan mata yang merendahkan.


"Lihat aja, setelah di tinggal Bima, kemana-mana sekarang hanya naik taksi online, ha ha ha." lanjut Ambar menertawakan Sarah.


"Auw...," pekik Ambar kesakitan.


"Kamu kenapa, Mbar?!," tanya Laras yang kaget mendengar jeritan Ambar yang secara tiba-tiba itu.


"Oh .. Tidak apa-apa, Bu." jawab Ambar sambil mengusap-usap paha nya yang telah di cubit Teguh itu.


Teguh sengaja mencubit paha Ambar, agar Ambar menghentikan hinaannya pada Sarah.


"Lalu, kenapa kamu menjerit?!," tanya Laras lagi dengan kedua alisnya bertaut.


"Ini tadi kaki ku digigit nyamuk, Bu." jawab Ambar sambil melirik kearah Teguh.


"Pak Bara, sebaiknya urusan kita berdua di selesaikan dulu." ucap Sarah pada Bara. Karena ia merasa di sini lama-lama bisa membuatnya gila, karena tingkah laku semua penghuni rumah ini.


"Baik lah Bu Sarah." jawab Bara, sepertinya Bara mengerti,kenapa Sarah terlihat sangat terburu-buru.


Kini bara berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah luar menuju mobilnya. Dan Sarah pun mengikutinya dari belakang.


"Sarah!!!, mau kemana kamu?!, aku ini suamimu dan kamu istri ku!!, jadi kamu jangan macam-macam pergi bersama laki-laki lain!!," teriak Bima dengan sangat geram. Bima cemburu karena Sarah pergi mengikuti Bara.

__ADS_1


Namun sama sekali Sarah tak menggubrisnya, ia berjalan mengikuti Bara dan meninggalkan Bima.


"Sarah!!!," teriak Bima.


Bima mengikuti Sarah, keluar dari rumah nya. Dan Bima pun terdiam, saat melihat paman Udin sedang mengangkat bahan-bahan baku kue untuk di pindah ke mobil pickup milik Sarah.


"Rupanya aku hanya salah paham." gumam Bima sambil tersenyum saat melihat Sarah sedang berdiri di samping mobilnya itu.


"Aku benar-benar menyesal sudah menceraikan mu, Sarah" gumamnya lagi.


Bima terus melihat Sarah dari teras rumah nya,sampai tak terasa, semua bahan-bahan kue itu sudah berpindah ke pick up milik Sarah.


"Pak Bara, terimakasih ya. Dan pembayaran nya sudah saya transfer ke rekening bapak." ucap Sarah pada Bara.


"Sama-sama, Bu Sarah. Terima kasih atas kerjasama ini. Dan hati-hati dijalan." ucap Bara dengan senyum yang ramah dan pandangan mata nya terus menatap lekat pada Sarah.


"Terima kasih, pak." jawab Sarah. Lalu Sarah pun berjalan menuju pintu mobilnya.


"Dan satu lagi....," ucap Bara dengan tiba-tiba. Lalu ia berjalan mendekat pada Sarah.


"Jangan punya fikiran untuk rujuk dengan Bima." bisik Bara pada Sarah.


Bima sangat geram saat melihat tingkah laku Bara yang terlihat sedang mendekati Sarah.


"Bara!!, jangan pernah kamu mendekati Sarah!!!," ucap Bima dengan suara yang sangat keras. Bima cemburu kepada Bara. Sampai ia tak lagi bisa menahan emosi nya.


Bima pun berlari kearah Sarah dan Bara yang tengah berdiri di samping mobil pickup milik Sarah.


Bima melayangkan bogem mentah nya tepat di wajah Bara.


"Auw.....," refleks Sarah menjerit saat melihat Bima yang seperti kesetanan, karena berkali-kali Bima melayangkan pukulannya ke wajah Bara.


Bara yang tak siap dari awal pun, harus merelakan wajah tampannya harus merasakan sakit dari pukulan tangan Bima.


Tidak bisa dielakkan, wajah Bara penuh dengan luka lebam akibat jotosan dari Bima.


"Rasakan itu!!," Bima benar-benar cemburu pada Bara.


"Jangan sekali-kali kamu mendekati istri ku!!," Bima seperti tak memberi kesempatan pada Bara untuk menjelaskan yang sebenar terjadi.


"Stop!!!, hentikan!!,"" suara Sarah sangat meleking. Sehingga yang mendengar nya itu, telinga nya sampai sakit.


Orang yang ada didalam pun pada berlari keluar l, saat mendengar suara Sarah yang menjerit itu.


Sedangkan paman Udin sangat kewalahan memisah Bima dan Bara.


Karena Bara pun tak terima dengan apa yang sudah di lakukan Bima pada dirinya, ia membalas pukulan Bima diwajahnya.


Kini Bima lah yang menjadi bulan-bulanan Bara. Wajah Bima pun babak belur seperti wajah Bara. Bara sangat puas bisa membalas perlakuan Bima pada dirinya.


"Rasakan ini!!," ucap Bara sambil melayangkan genggaman tangan nya tepat di pipi sebelah kiri Bima.


Bima pun terkapar tak berdaya, sedangkan Laras yang melihat itu, menjerit histeris. Selain ia sangat kaget melihat kejadian itu di depan rumahnya, ia juga harus mencari muka di hadapan orang lain.


Karena menurut Laras hal seperti itu, sudah sangat wajar dilakukan oleh seorang lelaki.


"Lepas kan anak ku!!," bentak Laras pada Bara. Sambil menyeret baju Bima yang masih melekat di tubuhnya yang sudah tak berdaya.


"Aku akan melaporkan mu kekantor polisi!!," gumam Laras mengancam Bara.


Lalu Bara pun melepaskan tangannya dari tubuh Bima.


Bukan karena ia takut akan dilaporkan ke kantor polisi, namun karena Bara kasihan melihat Bima yang sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2