
"Sin, bisakah kita sekarang ke rumah ku yang tadi kita datangi?," tanyaku pada Sinta dengan wajah dan perasaan yang sangat cemas.
"Kalau kamu mau, bisa. Memang ada apa, Sarah?. Kenapa wajahmu seperti sangat panik?." tanya Sinta sambil berputar balik arah. Karena jalan menuju rumah ku itu sudah terlewati lumayan jauh dari tempat ku yang sekarang.
"Mas Bima, sin. Mas Bima." ucapku dengan sangat gugup untuk menceritakan tentang ancaman mas Bima padaku.
"Kenapa lagi dengan, Bima?. Cepat diceritakan!." teriak Sinta, yang seperti nya dia juga khawatir.
Tak lama kemudian, saat bibir ini akan menceritakan tentang ancaman yang dilakukan mas Bima padaku. Satu pesan dari mas Bima masuk ke handphone ku.
Saat ku buka pesan itu, ternyata mas Bima mengirimkan sebuah foto. Dan itu foto rumah ku yang dinding dan teras rumah di Corat coret dengan cat pilox warna warni. Sungguh membuat hati ku sangat terkejut.
"Ada apa, Sarah?!," tanya Sinta. Namun pertanyaan Sinta tak lekas aku jawab, karena aku benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan oleh mas Bima.
"Sarah!!, jangan bikin aku mati penasaran!!!. Katakan apa yang sedang terjadi?!," bentak Sinta pada ku.
"Aku mohon tambah lagi kecepatan mobil ini, Sin. Kita harus cepat sampai rumah, sebelum semua hancur karena ulah mas Bima." ucapku.
Tanpa banyak bertanya, Sinta pun menginjak pedal gas mobil nya. Kecepatan nya pun semakin bertambah. Aku yakin Sinta sangat menguasai dalam hal mengendarai mobil, jadi aku merasa tenang, walau dengan kecepatan tinggi. Namun tetap, kita juga harus berhati-hati karena hari naas untuk kita itu tidak ada di kalender. Yang artinya naas bisa terjadi kapanpun pada kita.
Kali ini kita sudah memasuki pintu masuk kompleks, yang seperti nya tidak ada satpam yang berjaga saat ini.
"Pantas saja, mas Bima bisa masuk begitu saja." gumamku. Padahal, sebelum aku mengosongkan rumah ini. Aku sudah berpesan pada petugas keamanan, untuk tidak mengijinkan mas Bima datang kerumah ku.
Sinta sudah sedikit mengurangi kecepatan mobilnya, karena sudah memasuki jalan komplek.
Dan betapa terkejutnya nya aku, saat mobil berhenti di depan rumah ku.
Banyak sekali sampah yang berserakan di halaman rumah, dan yang paling membuatku terperangah adalah dinding rumah yang banyak coretan cat berwarna-warni, dengan tulisan kata yang jorok-jorok.
Keadaan rumah ku saat ini, lebih parah dari foto yang dikirim oleh mas Bima tadi.
__ADS_1
"Ini kenapa, Sarah?!," tanya Sinta saat turun dari mobil dan melihat keadaan rumah ku saat ini.
Namun aku tak menjawab. Setelah turun dari mobil, yang aku lakukan adalah mengedarkan pandangan kesetiap sudut halaman rumah dan samping serta depan rumahku.
Tujuan ku adalah untuk mencari keberadaan mas Bima. Namun sayangnya, di sini di area rumah ku ini sangat sepi sekali. Tak ada manusia-manusia yang berkeliaran satu pun di sini.
Biasanya tepat di depan rumah ku ini, selalu ramai orang-orang yang sedang kumpul duduk santai di depan teras rumah Dewi. Walau hanya sekedar mengobrol membicarakan dan julid pada tetangga satu dengan tetangga yang lain.
Dan yang membuat aku sangat heran, kenapa di jam-jam sore yang biasanya mereka gunakan untuk kumpul-kumpul, tak ada satu pun orang yang ada disana. Keadaan nya sangat sepi sekali, sudah seperti kuburan angker saja.
"Apa yang sedang kamu cari, Sarah?!," tanya Sinta, yang mungkin sedang melihat mengedarkan pandangan ke seluruh tempat di sini.
"Aku sedang mencari mas Bima, Sin." jawabku.
"Jadi pelaku ini semua adalah Bima, Sarah?!,' tanya Sinta.
"Dasar psikopat!!," geram Sinta.
"Aku rasa kali ini kamu harus benar-benar tegas pada dia. Buang jauh rasa kasihan dan rasa lemah lembut mu saat ini." lanjutnya dengan mengepalkan tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Sin?," tanyaku pada Sinta, karena aku takut salah dengan hal yang satu ini.
Saat aku melihat kearah Sinta, ternyata dia sedang mengambil gambar keadaan rumah ku sekarang ini.
"Untuk apa kamu foto rumah ini, Sin?." tanya ku.
"Untuk menjadi bukti laporan pada pihak yang berwajib." jawabnya, dengan terus fokus pada layar handphone nya.
Drrrttttt drrrttttt ... Handphone ku berbunyi dan ternyata telepon dari mas Bima.
"assalamualaikum, mas!!, dimana kamu sekarang?!," tanyaku pada mas Bima saat telepon dari nya aku angkat.
__ADS_1
"Ada apa kamu mencari ku, Sarah?, Apa kamu sudah melihat keseriusan tentang ancaman ku padamu?," ucap mas Bima yang terdengar menakutkan.
"Jadi benar kamu pelakunya, mas?!," ku bentak mas Bima lewat panggilan telepon ini. Namun bukan jawab yang aku dengar, melainkan ia menutup telepon secara sepihak setelah tertawa lebar yang menakutkan.
"Kita harus benar-benar memberi pelajaran pada Bima." ucap Sinta dengan sangat geram setelah mendengar jawaban dari mas Bima.
"Ayo sekarang ikut aku, Sarah!." ajak Sinta yang langsung masuk lagi kedalam mobil.
Tanpa banyak bicara, aku pun mengikuti perintah Sinta untuk masuk kedalam mobil.
"Kita mau kemana, Sin?," tanyaku saat Sinta dengan sangat dalam menginjak pedal gas. Sehingga laju mobil yang kami tumpangi pun, melaju dengan sangat kencang.
"Kita ke kantor polisi, Sarah. Ini sudah tindakan kriminal." jawab Sinta dengan terus fokus tatapan ke depan.
Aku pun mengikuti apa yang sudah di rencanakan oleh Sinta. Karena aku juga berfikir kalau mas Bima harus mendapatkan sanksi dari tindakan nya. Agar dia tidak mengulanginya lagi.
Kini mobil pun sudah terparkir di tempat parkir kantor polisi. Aku dan Sinta pun turun dari mobil secara bersamaan.
Setelah sampai dalam ruangan pelaporan, aku pun memberi keterangan yang sejelas-jelasnya dan yang sebenar-benarnya.
Dan akhirnya laporan ku di terima dengan bukti yang telah di berikan oleh Sinta berupa foto-foto rumahku serta foto yang di kirim oleh mas Bima.
Polisi pun segera ke TKP dan langsung menuju rumah mas Bima. Dan kami di minta untuk ikut kerumah mas Bima.
Kamu berdua mengikuti apa yang sudah di katakan oleh polisi untuk ikut kerumah mas Bima.
Setelah melihat tempat kejadian perkara, kini mobil polisi ini meluncur kerumah mas Bima. Dengan alamat yang sudah aku berikan saat aku di mintai keterangan tadi.
Mobil polisi pun berhenti di depan rumah mas Bima, yang saat itu sedang banyak orang yang sedang duduk santai menikmati sore di teras rumah masing-masing.
Terlihat sekali mereka terkejut saat melihat kedatangan mobil polisi yang berhenti tepat di depan rumah mas Bima.
__ADS_1