
"Apa, Sar? Coba kamu ucapkan lagi apa yang kamu katakan tadi?!!," ucap Bima dengan mendekatkan telinganya pada wajah Sarah.
"Mas, aku yakin kamu pasti mendengar dan mengerti dengan apa yang aku ucapkan tadi. Jadi kamu jangan pura-pura tidak mendengar nya mas!!," geram Sarah pada sikap Bima yang pura-pura tidak mendengar ucapan nya.
"Heh!!!, kamu menggugat cerai gara-gara hal sepele itu, Sarah?!," Bima berbicara dengan senyum miring dan membuang muka dari Sarah.
"Apa, mas?!, kamu bilang itu hal sepele?!!. Mungkin bagi ku sepele, tapi bagi ku itu adalah kesalahan yang sangat fatal!!," Kali ini Sarah sudah sangat emosi. Sudah jelas salah tapi Bima masih saja terus menyangkal.
"Kenapa hal itu selalu kamu ungkit lagi dan lagi, sih?!!, semua itu kan sudah lama terjadi, jadi lupakan lah hal kecil itu. Ayo lah kita bina lagi rumah tangga kita agar menjadi keluarga yang bahagia." Bima tidak mau di salah kan tentang perselingkuhan nya.
"Maaf, mas. Menurut ku itu bukan masalah kecil, karena itu sudah menyakiti hati ku." ucap Sarah dengan air mata yang tak mampu lagi ia bendung. Dan kini air mata itu mengalir di pipi nya. Bukan karena dia masih cinta pada Bima, namun air mata itu jatuh karena rasa sakit saat melihat Bima bermesraan dengan mantan istrinya.
"Pokok nya aku tidak akan pernah menandatangani surat perceraian itu!!!," bentak Bima sambil menggebrak meja.
Seketika orang yang berada di dalam situ pun kaget, termasuk penjaga yang saat ini berdiri tidak jauh dari Bima duduk.
"Harap jaga sikap!!," ucap penjaga yang saat ini sedang bertugas dengan sangat tegas.
"Baiklah kalau begitu, aku pamit pulang. Dan aku akan datang lagi membawa kertas yang sama dan meminta kamu untuk menandatangani nya." Sarah pun berdiri.
"Ayo kita pulang, Sin!," ajak Sarah pada Sinta. Lalu mereka berdua pun berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aku mau menandatangani surat itu, asal ada syarat nya." tiba-tiba Bima berkata sambil wajah nya tertunduk.
Sarah dan Sinta yang mendengar suara Bima pun, secara bersamaan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang kearah Bima yang masih terduduk di tempat yang semula.
"Apa syarat itu, mas?," tanya Sarah dengan suara yang sangat lembut.
"Bebaskan aku dari sini, setelah aku bebas, aku akan menandatangani surat itu." ucap Bima dengan wajah penuh harapan.
__ADS_1
Karena Bima sangat tersiksa berada di tempat ini. Terlihat sekali perubahan tubuh nya, dengan berada di sini hanya beberapa hari. Tubuh Bima sudah sangat kurus dan tak terawat.
"Kalau itu persyaratan nya, aku akan lakukan mas." jawab Sarah.
Lalu Sarah dan Sinta pun berjalan keluar dari ruangan itu. Kebahagiaan Sarah tidak bisa di sembunyikan lagi, saat mendengar ucapan Bima.
Sarah, benar-benar ingin lepas dari Bima dan keluarga nya. Ia ingin hidup dengan tenang dan bahagia tanpa ada orang yang terus menghina nya.
Kini mereka dalam perjalanan pulang, kali ini Sarah tak datang ke toko nya walau hanya sekedar mampir saja.
"Yakin kamu nggak mampir dulu ke toko mu, Sarah?," tanya Sinta yang saat ini memegang setir mobilnya.
"Tidak, Sin. Dirumah aku banyak pekerjaan. Aku ingin segera menyelesaikan naskah ku. Agar aku bisa segera menanda tangani kontrak." jawab Sarah.
Karena ia masih ada beberapa naskah yang belum ia ketik untuk novel yang akan diterbitkan.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Dan maaf aku nggak mampir ya nanti. Karena rencana nya, abis dari rumah mu, aku mau kerumah pak Handoko untuk mengambil berkas." jawab Sinta.
"Oh, ya. Mungkin aku lusa akan ke Singapura, mungkin ada sesuatu yang akan kamu titipkan untu Mayang?," tanya Sinta.
"Jadi kamu mau ke Singapura, Sin?," tanya Sarah seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sinta.
Dan Sinta pun menjawab dengan anggukan kepala. Sinta begitu serius melihat jalan yang ada di depan nya. Karena hari ini jalanan lumayan padat.
"Sebenarnya sih aku pingin ikut kesana, karena sudah kangen banget sama Mayang. Sudah lama Mayang tak pulang." ucap Sarah.
"Kalau begitu, gimana kalau kamu ikut aku saja ke Singapura?!," usul Sinta sangat excited banget.
"Hah?! Apa?, ikut kamu ke Singapura?, tapi...," ucap Sarah tak di lanjutkan, sepertinya masih banyak yang ia pikirkan kalau ia akan ikut Sinta pergi ke Singapura.
__ADS_1
"Tapi apa, Sarah?, Tak yakin kalau alasan kamu Karena uang. Aku rasa bukan uang saat ini yang membuat kamu terlalu banyak mikir." ucap Sinta.
"Memang sih, bukan masalah uang. Tapi bukankah agenda ku saat ini sangat banyak, Sin?. Mana aku harus urus perceraian ku dengan mas Bima, lalu mana tega aku meninggalkan Kean." jawab Sarah penuh dengan pertimbangan.
"Sarah hellow..!!!," ucap Sinta dengan melambaikan tangan nya di depan wajah Sarah.
"Sarah yang sekarang itu bukan Sarah yang dulu, yang apa-apa sendiri, yang susah dan tak punya uang. Tapi Sarah sekarang itu beda, sekarang kamu punya uang, kenapa kamu harus sibuk urus perceraian mu sendiri?, pasrahkan saja semua sama lawyer. Kamu tinggal terima tanda tangan saja san beres!!." lanjut Sinta.
"Dan untuk masalah Kean, bukan kah Kean itu sangat dekat dengan ibu dan bapak mu?, Aku yakin kalau dia tak akan rewel saat kamu tinggal ke Singapura yang hanya beberapa hari saja." Sinta kembali memberi wejangan pada Sarah.
Dan Sarah hanya mengangguk-anggukan kepalanya, Seperti sedang mencerna semua yang sudah Sinta katakan.
"Biar nanti aku pikir lagi, Sin. Sebenarnya aku juga ingin sekali pergi keluar negeri. Apalagi ke Inggris." ucap Sarah dengan tatapan kosong kedepan.
"Hah?, ke Inggris?, kenapa harus ke Inggris?," tanya Sinta sangat aneh saat Sarah berkata kalau ia ingin ke Inggris.
Namun Sarah tak menjawab nya, dia hanya diam, walau dia mendengar apa yang di tanyakan oleh Sinta.
"Sar,,,,." panggil Sinta, karena Sinta tau kalau saat ini Sarah sedang melamun. Namun Sinta tak tau apa yang membuat Sarah melamun.
"Sarah!!," panggil Sinta lagi
Panggilan yang kedua dari Sinta, berhasil membuat Sarah terkejut dengan suara Sinta yang lumayan agak lantang itu.
"Iya!?," jawab Sarah dengan kaget.
"Kamu kenapa melamun, apa ada ucapan ku yang salah?," tanya Sinta, yang takut kalau omonganya ada yang menyinggung perasaan Sarah.
"Tidak kok, Sin. Tidak ada yang salah dari omongan mu. Aku hanya berpikir bagaimana cara nya nanti aku ngomong sama Kean." ucap Sarah beralasan.
__ADS_1