
Sarah langsung menarik tangan Reni, sehingga Reni ikut Sarah kedalam ruangan televisi.
"Ren, coba jelaskan padaku. Ada apa ini?," tanya Sarah pada Reni, karena Sarah sudah benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya di toko nya ini.
"Ibu yakin tak tau berita pagi ini?," Reni mencoba bertanya sekali lagi pada Sarah.
Namun jawaban nya tetap sama, Sarah tak tau apa-apa tentang berita pagi ini.
"Huuuufft..," Reni membuang nafas besar. Ia menata diri untuk menceritakan semua nya.
Namun belum sempat cerita, di luar tepat nya di toko. Para customer teriak-teriak minta segera di layani. Dan tiga orang yang saat ini stay di depan sudah kewalahan.
Akhirnya dengan berat hati, Sarah dan Reni kembali kedepan untuk melayani customer-customernya itu.
Ada rasa kecewa di hati Sarah, karena rasa penasaran nya masih belum terjawab.
Sarah melayani satu persatu customer nya dengan penuh senyum ramah. Namun beberapa dari customer nya, membalas dengan tatapan sinis. Dan Sarah semakin di buat bingung dengan itu semua. Walau tak sedikit pula yang tersenyum manis pada nya.
Sarah masih terus melayani customer-customernya dengan ramah dan senyum yang sopan. Namun diotak nya bergemuruh pertanyaan-pertanyaan yang masih belum ketemu jawaban nya.
"Boleh minta nomor handphone nya?," tanya customer laki-laki yang saat ini sedang lagi memilih roti di samping perempuan yang sedang di layani oleh Sarah. Tatapan lelaki itu sungguh melecehkan, dan Sarah sangat geram dengan kelakuan lelaki itu.
"Itu no handphone admin ya, kak." Sarah menjawab dengan sopan sambil menunjuk tulisan angka besar yang berbaris di kertas putih.
"Loh, aku minta nya nomor handphone kamu. Bukan nomor handphone admin kamu." lelaki itu masih menatap Sarah dengan tatapan menggoda.
"Maaf, kak. Jaga sikap anda dan tatapan anda!!," geram Sarah pada lelaki itu.
"Wow!!, ternyata bisa galak juga ya?, apa galak mu ini untuk topeng saja?," lelaki itu semakin kurang ajar. Tangan nya ingin mencolek dagu Sarah.
"Stop!!!, jaga sikap anda!!!," Sarah menangkis tangan lelaki itu. Lalu ia menatap lekat pada lelaki itu.
"Jangan munafik kamu, aku tau kalau kamu juga suka dengan hal ini." ucap lelaki dengan senyum sinis.
"Jaga sikap anda pak!!!," Reni ikut membela Sarah.
"Sekarang anda pergi dari sini!!!," Reni mengusir lelaki itu.
"Aku ini pembeli!!, kamu tau kan kalau pembeli itu adalah raja??," ucap lelaki itu sambil menunjuk Reni.
"Raja??, mungkin yang sama dengan kamu adalah raja Fir'aun!!," Reni tak mau kalah dengan lelaki itu.
__ADS_1
"Kamu kurang ajar ya!!!, siapa nama mu?!!!, aku akan melaporkan sikap mu pada bos kamu!!," ucap lelaki itu.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum kamu malu!!!," kali ini Reni sangat geram dan mengusir lelaki itu.
"Katakan, siapa nama kamu?!, akan aku pastikan kamu dipecat dari sini!!,"
"Kamu yakin bisa membuat ku di pecat dari sini?!," tanya Reni sambil berkacak pinggang, seperti menantang lelaki itu.
"Ya jelas aku sangat bisa membuat mu di pecat dari sini!!!, karena kamu sudah kurang ajar melayani customer." jawab lelaki itu.
"Aku sangat yakin, kalau aku melaporkan kejadian ini pada pemilik toko roti ini. Kamu pasti akan langsung di pecat hari ini juga. Tak mungkin menunggu sampai besok pagi." ucap lelaki iku dengan sangat yakin.
Reni pun tersenyum miring mendengar apa yang telah di ucapkan lelaki itu.
"Memang anda tau siap pemilik toko roti ini?," tanya Sarah pada lelaki yang menjadi customer nya itu.
"Jelas aku tau, Karena aku sangat kenal dekat dengan pemilik toko ini." jawab lelaki itu dengan percaya diri.
Secara bersamaan Sarah dan Reni tersenyum getir pada lelaki itu.
"Kenapa kalian tersenyum seperti itu?," tanya lelaki itu dengan tatapan aneh pada Sarah dan Reni secara bergantian.
"Sekarang juga kalian akan aku laporkan pada bos kalian yaitu pemilik toko ini!!," ancam lelaki itu.
"Silahkan!!," tantang Reni.
"Sekarang berikan aku nomor telepon bos kamu!!, aku akan menghubungi nya saat ini juga." ucap lelaki itu.
Secara spontan karyawan tak terkecuali Sarah, yang saat ini mendengar apa yang dikatakan oleh lelaki itu pun tertawa secara bersamaan.
"Kenapa kalian menertawakan aku?!," lelaki itu berkacak pinggang, seperti sedang marah karena ia ditertawakan oleh semua karyawan di toko roti milik Sarah ini.
"Katanya anda sudah kenal baik dengan pemilik toko ini?, tapi kok nggak punya nomor handphone nya??," celuk Reni sambil tersenyum penuh ejekan pada lelaki itu.
"Woy!!!, buruan!!!, lagi antri nih!?!," teriak pembeli ya sedang antri di belakang.
"Iya!!, cepat kalau memilih dan segera bayar kalau sudah selesai!!!," sahut yang ada di belakang lagi.
Lalu pembeli yang benar-benar ingin membeli pun saling bersahutan, menginginkan lelaki itu untuk segera pergi dari sini setelah ia membayar nya.
Karena lelaki itu membuat keributan di toko Sarah, membuat customer lain akan terlambat untuk pergi ke tempat kerja masing-masing.
__ADS_1
Lalu karena banyak yang memprotes nya, akhirnya lelaki itu pun segera pergi dari toko milik Sarah setelah ia membayar roti yang sudah ia pilih.
"Huuu.....," sorak beberapa ibu-ibu yang sedang mengantre di belakang saat lelaki itu berjalan di sampingnya.
Dan keadaan toko Sarah pun akhirnya kembali kondusif setelah kepergian lelaki itu.
Setelah beberapa orang yang sudah dilayani dan pergi dari toko itu. Stok kue, roti dan bolu pun habis tak bersisa, akibat dapat serbuan customer yang sedikit bar-bar. Salah satunya lelaki tadi itu.
Dengan habis nya roti lebih awal itu, buat para customer yang sudah mengantre dari tadi kecewa.
Dan dengan omongan lembut dan sangat sopan, Sarah pun berbicara dan memberi pengertian pada para customer nya yang tak kebagian roti, kue dan bolu.
Akhirnya para customer itu menyadari dengan keadaan Sarah saat ini.
Toko pun di tutup lebih awal oleh paman Udin, setelah para customer nya pergi dari tempat ini!.
Kini Sarah dan beberapa karyawan nya pun duduk santai setelah membersihkan tempat-tempat kue yang besok akan di pakai lagi.
Sarah masih penasaran dengan ucapan Reni dengan berita yang belum sempat Reni ceritakan padanya.
"Ren, sekarang katakan padaku tentang berita yang kamu ketahui dan yang akan kamu ceritakan padaku tadi?!," ucap Sarah dengan membenarkan posisi duduk nya agar lebih PW.
Tanpa banyak kata, Reni pun menyodorkan handphone nya. Yang saat ini sedang membuka aplikasi akun Facebook milik Reni.
"Apa ini?," tanya Sarah sambil mengambil handphone yang ada di tangan Reni dengan mata nya menatap mata Reni.
"Lihat aja sendiri, Bu." ucap Reni dengan lirih.
Sarah pun langsung melihat apa yang ada di layar handphone Reni.
"Bukan kah ini akun mbak Veni?!," gumam Sarah lirih, dan Reni yang mendengar ucapan Sarah pun hanya diam saja dan menundukkan kepalanya.
Sarah membaca secara seksama caption yang ada di unggahan akun milik Veni itu dan yang membuat Sarah kaget ternyata di unggahan Veni ada fotonya.
"Astaghfirullah....," gumam Sarah dengan menutup mulutnya.
"Jadi gara-gara ini mereka datang ke toko dan melakukan perbuatan yang menjijikan itu padaku?!," gumam Sarah sambil memegang dadanya.
Sarah terus melihat foto yang di unggah Veni diakun Facebook milik Veni itu, sembari berfikir bagaimana cara nya membuat Veni jera dengan kelakuan nya.
Jujur saja hati Sarah sangat sakit saat Veni memfitnah nya seperti ini. Dan kini berita itu sudah menyebar karena sudah beberapa kali di bagikan oleh akun-akun lain.
__ADS_1
Ketakutan Sarah saat ini adalah karier penulis nya akan hancur karena berita yang tak benar ini. Ia takut perusahaan Rama akan menggagalkan kontrak penerbitan novel nya.
"Mbak Veni memang benar-benar keterlaluan." gumam Sarah.