DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Mulut Pedas Mertua dan Ipar


__ADS_3

"Begini sikap istri yang kamu banggakan pada ibu, Bim?," kali ini tatapan ibu di tujukan pada mas Bima yang masih berdiri disamping mbak Ambar.


Disini aku bagaikan pesakitan yang sedang diadili. Padahal aku tak melakukan apa yang di tuduhkan oleh mereka.


"Ternyata kamu penampilan nya saja yang alim, tapi kelakuan sudah seperti l*nte!!," ucapan mbak Ambar sangat menusuk hati ku.


"Cukup! kalian menghakimi ku!! Kalian menuduhku seperti sudah mempunyai bukti saja. Sebenarnya aku sangat heran dengan kalian semua, kenapa kalian sebegitu bencinya padaku? sehingga dengan mudah kalian memfitnah dan terus menjelek-jelekkan aku?!," ucapku dengan bibir bergetar. Aku harus berani melawan semua orang yang ada disini.


"Dan kamu mbak Veni!!," kali ini tatapan ku tajamkan pada mbak Veni yang sedang berdiri di samping ibu nya mas Bima.


"Apakah aku pernah menyakiti mu?, apa yang pernah aku lakukan padamu sehingga kamu sangat membenciku dengan memfitnah ku seperti ini?!," ucapku.


"Kamu mas Awan, kenapa kamu memberi pengakuan palsu di depan semua orang?!!, padahal sama sekali aku tak melakukan apa yang kamu ucapkan kan?!!," kali ini tatapanku tertuju pada mas Awan.


"Kamu jangan seperti korban disini!!!, sudah jelas pengakuan Awan, kalau kamu ingin menggoda nya dengan terus menatap nya!!," kali ini mbak Ambar yang angkat bicara.


"Sarah, ini semua tidak benar kan?," tanya mas Bima padaku.


"Seperti yang kamu dengar dari ucapan ku, mas. Ini semua fitnah. Tapi semua ku kembalikan padamu, kalau kamu percaya dengan ku maka rumah tangga kita terselamatkan. Tapi kalau kamu dengan omongan mereka, maaf lebih baik kita sudahi semua nya sampai disini!!," aku memberi ketegasan pada mas Bima.


Apapun yang akan di pilih mas Bima, aku akan menerima nya dengan hati yang lapang. Walau itu perpisahan. Karena fitnah ini sungguh menyakitkan di hati ku.


Kenapa harus bertahan kalau tidak ada saling kepercayaan.


"Ceraikan saja dia, Bim. Dan kembali lah ke ibu dari anak mu. Itu akan lebih baik!!?," celetuk mbak Ambar.


"Karena Putri juga butuh kebahagiaan, aku yakin Putri akan merasa sempurna kalau kedua orang tua nya berkumpul kembali." lanjut mbak Ambar.


"Semua keputusan ada padamu, mas. Silahkan kamu berpikir." ucapku.


"Aku akan pulang, terserah kamu mau tinggal disini untuk berpikir atau kita pulang bersama." lanjut ku.


"Kamu pulang saja sendiri!!, jangan ajak-ajak Bima anak ku. Biarkan dia disini untuk menenangkan diri." ucap ibu mertua ku dengan sangat ketus.


"Oke, aku akan pulang sendiri." aku berdiri dan berjalan dengan membawa kunci mobil yang memang dari tadi sudah ada di genggaman tangan ku.


"Tunggu.....!!," suara ibu mas Bima sangat lantang. Sehingga kaki ini berhenti ku langkahkan.


"Silahkan kamu pergi dari sini sendiri dan tinggalkan kunci mobil itu. Karena kamu tak ada hak dengan mobil Bima anak ku!! dan satu lagi kamu jangan pulang kerumah yang di beli oleh Bima. Karena rumah itu tak pantas di tempati oleh perempuan murahan seperti kamu, dan segera kosongkan rumah yang ibu dan bapak mu tempati itu. Karena dengan segera rumah itu aku yang akan tempati.


Ku balikkan badan ku dan ku tatap wajah ibu mertua ku yang saat ini sedang berdiri di belakang ku sambil berkacak pinggang.


"Ibu sangat yakin kalau ini mobil mas Bima? Dan ibu sangat yakin kalau rumah itu juga hasil jerih payah mas Bima?," kini aku mendekat pada ibu mertua yang masih berdiri dengan tegak di depan ku.


"Coba sekali lagi, ibu tanya pada mas Bima. Apa benar semua aset yang aku tempati itu hasil dari uang mas Bima." ucapku.

__ADS_1


"Sarah....sabar ya. Aku tahu kalau kamu tak bersalah dalam hal ini. Aku percaya padamu Sarah. Lebih baik kita pulang ya sekarang." ajak mas Bima sambil memegang kedua pundak ku. Sepertinya ia takut aku melakukan hal di luar batas pada ibunya. Atau ia takut semua kedok dia yang sok menjadi suami yang bertanggung jawab terbuka di keluarga besarnya.


"Bima!!!, kamu harus menjadi lelaki yang tegas!! istri mu yang. sok alim ini sudah terindikasi menggoda kakak kandung mu sendiri!!!. Ingat Bima kamu jangan buta karena cinta!!," terlihat ibu sangat marah setelah mendengar ucapan mas Bima padaku.


"Sekali perempuan mencoba untuk selingkuh, dia akan terus melakukan nya!!," lanjut ibu yang terus ingin menjatuhkan ku di depan mas Bima.


"Jadi bagaimana mas?, semua keputusan ada padamu." aku membalikkan badan dan membelakangi ibu. Aku berjalan keluar menuju mobilku.


Namun mas Bima tak ada mengikuti ku, sampai aku masuk kedalam mobil.


"Sarah.. tunggu.." panggil mas Bima. Ia berlari mendekati ku.


"Aku ikut kamu pulang." ucap mas Bima yang langsung berlari dan masuk kedalam mobil.


Bukannya aku lemah dengan menerima mas Bima kembali begitu saja, tapi ini masalah harga diri.


Dengan begini, dengan mas Bima ikut pulang dengan ku. Aku merasa puas dan menang dari mereka yang sudah mencoba menghasut mas Bima untuk meninggalkan ku.


Jujur rasa cinta di hati ini untuk mas Bima, sudah mulai terkikis Karena serangkaian kejadian yang baru saja terjadi.


Aku rasa kenapa mas Bima ikut pulang dengan ku, karena ia tak mau semua kebohongan nya diketahui oleh keluarga besarnya.


"Baiklah aku ikuti permainan kalian." gumamku dalam hati.


Kami berdua hanya diam membisu, tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kita berdua.


Sejujurnya aku sangat malas dan marah pada mas Bima. Mas Bima tak punya ketegasan pada keluarga nya, dia sudah seperti wayang yang di jalankan oleh seorang dalang.


"Kenapa kamu tak pernah jujur pada keluarga mu tentang rumah yang kita tempati itu, mas?," aku memecah keheningan malam yang hanya ada suara beberapa mobil yang berlalu lalang di jalanan ini.


"Apa maksud kamu, Sar?," tanya mas Bima dengan menatap ku. Namun sedikitpun aku tak membalas tatapannya. Aku terus fokus pada jalanan yang ada didepan ku.


"Kamu memang tak mengerti dengan ucapan ku atau hanya berpura-pura tidak mengerti, mas?," tanya ku lagi dengan tatapan masih terus fokus kedepan.


"Aku tak mau berdebat lagi, Sarah. Aku lelah, sudahlah jangan bahas-bahas itu." jawab mas Bima.


Setelah mobil terparkir di garasi rumah, aku turun dari mobil dan segera masuk kedalam rumah. Dan mas Bima masih menutup pintu pagar yang ada di depan.


Setelah berganti pakaian, aku pun pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Sungguh kejadian tadi sangat menguras pikiran dan tenaga.


Mata ini masih belum mau terpejam, aku putuskan untuk duduk disofa depan televisi.


"Kamu nggak tidur, Sarah?," tanya mas Bima yang keluar dari kamar setelah mengganti kemeja nya dengan piyama.


"Ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatan mu kalau kamu begadang." mas Bima mendekati ku dan menuntun ku ke dalam kamar.

__ADS_1


Aku pun merebahkan tubuh yang sangat capek ini diatas ranjang yang ukuran king ini.


Mas Bima pun menarik selimut dan menaruh nya diatas tubuh ku. "Kamu tidur yang nyenyak ya , Sar." ucap mas Bima.


Aku pun pura-pura memejamkan mata sambil sedikit melirik kearah mas Bima. Ternyata ia juga merebahkan tubuhnya disamping ku.


Walau mata sudah ku coba untuk ku pejamkan. Namun tetap saja aku tak bisa tidur.


Terdengar dengkuran halus mas Bima, sepertinya mas Bima sudah tertidur pulas.


Aku beranjak dari tidurku, aku melangkah keluar kamar. Mata ini sangat susah sekali untuk dipejamkan. Aku memutuskan untuk mengetik novel.


Kali ini aku mengetik novel online ku lewat handphone, karena mau mengambil laptop di dalam lemari pakaian takut mas Bima terbangun karena suara lemari pakaian yang terbuka.


Setelah beberapa bab Ter up, aku memutuskan untuk membaca komentar dari para pembaca setia ku.


"Aku suka sekali dengan cerita novel yang kamu tulis ini, Thor." akun bernama Dewa-dewi, memberikan komentar yang sangat baik. Sangat membangun mood ku untuk terus menulis dan berkarya.


"Ngakak aku saat membaca di bagian perempuan yang tak tau malu itu saat pura-pura kesurupan." kali ini komentar dari akun Seribupena yang di ikuti dengan emoticon tertawa lebar. Aku pun ikut tersenyum saat membaca komentar ini. Dan bayangan mbak Veni yang di siram air got oleh Sinta kembali muncul dalam ingatan ku.


"Kamu memang cocok perawatan pakai air comberan, dijamin murah meriah. ha ha ha." komentar dari gudangkata ini membuat ku makin tertawa terpingkal-pingkal.


Sungguh banyak sekali komentar-komentar yang lucu-lucu dari para readers ku.


"Thor, cerita novel mu sungguh menghibur ku di tengah kegalauan hati ku ini." satu komentar dari akun wanitakesepian ini yang sangat menarik hati ku.


"Semoga dengan membaca novel yang aku tulis, bisa mengobati kegalauan hati mu kak." ku balas komentar dia untuk menguatkan hati nya.


Karena ada rasa penasaran, akun wanitakesepian di platform ini pun aku buka.


"Loh?, ini kan foto mbak Ambar?." gumamku lirih.


"Thor....walau aku tak pernah muncul untuk komentar di novelmu.Tapi aku masih setia membaca karya-karya mu." komentar dari akun Syasyah.


"Bukankah ini akun milik Tante Natasya? bagaimana kabar nya dan kabar Randy sekarang?," gumamku dalam hati.


Tak lama kemudian, muncul notifikasi pesan di platform NOVELTOON. Setelah ku buka ternyata akun mbak Ambar yang mengirimkan pesan untuk ku.


"Kak, boleh nggak aku curhat pada kakak?, karena saat ini aku sangat membutuhkan teman curhat." isi pesan mbak Ambar yang ia kirim padaku.


"Yakin kakak mau curhat padaku?," ku balas pesan mbak Ambar.


"Aku sangat yakin kak, karena kamu tak mengenal ku." mbak Ambar membalas pesan yang aku kirim.


Namun sayang nya mata ini sudah tidak bisa dipaksa untuk begadang. Rasa kantuk sudah menghampiri ku, sehingga tak terasa aku pun tertidur di atas sofa ini.

__ADS_1


__ADS_2