
Sesampainya di rumah Lidya langsung masuk kamar menuju kamar mandi. Dia segera mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower.
Setelah selesai mandi ia keluar dari kamarnya menuju meja makan. Di buka nya meja makan, ternyata tak ada apapun di sana.
"Mbak, mbak Sarah!!!," teriak lidya memanggil Sarah yang sedang di kamar menidurkan Kean.
"Mbak...... mbak Sarah!! kamu dimana sih?! Dipanggil kok nggak keluar?!, " teriak Lidya lagi karena panggilan nya tak ada respon dari Sarah.
Dan Sarah pun keluar dengan menggendong Kean, yang sedang menangis.
"Ada apa sih, Lid? Kok teriak-teriak, Kean sampai kebangun." Ucap Sarah dengan sedikit kesal. "Lain kali kalau manggil pelan aja, aku denger kok!, " ucap Sarah menasehati Lidya.
"Uda deh mbak, kamu jangan sok menasehati aku. Emang kamu siapa disini? Lagian kalau aku nggak teriak-teriak kamu juga nggak bakal dengar, mbak!!," bentak Lidya pada Sarah.
"Tapi kan ada Kean yang lagi tidur, Lid. Lihat nih dia terbangun dan nangis karena teriakanmu," tunjuk Sarah pada Kean yang sekarang ia gendong.
"Masa bodoh!!! Itukan bukan urusanku! Sekarang mana makanan? kok di meja kosong?!," tanya Lidya sambil membuka tudung saji yang ada di atas meja makan.
"Aku nggak sempat masak, Lid. Lagian yang ada di rumah tadi hanya aku. Jadi mama berpesan kalau yang ada di rumah cuma aku, aku nggak boleh masak." Ucap Sarah memberi penjelasan pada Lidya.
"Alaah... itu hanya alasan kamu mbak!!! emang kamu aja yang malas mbk!!!," Lidya agak sedikit membanting tudung saji.
Lidya masuk ke kamar nya dan menutup pintu dengan keras. "Padahal aku cepat-cepat pulang mau makan masakan mbk Sarah, " gerutu Lidya.
Lidya keluar lagi dari kamarnya dan membawa kunci mobil. Lidya keluar mau cari makan.
"Kamu mau kemana, Lid?, " tanya Sarah pada Lidya.
"Bukan urusan mu mbak!." Jawab Lidya dengan jutek.
Lidya pun keluar tanpa mempedulikan Sarah, ia laju kan mobil dengan kecepatan tinggi. Didalam mobil ia menelpon mama nya .
"Halo, ma. Mama sekarang ada dimana?," tanya Lidya kepada orang yang ada diseberang telepon.
"Oke, ma. Lidya sekarang meluncur kesana." Jawab Lidya dengan menutup teleponnya.
Lidya pun melaju kencang menuju mall yang mama Linda maksud.
Sesampainya di mall terbesar dikota itu, Lidya segera mencari restoran yang menyajikan makanan Jepang sesuai petunjuk dari mama Linda.
Akhirnya Lidya menemukan restoran itu, dan ia langsung masuk. Terlihat mama nya bersama seorang lelaki gagah dan terlihat berwibawa.
"Siapa lelaki itu?," tanya Lidya dalam hati.
Lidya pun segera menghampiri mama nya, dan dia dikenalkan dengan pak Handoko. Betapa terkejutnya Lidya setelah tau kalau lelaki itu adalah papi nya Celvin.
Dan mereka berbincang-bincang bertiga. Lidya pun menjaga sikap, karena dia menganggap saat ini sedang bersama calon mertuanya.
Dalam setiap percakapan, Mama Linda selalu membangga-banggakan Lidya. Dan mengatakan kalau Lidya dekat dengan Celvin. Mereka bertujuan untuk mengambil hati dan simpati pak Handoko.
Namun rupanya pak Handoko tak terlalu menggubris nya, karena ia tahu kalau saat ini Celvin sedang dekat dengan Mayang teman satu kampusnya di Singapura.
Menu yang Lidya pesan pun datang, dengan datangnya menu. Terlihat Celvin juga datang dari outlet sepatu brand yang terkenal. Celvin datang dengan membawa dua kantong tas yang berisi sepatu.
"Gimana, Vin? Uda dapat sepatunya?" tanya pak Handoko pada Celvin anak nya.
"Uda, Pi. ini..," jawab Celvin dengan mengangkat dua paper bag berisi sepatu yang di perkirakan harganya lumayan mahal.
"Vin,,,," sapa Lidya.
"Hai Lid, kamu....?," ucap Celvin dengan penuh tanya. Celvin bingung karena melihat Lidya bersama perempuan seumuran papi nya sedang satu meja makan dengan pak Handoko papi nya Celvin.
"Dia Tante Linda, Vin. Teman papi saat masih duduk dibangku SMA. Dan ini anaknya, katanya dia teman dekat mu waktu kuliah disini," ucap pak Handoko mengenalkan mama Linda.
"Cuma sekedar kenal aja sih, Pi. Jadi nggak begitu dekat. Ya kan Lid?," tanya Celvin pada Lidya.
__ADS_1
"Hmmmm.. iii...iya." Jawab Lidya dengan wajah memerah karena malu.
Pak Handoko menyuruh Celvin untuk memesan makanan, dan Celvin segera memesan menu kesukaan nya.
Mereka berempat pun makan bersama, bak keluarga utuh yang bahagia.
Terlihat mama Linda tersenyum sendiri, dalam pikirannya betapa bahagia kalau ia menjadi istri pak Handoko.
Kemudian Lidya menghentikan aktivitas makan nya. Ia menaruh sumpit dan mengambil handphone.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Lidya untuk mengabadikan momen ini, karena menurut Lidya momen ini sangat langka.
Belum tentu besok-besok bisa berkumpul seperti ini. Akhirnya Lidya foto berempat.
Setelah selesai makan, mereka masih berbincang-bincang. Mungkin pak Handoko nggak enak hati kalau mau pulang lebih dahulu.
"Vin, boleh lihat nggak sepatu yang kamu beli itu?," tanya Lidya sambil menunjuk dua paper bag yang ditaruh disebelah kaki meja.
"Hmmm.. boleh." Jawab Celvin sambil menyerahkan kan paper bag yang berisi sepatu yang harganya bisa diperkirakan berkisar puluhan juta. Karena brand ini memang brand terkenal dari luar negeri.
Lidya pun mengambil paper bag itu dan membukanya, wanita itu pun terkagum melihat sepatu mewah yang selama ini ia idam-idamkan.
"Vin, bukannya ini sepatu cewek ya?," tanya Lidya dengan penasaran. Berharap sepatu itu akan diberikan padanya.
"Sepatu ini limited edition loh, aku pingin ini sudah lama banget," ucap Lidya lagi dengan memeluk sepatu itu.
"Itu sepatu emang limited edition, setiap negara cuma ada dua. Tadi di outlet nya tinggal satu pasang ini, trus aku beli deh. Buat kado teman ku," jawab Celvin.
"Teman dekat yang kamu maksud itu adalah aku kan, Vin?, wahhhh makasih ya Vin, kamu sudah membelikan ini untuk ku." ucap Lidya dengan percaya dirinya.
"Hmmm... ta tapi, maaf Lid. Itu sepatu nya bukan untuk mu." Jawab Celvin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Terlihat Celvin langsung ilfeel dengan sikap Lidya yang kepedean itu.
"Hah??? Bukan untuk ku? Bukannya selama ini kita juga dekat Vin? Kita berpisah hanya karena kamu melanjutkan S2 di Singapura." ucap Lidya seperti tak punya malu sama sekali.
Walau Celvin berasal dari keluarga yang kaya raya, tapi dia punya attitude yang baik. Dia tidak pernah menyombongkan kekayaan orang tua nya.
Dan sebisa mungkin dia tidak ingin menyakiti hati siapa pun. Tapi tidak kali ini, karena menurut Celvin Lidya sudah keterlaluan. Tapi tetap saja Celvin menjelaskan dengan penuh hati-hati agar tak menyakiti hati orang lain.
"Nanti siapa yang akan mengantarkan sepatu itu, Vin?," tanya pak Handoko memecahkan ketegangan antara Celvin dengan Lidya.
"Aku sudah memesan ojek online untuk mengantarkan nya, Pi. Karena kalau Celvin sendiri yang mengantar takut kemalaman ada dijalan," jawab Celvin.
"Ooo itu memang lebih baik, vin. Papi juga kepikiran kalau kamu yang mengantarkan nya." Ucap pak Handoko.
Ojol yang telah dipesan Celvin pun akhirnya datang. Dan Celvin memberikan sepatu itu pada ojol untuk dikirim ke rumah Mayang. Celvin pun memberikan uang lebih kepada ojol itu, karena jarak yang akan ditempuh lumayan jauh. Apalagi ini juga sudah malam.
Setelah ojol itu berangkat, pak Handoko memanggil pelayan untuk membayar semua makanan yang sudah dipesan. Dan pelayan pun datang dengan membawa kertas tagihan yang harus di bayar.
Setelah pak Handoko melihat semua tagihan yang harus dibayar, dia pun langsung mengeluarkan kartu kredit untuk membayar nya.
Dengan perasaan ingin tahu, mama Linda pun mencoba melirik tulisan angka yang ada di kertas itu. Dan dia sungguh terkejut saat melihat tulisan itu, betapa mahalnya harga makanan yang dia makan saat ini.
Akhirnya tanpa basa-basi pak Handoko dan Celvin pun pamit untuk pulang terlebih dahulu. Dan mama Linda terlihat sedikit kecewa karena ia merasa belum puas bertemu dengan cinta pertama nya di waktu SMA.
Mereka pun akhirnya berpisah, mama Linda dan Lidya memutuskan untuk pulang juga. Mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran mobil.
Sesampainya di parkiran Lidya dan mama nya melihat pak Handoko dan Celvin menaiki mobil mewah yang di perkiraan harga nya diatas 2M.
Mereka berdua dibuat kagum dengan mobil mewah itu, dan obsesi Lidya untuk memiliki Celvin semakin besar.
"Bagaimana pun caranya, aku harus memiliki Celvin seutuh nya", gumam Lidya. Dan diberi anggukan oleh mama nya Lidya yaitu mama Linda yang artinya ia setuju dengan rencana Lidya untuk memiliki Celvin seutuhnya.
Akhirnya mama linda dan Lidya sampai rumah. Rumah terlihat begitu sepi. Sarah sedang menemani Kean yang sedang tidur dengan rutinitasnya setiap hari, yaitu mengetik novel onlinenya.
Lidya memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Mama Linda turun dan langsung masuk kerumah. Mereka berdua berjalan sambil bercerita sambil sesekali cekikikan.
__ADS_1
Lidya pun masuk kamar, dan langsung merebahkan tubuhnya. Ia harus beristirahat dengan cukup karena besok pagi harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh.
Begitupun dengan mama Linda, dia masuk kamar dan langsung tidur.
Ditempat lain ternyata Damar pergi bertemu dengan Bianca, kali ini mereka bertemu hanya sekedar makan malam dan minum kopi. Tak ada pertempuran bersama seperti biasa.
Kemudian terdengar handphone Bianca berbunyi, saat Bianca melihat siapa yang menelpon nya. Ia terlihat gugup, karena takut Damar mengetahui nya. Dengan sengaja Bianca tak mengangkat telepon itu setelah ia tahu pak Handoko lah yang menelpon Bianca saat ini.
"Kenapa telepon nya tidak diangkat, Bi?," tanya Damar pada Bianca sambil tangan nya mengambil gelas yang berisi wine.
"Biarkan saja, Mar. Itu tidak penting, biar nanti aku menelponnya balik, " jawab Bianca dengan membalik handphone nya agar Damar tak melihat nama orang yang menelpon nya saat ini.
"Emang siapa yang menelpon, sayang?, " tanya Damar lagi, sepertinya Damar masih penasaran.
"Hmmm.... Sinta, iya Sinta yang menelpon ku sekarang, " jawab Bianca dengan gugup.
Bianca sangat takut sekali kalau Damar tau tentang rahasianya. Bianca takut Damar akan meninggalkan nya, karena saat ini Bianca sangat membutuhkan Damar untuk menyalurkan setiap hasrat nya yang menggebu.
Karena selama menikah dengan pak Handoko, Bianca tak pernah puas dengan permainan yang diberikan oleh pak Handoko. Akhirnya Bianca menyalurkan kepada Damar.
Lalu Bianca pamit kepada Damar untuk pergi ke toilet. Damar pun mengijinkannya untuk ke toilet. Di toilet wanita, Bianca pun langsung menelpon balik pak Handoko. Sesungguhnya Bianca juga takut kalau harus ditinggalkan oleh pak Handoko.
Karena kalau sampai pak Handoko meninggalkan Bianca dipastikan ia ajan menjadi gembel. Dan itu yang membuat Bianca ketakutan.
"Halo, pi?," sapa Bianca lewat telepon kepada pak Handoko.
"Iya, pi. Mami masih bersama teman-teman. Biasa pi ada acara arisan bulanan. Sebentar lagi mami pulang kok, papi tunggu mami ya, " jawab Bianca.
Lalu telepon pun ditutup, dan Bianca kembali ke Damar yang sedang memainkan handphone nya.
"Lama ya, sayang? maaf ya tiba-tiba perut ku sakit, jadi agak lama di toilet nya," ucap Bianca pada Damar.
"Iya nggak apa-apa, sayang, " jawab Damar sambil menaruh handphone nya didalam saku celana jeans nya.
"Sepertinya sudah malam, Mar. Yuk kita pulang, biar kamu aku antar ya?, " ajak Bianca sambil melihat arloji yang terpasang di pergelangan tangan kiri nya.
Damar pun menjawab dengan anggukan. Sebelum mereka pulang, Bianca membayar makanan yang sudah mereka berdua makan.
Setelah selesai membayar, mereka berdua berjalan menuju parkiran. Sampai di mobil Bianca, Damar pun langsung naik. Saat ini yang menyetir mobilnya adalah Bianca sendiri. Karena nanti saat Damar turun, Bianca tak perlu lagi pindah posisi nya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, mereka berdua sangat menikmati perjalanan. Seperti dua sejoli ABG yang sedang di mabuk cinta, mereka memadu kasih didalam mobil. Tangan saling berpegangan dan sesekali mata saling bertatapan.
Tak terasa sampai lah didepan rumah Damar. Sebelum Damar turun, tak lupa mereka saling menautkan lidah nya lebih dulu. Sebagai tanda perpisahan malam ini.
Di belakang jendela rumah, ternyata Sarah sedang mengintip mobil yang datang. Namun sayangnya ia tak melihat siapa yang ada didalam mobil mewah itu karena kaca mobil nya terlalu gelap.
Akhirnya terlihat Damar yang turun dari mobil itu. Dan ia berjalan menuju teras rumah. Secepatnya Sarah masuk kamar sebelum ketahuan Damar.
Dalam hati Sarah masih bertanya-tanya tentang mobil mewah itu. Karena berkali-kali mobil itu yang mengantar Damar pulang.
Sarah pura-pura tidur saat Damar membuka pintu kamar. Damar pun langsung pergi ke kamar mandi tanpa memperhatikan istri dan anak nya yang sedang tidur.
Setelah membersihkan tubuhnya, Damar pun langsung merebah kan diri di atas ranjang. Tanpa menunggu lama terdengar dengkuran yang menandakan bahwa Damar sudah tertidur.
Lalu Sarah membuka mata nya pelan, ingin memastikan kalau damar sudah tidur. Dirasa Damar sudah berada di alam mimpi sarah pun memberanikan diri membuka matanya lebar-lebar.
Lalu ia bangun mencari handphone Damar, setelah ia menemukan handphone itu. Sarah segera membuka handphone nya, tapi sayang handphone itu mati. Karena batrai nya habis.
Lagi Sarah gagal untuk mengungkap perselingkuhan Damar, Sarah pun kembali merebahkan tubuhnya lagi di atas tempat tidur dengan perasaan kecewa.
Dia pun mencoba memejamkan mata namun tak bisa. Karena masih kepikiran mobil mewah itu.
Akhirnya ia putuskan untuk mengetik novel, daripada harus begadang tak bermanfaat lebih baik begadang tapi tetap menghasilkan uang.
Beberapa bab berhasil ia ketik dan langsung ia up ke aplikasi novel online. Baru sekarang mata nya terasa berat, itu menandakan kalau ia sudah mengantuk. Akhirnya ia rebahkan tubuhnya dan menutup matanya. Ia pun tertidur pulas walau banyak beban pikiran yang saat ini ia pikiran.
__ADS_1