DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Nomor Tak Dikenal


__ADS_3

Jujur aku sangat kaget saat melihat ibu dan mbak Veni datang ke toko roti ku.


Masih ada rasa jengkel dan sakit saat mengingat perlakuan mereka malam itu yang menuduhku menggoda mas Awan.


Mau tak mau, aku harus tetap melayani kedua perempuan yang mulutnya sangat berbisa seperti ular itu.


Saat aku menyapa kedua perempuan itu, tak ada satu pun dari mereka yang membalas sapaan ku.


Sebenarnya aku menahan diri untuk tak pergi dari nya. Namun aku tak bisa, setelah ibunya mas Bima memilih beberapa roti dan kue serta beberapa bolu.


Aku menyerahkan nya pada kasir. Karena hati ini tak bisa menahan resa sakit dan emosi melihat perlakuan mereka padaku.


Aku pun meninggalkan mereka masuk kedalam toko. Sambil menunggu mereka pergi dari toko. Aku duduk di kursi belakang pintu.


Jadi aku mendengar semua percakapan mereka. Sungguh di luar ekspektasi, ternyata mereka berdua pun tak seperti yang nampak di casingnya.


Gaya sudah seperti sosialita, namun isi dompet dan gayanya sungguh berbanding terbalik.


Terdengar lagi ibu nya mas Bima, dia sudah merencanakan untuk meminta ku membayar kue-kue yang ia beli. Walau pada akhirnya, aku tak mengeluarkan sepeser rupiah pun untuk mereka. Karena sengaja aku tak keluar dari dalam ruko.


Aku masih sakit hati dengan apa yang mereka lakukan dan katakan pada ku malam itu. Kalau mengingat malam itu, aku sudah seperti pesakitan yang sedang di sidang oleh hakim.


Setelah aku menyakini mereka sudah pergi dari toko roti ku, aku pun keluar dari dalam rumah.


"Apa mereka sudah pergi, Ren?," tanya ku pada Reni sambil menggeser duduk Reni yang saat ini ada di meja kasir.


"Sudah, Bu. Sungguh menguras tenaga melayani mereka berdua. Apa lagi perempuan tua itu, Kalau tak ada dosa, sungguh ingin sekali aku melempar kue-kue itu kemukanya." geram Reni.


"Hust!!, nggak boleh berbicara seperti itu." Aku berkata sambil menaruh jari telunjuk di bibir ku.


"Memang orang nya senyebelin itu, Bu." ucap Reni sambil tangannya menata uang yang ada di dalam meja kasir.


Di jam segini, toko sudah mulai sepi pengunjung. Karena jam makan siang sudah berakhir. Hanya ada satu dua pengunjung dan gojek yang sedang menerima orderan.


"Ren, ini sudah jam pulang Kean. Aku menjemput Kean dulu ya." ucapku sambil beranjak berdiri dan berjalan keluar menuju mobilku yang terparkir.


Kali ini aku membawa mobilku sendiri untuk bekerja. Walau tadi pagi saat mau berangkat kerja aku di protes oleh mas Bima.


Katanya, seorang pelayan toko roti, sangatlah tidak pantas membawa mobil mewah seperti itu. Namun aku tak menggubris omongan mas Bima. Tetap saja mobil ku, aku bawa ke tempat kerja ku.


Setelah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, karena takut Kean sendirian dan takut ia bingung karena tak ada yang menjemput. Akhirnya hanya dengan waktu beberapa menit, aku sudah sampai di depan sekolah nya.


Benar saja dugaan ku, Kean tengah duduk sendirian di bangku taman sekolah.


"Kean..." aku memanggil dan melambaikan tangan nya.


Kean pun menoleh padaku saat ia mendengar panggilan ku, Kean berlari dan berhambur di pelukan ku.


'Kok jemput nya lama, amma?" tanya Kean.


"Iya, sayang. Tadi toko ramai, kasian mbak Reni sama mbak-mbak yang lain kalau amma tinggal." ucapku memberi penjelasan pada Kean.


"O... Begitu ya amma?," tanya Kean meyakinkan aku. Dan aku menjawab dengan anggukan kepala.


"Kalau begitu, yuk kita pulang. Tapi kita pulang ke ruko dulu." ucap ku.


"Kean mau kerumah uti dan akung aja, amma. Kata uti, amma disuruh kerumah uti. Karena uti sudah memasak makanan kesukaan amma." Celetuk Kean dengan wajah yang sangat menggemaskan. Tidak hanya tampan, kulit Kean termasuk kulit yang berwarna agak terang. Jadi wajah tampannya pun makin terlihat sempurna.


"Tapi nanti tidur nya dirumah amma ya, nak?," rayu ku.


"Kean kan sudah bilang ke, amma. Kalau Kean masih ingin di rumah akung dan uti." jawab Kean dengan wajah sedih.


"Iya, sayang. Amma cuma bercanda kok, Kean nggak boleh bersedih seperti itu." ucapku pada Kean yang sedikit merajuk.


"Makasih, amma." kini wajah Kean terlihat sangat bahagia.


Dan kami berdua pun kembali ke ruko terlebih dahulu, dan nanti sore sepulang dari ruko aku akan mengantar Kean kerumah akung dan uti nya.


"Bu, ibu Sarah tau nggak?," tanya Reni padaku saat aku sudah duduk di kursi kasir mengganti nya, karena ia sedang melayani pembeli.


"Tahu apa Ren?," tanyaku.


"Aku sih ingin tertawa, tapi aku berusaha menahan nya." ucap Reni yang berhasil membuat aku penasaran.


"Kenapa, Ren?,". Jelaskan dengan sangat jelas, jangan membuat ku penasaran seperti ini.

__ADS_1


"Sepertinya perempuan tua tadi yang ibu layani itu, sengaja memamerkan gelang emas yang ada dipergelangan tangan nya pada ibu." ucap Reni setelah customer yang ia layani sudah pulang karena sudah selesai memilih dan membayar nya.


"Oh ya?, benarkah itu Ren," tanya ku pura-pura pada Reni. Padahal aku sudah tau dengan apa yang dikatakan Reni pada ku.


Jujur saja aku tertawa di dalam hati saat aku melayaninya. Dan dari sini lah kita bisa mengambil kesimpulan kalau memang ibunya mas Bima itu punya rasa iri padaku.


Dengan sangat sengaja ibu mengangkat lengan panjang baju nya, agar terlihat gelang baru nya yang model nya sama persis dengan punyaku. Akhirnya dia masuk kedalam perangkap ku.


"Amma, ayo kita pulang. Kean capek ingin tidur dirumah uti." rengek Kean.


"Iya sayang, tunggu amma berkemas ya." ucapku pada Kean yang sedang duduk sambil menikmati sepotong bolu coklat.


"Ren, aku pulang dulu ya." pamitku pada Reni dan yang lain.


"Iya Bu," jawab mereka dengan serentak.


Kini aku dan Kean sudah berada di dalam mobil, dan segera mobil itu kujalankan setelah mesin mobil nya aku hidupkan.


"Amma, Kean lebih nyaman tidur di rumah uti." ucap Kean dengan tiba-tiba.


"Kenapa begitu?," tanya ku.


"Iya, amma. Dirumah uti Kean selalu di baik-baik'i oleh akung dan uti." ucapnya memberi alasan padaku perihal ucapannya yang berkata kalau ia lebih nyaman di rumah uti nya.


"Memang kalau dirumah amma, apa Kean tidak di baik-baik'i?," tanya ku.


"Kalau dirumah uti dan akung kan, itu rumah nya akung dan uti sendiri. Kalau dirumah amma kan bukan rumah nya Kean." jawabnya.


"Kata siapa itu bukan rumahnya Kean?," tanya ku saat melihat perubahan ekspresi wajah Kean. Dari yang awalnya sangat ceria, kini berubah menjadi sedih.


"Kata kakak, kata kakak itu rumah nya kakak. Karena yang membeli rumah itu ayah Bima. Dan kata Kakak Putri ayah Bima itu bukan ayah kandung Kean. Jadi kara kakak Putri, Kean tidak punya hak ada dirumah itu. Awalnya Kean sedih saat kakak Putri bicara seperti itu. Kean takut, kalau amma dan Kean nanti tidak punya tempat tinggal. Tapi sekarang Kean sudah tidak takut lagi, karena sekarang ada rumah akung dan uti." ucap nya dengan senyum yang lebar dan terlihat sangat bahagia di ucapan kalimat terakhir nya.


Terlihat ada perasaan lega di wajah Kean. Tuhan.... Sampai disitu pikiran anak sekecil Kean?


"Jahat banget si Putri!! Bisa-bisanya dia bilang seperti itu pasti Kean. Aku harus bicara sama mas Bima mengenai ini." ucapku dalam hati.


"Asal Kean tahu, itu rumah Kean juga. Bukan rumah kakak Putri, karena rumah itu amma yang beli sebelum menikah dengan ayah Bima." ucapku pada Kean. Tujuan ku agar Kean juga tahu kalau memang rumah itu aku yang beli sebelum menikah dengan mas Bima.


"Benarkah, amma?, tapi Kean sudah sangat nyaman di rumah akun dan uti." celoteh nya sudah seperti orang dewasa saja.


Kini aku dan Kean sudah sampai dirumah ibu, sampai didepan rumah nya. Belum aku dan Kean turun dari mobil sudah terlihat bapak dari dalam yang berlari kecil.


Sepertinya dia sedang berlari kearah mobil ku yang. terparkir ini.


"Cucu akung sudah pulang kalau sekolah." Benar saja tebakkan. Bapak berlari kearah mobil ku yang terparkir pasti karena Kean


"Akung...," Kean langsung berada di gendongan akung nya.


Pemandangan yang sangat indah, rasa sedih dan capek hilang seketika saat melihat pemandangan yang seperti ini.


Aku pun turun dari mobil, setelah Kean di gendong bapak dan di bawa masuk.


"Uti...Uti.... Kean datang bersama Amma!!," Kean berteriak pada ibu, memberitahu kedatangan nya yang bersama ku.


Ibu pun terlihat menyambut kedatangan cucunya dengan wajah yang sangat bahagia.


Ia berjalan keluar dari dalam dapur, menuju Kean yang saat ini Masi di gendong oleh bapak.


"Sarah, ibu sudah siapkan makanan. Ayo kita makan!," ajak ibu saat aku sudah masuk kedalam rumah.


"Ibu masak apa?," tanyaku penasaran,


"Ibu bikin sambal terasi kesukaan mu, Sarah." jawab ibu.


"Kamu makan dulu atau nunggu bapak mu yang masih mengganti baju Kean?,* tanya ibu.


Sudah menjadi rutinitas bapak mengganti pakaian Kean, kalau Kean ada disini.


"Aku kita makan bersama saja, Bu." jawabku.


Lalu aku duduk di kursi ruang tamu, untuk menyandarkan punggung ku. Karena hari ini tubuh ku terasa sangat capek sekali.


Drrrttttt...


Bunyi notifikasi pesan masuk di handphone ku.

__ADS_1


"Sarah, nanti jemput aku ya." ternyata mas Bima yang mengirim pesan itu.


"Mobil kamu kemana, mas?," tanya ku lewat pesan singkat.


"Mobil ku dipinjam teman ku, Sarah." mas Bima langsung membaca dan membalas pesan ku.


"Iya, mas." jawabku singkat.


Sejak kapan mas Bima punya teman yang meminjam mobil?, ada rasa penasaran di diri ini.


Karena aku merasa ada yang janggal dan tak biasa nya seperti itu.


Aku mencoba meredam rasa penasaran ku, agar tak merusak mood ku. Karena setelah ini aku ingin menikmati kebersamaan makan bersama disini.


"Ada apa, Sarah?, sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?," tanya ibu mengagetkan ku. Karena aku tak mengetahui kedatangan nya.


"Ibu?!," ucapku kaget.


"Ibu mengagetkan saja." ucapku sambil memasukkan kembali handphone kedalam tas.


"Ada apa Sarah?," tanya ibu, sepertinya ibu tau kalau aku sedang memikirkan sesuatu.


"Nggak ada apa-apa, Bu." jawabku, aku pun segera berdiri dan beranjak menuju meja makan.


"Sarah sudah lapar, Bu." ucapku sambil mengelus perut ku, ini adalah caraku mengalihkan pembicaraan.


"Ya... Kamu makanlah dulu Sarah. Jangan menunggu dua lelaki beda generasi itu. Ibu pastikan mereka berdua akan lama keluar dari kamarnya." jawab ibu dengan tangan nya mengambil piring di rak piring yang terbuat dari stainless itu. Sangat beda saat ada dikampung dulu.


Saat dikampung, rak piring nya terbuat dari bambu yang dirangkai sepe rak piring.


"Aku menunggu dua lelaki ku saja, Bu." ucapku sambil duduk di salah satu kursi makan.


Drrrttttt


Handphone ku berbunyi lagi,


"Pasti mas Bima lagi," gumamku. Sebenarnya aku malas mau membuka pesan dari dia.


Ku ambil lagi handphone yang baru saja aku masukkan kedalam tas.


Saat ku buka, ternyata bukan pesan dari mas Bima. Namun ada nomor baru yang masuk.


"Hai, Sarah. Kamu sedang apa?," sepertinya ini nomor orang yang kurang kerjaan.


Biasanya kalau nomor teman atau saudara. Diawal dia akan langsung menyebut kan namanya.


Dan aku yakin yang mengirim pesan ini adalah orang iseng yang tak ada pekerjaan.


Aku segera menutup handphone ku, dan ku kembalikan lagi ke dalam tas. Sungguh tak ada gunanya berbalas pesan dengan orang yang tak jelas.


Kembali notifikasi pesan masuk berbunyi, namun karena takut ada hal penting, aku pun mengambil lagi handphone itu di dalam tas.


Saat ku buka, ternyata tetap nomor baru yang tadi mengirimi aku pesan.


"Kenapa pesan ku tak di balas, Sarah?," Pesan yang di kirim menanyakan pesan awak yang tak aku balas.


"Aku tak ada maksud apapun, aku hanya ingin lebih kenal lebih dekat dengan kamu." pesan dari nomor yang sama kembali masuk.


"Boleh kah, aku menjadi teman dekat mu?," setelah pesan ini kubaca, tanpa menunggu lama. Aku langsung memblokir nomor baru itu.


Aku harus punya ketegasan, tidak dengan mudah berteman dengan orang baru, apalagi orang itu lelaki.


Setelah memblokir nomor itu, handphone pun ku taruh diatas meja makan. Lalu aku berdiri dan berjalan menuju bapak dan Kean yang sedang berganti baju.


"Kean, ganti bajunya kok lama banget?, amma sudah lapar nih. Ayo kita makan bersama." panggil ku.


Namun apa yang terjadi saat aku melihat mereka yang masih ada di dalam kamar? Ternyata mereka berdua masih bermain tembak-tembakan.


Aku yang melihat nya hanya bisa tersenyum bahagia. Karena melihat bapak yang tertawa lepas saat bersama Kean.


"Ayo kita makan, amma Uda lapar." keluhku sambil memegang perut.


"Ya udah, sekarang kita makan dan mainnya dilanjutkan nanti." ucap bapak membujuk Kean.


"Ok akung, sekarang kita mengisi bensin dulu. Agar nanti lari nya makin kencang." jawab Kean.

__ADS_1


Kami berempat pun makan bersama di satu meja yang sama. Sungguh bahagia, karena momen seperti inilah yang sering aku rindukan.


__ADS_2