DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Lidya Kepergok Atasannya


__ADS_3

"Maaf, Bu. Memang itu rumah nya pak Damar ya?," tanya Sinta memecahkan keheningan malam di dalam mobil yang di kendarai oleh Sinta.


Sinta begitu penasaran, banyak pertanyaan yang menggelayut di otak nya.


Tentang Sarah, Damar dan Bianca. Rasa penasaran itu membuat Sinta berani menanyakan nya pada Bianca .


"Iya, Sin. Itu rumah Damar." Jawab Bianca dengan tatapan masih lurus kedepan. Karena saat ini yang Bianca takutkan adalah ketahuan oleh Handoko suaminya.


"Tapi tolong jangan bilang apa-apa sama bapak ya, Sin?!," ucap Bianca lagi sambil menoleh kearah Sinta yang duduk dibelakang setir. Bianca sangat takut kalau Handoko tau perselingkuhan nya.


Tapi ia juga tak mampu meninggalkan Damar yang sangat ia cintai.


"Tapi, Bu.....," Sinta tak meneruskan omonganya saat melihat Bianca menyatukan kedua telapak tangannya seakan memohon pada Sinta.


"Jadi, yang di maksud Sarah tentang mobil mewah itu. Berarti mobil Bu Bianca?!!, Haduh kenapa jadi rumit gini sih hubungan nya," Sinta bicara sendiri sambil garuk-garuk kepala nya saat ia sampai didepan rumahnya dan berjalan masuk.


"Kasian kamu Sarah, punya suami dan mertua seperti mereka." ucap nya lagi.


Di ruko Sarah ingin melupakan semua kejadian yang telah ia lihat dengan menyibukkan diri membuat beberapa pesanan kue.


Untung saja ia tak sendiri ada tiga orang karyawan nya yang menghibur dia.


Sarah dan karyawan nya sudah seperti saudara sendiri. Disini lah Sarah merasakan kehangatan keluarga seperti saat ia berada dirumahnya sendiri.


"Sarah, kamu ada dimana?,"


Pesan masuk di handphone Sarah, lalu Sarah membukanya ternyata pesan dari Sinta.


"Aku di ruko, Sin."


Sarah membalas pesan singkat dari Sinta.


"Besok aku kesana, Sar."


Sinta membalas pesan Sarah.


Sedangkan dirumah, Damar juga sedang bingung. Linda terus menghasut Damar untuk segera menceraikan Sarah dan menikahi Bianca. Hati Damar juga ingin seperti itu, namun Bianca tidak mau untuk dinikahi.


Pagi ini Damar melakukan aktivitasnya seperti biasa. Sekarang sudah ada asisten rumah tangga jadi tak ada lagi rumah yang seperti kapal pecah.


Damar berangkat ke kantor bersama Lidya, pagi ini Lidya berdandan dengan pakaian rapi. Tapi tetap kelihatan seksi, saat ini Lidya memakai sepatu yang ia rampas dari pacar Celvin yaitu Mayang. Sepatu yang limited edition sepesial Celvin membeli nya untuk Mayang. Namun direbut secara paksa oleh Lidya tanpa sepengetahuan Celvin.


Sesampainya di kantor Damar langsung masuk keruangan kerja nya.


Lidya yang akan menuju keruangan nya, lalu dapat telepon dari pak Anton. Lalu Lidya mengurungkan langkah nya, dan memutar tubuhnya lalu ia berjalan kearah ruangan pak Anton.


Tok


Tok


"Masuk," jawab pak Anton.


Lidya pun membuka pintu ruangan pak Anton. Lalu ia segera duduk di kursi yang berhadapan dengan pak Anton.


"Lid, ini ada berkas yang harus kamu kerjakan," pak Anton menyodorkan tumpukan map berwarna merah yang berisi beberapa lembar kertas.


Lidya pun mengambil berkas itu dari tangan pak Anton, saat Lidya mengambil berkas itu tangan pak Anton dengan lembut membelai tangan Lidya.


Lalu Lidya menatap wajah pak Anton. Pak Anton langsung mengedipkan sebelah matanya. Itu tandanya pak Anton membutuhkan servis dari Lidya.

__ADS_1


Lidya pun sudah paham dengan hal itu, dan ia langsung berdiri berjalan kearah pak Anton. Sampai di belakang pak Anton yang sudah berdiri, Lidya langsung memeluk tubuh gendutnya pak Anton dari belakang.


Dan pak Anton langsung menarik tubuh langsing Lidya, lalu Lidya jatuh di pangkuan pak Anton.


Lidya langsung mengalungkan tangannya pada leher pak Anton. Dan tanpa disuruh bibir mereka saling menempel lalu tangan pak Anton mulai menggerayangi setiap inci kulit Lidya. Satu persatu kancing baju Lidya terlepas.


Drrrttttt


Drrrttttt


Handphone pak Anton berbunyi dan sangat mengganggu konsentrasi nya, lalu dengan sengaja ia mematikan handphone nya tanpa melihat siapa penelpon nya. Dan ia meneruskan aktivitas nya menggerayangi tubuh Lidya.


Berkali-kali handphone itu berbunyi, namun akhirnya handphone itu di matikan oleh pak Anton. Karena birahi nya sudah sampai di ubun-ubun nya. Meminta untuk segera di keluarkan, lalu pak Anton mengangkat tubuh Lidya di dudukan diatas meja kerjanya. Dan pak Anton mulai mengangkat keatas rok mini Lidya. Karena pak Anton ingin segera melandaskan alat tempurnya yang akan mengeluarkan lahar panas itu.


Pak Anton segera membuka resleting celananya karena mulai tadi ada sesuatu yang kesempitan didalam nya.


Hampir rudal itu masuk, tiba-tiba pintu yang memang lupa tak dikunci itu terbuka lebar.


Seketika kedua makhluk yang sedang menyalurkan hasrat itu secara bersamaan menoleh kearah pintu yang terbuka lebar itu.


Mereka berdua pun terkejut dengan mata melotot saat melihat siapa yang datang. Lalu Lidya reflek meloncat turun dari meja kerja pak Anton. Dan segera merapikan tok mini yang terangkat, lalu membenarkan kancing kemeja yang terbuka itu.


Sedangkan pak Anton juga bingung memasukkan rudalnya yang belum tercapai hasratnya dengan paksa. Sehingga terlihat menonjol di dalam celana nya.


Dan orang yang berdiri di tengah pintu itu melihat nya dengan penuh amarah. Kini tatapan nya yang biasa nya lembut dan menyejukkan kini berubah menjadi iblis yang siap membunuh musuhnya. Dibelakang ia di ikuti sekertaris pak Anton yang juga kebingungan.


Karena sebelum Lidya masuk, pak Anton sudah menghubungi sekretaris nya. Agar tak ada satu orang pun yang masuk keruangan nya tanpa ada ijin dari pak Anton sendiri.


Namun saat si pemilik perusahaan itu yang adalah istri pak Anton sendiri memaksa masuk, dan sudah di beri banyak alasan oleh sekertaris nya. Akhirnya si sekertaris hanya bisa pasrah karena tidak bisa menolak perintah petinggi kantor ini.


Dengan perasaan yang cukup deg degan sekertaris pak Anton mengikuti Bu Rina dari belakang. Lalu ia membuka pintu ruangan pak Anton.


"Ma... mama. Ini tak seperti yang kamu lihat. Semua ini hanya salah paham," ucap pak Anton berlari kearah istri nya dan memberi alasan.


Pak Anton pun membaca gelagat itu, dan akhirnya ia menemukan satu ide yang pasti akan menyelamatkan dirinya dari kemarahan istrinya.


Karena yang pak Anton tau istri nya sangat bucin pada nya.


"Ini semua karena wanita ****** itu, ma!," tunjuk pak Anton pada Lidya yang masih berdiri di belakang meja kerja pak Anton.


"Dia yang terus merayu papa. Dia selalu menggoda papa dengan memakai pakaian mini seperti itu. Padahal mama kan tau, peraturan kantor ini harus berpakaian sopan. Tapi dia selalu melanggar nya, sering kali papa tegur malah perempuan ****** itu menggoda papa, dan merayu papa." Lanjut pak Anton mengkambing hitamkan Lidya.


"Kenapa bapak menuduh saya seperti itu?!, bukan nya bapak yang lebih dulu merayu ku?," ucap Lidya tak mau disalahkan.


"Dasar kamu itu wanita ******, bisa-bisanya kamu memfitnah saya. Asal kamu tahu, kamu itu jauh dibawah istri ku. Jadi nggak mungkin aku mau sama kamu pelac*r!!!!!," kali ini yang bertengkar adalah pak Anton dan Lidya. Yang sebelumnya memadu kasih sekarang berubah menjadi perang mulut.


Namun dengan sikap nya yang elegan Bu Rina hanya menonton mereka berdua yang sedang beradu mulut.


Bu Rina sangat pintar mengendalikan emosinya. Mungkin tadi ia hanya kaget saat suami dan karyawan nya sedang mesum di ruangan kerja kantor nya.


"Enak saja bapak bilang saya pelacur, begini-begini bapak lah yang merampas keperawanan saya," Lidya tak terima saat ia dibilang pelac*r oleh pak Anton.


"Kamu bilang aku yang merampas keperawanan mu? Bukankah kamu yang menjual nya pada ku waktu kita di Lombok?!, dan kita sudah menyepakati harga itu. Jadi jangan bilang aku yang merampas nya!!".


Tanpa harus susah payah menyewa detektif yang pasti akan menghabiskan uang. Dengan sangat mudah akhirnya kedua pelaku mesum itu membuka aib nya sendiri.


"Sudah bertengkar nya?!," suara tegas dari Bu Rina menghentikan perdebatan antara pak Anton dan Lidya.


Setelah mereka diam dan menundukkan kepala, Bu Rina berjalan menuju kursi kerja pak Anton. Dan Lidya berpindah ke depan meja kerja pak Anton.

__ADS_1


Bu Rina menyuruh Lidya duduk di kursi depan meja yang berhadapan langsung dengan nya. Begitu juga dengan pak Anton. Lalu dengan rasa takut dan cemas mereka berdua pun duduk sesuai perintah Bu Rina.


Dengan sangat tegas dan wibawa, akhirnya Bu Rina memerintahkan Rani sekertaris pak Anton untuk segera membuat kan surat pemecatan secara tidak hormat kepada Lidya. Agar Lidya tidak bisa diterima di perusahaan mana pun. Dan meminta semua laporan keuangan perusahaan untuk di bawah keruangan ini.


Terlihat wajah pak Anton memerah karena ketakutan. Ia takut semua akan terbongkar, karena ia telah menggelapkan uang perusahaan yang jumlahnya sangat fantastis.


"Bu Rina, saya tak terima dengan perlakuan ibu ini. Kenapa ibu memecat saya secara sepihak?!, Kalau saya di pecat harus nya suami ibu juga di pecat!!!. Bukankah kita mau sama mau kan pak Anton?!," Ucap Lidya tak terima atas pemecatan sambil menatap pak Anton dengan mata tajam nya.


"Kamu bilang kita mau sama mau?!, ingat ya kamu yang waktu itu menggoda ku lebih dulu. Ya lelaki mana tak tergoda kalau terus menerus kamu menyuguhkan kemolekan tubuh mu,"


Dangan ucapan nya, mereka berdua sudah terlihat sangat bodoh. Secara tidak langsung pak Anton pun mengakui perselingkuhannya.


"Kamu tenang saja, Lidya. Pak Anton itu adalah suami ku. Jadi aku tahu hukuman apa yang pantas untuk suami ku ini," ucap Bu Rina dengan menatap wajah Lidya lalu melirik kearah pak Anton, yang terlihat tersenyum sendiri sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Karena dengan percaya dirinya dia berpikir Rina istrinya tidak akan memberi sanksi apapun kepada nya. Karena Rina sangat mencintai nya.


Rina yang melihat tingkah laku pak Anton pun tiba-tiba menjadi hilang rasa dan sangat jijik.


Rani sekertaris pak Anton pun tiba dengan membawa dua map yang berwarna merah dan biru.


Map yang berwarna biru adalah surat pemecatan tidak hormat pada Lidya yang sudah berselingkuh dengan bos nya yang sudah beristri itu dan sudah berbuat mesum di dalam kantor.


Dan map yang berwarna merah berisi beberapa lembar laporan keuangan kantor, yang di curigai oleh Rina kalau ada penyelewengan dana kantor oleh pak Anton selaku suaminya.


Setelah ia menerima dua map itu lalu Bu Rina menelepon tim audit keuangan dari kantor induk yang saat ini ia pimpin sendiri.


Memang sengaja pak Anton di beri jabatan tinggi di kantor cabang.


Lalu sebelum tim audit keuangan itu datang, Bu Rina menanda tangani dan memberikan surat pemecatan yang secara tidak hormat itu pada Lidya.


Namun dengan emosi, Lidya mengambil surat itu secara tidak sopan.


"Aku akan selalu mengingat perlakuan mu padaku Ibu Rina yang terhormat. Dan aku akan membalasnya, karena kamu sudah mempermalukan ku hari ini. Oh ya satu lagi, aku tak akan jadi gembel walau aku kamu pecat dari kantor ini. Karena calon kakak ipar ku juga mempunyai perusahaan terbesar di kota ini. Aku pastikan kerja sama kamu dan kantor calon kakak ipar ku akan dibatalkan." Ancam Lidya pada Bu Rina.


Namun Rina hanya tersenyum penuh dengan hinaan pada Lidya. Karena dengan setiap perkataan nya sudah terlihat kualitas dirinya.


"Pintu keluar nya disana," ucap Bu Rina yang secara tidak langsung mengusir Lidya dengan menunjuk pintu keluar dari ruangan itu.


Lidya pun keluar tanpa salam, seperti wanita yang tak punya sopan santun.


Sedangkan pak Anton sudah dinonaktifkan dari jabatan sebelumnya, dan iya sudah tidak boleh lagi datang ke kantor. Sambil menunggu hasil dari team audit keuangan yang di pastikan itu sangat memakan waktu yang lama, karena harus memeriksa laporan keuangan selama tiga tahun terakhir. Untuk sementara jabatan tertinggi di kantor ini dipegang langsung oleh Bu Rina.


Kalau pak Anton tidak terbukti menyeleweng kan uang perusahaan, pak Anton akan di pekerjakan lagi di kantor ini, dengan kedudukan yang lebih rendah dari sebelumnya.


Namun kalau pak Anton terbukti menggelapkan dana perusahaan. Maka perusahaan akan menyita semua aset pak Anton hasil dari penggelapan uang perusahaan.


************


"Dikira aku bodoh apa?! walau aku dipecat aku sudah punya mobil dan beberapa uang di rekening ku, jadi aku tak akan menjadi gembel walau tak bekerja disini lagi." Gerutu Lidya yang sedang membereskan semua barang-barang milik nya di ruang kerja nya.


Setelah membereskan semua nya, ia mencoba menghubungi kakak nya, Damar. Namun beberapa kali ia telepon tak ada jawaban dari nya.


Lalu Lidya berinisiatif untuk mendatangi Damar diruangan kerja nya. Namun Damar tak ada di ruangan nya.


"Kemana aja sih kamu ini, ma?!," Lidya menggerutu sambil berjalan melangkah keluar kantor.


Lalu ia memesan taksi online untuk mengantarkan nya pulang. Karena saat ini mobil yang ia pakai sedang di pakai Damar ketemu dengan kliennya.


Tak lama menunggu, taksi online pun akhirnya datang. Dan ia langsung naik, dan Lidya tak ingin langsung pulang kerumahnya. Melainkan ia ingin membeli kue di SKcake yang tak lain itu toko milik Sarah kakak iparnya.


Saat taksi online yang saat ini di tumpangi Lidya berhenti, Sarah sedang ada di depan melayani para pembeli bersama kedua karyawan nya.

__ADS_1


*******


Terimakasih buat para readers...


__ADS_2