DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Sikap Mas Bima


__ADS_3

Kembali Putri menautkan kedua alisnya. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya.


Kali ini dia mengeluarkan handphone dari dalam tas kecilnya dengan wajah yang masih terlihat cemberut. Tak ada kegembiraan yang terpancar dari wajahnya.


"He, ada Putri. Uti kira Putri nggak ikut." ucap ibu dari arah belakang, kali ini ia keluar dengan menggendong Kean.


"Salim dulu sama uti!." ucap mas Bima pelan tapi penuh penekanan.


Dengan penuh keterpaksaan, Putri pun melakukan apa yang di ucap oleh ayah itu.


Putri mencium punggung tangan ibu, walau dengan berat hati ia melakukan nya. Bukan aku yang berfikiran buruk tentang Putri. Namun sifat-sifatnya lah yang membuat pikiran buruk itu muncul dengan sendirinya.


"Bentar ya, nak. Uti buatkan teh." ujar ibu seraya membalikkan tubuhnya untuk kembali kearah dapur.


"Ibu,! nggak usah. Ibu duduk saja disini, ibu istirahat aja dulu. Karena setelah ini, kita akan perjalanan yang membutuhkan kurang lebih waktu tiga jam." ucap mas Bima, melarang ibu membuatkan minum untuk Putri.


"Kalau memang sudah siap, gimana kalau kita berangkat sekarang saja?," ucapku memberi saran, sambil ku melihat kearah ibu.


"Kamu tanya ibu, Sarah. Apa ibu dan bapak sudah siap," ucap mas Bima.


"Giman, Bu?," tanyaku.


Ibu pun mau dan menyetujui usul dan saran ku. Ibu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum padaku.


Dua tas besar berisi pakaian dan keperluan ibu dan bapak, diangkat oleh mas Bima untuk ditaruh di nagari mobil bagian belakang.


Setelah selesai memasukkan semua barang bawaan ibu dan bapak, dan sudah dirasa tidak ada yang tertinggal sedikit pun. Akhirnya mobil di jalankan oleh mas Bima.


Di sepanjang perjalanan, yang banyak bicara kali ini adalah Kean.


Kean sangat asyik bercerita pada bapak dan ibu. Bapak dan ibu pun menanggapi nya dengan wajah yang penuh kebahagiaan.


"Kean, biarkan uti dan akung istirahat. Jangan diajak bercerita terus, kasian uti dan akung nanti capek." ucapku.


"Iya, amma." jawab Kean.


"Padahal banyak sekali yang ingin Kean ceritakan pada akung dan uti." gerutu Kean dengan wajah cemberut. Wajah cemberut itu, terlihat sekali dari kaca spion. Dan aku hanya tersenyum melihat wajah Kean yang kecewa itu.

__ADS_1


"Biarkanlah, Sarah. Lagian bapak dan ibu nggak capek kok, malahan capek bapak dan ibu hilang saat mendengar cerita-cerita Kean." Sahut bapak.


Sedangkan mas Bima terus fokus menyetir, dan menatap kearah jalan yang sudah terlihat sangat ramai.


Kean semakin menggelayutkan tangan nya di pelukan akung nya itu. Sambil tersenyum kepadaku, sepertinya dia merasa senang karena dapat pembelaan dari akung dan uti nya.


Kurang lebih tiga jam perjalanan, akhirnya kami berenam sampai dirumah yang akan di tempati bapak dan ibu.


"Ayo Bu, masuk." ucap mas Bima mempersilahkan bapak dan ibu masuk dengan mengangkat kedua tas milik bapak dan ibu. Sedangkan aku membukakan pintu, untuk mereka.


Pintu sudah terbuka, kami berenam masuk secara bergantian.


Dan kedua tas yang berisi perlengkapan sehari-hari bapak dan ibu, diangkat kedalam kamar utama oleh mas Bima.


"Pak, Bu, kalau capek, lebih baik bapak dan ibu istirahat aja didalam kamar. Kamarnya sudah Bima bersih kan kok." ucap mas Bima dengan sangat lembut dan sopan.


"Dan juga sudah memesan makana online, mungkin sebentar lagi datang." lanjut mas Bima.


Masih sangat bisa mengambil hati kedua orang tua ku. Makanya kenapa bapak dan ibu merestui pernikahan ku dengan mas Bima, ini salah satu alasan nya.


"Kenapa kamu repot-repot nak?, bapak dan ibu rasa sudah terlalu banyak merepotkan kamu." ucap ibu.


Ucapan mas Bima, membuat hati ku meleleh. Betapa bahagianya punya suami yang juga perhatian pada ke dua orang tua ku.


Lalu mas Bima berjalan masuk kedalam dapur, entah apa yang mau di lakukan oleh mas Bima.


Beberapa menit, dia tak ada keluar. Sedangkan aku dan ibu masih asyik mengobrol.


"Sarah, lihat suami mu lagi apa?, Kok dari tadi tidak ada keluar?," ucap ibu menyuruh ku.


Entah apa yang dilakukan mas Bima di dalam sana, sehingga dari tadi ia tak ada kembali ke ruang tamu.


Aku mengikuti perkataan ibu, aku segera berdiri dari sofa dan berjalan menuju arah dapur.


"Kamu lagi apa, mas?," tanya ku pada mas Bima yang rupanya sedang mengaduk dua cangkir teh hangat.


"Lagi buatkan bapak dan ibu teh hangat." jawab nya tanpa menoleh kearah ku.

__ADS_1


Aku tersenyum bahagia melihat pemandangan ini, mas Bima sangat pintar memposisikan diri pada kedua orang tua ku.


"Biar Sarah aja, mas." ucapku sambil tangan ini mencoba mengambil sendok yang ada pada tangan mas Bima.


"Biar mas aja, Sarah. Kamu keluar aja, temani ibu mengobrol." tolak mas Bima dengan halus.


Dan kini mas Bima membawa dua cangkir teh hangat diatas nampan. Dan aku mengikuti nya dari belakang.


"Bu ini teh hangat nya di minum, biar ibu dan bapak tidak masuk angin setelah perjalanan jauh." ucap mas Bima mempersilahkan bapak dan ibu untuk meminta teh buatannya.


"Sarah!! Seharusnya kamu yang melakukan hal-hal seperti ini, bukan suami. Kodrat wanita itu harus melayani." ibu memberi wejangan padaku karena bukan aku yang membuat kan teh hangat untuk mereka.


"Nggak apa-apa, Bu. Karena seperti ini kita sudah biasa. Kita selalu berbagi pekerjaan krungu tangga." jawab mas Bima.


Agak geli mendengar pengakuan mas Bima. Karena dirumah, ia sama sekali tak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga.


Jangan kan untuk masak dan menyapu rumah. Waktu aku meminta bantu membuang sampah di depan rumah aja, mas Bima menolaknya.


"Kamu harus bersyukur mempunyai suami seperti Bima ini, Sarah." celetuk bapak keluar dari kamar, setelah menidurkan Kean yang tiba-tiba tertidur di pangkuan bapak.


"Nak Bima sungguh begitu mengerti padamu dan Kean." lanjut bapak yang kini tengah mengambil posisi duduk di tempat awal tadi.


"Iya, pak." jawab ku singkat.


"Kalau memang ini dan bapak Capek, ibu segera istirahat aja di dalam kamar.


"Mungkin sebentar lagi makanan yang aku pesan datang, Bu." ucap mas Bima sambil melihat jarum jam di arloji berwarna coklat itu.


"Dan kalau ibu, butuh apapun seperti bahan makanan untuk di masak. Kemarin Aku dan Sarah sudah mengisi penuh lemari es nya. Jadi ibu tak perlu bingung." ucap mas Bima.


Heran saja dengan ucapan mas Bima kali ini, karena kemarin saat aku berbelanja untuk keperluan ibu dan bapak, mas Bima sama sekali tidak tahu.


"Mashaallah, terimakasih nak Bima. Bapak dan ibu tidak salah merestui kamu menjadi pendamping hidup Sarah. Kamu sungguh perhatian pada keluarga." ucap bapak dengan wajah penuh haru dan kebahagiaan.


"Itu sudah menjadi kewajiban Bima, pak." jawab mas Bima sambil menundukkan kepalanya.


Sedangkan dari tadi Putri hanya menatap sinis dan penuh kebencian di wajahnya pada ayah nya.

__ADS_1


Sepertinya ada rasa iri atau cemburu pada Putri mengenai sikap dan perilaku mas Bima pada bapak dan ibu.


__ADS_2