
Dengan sangat berat hati, Bima mengambil pulpen yang ada diatas kertas itu. Tangan nya terasa lemas, saat ia memberi tanda tangan di kertas yang sudah di sediakan oleh pengacara Sarah.
Beberapa kali Bima menggores kan bulpen berwarna hitam itu di atas kertas putih yang sudah tertera nama terang Bima.
Setelah semua kertas selesai di tanda tangani Bima. Bima pun langsung menyodorkan beberapa kertas itu pada Sarah dengan tatapan lesu dan pasrah.
"Makasih," ucap Sarah sambil mengambil kertas yang di berikan Bima.
"Setelah semua proses perceraian ini selesai, aku pastikan kamu keluar dari sini, mas." ucap Sarah.
Lalu Sarah memberikan berkas itu pada pengacara nya, untuk di kirim ke pengadilan agama. Agar berkas perceraian itu segera di proses. Sarah sudah tidak sabar untuk segera berpisah dengan Bima.
"Kalau begitu saya pamit dulu, mas." ucap Sarah sambil berdiri dari tempat duduk nya.
"Tunggu Sarah!!," Bima menahan kepergian Sarah.
Dan Sarah pun berdiam, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Bima. Dalam hati Sarah, apa pun yang akan dikatakan Bima. Hati nya tak akan pernah goyah dengan keputusan nya untuk bercerai dengan suaminya itu.
"Aku mohon Sarah, apa yang harus aku lakukan, Agar kamu tak menceraikan aku?," ucap Bima dengan tatapan nanar pada Sarah. Namun sedikitpun Sarah tak membalas tatapan Bima. Karena keputusan Sarah kali ini sudah bulat, untuk berpisah dengan Bima.
"Maas, mas. Aku rasa walau kamu melakukan apapun untuk mengembalikan rumah tangga kita, keputusan ku sudah bulat untuk bercerai dengan kamu, mas."
"Ayo pak, kita pulang." ajak Sarah pada pengacara nya itu setelah menjawab pertanyaan dari Bima.
"Assalamualaikum." Sarah mengucapkan salam sebelum meninggalkan ruangan itu. Lalu ia berjalan keluar dan di ikuti oleh pengacara nya.
"Waalaikumsalam." jawab Bima dengan wajah kecewa. Karena Sarah tak mau kembali untuk memperbaiki rumah tangganya.
Setelah Sarah dan pengacara nya sudah hilang dari pandangan mata Bima. Lalu Bima di bawa masuk kembali ke dalam ruang tahanan oleh petugas yang saat ini berjaga di sana.
__ADS_1
"Bu, biar sekalian saya antar." bang Setegar selaku pengacara nya menawarkan tumpangan pada Sarah, yang saat ini sedang memesan taksi online.
"Tidak, pak. Biar saya naik taksi online saja. Karena saya masih mau mampir ke mall," Sarah menolak tawaran bang Siregar dengan halus. Selain tidak enak dia harus berduaan dengan lelaki di dalam mobil, Sarah memang ingin ke mall untuk mengunjungi outlet cabang SKcake.
"Biar sekalian, Bu. Karena kita sejalan." ucap bang Seregar masih kekeh untuk menawarkan tumpangan.
"Ini aku sudah pesan taksi online, pak. Jadi sekarang bapak bisa pergi ke pengadilan agama." Sarah menyuruh pengacara nya untuk meninggalkan dia sendiri menunggu taksi online.
"Anda tidak apa-apa jika saya tinggal, Bu?," tanya bang Siregar memastikan kalau klien nya akan baik-baik saja jika ia tinggal sendirian menunggu taksi online di sini.
"Tenang, pak. Saya akan baik-baik saja." jawab Sarah dengan senyum ramah pada pengacara nya.
Lalu pengacara Sarah itu berjalan menuju mobilnya, dan masuk di bagian kemudi. Dan mobilnya pun berjalan meninggalkan kantor polisi dimana Sarah yang masih berdiri menunggu taksi online yang sudah ia pesan.
Lama Sarah menunggu taksi online yang ia pesan, membuat kaki nya terasa capek karena berdiri.
Saat ia berjalan menuju bangku kosong itu, tiba-tiba dari arah berlawanan ada mobil yang sangat Sarah kenal.
Ya siapa lagi kalau bukan mobil milik Veni, mantan kakak ipar Sarah.
Saat mobil itu berjalan masuk melewati Sarah yang berjalan menuju tempat duduk yang kosong itu, Veni sengaja membuka kaca jendela mobilnya dan mendekatkan mobil nya ke tubuh Sarah yang sedang menepi itu.
"Auw?!," teriak Sarah. Bukan karena ada yang luka karena terserempet mobil Veni. Namun karena ia sangat kaget saat mobil Veni dengan sengaja mendekati Sarah.
"Mampus!!," ucap Veni sambil tersenyum sengit pada Sarah. Memang sangat di sengaja Veni membuat Sarah kaget.
Lalu Veni segera memarkir mobilnya, dan ia keluar dari dalam mobil itu. Veni melangkah dengan cepat menuju Sarah yang masih berdiri di tempat nya tadi. Karena Sarah masih mengatur nafas yang terengah-engah karena berhasil di buat kaget oleh Veni.
"Hey!!!, kamu ngapain kesini?!!," tanya Veni dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Kamu jangan sekali-kali merayu Bima untuk kembali lagi dengan mu ya!!, Tapi aku yakin, kalau Bima tak akan menerima mu kembali." ucap Veni sambil tersenyum miring pada Sarah.
Namun tak menjawab dengan ucapan, Sarah hanya tersenyum kecil. Sarah tersenyum dengan apa yang dikatakan oleh Veni. Karena semua yang dikatakan oleh Veni adalah kebalikan nya.
Bukan Sarah yang memohon untuk kembali lagi, tapi Bima lah yang memohon-mohon untuk itu.
"Hey!!, kenapa kamu hanya senyam-semyum saja?!!!," tanya Veni yang sangat kesal dengan sikap Sarah yang seperti tak menggubris nya.
"Kamu ini memang tak punya sopan santun ya?!!!," Veni semakin kesal karena Sarah tak menjawab setiap ucapan nya.
Tak lama kemudian, taksi online yang sudah di pesan Sarah pun datang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Sarah meninggalkan Veni yang masih berdiri tegak sambil berkacak pinggang itu.
"Hey!!! Dasar perempuan si*lan!!!, perempuan tak punya sopan santun!!!!, bisa-bisa nya kamu meninggalkan aku yang masih bicara!!," Veni berteriak sambil menunjuk-nunjuk Sarah yang sudah berada di dalam taksi yang sudah berjalan keluar dari halaman kantor polisi.
"Kurang ajar!!," gerutu Veni yang semakin kesal pada Sarah.
Lalu ia berjalan menuju ruangan kunjung untuk para tahanan di kantor polisi, setelah ia ijin untuk bertemu dengan Bima kepada petugas yang sedang berjaga.
Karena waktu kunjungan untuk Bima masih ada, penjaga yang bertugas itu pun mengijinkan Veni untuk masuk dan bertemu dengan Bima.
Veni berjalan dengan hati yang berdegup kencang, ada perasaan cemburu dengan kedatangan Sarah kesini. Bagaimana pun juga, Sarah adalah istri Bima. Yang bisa jadi di hati Bima masih ada Sarah. Itu yang saat ini ada di dalam pikiran Veni.
Langkah semakin cepat, agar ia segera sampai untuk menemui Bima yang berstatus adik ipar dan selingkuhan nya itu.
Namun sayang nya, saat Veni masuk ternyata Bima masih berada di dalam sel.
"Hufftt," Veni membuang nafas besar nya, ia mencoba menenangkan hati dan pikiran yang sedang cemburu pada kedatangan Sarah kesini.
"Aku harus menanyakan tentang kedatangan Sarah kesini!!," gerutu Veni dengan kedua alisnya yang bertaut dan bibir nya yang saat ini monyong ke depan.
__ADS_1