
Setelah makan bersama, aku pun segera pulang. Karena mas Bima sudah menelpon ku untuk menjemput nya.
Aku mengendarai mobil sendiri, karena Kean ingin tidur dirumah akung dan uti nya.
Biar kan saja Kean bersama ibu dan bapak, biar keberadaan Kean bisa menghibur mereka berdua.
Saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba handphone ku berbunyi.
Ada panggilan masuk, saat ku lihat ternyata nomor baru yang menelepon ku.
"Halo, assalamualaikum." aku mengucapkan salam saat menerima telepon.
"Ada yang bisa di bantu?," tanya ku.
Namun tak ada suara yang membalas salam dan pertanyaan ku.
"Halo?, Halo?," berkali kali aku berbicara, tapi tak ada sepatah kata pun yang membalas nya.
Telepon pun segera aku matikan, karena takut orang yang akan berniat jahat padaku.
Sebenarnya aku malas mengangkat telepon dari nomor yang tak di kenal. Namun mau nggak mau aku harus mengangkat nya, karena takut itu nomor customer yang mau order kue-kue ku.
Tak lama setelah handphone ku matikan, notifikasi pesan masuk berbunyi.
Aku pun tak membukanya, karena aku masih fokus menyetir mobil.
Rencananya sebelum sampai di toko mas Bima, aku berhenti di SPBU untuk mengisi bahan bakar minyak dan mengisi angin.
"Loh?!, bukankah itu mobil mas Bima?," gumamku dalam hati, saat melihat mobil mas Bima sedang ikut antri untuk pengisian bahan bakar minyak tepat di depan mobilku.
Aku penasaran siapa yang membawa mobil mas Bima ini. Jujur saja aku tidak pernah tahu dan kenal dengan teman-teman mas Bima.
Sepertinya setelah ini aku akan tahu siapa teman yang dimaksud oleh mas Bima itu.
Pintu pun di buka, dan betapa kagetnya aku setelah tau siapa yang turun dari mobil itu.
Bagaimana bisa mobil mas Bima bisa di pakai oleh Reta mantan istrinya?!.
"Bukankah itu Reta, bundanya Putri?," ucapku dengan suara lirih. Sekali lagi aku mencoba melihat dengan seksama, karena takut salah orang. Tapi memang dia itu adalah Reta, mantan istri mas Bima.
Tapi? tapi kenapa ia yang membawa mobilnya mas Bima?.
Bukan kah kata mas Bima, mobilnya di pinjam oleh temannya?
Banyak pertanyaan yang ada di dalam otak ku, ingin sekali bertanya dan ingin sekali tahu kebenarannya.
"Apa Mungkin mas Bima masih berhubungan dan berkomunikasi dengan mantan istrinya?," gumamku dalam hati.
Dan yang membuat ku penasaran, dengan siapa Reta di dalam mobil itu?, Karena tak terlihat jelas wajah orang yang ada di dalamnya.
Aku segera mengambil handphone dan segera memfoto nya.
Wajah Reta nampak jelas di foto yang aku ambil, dia juga sedang memegang mobil mas Bima.
"Apakah mas Bima juga ada di dalam mobil itu?," gumamku lirih. Pikiran negatif pun semakin memenuhi otak ku.
"Kenapa mas Bima berbohong padaku?."
"Apa memang sudah sering mereka melakukan ini?,"
"Apa mas Bima masih menyimpan rasa pada mantan istrinya?,"
"Kenapa mas Bima masih sak berhubungan dengan mantan istri nya?,"
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul di otak ku. Tak habis pikir aku, kalau seandainya mas Bima melakukan perselingkuhan di belakang ku dengan mantan istrinya.
Kalau pun itu terjadi, aku siap untuk berpisah dengan mas Bima.
"Masih lama, Reta?," tanya perempuan setengah baya, dan suara itu sangat familiar sekali di telinga ku.
Dan saat aku menoleh ke arah mobil, betapa kagetnya aku. Ternyata yang ada di dalam mobil itu salah satunya adalah ibu nya mas Bima Alias mertua ku, alias mantan mertua Reta.
"Hah, itu kan ibu?," ucapku dengan bibir melongo, karena begitu kagetnya aku melihat ibu satu mobil dengan mantan istri mas Bima.
Aku sangat yakin, tidak hanya sekali ini mas Bima meminjamkan mobil nya pada Reta.
Karena kapan hari aku juga melihat ibu nya mas Bima bersama Reta memborong berbagai kue dan bolu di SKcake.
Namun saat itu mereka tak mengetahui keberadaan ku, karena aku baru datang dan masih didalam mobil
__ADS_1
Setelah aku foto, kini aku hanya mengawasi nya dari dalam mobilku.
Setelah selesai mengisi bahan bakar minyak, mobil mas Bima yang di pakai oleh mantan istri itu keluar dari SPBU.
"Ingin sekali aku mengikuti mobil mas Bima!!," gumamku lirih.
Kini mobil nya mas Bima yang di Kendarai mantan istri nya itu keluar dari dalam SPBU.
Dan kini giliran mobil ku yang akan di isi bahan bakar minyak.
Hati ini resah, karena takut kehilangan jejak mobil mas Bima. Setelah selesai mengisi bahan bakar minyak, aku segera tancap gas. Sampai lupa dengan rencana awal untuk mengisi angin ban mobil ku.
Walaupun gas sudah ku tancap, tapi tetap aku kehilangan jejak mobil itu.
Jujur aku tidak suka dengan kebohongan yang seperti ini. Aku merasa di bohongi dan di khianati oleh mas Bima.
Dari dalam tas, terdengar suara handphone ku berbunyi. Saat ku ambil dan kulihat ternyata panggilan telepon dari mas Bima.
"hmm ini orang nya." lirih ku sambil memencet tombol hijau.
"Assalamualaikum, mas." uku ucapkan salam. Aku mencoba mengontrol emosi, agar mas Bima tidak curiga.
"Waalaikumsalam, Sarah. Kamu sudah sampai mana?," tanya mas Bima.
"Aku sudah dekat dengan toko mu, mas. Tunggu sebentar ya." ucapku.
"Hmm... kamu jangan jemput aku di toko ya. Kamu jemput aku dirumah ibu saja. Saat ini toko sudah tutup dan aku sudah ada di rumah ibu." ucap mas Bima dari panggilan telepon nya.
"Atau kamu jangan jemput, karena mobil ku sudah datang Sarah." lanjut mas Bima.
Deg!
Kalau mas Bima sekarang ada dirumah ibu, dan mobilnya sudah datang. Berarti saat ini mas Bima dan Reta bertemu? Semakin banyak pertanyaan di benakku.
Aku pun memutuskan untuk pergi ke rumah ibu sekarang.
Aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi, agar aku segera sampai di rumah ibu nya mas Bima.
Banyak bayangan yang tidak-tidak di benak ku saat mas Bima bertemu dengan mantan istrinya.
"Tenang Sarah... tenang!!!, yakin lah tak akan ada apa-apa lagi diantara mereka." ucapku mensugesti diriku sendiri.
Dari tempat aku memarkirkan mobil, terlihat di depan rumah mobil Mas Bima terparkir.
Dan pintu rumah pun terbuka lebar, serta banyak sepatu-sepatu yang berserakan di lantai teras rumahnya.
Aku sangat yakin kalau saat ini Reta masih ada di sana.
Aku berjalan dari tempat mobil ku yang terparkir dengan sangat pelan. Agar tak ada satu orang pun yang mengetahui kedatangan ku.
Aku ingin melihat mereka sedang melakukan apa di dalam sana. Entah mengapa pikiran buruk ini tiba-tiba muncul di otak ku.
Namun belum sampai aku mendekati rumah ibu mertua, terlihat Reta dan mas Bima serta di ikuti Putri dan ibu di belakang nya keluar dari dalam.
Sepertinya Reta akan pulang, jadi mereka mengantarkan nya sampai depan.
Tapi dia pulang naik apa? Sedangkan disini tak ada taksi online. Hanya ada mobilnya mas Bima.
"Jangan sampai Reta pulang diantar oleh mas Bima." Gumam ku.
Dan kenyataan nya, ketakutan ku pun terjadi. Reta masuk kedalam mobil mas Bima, setelah bersalaman dan saling cium pipi kanan dan cium pipi kiri dengan ibu nya mas Bima. Dia duduk di jok depan, disamping mas Bima yang mengemudi.
Dan Putri ikut masuk di belakang, setelah itu di ikuti mas Bima duduk di belakang setir mobil.
Mobil pun berjalan dan mereka bertiga saling melambaikan tangan pada ibu nya.
Sungguh pemandangan yang sangat indah. Sudah seperti keluarga Cemara yang bahagia. Jujur hati ku sangat sakit melihat yang saat ini ada di depan ku.
"Aku akan menunggu mu di rumah, mas!!. Dan kamu harus menjelaskan ini semua padaku." ucapku geram.
Mobil mereka pun berjalan, mungkin saja mereka kearah rumah Reta.
Setelah mobil mas Bima lenyap dari pandangan mata ku. Dan ibu mas Bima juga sudah masuk kedalam rumah. Aku berjalan mendekat kerumah ibu.
Aku ingin tahu reaksi ibu nya mas Bima saat mengetahui aku ada disini.
"Assalamualaikum," ku ketuk pintu yang sudah tertutup sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam," terdengar suara ibu menjawab salam ku dari dalam.
__ADS_1
cekleeek!! Suara gagang pintu terdengar dan pintu pun terbuka.
"Sarah?!!," ibu terkejut melihat ku ada di depan nya saat ini. Mata ibu melotot saking terkejutnya melihat ku.
"Ibu kenapa?, melihat ku kok seperti melihat hantu?," tanyaku dengan ekspresi seperti tak ada apa-apa.
"Sarah?!, sejak kapan kamu disini?!," tanya ibu nya mas Bima dengan wajah ketakutan. Sangat terlihat sekali kalau ada sesuatu yang ditutupi dariku.
"Sejak tadi aku mengetuk pintu." jawab ku dengan ekspresi wajah yang biasa saja.
"Yakin kamu tak melihat ku berdiri di teras ini?," tanya nya dengan wajah masih terlihat ketakutan.
"Enggak, Sarah tak melihat siapapun disini. Memang nya kenapa, Bu?," tanya ku pura-pura tidak tau apa-apa.
"Mmmm... tidak kenapa-kenapa." jawab nya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kok sepertinya ibu ketakutan melihat ku, seperti melihat hantu saja." ucap ku sedikit pasang wajah jutek.
"Siapa yang takut sama kamu!," ucap ibu ngegas sambil berkacak pinggang. Sepertinya ketakutan nya sudah hilang, sehingga ia berani bersuara lagi.
"Kamu mau ngapain kesini?!," tanyanya dengan tangan masih di pinggang nya.
"Aku mau menjemput mas Bima," jawabku dengan sangat enteng.
"Ngapain kamu menjemput dia?, bukankah dia sudah melarang mu menjemput nya? Tapi kenapa kamu kok masih datang kesini." sepertinya ibu tahu saat mas Bima melarang ku untuk menjemput nya.
"Kok ibu tau?," tanya ku.
"Ya tau lah, orang yang nyuruh dia untuk melarang kamu menjemput nya itu aku." ucap ibu dengan Bangganya.
"Memang kenapa ibu melarang ku untuk menjemput mas Bima disini?," tanyaku. Sengaja aku meladeni perempuan tua yang tak tahu diri ini.
"Karena Ku tidak suka kalau kamu datang ke rumah ku." ucapnya dengan pelan lalu di ikuti tertawa sinis padaku.
"Memang sekarang mas Bima kemana, Bu?," tanyaku lagi.
"Mana aku tahu sekarang dia dimana. Tapi yang jelas dan yang pasti Bima saat ini sangat bahagia." bisiknya pas ditelinga kanan ku.
Apa-apaan perempuan tua ini, semakin di tanya Semakin tak jelas jawab nya.
"Ada apa sih? Kok rame banget?," tanya mbak Ambar yang keluar dari ruang meja makan.
"Ini loh mbar, perempuan kampungan ini mau menjemput Bima. Padahal Bima...." ibu tak melanjutkan omongan nya, namun ia tertawa di akhir kalimat nya dan saling tatap dengan mbak Ambar. Dan mbak Ambar pun ikut tertawa.
Tertawa mereka berdua ini sangat penuh arti, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan dari ku.
"Kenapa mas Bima, Bu?," tanya ku. Aku tau apa yang mereka sembunyikan dari ku. Tapi aku pura-pura tidak tahu.
"Udah lah kamu jangan tanya-tanya tentang Bima. Daripada nanti kamu menangis-nangis." ucap nya sambil tersenyum sinis padaku.
"Trus sekarang mas Bima kemana?," tanya ku lagi.
"Kamu ini ngeyel ya, sudah aku kasih tau dia tidak disini. Masih saja bertanya-tanya!!!,"
"Mending kamu pergi dari sini." ucap mbak Ambar. Kalau memang Bima masih belum sampai di rumah, kamu jangan telpon-telpon dia. Biarkan dia mencari kebahagiaan nya sendiri." ucap mbak Ambar seenaknya.
Sepertinya dia mendukung mas Bima yang sedang bersama mantan istrinya.
"Hmm ingat mbak, kamu akan merasakan bagaimana sakitnya ditinggal selingkuh oleh suami." batinku dengan mata ku menatap tajam ke arah mbak Ambar.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?!," tanya mbak Ambar dengan mata nya melotot padaku.
"Memang ada undang-undang yang melarang menatap orang?!," ucapku. Sengaja aku ingin membuat mbak Ambar semakin emosi mendengar ucapan ku.
"Kamu ini memang nggak punya sopan santun ya?, atau mungkin kamu tak pernah di ajarkan sopan santun oleh kedua orang tua mu?!,"
Berhasil!!! Akhirnya, mbak Ambar sangat emosi dengan ucapan ku.
"Bukan ibu dan bapak ku tak mengajarkan sopan santu padaku, mereka sudah mengajarkan aku sopan santun yang sangat baik. Namun, buat apa aku harus sopan pada orang-orang seperti Kalian." baru kali ini aku berani membantah pada orang yang lebih tua dari ku.
"Astaghfirullah, ampuni dosa ku ini ya Allah," ucapku dalam hati. Karena sebetulnya aku juga takut berdosa kalau aku bersikap kurang ajar pada sesama manusia apalagi pada orang yang lebih tua dari ku. Namun aku hanya manusia biasa yang punya sakit hati dan batas kesabaran. Hati siapa yang kuat kalau selalu di hina terus-menerus.
"Kamu memang perempuan kurang ajar ya!!!, menyesal aku merestui Bima menikahi mu!!," ibu nya mas Bima semakin melotot matanya menatap ku. Dia berbicara dengan sangat keras sambil berkacak pinggang.
"Mungkin dengan menceraikan dia, Bima akan hidup lebih bahagia dengan Areta." kali ini ucapan itu keluar dari mulut Mbak Ambar.
"Apa maksud mbak Ambar?," tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Lebih baik Bima kembali dengan mantan istrinya, karena dia akan bahagia. Dan lagian Areta adalah ibu dari anaknya Bima." ucapnya menjelaskan ucapan yang ia ucapkan tadi.
__ADS_1
"Doa ku untuk mbak Ambar, semoga kamu tidak Pernah merasakan sakit nya di selingkuhi oleh pasangan mu mbak!!," Ucap ku pelan namun penuh dengan penekanan.