DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Seperti Kebakaran Jenggot


__ADS_3

"Ven, bukankah itu pelayan toko roti yang kemarin kita datang?," suara teman mbak Veni sangat jelas terdengar di telinga ku.


"Iya!," jawab mbak Veni sangat singkat dengan nada suara yang ketus.


"Aku nggak yakin kalau dia adalah pelayan di toko roti itu. Kalau dilihat dari cara berpakaian nya, walau dia memakai pakaian syar'i. Dia terlihat sangat fashionable banget loh." bisik Siska pada mbak Veni.


Walaupun dia berbisik, tapi tetap suara itu masih terdengar jelas di telinga ku. Memang kali ini suaranya tak sekeras yang tadi saat ia menduga aku bukan pelayan di toko roti.


"Lihat tuh, kamu tau tas yang ia pakai," bisik Siska lagi pada mbak Veni.


"Kemarin aku lihat di store Merk itu, harganya lumayan fantastis loh, Ven. Dan itu edisi terbaru dari brand itu." lanjut Siska.


Dan sesekali aku melirik ke arah mbak Veni, terlihat sekali tatapan kebencian mbak Veni padaku.


"Kalau misalkan dia memang pelayan di toko roti itu, aku yakin gaji nya satu bulan tak akan cukup untuk membeli outfit yang ia pakai sekarang." Sepertinya Siska yang lebih paham mengenai brand-brand ternama, dari pada mbak Veni.


"Bisa saja suami nya itu yang kaya raya ya, Ven? Terus suaminya terus memanjakannya." cerocos Siska tanpa henti.


Dan itu membuat wajah mbak Veni semakin merah, dan emosi nya terlihat semakin memanas. Sepertinya kebakaran jenggot.


"Dan lihat tuh mobil nya!!, keren kan?, masa iya seorang pelayan toko roti bisa membeli mobil yang harga nya ratusan juta?!," ucap Siska penuh heran.


Dan aku yang mendengar nya, hanya tersenyum-senyum saja. Tak habis pikir, teman yang dikira baik, ternyata di depan mata dan telinga nya memuji orang yang tak ia sukai.


Setelah mengantarkan Kean masuk kedalam kelas, aku pun kembali ke mobil yang ku parkir.


Dan dengan sengaja aku melewati mereka berdua yang sedang berdiri, dan tak ada pergerakan sama sekali sedari tadi. Padahal kelas anak-anak nya sudah mau di mulai.


"Ya Tuhan, Ven. Ini parfum sama dengan milik ku yang pernah di belikan suami ku saat ia pergi ke Paris." ucap Siska dengan hidung menghembus-hembus bau parfum yang ku pakai dengan mata tertutup.


"Kamu ini apaan sih?!," mbak Veni semakin terlihat jengkel.


"Kamu ini jangan bikin malu aku, bukankah kamu ini teman ku?!," ucap mbak Veni dengan wajah kesalnya.


Hati ku semakin tertawa melihat mimik wajah kesal mbak Veni.


"Malu nya dimana sih, Ven?, aku aja nggak ada tuh jelek-jelekin kamu." jawab Siska.

__ADS_1


Dan benar saja yang dikatakan Siska, karena saat aku mendengar yang ia katakan dari tadi. Tak ada satu kata yang menjelekkan mbak Veni apa lagi membandingkan-bandingkan aku dengan mbak Veni.


Emang dasar hati mbak Veni yang terlalu sensitif karena di penuhi kebencian pada ku.


"Ya setidaknya kamu hargai aku donk disini?!," ucap mbak Veni dengan nada kesal.


"Loh,,, emang aku salah omong ya?, terus perkataan ku yang mana yang membuat kamu tak berharga, Ven?," tanya Siska dengan wajah bingung.


Mungkin ia bingung mencerna apa yang di ucapkan mbak Veni dan bingung mencari ucapan nya yang tadi yang menurut mbak Veni tak menghargai nya.


"Sudah lah!!! capek bicara sama kamu!!!!," mbak Veni berjalan dengan menuntun tangan Kayla untuk meninggalkan Siska yang masih berdiri.


Namun apa yang terjadi? Mungkin saking kesalnya, mbak Veni sampai tak sadar kalau yang ia tuntun itu bukan tanga Kayla anak nya, tapi tangan anak Siska.


"Mami... mami..." teriak Kayla memanggil mbak Veni.


Teriakan Kayla yang berhasil menyadarkan mbak Veni.


"Kay?!," teriak nya.


"Aku Jesi Tante, Tante salah tangan." jawab Jesi anak Siska.


Sedangkan Siska tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan mbak Veni sahabatnya itu.


Bukan hanya Siska yang tertawa, aku pun yang melihat itu juga ikut tersenyum. Sebenarnya ingin sekali aku menertawakan nya dengan sangat kencang. Tapi aku masih punya hati dan perasaan untuk tak membuat malu orang lain. Walaupun orang itu mbak Veni, yang sering sekali membuat aku kesal karena omongan dan sikapnya padaku.


Kini mereka berdua terlihat berjalan bersama menuju kelas dengan menuntun anaknya masing-masing.


Dan aku segera masuk kedalam mobil, dan langsung menuju ke toko.


Setelah dari toko roti utama, aku berencana untuk visit ke outlet cabang yang ada di mall.


"Bagaimana pagi ini, Ren?," tanyaku saat melewati Reni yang sedang duduk di kursi kasir.


"Seperti yang ibu lihat saat ini. Dari tadi awal toko buka, alhamdulilah customer datang silih berganti." jawab Reni dengan terus fokus menghitung belanjaan customer online.


"Alhamdulillah, kalau begitu." jawab ku.

__ADS_1


"Apa Bu Sarah mau mengganti ku jadi kasir?, aku mau bantu Mita dan yang lain untuk melayani para customer." Ucap Reni, sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap ku. Karena posisi ku saat ini sedang berdiri disamping Reni yang duduk di kursi kasir.


"Baik lah." padahal rencana ku pagi ini akan visit ke outlet cabang, tapi biarlah itu ditunda dulu, kalau toko yang disini sudah agak sepi.


Aku duduk mengganti posisi Reni saat ini, Reni pun dengan cekatan melayani pembeli-pembeli yang sudah antri sedari tadi.


Syukur alhamdulilah, aku bisa memiliki dua toko yang bisa menjadi sumber penghasilan ku. Toko ini ku bangun dari hasil menulis novel online ku.


Dan sampai saat ini, aku masih mencintai hobi menulis ku yang sudah menciptakan banyak aset-aset yang aku miliki.


Bahagia sekali atas pencapaian ku ini. Namun aku juga tak pernah lupa untuk menyisihkan pendapatan ku untuk yang sangat membutuhkan.


Karena didalam harta yang aku punya, ada beberapa persen hak mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, di jam segini toko sudah agak longgar. Dan menurut ku sudah sangat bisa untuk di tinggal.


Aku masuk kedalam untuk mengambil tas, dan membenarkan hijab ku. Dan sedikit memoles lagi bibir ini dengan lipstik. Agar terlihat lebih fresh.


Drrrttttt


Drrrttttt


"Halo, sin?!," ada panggilan telepon dari Sinta.


"Kamu lagi sibuk nggak?," tanya Sinta.


"Emang kenapa?, rencana ini aku mau visit ke outlet cabang." jawab ku.


"Apa kamu libur?," lanjut ku. Karena kalau lagi sibuk, Sinta tak akan menelpon ku. Aku yakin kalau kali ini dia sedang libur.


"Iya Sarah, aku libur. Rencananya sih, aku mau ajak kamu ke salon. Tapi... ternyata kamu sibuk." ucap Sinta dari sebrang telepon.


"Ya sudahlah, mungkin lain waktu kita bisa." lanjutnya.


"Ya sudah kita ke salon setelah aku ke outlet dulu gimana?, kebetulan persediaan krim ku juga sudah habis." usulku pada Sinta.


"Wah... kalau itu sih ide bagus." ucap Sinta.

__ADS_1


Telepon pun aku tutup, dan segera berkemas untuk pergi ke outlet cabang. Tapi sebelum, aku ingin menjemput Sinta terlebih dahulu.


__ADS_2