
Seminggu setelah pemecatan Lidya dari kantor tempat ia kerja, ia sangat menikmati kehidupan nya dengan tabungan hasil dari moroti pak Anton. Dia hidup bebas dengan banyak uang untuk saat ini.
Namun sebanyak apapun tabungan itu, apalagi dari hasil yang tidak halal pasti akan cepat habis dengan sia-sia.
Saat ini Lidya dan Linda menjadi pelancong, sering pergi keluar kota untuk liburan. Dengan alasan ia sedang menyembuhkan trauma nya saat Damar mencoba menasehati Lidya agar berhemat.
Damar pun mendengar atas pemecatan Lidya adiknya di kantor ia kerja. Lidya bilang ia dipecat karena ia tak mau melayani nafsu birahi pak Anton.
Namun bisik-bisik yang terdengar dikantor, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Lidya kepada Damar.
Tapi Damar tak mau peduli dengan gosip yang beredar di kantor nya tentang Lidya dan pak Anton. Ia hanya fokus menumpuk hartanya dengan cara menggelapkan uang perusahaan.
Kini tim audit keuangan yang diperintah Bu Rina untuk memeriksa semua laporan keuangan belum menemukan hasil akhirnya. Karena banyak nya berkas yang memang belum pernah di cek selama tiga tahun belakangan ini.
Damar tidak tau tentang keberadaan tim audit keuangan saat ini. Makanya dia tidak ada rasa takut sama sekali.
Saat ini Sarah sangat sibuk dengan pekerjaannya, sampai ia lupa dengan semua masalahnya. Yang saat ini ia butuh kan adalah kendaraan. Karena Sarah sering keluar untuk mempresentasikan kue-kue nya. Karena kue buatan Sarah sering dipesan untuk acara perusahaan-perusahaan besar.
Akhirnya Sarah mengajak Sinta untuk mencari mobil, walau hanya mobil bekas. Karena saat ini tabungan Sarah masih cukup untuk membeli mobil bekas.
Sarah tak mau menghabiskan uang tabungan nya untuk sebuah mobil, lebih baik mobil bekas yang masih bagus, Dan masih punya tabungan.
Karena ia masih punya cita-cita ingin membuka cabang SKcake nya di kota-kota lain.
Sekarang ia harus terus menabung untuk cita-cita nya itu. Semuanya yang ia jalani saat ini semata-mata hanya untuk Kean anak semata wayangnya itu.
Karena Damar selaku ayah nya tak pernah memberi uang sepeserpun untuk kebutuhan sehari-hari Kean.
Sarah kini sudah mempunyai mobil yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan uang nya.
Dan pak Udin lah yang mengajari Sarah belajar menyetir mobil saat ada waktu luang.
Kini Sarah sudah bisa menyetir mobil sendiri, jadi kemana-mana ia tak lagi mengganggu pekerjaan pak Udin.
Karena sering sekali Sarah menyita waktu pak Udin yang akan mengantarkan pesanan hanya untuk mengantarkan nya ke swalayan membeli keperluan Kean.
Sekarang hidup Sarah jauh lebih baik dari sebelumnya yang masih tinggal dengan Damar dan keluarga nya.
Untuk penampilan pun Sarah sudah mengupgrade nya. Ia sekarang lebih suka memakai gamis dan Khimar yang lebar.
Bukannya sok alim, namun ia mencoba memperbaiki diri. Walau iya belum punya ilmu agama yang mewadahi. Namun ia menyempatkan diri untuk mengikuti kajian-kajian keislaman di waktunya yang sangat padat.
SKcake sekarang sudah bekerja sama dengan cafe Bintang Ceria milik Randy. Jadi setiap hari ia selalu menyuplai kue ke cafe Randy.
Selain dengan cafe Randy, SKcake juga berkerja sama dengan cafe-cafe dan resto yang ada di kota ini. Sebenarnya Sarah juga ingin sekali bekerja sama dengan cafe di luar kota.
Namun ia masih menabung untuk itu. Walau SKcake nya ramai oleh pembeli dan sudah mempunyai banyak pelanggan. Dan juga bisa mencukupi kehidupan nya dengan Kean. Tapi Sarah tetap menulis novel online.
Bukan hanya karena ia memang hobi menulis, namun ia tak mau melupakan perjalanannya yang dimulai dari menulis novel online.
*******
Beda dengan Sarah, Lidya kini makin menggila. Ia suka sekali menghamburkan uangnya dengan menyewa pria-pria penghibur. Saat ini Lidya dan Linda berada di Bali. Uda seminggu mereka tak pulang kerumah, mereka sedang berlibur ke Bali.
Di Bali mereka hidup berfoya-foya, setiap malam mereka pergi ke klub malam. Linda seperti tak sadar dengan umur nya, umur sudah nenek tapi jiwa masih belasan tahun.
Mereka berdua setiap hari memanggil pria bayaran untuk datang ke kamar hotel yang sudah Lidya sewa untuk menuntaskan hasratnya.
Saraf malu Linda dan Lidya seperti nya sudah terputus. Karena kadang ia bermain bersama dengan pria yang mereka bayar.
Saat Lidya mau pulang dan dia harus membayar sisa sewa kamar hotel namun kartu ATM nya tak bisa untuk digunakan. Ternyata kartu itu sudah diblokir oleh pihak bank.
Lidya pun sangat panik, karena di dalam dompet nya tak ada uang cash sama sekali.
"Ma, di ATM mama ada saldo nya?," tanya Lidya ke Linda yang saat ini sedang duduk di sofa Lobby hotel.
"Tak ada sama sekali, Lid." Jawab Linda.
"Kalau cash ada, ma?," tanya Lidya lagi.
__ADS_1
Linda langsung membuka dompet, dan di dompet ternyata hanya tinggal lima ribu rupiah saja.
Lidya pun langsung tepok jidat, dompet brand terkenal tapi isi cuma lima ribu rupiah.
"Trus gimana ini, ma? Lidya tak ada cash. Padahal saldo ATM ku masih banyak. Tapi kenapa nggak bisa?," Lidya bingung sampai ia menyuruh kasir hotel mencobanya lagi.
Namun sudah dicobanya berkali-kali tetap saja kartu ATM itu tak bisa di gunakan.
"Coba kamu telepon Damar, Lid!! Suruh ia mentransfer uang, pasti dikasih kok," ucap Linda memberi ide pada Lidya.
Lalu Lidya mencoba telepon Damar, namun tak diangkat panggilan dari Lidya.
"Mas Damar nggak bisa di hubungi, ma!!," Lidya frustasi karena malu kepada pihak hotel. Karena dari tadi ia sering di pandang sinis oleh beberapa karyawan hotel. Mungkin karena gaya selangit tapi dompetnya sangit.
"Coba biar mama yang menghubungi," ucap Linda sambil mengeluarkan handphone dari dalam tas branded nya yang terbuat dari kulit buaya dan berwarna hijau botol itu.
Tuuuut
Tuuuut
Bunyi sambungan telepon masih terdengar, itu tandanya belum ada jawaban dari Damar.
Damar saat ini ada meeting dengan klien, yang membahas kerja sama. Ia ditunjuk oleh Bu Rina untuk mendampingi nya dalam meeting saat ini. Karena kebetulan Rani yang menjadi sekretaris pribadi pak Anton tidak masuk kerja hari ini.
"Nggak diangkat juga, Lid." Ucap Linda gemetar ketakutan.
Ia taku kalau di laporkan ke pihak yang berwajib, ia paling takut dengan polisi. Karena ia takut di penjara.
Saking takutnya, sampai tak terasa Linda kencing di celana nya. Dan itu di lihat oleh salah satu pegawai hotel nya.
"Ibu kenapa kencing disini?," tanya pegawai hotel sambil menunjuk kelantai yang ada air menggenang.
Refleks Linda dan Lidya langsung mengarahkan tatapan nya pada sesuatu yang ditunjuk oleh pegawai hotel itu.
"Mamaaaaa.....!!!! Kenapa mama kencing disini?!!!," Lidya langsung berteriak karena ia malu dengan kelakuan mama nya yang seperti anak kecil.
Saat banyak orang yang melihat mama nya ngompol di depan resepsionis hotel, Lidya langsung menutup mukanya dengan tas merk GERMES yang terbuat dari kulit ular piton. Yang Lidya belum saat ia dan pak Anton liburan ke Lombok kemarin.
Namun di hadang oleh pihak hotel, karena ini salah satu prosedur hotel. Tidak boleh meninggalkan resepsionis sebelum pembayaran lunas.
"Maaf, Bu. Ibu nggak boleh kemana-mana sebelum ada pelunasan uang sewa kamar hotel," ucap satpam hotel.
"Tapi aku cuma mau antar mama ke toilet aja kok!!!, lagian aku tak akan melarikan diri. Aku pasti membayar nya kok, abis ini kakak ku akan mentransfer sejumlah uang!!!!!," jawab Lidya menyombongkan dirinya.
"Tapi itu sudah menjadi prosedur hotel, Bu. Kalau memang ibunya ini mau ke toilet bisa ya pergi sendiri." satpam hotel menjelaskan dengan sikap yang sangat sopan.
Dengan berat hati akhirnya Linda berjalan sendiri menuju toilet hotel. Lalu Lidya kembali duduk di kursi tunggu yang berada di depan resepsionis. Sambil mencoba menghubungi Damar untuk kesekian kalinya.
Namun seperti sia-sia, Karena tak ada jawaban.
"Kemana aja kamu ini sih, mas?," gerutu Lidya. sendiri yang duduk menunggu Linda dengan hati yang was-was.
Linda pun keluar dari toilet dengan memakai pakaian yang bersih, yang ia ambil dari dalam koper.
Beberapa jam mereka menunggu ketidakpastian dari Damar, akhirnya Linda mempunyai ide.
Linda mengambil handphone nya, dan mencari kontak telepon Bianca.
Tuuuut
Tuuuut
Linda menelpon Bianca, menurut nya Bianca akan menolong nya. Karena Linda adalah calon mertuanya.
"Halo, ma?," Bianca menjawab panggilan telepon dari Linda yang tidak lain adalah mama nya Damar.
"Nak Bi, tolong mama. Sekarang mama di Bali, dan dompet mama dan Lidya kecopetan. Saat ini kita mau check out dari hotel, tapi tak ada uang untuk membayar kamar hotel yang sudah kita sewa,"
Linda beralasan kalau mereka habis kecopetan, karena kalau ia memberi tahu kebenaran nya yang memang tak punya uang sama sekali. Takut Bianca ilfeel padanya.
__ADS_1
"Tapi, ma. Bianca saat ini tidak ada uang sama sekali di ATM. Yang ada cuma cash aja," jawab Bianca.
"sebelum nya Bianca minta maaf ya, ma. Dan Bianca saat ini lagi sibuk. Telepon nya aku tutup dulu,"
pamit Bianca dan segera ia putus sambungan telepon dari Linda Mama nya Damar.
"Dasar kurang ajar banget Bianca itu!!!!, katanya dia mau jadi menantu yang baik. Tapi saat ada mertua nya kesulitan dia tak mau bantu!!!!," gerutu Linda sendiri.
Drrrttttt
Drrrttttt
Setelah panggilan dari Bianca ditutup, lalu ada panggilan masuk. Saat di lihat ternyata Damar yang menelepon Linda. Tanpa menunggu lama Linda langsung mengangkat nya.
"Halo, Mar?! Kemana saja sih kamu ini?! Mama telepon dari tadi tak di angkat!!!!!," Belum sempat Damar mengucapkan salam namun mulut Linda sudah nyerocos.
"Maaf, ma. Tadi Damar sedang meeting dengan Bu Rina. Memang ada apa, ma?," tanya Damar.
"Mama minta uang lima puluh juta untuk bayar hotel, uang mama dan Lidya saat ini sudah habis. Kalau kamu nggak kasih, mereka mengancam mama dan Lidya akan di jebloskan ke dalam penjara, memang kamu mau kami di penjara?!,"
Linda mengancam Damar. Karena Linda tahu kelemahan Damar adalah dia dan Lidya. Damar tak mau kalau mama dan adiknya itu menderita.
"Tapi ma,,,, kok lima puluh juta? Banyak banget ma?!," keluh Damar.
"Memang sengaja mama dan Lidya memilih hotel bintang lima, dan memesan kamar yang Presidential Suite. Biar trauma Lidya cepat sembuh."
Lagi Linda memberi alasan demi kesehatan Lidya. Lalu Linda memutus nya secara sepihak. Kalau dengan Damar ia tak perlu merengek dan memelas untuk meminta. Cukup dengan alasan balas Budi karena sudah dilahirkan ia akan langsung memberikan nya.
Damar pun tak bisa menolak nya, dia pun segera mentransfer uang sesuai yang Linda minta yaitu lima puluh juta.
"Ku bilang juga apa?!, Damar pasti akan memberikan nya." Ucap Linda sambil melihatkan layar handphone nya kepada Lidya, Di layar itu ada notifikasi pemberitahuan dari M-banking, bahwa ada transferan uang masuk.
Lidya pun tertawa lega dan bahagia, karena dia tak malu lagi.
Saat Lidya melihat transferan itu, Lidya kaget dengan jumlah nya.
"Kok banyak banget,a?," tanya Lidya sambil melototi isi pesan pemberitahuan itu. "Memang mama minta lima puluh juta pada, mas Damar?," lanjut nya.
Dan Linda pun menjawab dengan anggukan dan mereka berdua tertawa lebar bersama-sama.
Dengan sombong nya Lidya berjalan menuju resepsionis dan menyelesaikan pembayaran kamar hotel yang ia sewa.
Kini mereka menuju bandara Ngurah Rai Bali untuk pulang ke kota asalnya.
Tak sampai satu jam akhirnya mereka sampai di kota kelahiran nya. Lidya memesan taksi online untuk mengantarkan nya pulang kerumah.
Didalam taksi mereka berdua tertawa bahagia karena habis liburan bukan uang nya habis tapi malah uangnya bertambah karena diberi uang lima puluh juta secara cuma-cuma oleh Damar.
Terdengar suara handphone Linda berbunyi, lalu ia mengambil nya dari dalam tas.
"Halo," sapa Linda kepada seseorang yang ada diseberang sana. Linda tak berani menyebutkan namanya karena ada Lidya disamping nya.
"Iya, nanti aku hubungi lagi." ucap Linda segera memutus sambungan telepon nya.
"Siapa, ma?" tanya Lidya ingin tahu, Karena gelagat mencurigakan terlihat di wajah Linda mamanya.
"Mmm itu.... teman arisan mama," jawab Linda sekena nya.
Tak terasa akhirnya ia sampai didepan rumahnya. Dan Linda pun buru-buru mendahului Lidya agar tak ada pertanyaan apapun tentang telepon tadi.
"Mama kenapa buru-buru?," tanya Lidya yang sedikit agak kebingungan melihat tingkah laku mama nya setelah mendapat telepon tadi.
"Mama kebelet, Lid." Linda berhasil memberi alasan yang masuk akal. Linda lalu berlari kearah kamar mandi.
Lidya pun menghembuskan nafasnya dengan lega dan menggeleng kan kepala nya. Saat melihat tingkah laku mama nya itu.
Dan Lidya langsung masuk kamar untuk beristirahat sejenak, lalu ia akan pergi ke bank untuk mengurus ATM yang tak bisa di pakai. Padahal saldo masih diatas seratus juta.
Didalam kamar mandi Linda menghubungi berondong nya lagi, setelah tadi ia memutus sambungan telepon secara sepihak.
__ADS_1
Ternyata berondong nya meminta jatah uang untuk membayar kuliah. Hidup Renald kini bergantung pada Linda si tante-tante girang.
******