
Akhirnya sampai di depan rumah ibu mas Bima, terlihat pintu rumah terbuka lebar. Dan ada satu mobil terparkir di depan rumah ibu nya mas Bima. Mungkin saja itu mobil salah satu kakak mas Bima.
Aku mencoba mereda rasa grogi ku, karena ini baru pertama kali aku bertemu dengan kakak-kakak mas Bima.
"Assalamualaikum," ucap mas Bima sambil terus berjalan masuk kedalam rumah.
Terlihat di ruang tamu sudah berkumpul beberapa orang disana. Mas Bima pun langsung menghamburkan diri pada saudara-saudara nya yang sedang bercanda gurau serta bergerak tawa.
Mas Bima meninggal kan ku yang masih berdiri di depan pintu. Sepertinya mas Bima lupa tak mengajakku untuk masuk.
"Bim, mana istri mu?," tanya seorang lelaki, sepertinya ia yang bernama mas Awan. Kakak lelaki mas Bima, karena dari postur wajah nya ada beberapa kemiripan.
"Loh? oh...itu mas." jawab mas Bima. Terlihat pertama ia kaget karena tak ada aku di belakang nya. Lalu ia mengedarkan pandangan kearah pintu, dimana aku sedang berdiri.
"Suruh masuk lah istri mu! Mau sampai kapan berdiri disitu!," sahut seorang perempuan dengan membawa nampan yang berisi beberapa cangkir berisi kopi. Nah kalau ini aku tau, ini adalah ibu mas Bima.
"Ayo masuk, Sarah!, ngapain kamu berdiri disitu." mas Bima melambaikan tangan padaku.
Aku pun masuk dengan menuntun Kean, dan segera ke hampiri ibu. Untuk bersalaman dan mencium punggung tangan nya.
"Assalamualaikum, Bu. Gimana kabar ibu?," tanya ku segera ku ambil tangan ibu dan ku cium punggung tangan nya.
"Baik, seperti yang kamu lihat saat ini." ucapnya dengan wajah datar.
"Alhamdulillah. Ini Bu, Sarah ada sedikit oleh-oleh." ucapku dengan menyodorkan paper bag yang berisikan kue-kue yang aku ambil di toko.
Karena tadi aku sengaja mengambil agak banyak, agar tak kurang saat di bagikan untuk para tetangga.
Untung nya hanya ada beberapa tetangga yang rumah nya terbuka. Jadi aku bisa membawa lebih banyak kue untuk ibu nya mas Bima.
"OOO... ini kue yang dijual di tempat mu kerja?," tanya ibu nya mas Bima.
"Iya, Bu. Semoga ibu suka." jawabku dengan senyum manis pada ibu mertua.
"Tapi ini bukan kue sisa kemarin kan?, ya bukan nya berburuk sangka. Namanya kamu karyawan disitu, siapa tau biar dapat harga murah, kamu membelinya yang sisa kemarin." ucapan ibu mertua ku sangat tajam.
"Maaf Bu, ini kue-kue masih fresh. Karena di toko ku, eh maksudnya di toko tempat aku kerja. Setiap hari selalu produksi kue-kue yang akan dijual hari itu juga. Dan alhamdulilah selama ini, tak pernah ada sisa hari kemarin yang dijual lagi di toko tempat aku bekerja ini." ucapku sedikit tegas. Karena pengalaman dulu, kalau aku lemah aku akan semakin ditindas.
"Alah... itukan akal-akalan mu, karena kamu karyawan disitu." ucapnya dengan bibir mencembek. Lalu ibu mas Bima beranjak kedalam mungkin mau menaruh nampan yang ia bawa.
Wah... sepertinya aku mencium ada ketidak suka'an padaku nih dirumah ini.
Dari tatapan dan ucapan ibu nya mas Bima sudah sangat terbaca diotak ku.
Aku harus bisa menjaga diri, jangan hal yang sama terulang lagi pada ku. Aku harus bisa tegas agar tak tertindas.
"Sarah, sini!! Kenalan dulu sama mbak Ambar dan mas Awan." panggil mas Bima sambil melambaikan tangannya pada ku.
"Kok keliatan nya asyik sekali ngobrol sama ibu?," lanjut mas Bima.
"Apa?!! Asyik kata mas Bima?!! Apa tadi ia tak mendengar apa yang dikatakan ibu nya padaku?!," gumam ku dalam hati. Mungkin saja mas Bima tak mendengar ucapan ibu nya tadi saking asyiknya ngobrol dengan kakak-kakak nya.
Aku segera berjalan menuju mas Bima yang sedang duduk di sofa bersama kakak-kakaknya.
"Kenalkan, sayang! ini mbak Ambar kakak tertua ku dan ini mas Teguh suaminya." ucap mas Bima dan aku segera menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengan mbak Ambar.
"Sarah...." ucapku pada mbak Ambar memperkenalkan diri.
"Sudah tau!," jawab mbak Ambar sinis, dengan suara sangat pelan sehingga orang sekitar nya tak akan mendengar.
"O....ini istri mu Bim?, yang kerja sebagai karyawan toko roti itu?," Tiba-tiba mbak Ambar berkata dengan suara agak keras.
"Iya, mbak." Jawab mas Bima.
"Wah, beruntung sekali kamu dinikahi adik ku. Seharusnya kamu bersyukur, karena menikah dengan adik ku, derajat mu terangkat." ucap mbak Ambar sambil melirik ku.
"Berapa sih gaji karyawan toko ku?," lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Emang kenapa kalau aku hanya karyawan toko kue? apa ada yang salah? toh itu juga pekerjaan halal." ucapku.
"Sudah ya sayang, sekarang kamu kenalkan diri pada mas Teguh." ucap mas Bima, yang mencoba menenangkan ku.
Apa maksud mbak Ambar berbicara begitu? Tapi kenapa mas Bima diam saja saat mbak Ambar bicara seperti itu padaku?
Mas Bima hanya berusaha menenangkan ku, tapi tak mau menegur kakak perempuan nya itu. Yang sangat jelas omongan mbak Ambar sangat menyakitkan.
Atau mungkin mas Bima tak mau ada keributan diantara kita, apalagi ini pertama kali aku berkumpul di keluarga mas Bima.
Lalu mas Teguh suami mbak Ambar menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan ku. Namun sengaja aku tak meraih nya. Aku hanya menangkupkan kedua telapak tangan.
Dengan sedikit malu, mas Teguh menarik tangan nya lagi.
"Sok suci!!!," ucap mbak Ambar lagi, tepat di samping ku. Dan lagi ia melakukan nya sangat baik, sehingga orang sekitarnya tak mendengar apa yang ia ucapkan.
Jika aku membantah bantahan nya saat ini, jelas aku akan kalah. Lagian ini pertama kali aku datang dan berkumpul dengan keluarga suami ku.
Jadi sebisa mungkin aku ingin memberi kesan baik pada mereka.
"Nah kalau yang ini mas Awan dan mbak Veni." mas Bima menunjuk kearah sepasang suami istri.
Yang sangat terlihat sekali istri dari mas Awan ini dandanan nya sangat lah menor dengan lipstik warna merah cabe dan yang membuat aku gagal fokus.
Di pergelangan tangan kanan kiri nya, terdapat beberapa gelang emas. Yang kanan ada sekitar dua puluh biji gelang model kerincing. Sudah mirip sekali aktris India.
Sedangkan di sebelah kiri ada tiga gelang model rantai lipan yang lebarnya kira-kira dua centimeter. Sungguh seperti toko perhiasan berjalan. Kalau menurut ku, tak ada kesan glamour sama sekali. Yang ada juga kelihatan norak!!
"Kenalkan mbak, aku Sarah." tangan ku sodorkan pada mbak Veni, tapi mbak Veni tak segera menyambut tanganku. Ia seperti memandang jijik pada tangan ku. Mungkin karena terpaksa, ia hanya menempelkan sekilas telapak tangannya ke telapak tangan ku. Lalu ia duduk kembali disamping mas Awan.
Lalu pada mas Awan aku tak bersalaman, hanya menangkupkan kedua telapak tangan ku, seperti yang kulakukan pada mas Teguh.
"Kapan kita mulai makan nya?!, perut ku sudah lapar dari tadi!!! Nunggu pengantin baru lama sekali nggak datang-datang!," ucap mbak Ambar sambil melirik kearah ku. Lalu ia berdiri dan berjalan kearah dapur.
Aku melihat mas Bima sangat bahagia saat mengobrol dengan saudara-saudara nya.
"Aku ingin mandiri, mas. Apalagi istri ku minta kita tinggal terpisah dengan ibu." mas Bima beralasan.
Sebenarnya banyak sekali alasan yang bisa di katakan oleh mas Bima. Tidak harus aku yang dijadikan alasan, walau memang benar kenyataan nya aku yang meminta itu.
"Ayo kita makan." ibu mas Bima keluar dengan mulut penuh makanan.
"Ayo, Sarah!," ajak mas Bima.
Aku berjalan dibelakang mas Bima dan di ikuti oleh mas Awan dan mbak Veni. Namun dari arah belakang ada yang sengaja menyenggol ku. Ternyata mbak Veni berjalan mendahuluiku dan dengan sengaja menyenggol lengan ku.
Ku hempas nafas dengan kasar, namun tetap aku harus bisa menahan emosi.
"Sini nak Veni, kamu duduk disini." ucap ibu mas Bima sambil menyiapkan kursi untuk istri mas Awan itu.
"Makasih ya, Bu." ucap mbak Veni dengan tersenyum.
Lalu aku duduk di kursi yang sudah disediakan oleh mas Bima. Aku duduk bersebelahan dengan mas Bima. Sedangkan ibu duduk diapit oleh aku dan mbak Veni.
"Ven, ibu sengaja masak ayam panggang kesukaan mu." ucap ibu sambil mengangkat piring yang berisi ayam panggang, dan mengambilkannya satu potong untuk mbak Veni.
"Nanti kalau kurang, kamu bilang saja sama ibu. Biar ibu ambilkan." lanjut ibu nya mas Bima bicara dengan mbak Veni.
"Makasih ya Bu, ibu paling tahu deh makanan kesukaan ku." ucap mbak Veni sambil melirikku.
"Bim, ini buat kamu. Kamu harus makan yang banyak, biar kuat kalau kerja. Kan ada anak orang yang harus kamu nafkahi." ucap ibu mas Bima sambil menaruh sepotong ayam panggang di piring mas Bima. Dan seperti nya dengan sengaja tangannya melewati piringku. Dengan melirik kearah ku.
"Apa maksud nya, dengan menafkahi anak orang?," gumam ku dalam hati.
"Lagian Bima, mencari istri yang sudah punya anak. Padahal kalau Bima mau, Bima bisa kok dapat yang masih gadis." celetuk mbak Ambar.
"Ih, mbak Ambar bisa aja." jawab mas Bima sambil tersenyum.
__ADS_1
Kenapa mas Bima menjawab seperti itu?, sepertinya ia senang kalau di bilang dia bisa mendapatkan gadis. Padahal di sampingnya ada aku yang sudah sah menjadi istri nya.
Seharusnya mas Bima membelaku, karena perkataan mbak Ambar berhasil menyakiti hati ini. Namun mas Bima malah ketawa saat kakak perempuan nya berkata seperti itu.
Perut yang mulai tadi sudah sangat lapar, tiba-tiba saja terasa kenyang. Bukan kenyang karena makanan, tapi kenyang dengan ucapan pedas mulut mbak Ambar.
"Kamu Uda selesai makannya, sayang?," tanya mas Bima.
"Sudah, mas." jawabku singkat.
"Kok nggak di habiskan?," tanya nya lagi.
"Sudah kenyang." aku menaruh sendok dan garpu diatas piring yang masih ada sisa nasi dan lauk.
"Masa sih, masakan ku nggak enak?," celetuk ibu mas Bima sambil melirik piring ku.
"Kata siapa, Bu? Lihat nih punya ku habis." ucap mbak Ambar sambil mengangkat piringnya untuk di tunjukkan pada ibu nya.
"Dan lihat tuh, Veni juga sangat lahap makan nya." lanjut mbak Ambar mata nya menunjuk mbak Veni yang ada disamping ibu mertua.
"Iya, Bu. Veni suka kok dengan masakan ibu, masakan ibu nggak ada dua nya." jawab mbak Veni sambil menjilat-jilat jarinya yang masih tersisa bumbu ayam panggang.
"Aku suka kalau anak dan menantu ku pada suka dengan masakan ku." ucap ibu mas Bima sambil melirik ke arah ku.
"Lidah kalian memang tak bisa bohong dengan makanan enak. Beda lagi kalau lidah-lidah kampungan!," sepertinya ibu mas Bima melirik ku lagi.
Aku pun segera berdiri tak menghiraukan perkataan-perkataan mereka. Aku berjalan menuju dapur dengan membawa piring bekas ku makan.
Rencana piring bekas aku pakai maka ini akan aku cuci.
"Sarah, kamu mau kemana?," tanya mas Bima.
"Mau menaruh piring ke dapur, mas." jawabku.
"Ini sekalian titip punya ku ya, sayang." ucap mas Bima sambil menyodorkan piring nya.
"Aku juga titip ya?!," mbak Veni dengan ucapan nya yang lemah gemulai menyodorkan piring bekas ia pakai makan.
"Ya kalau gitu, sekalian aja semua kamu cuci." sahut mbak Ambar, dengan menaruh beberapa piring kotor diatas piring yang sedang ada ditangan ku.
"Hah?? Maksudnya semua ini aku yang nyuci?," tanya ku refleks.
"Ya iya lah, bukan kah itu sudah menjadi pekerjaan mu setiap hari di tempat kamu kerja?!," ledek mbak Veni dengan tersenyum menghina ke arahku.
"Hahaha benar juga kamu, Ven. Tapi kenapa dia sepertinya kaget untuk melakukan itu? padahal itu kan sudah menjadi pekerjaannya setiap hari." sahut mbak Ambar dengan tertawa yang di buat-buat.
"Kalau mau jadi menantu yang baik dan yang bisa di banggakan. Lakukan itu sekarang!," ucap ibu mertua ku alias ibunya mas Bima.
"Tapi kan.....," ucapku terhenti.
"Udahlah sayang, hanya cuci piring aja kan?, aku rasa kamu bisa kok melakukan itu." mas Bima memotong ucapan ku.
Jujur kali ini aku sangat kesal pada mas Bima. Bisa-bisanya ia merendahkan istrinya sendiri di depan keluarganya.
Tanpa berpikir panjang, aku masuk ke dalam dapur dan kutaruh piring kotor di wastafel. Sengaja aku tak mencucinya.
"Disini aku juga menantu, tapi kenapa cuma aku yang disuruh cuci piring?, enak saja!!," gumam ku lirih.
Saat aku mencuci tangan ku, aku mengedarkan pandangan ku keseluruh sudut dapur ini.
Dan. yang membuat ku terkejut, aku melihat paper bag pembungkus kue-kue yang aku bawakan tadi ada di tempat sampah.
Ada perasaan curiga, takut kue yang aku beri dibuang di tempat sampah.
Lalu aku ambil tas itu dari tempat sampah. Namun ternyata, didalam tas itu hanya tersisa plastik bekas bungkus-bungkus kue.
"Dasar munafik!!!, Saat menerima saja pura-pura tak suka dengan menuduh kue sisa kemarin. Eh ternyata mereka semua pada doyan. Pantesan saja ibu mas Bima tadi keluar dengan mulut penuh makanan. Ternyata di dalam mulut itu ada kue-kue yang mereka tuduh kue sisa kemarin." aku bicara sendiri didalam dapur, memang karena aku sangat kesal dengan perilaku mereka kepada ku.
__ADS_1