DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
#322


__ADS_3

"Aku rasa kamu niat sekali ingin membuat ibu dan mbak Ambar celaka, Ven." tuduh Awan.


"Kamu jangan menuduhku yang tidak-tidak, mas. Karena itu bisa menyakiti hati ku " jawab Veni.


"Lantas di katakan apa itu?, kalau bukan kamu punya niat jelek pada ibu dan mbak Ambar." ucap Awan.


"Ternyata kamu wanita licik, Ven. Tega sekali kamu mencuri sertifikat rumah ibu dan kamu juga ingin mencelakainya. Untung saja, ibu dan mbak Ambar tidak apa-apa." lanjut Awan.


"Memang tidak terjadi apa-apa pada ibu dan mbak Ambar, mas. Mereka hanya mabuk perjalanan saja!," jelas Veni.


"Lalu untuk apa kamu mencuri sertifikat rumah, ibu?!," tanya Awan.


"Yang jelas untuk keperluan kita bersama. " jawab Veni dengan entengnya, Veni tak mengatakan alasan yang sebenarnya. Yang tujuan awalnya ia mencuri sertifikat rumah itu untuk mengeluarkan Bima dari penjara.


Kali ini ia sudah mengakui nya. Karena percuma saja kalau ia tak mengaku, toh semua bukti sudah ada dan sudah jelas bahwa dia lah yang mengambil surat penting itu.


"Hah?!, apa maksud mu dengan keperluan kita bersama?!," mata Laras melotot pada Veni.


"Kamu saja kali, bukan kita. Karena aku juga tak tau rasanya uang itu." lanjut Laras.


"Iya, ibu memang tak merasakan uang hasil menggadaikan sertifikat rumah itu. Namun anggap saja uang itu adalah sebagai pelunas hutang-hutang mu padaku." jawab Veni dengan wajah sinis. Dan yang sesekali mata Veni melirik kearah belakang melalui kaca spion.


"Hah?, hutang?, jalan aku berhutang kepadamu?!," Laras tidak terima dengan yang dikatakan oleh Veni.


"Kamu jangan berani menuduh ku seperti itu!!," teriak Laras.


"Karena, kalau tuduhan itu salah, itu jatuhnya kamu memfitnah ku!!," lanjut Laras.


"Hmmm, gelang, kalung serta tas branded yang dulu aku berikan pada ibu itu apa?!," tanya Veni dengan tersenyum getir di bibirnya.


"Bukankah itu kamu memberikan nya hanya cuma-cuma, Ven?!," tanya Laras yang agak terkejut. Karena ia belum siap untuk melepaskan koleksi perhiasan nya.


"Ibu, ibu... Di Dunia ini mana ada yang gratis sih?!," ucap Veni dengan senyum penuh dengan hinaan.


"Apa maksud mu, Ven?!," tanya Awan dengan wajah yang khawatir.


"Apa kamu mau mengambil semua yang sudah kamu berikan pada ibu?!," tanya Awan lagi.


Ngiiikkkk.....


Dengan mendadak, Veni menginjak pedal rem. Sehingga mereka bertiga terjungkal ke depan secara bersamaan. Untung saja Kay, berada di pangkuan Awan. Sehingga ia masih aman dan tidak terbentur dasbor mobil.


"Apa-apaan kamu, Ven?!!," bentak Awan sambil mengelus keningnya yang sakit karena terjedok dasbor mobil.


"Sakit...," rengek Laras dengan manjanya. Tingkah laku Laras sudah seperti Kay, selalu ingin di perhatikan oleh Awan.


"Sepertinya kamu niat sekali ingin mencelakai kita semua." tuduh Awan.


"Hem... Untuk barang-barang yang telah aku beri. Harap ibu kembalikan malam ini juga setelah kita sampai rumah, Bu!!," ucap Veni.


"Kalau ibu tidak mengembalikan nya, saya anggap semua sudah lunas. Aku tak akan menebus sertifikat rumah itu." ancam Veni.


Lalu Veni kembali, menginjak pedal gas mobil nya. Kini ia membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Veni!!!, Kenapa kamu tega seperti itu?!," ucap Awan.


namun Veni sama sekali tak menggubris ucapan Awan.


Ia terus konsentrasi ke depan, ke jalan yang ia lewati saat ini.


Kini sampai di depan rumah Laras. Mereka pun turun, tak terkecuali Veni.


Veni ikut turun dari mobil untuk mengambil barang-barang yang sudah dia berikan pada Laras.


"Ven,apa kamu yakin ingin mengambil semua barang yang telah kamu beri pada ibu?," tanya Awan.


"Iya, mas." jawab Veni singkat.


"Kenapa kamu tega seperti itu Veni?!," tanya Awan.


"Dia itu ibu ku dan dengan begitu dia juga ibu kamu." lanjut Awan mencoba merayu dan membujuk Veni.


"Dia itu hanya ibu mu mas, bukan ibu ku." jawab Veni dengan ketus dengan menatap tajam mata Awan.


"Kurang ajar kamu!!," tamparan keras melayang di pipi kiri Veni.


Dengan tenaga yang cukup kuat, Awan menampar pipi Veni. Sehingga keluar bercak darah di sudut bibir Veni.


"Bagus, Wan. Itu namanya suami yang tegas dengan kesalahan istri. Itu tindakan yang tepat." ucap Laras membenarkan kelakuan anaknya yang main pukul kepada istrinya.


Hati Laras sangat puas melihat hal yang terjadi di depan matanya itu.


Veni tak ingin, Awan dan Laras melihatnya lemah dengan menangis. Padahal saat ini hati Veni sangat sakit, seperti tercabik-cabik.


cekleeek...


Pintu terbuka dari dalam, ternyata Bima yang keluar.


"Ada apa ini?!," tanya Bima dengan tatapan kebingungan. Bima menatap satu persatu orang yang ada di depannya. Dan betapa kagetnya Bima saat melihat Veni keluar darah di sudut bibirnya.


"Bibir kamu kenapa, sa..eh mbak?," hampir saja Bima salah panggil pada Veni. Dan yang awal nya tangan Bima ingin menyentuh bibir Veni yang berdarah, dengan spontan ia langsung menariknya. Karena ia sadar bahwa saat ini ada banyak orang.


Ia tak ingin mereka curiga dengan kedekatan nya dengan Veni, kalau ia memberikan perhatian lebih.


"Itu lah balasan kalau menjadi istri pembangkang, Bima. Dan sudah sepantasnya dia mendapatkan itu dari Awan." sahut Laras dengan sangat semangat.


"Memang apa yang di lakukan oleh mbak Veni, mas?," tanya Bima pada Awan.


Dan Awan pun menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari Veni mencuri sertifikat rumah Laras, sampai sekarang yang terjadi.


"Sudah selesai cerita nya, mas?!!," tanya Veni setelah awan berhenti bercerita.


"Kalau memang sudah selesai, aku akan segera melakukan tujuan awakku datang kesini." lanjut Veni.


"Sekarang, ambil semua barang pemberianku, Bu!!," perintah Veni pada Laras.


"Lihat, Wan. Istri mu makin kurang ajar. Ceraikan saja perempuan seperti ini." ucap Laras menghasut Awan.

__ADS_1


"Silahkan kamu cerai kan aku, mas. Agar ibu mu senang." ucap Veni dengan sangat tegas.


"Sekarang juga, ambil semua barang-barang yang telah aku beri dan segera bawa kesini, Bu!," perintah Veni pada Laras.


"Veni, ibu mohon. Jangan meminta perhiasan-perhiasan itu lagi. Karena perhiasan itu sudah tidak ada." jawab Laras dengan suara pelan dan memelas.


"Aku tidak mau tau, Bu. Sekarang juga, kembalikan itu semua pada ku." sekali lagi Veni menegaskan pada Laras.


"Ven, aku tau sebenernya kamu itu adalah orang baik. Aku yakin ini semua hanya candaan mu saja kan?," ucap Laras dengan nada suara yang pelan dan sangat lemah lembut.


Laras mencoba untuk merayu Veni. Laras sangat tida rela kalau semua perhiasan nya yang lumayan banyak itu di berikan lagi pada Veni.


"Ven!!, kenapa kamu kekeh ingin mengambil perhiasan itu?, sedangkan uang yang kamu buat beli perhiasan itu adalah uang dari ku. Jadi kamu tak punya hak untuk mengambil kembali!!," ucap Awan.


"Oh... aku baru ingat mas. Kalau uang itu kamu yang memberi. Tapi apa kamu lupa, kalau uang itu kamu dapat dari perusahaan ku?!," Veni membalikkan omongan Awan.


"Veni!!!, kamu benar-benar ya!!," tangan Awan sudah diangkat. Awan akan melayangkan tangan nya ke pipi Veni untuk yang kedua kali.


"Kamu ingin menamparku, mas?!. Silahkan!!," ucap Veni sambil menyodorkan pipi nya lebih dekat dengan Awan.


Namun bukan nya menampar, Awan pun segera menarik tangan nya. Awan mengurungkan niat nya untuk menampar Veni.


"Bu, kenapa ibu masih berdiri disini?," tanya Veni.


"Ven, ibu mohon jangan ambil perhiasan-perhiasan emas ibu yang sudah kamu belikan." Laras terus memohon sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Baiklah, semua pemberian ku tidak akan aku ambil. Dan ku anggap semua hutang ku sudah lunas." ucap Veni.


"Dan saya harap semua yang ada disini menjadi saksi untuk ini semua. Bahwa hari ini utang saya sudah lunas kepada Bu Laras." lanjut Veni sambil menatap satu persatu orang yang berada disitu secara bergantian.


"Veni!!, kenapa kamu tega sih?!!," ucap Awan tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Veni.


"Bukan masalah tega dan tidak tega, mas. Disini saya berfikir realistis." jawab Veni dengan senyuman sinis.


"Baik lah kalau itu sudah jadi keputusan mu." ucap Awan.


"Mulai detik ini, aku jatuh kan talak kepadamu, Ven!!. Jadi sekarang kamu sudah bukan istri ku lagi." lanjut Awan.


Awan mengucap talak pada Veni. Karena Awan merasa Veni sudah keterlaluan pada Laras ibunya.


Lagi pula Awan sudah tidak punya rasa cinta lagi dengan Veni. Menurut Awan, mungkin ini jalan nya untuk dia mendekati Sarah.


"Kamu menalak ku, mas?," tanya Veni dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, aku menalak mu!. Kenapa? Kamu tidak terima?!," tanya Awan dengan senyum sinis.


"Tidak, aku menerima keputusan mu dengan senang hati, mas." jawab Veni dengan tersenyum pada Awan.


"Mas, kamu yakin menalak mbak Veni??," tanya Bima dengan mata membelalak.


"Keputusan yang sangat tepat, Awan." sahut Laras dengan senyum menghina Veni.


"Oke, karena sudah malam. Aku pamit pulang." ucap Veni.Lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di tepi jalan. Dimana didalam mobil itu ada Kay yang terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2