
"Dewi!!!, yakin kamu nggak mau ini?," teriak ku. Tiba-tiba muncul ide di otak ku untuk menggoda Dewi. Karena dengan mengenal Dewi hanya beberapa Minggu saja, aku sudah bisa membaca tabiat nya.
Dewi dan mbak Ana serentak menoleh ke belakang, yaitu kearah ku.
Mereka berdua melihat ku yang sedang mengangkat paper bag yang berisikan kue-kue dari toko kue iku.
"Hmmm... mbak Sarah aku...," Dewi tak meneruskan ucapannya, dia melihat kearah mbak Ana yang sedang menatap nya.
"Nggak!!! aku nggak mau!!, aku tau itu pasti kue sisa kemarin!!! Mungkin daripada dibuang lebih baik di kasih kan ke karyawan nya aja!!," jawab Dewi dengan suara lantang.
Aku semakin tertawa dalam hati, melihat ekspresi Dewi. Aku tau dia sangat menginginkan nya. Tapi sepertinya memang dia takut pada mbak Ana.
"Ya sudah kalau nggak mau. Aku bawa masuk saja."
"Ayo sayang kita masuk!," ajak ku pada Kean seraya memegang tangan nya.
Kami berdua pun berjalan bersama masuk kedalam rumah.
"Kamu mandi ya, nak!," ucapku pada Kean.
"Baik, amma." Kean berjalan kekamar mandi.
...****************...
Setelah semua pekerjaan rumah beres, masak untuk makan malam juga sudah siap. Aku dan Kean juga sudah mandi dan sudah rapi.
Kami berdua duduk di sofa depan televisi. Kean asyik dengan kartun favorit nya, sedang kan aku mengetik novel online ku di laptop.
Kami berdua duduk di sofa yang sama sambil menunggu mas Bima pulang.
"Kean, nggak ada PR?," tanya ku dengan terus mengetik dan mata masih fokus pada layar laptop.
"Ada, amma. Tapi Uda selesai, karena Kean bikin Pr nya di sekolah. Sebelum amma jemput." jawab Kean, dengan melakukan hal yang sama dengan ku. Yaitu tatapan matanya terus fokus pada layar televisi.
tok!!
tok!!
tok!!
Suara pintu diketuk, aku rasa kalau mas Damar yang datang ia tak akan mengetuk pintu. Karena ia membawa duplikat kunci pintu rumah.
"Siapa ya, nak?," tanyaku pada Kean.
"Kean nggak tau, amma." jawab Kean.
"Biar Kean aja yang buka, amma." lanjut Kean sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar masuk rumah.
Aku pun menganggukkan kepala, menyetujui ide Kean.
"Assalamualaikum, mbak Sarah." ternyata yang mengetuk pintu adalah Dewi.
Dewi terlihat was-was, karena saat mau masuk kedalam rumah, berkali-kali ia menoleh kearah samping kanan, kiri dan belakang.
Jujur aku semakin ingin tertawa melihat tingkah Dewi. Dan kenapa dia begitu takut sama mbak Ana, sampai ia tak berani mengatakan keinginan nya sendiri.
"Waalaikumsalam," jawabku.
"Dewi?!," ucapku sambil pura-pura terkejut.
"Ada apa, Wi?," tanya ku basa-basi. Karena aku sudah tahu maksud dari kedatangan nya kesini.
"Mbak Sarah, maafkan kelakuan dan omongan Dewi tadi ya mbk?," ucap Dewi sambil memegang tangan ku.
"Ada apa Wi?, Memang kenapa?," tanyaku dengan sangat tenang.
"Aku bicara seperti itu karena aku takut sama mbak Ana, mbak. Sebenarnya Dewi pingin roti yang mbak Sarah bawa tadi." dengan jujur Dewi berkata kalau dia memang menginginkan roti itu.
"Masih adakah mbak, roti itu?," tanya Dewi dengan wajah membekas.
"Memang kenapa kamu takut sama mbak Ana?, apa dia saudara mu?," tanyaku penasaran.
Karena Mbak Ana seperti nya sangat berpengaruh dalam hidup Dewi. Sehingga Dewi tidak bisa berkutik saat ada mbak Ana.
"Mmmmm itu mbak...mbak Ana...mbak Ana bukan saudara ku kok." jawab Dewi dengan gugup.
Aku tersenyum melihat tingkah laku Dewi yang seperti bunglon.
"Mbak Sarah....!," panggil Dewi.
"Hmmmmm....," jawab ku
"Gimana? kue nya masih ada kan?," tanya Dewi seperti tak tau malu. Tadi sudah di tolak, sekarang ditanyakan.
"Masih," jawab ku singkat sambil terus mengetik novel online ku di laptop yang sedang ada di pangkuan ku.
__ADS_1
"Dewi masih boleh minta kan, mbak?." dia memohon-mohon padaku.
Aku pun berdiri dari duduk ku, untuk mengambil sekotak kue yang aku taruh di meja makan.
Lama-lama aku kasian juga melihat wajah Dewi yang memelas itu. Sudah cukuplah rasanya aku kerjain dia.
"Ini..." aku menyodorkan paper bag yang berisi satu kotak kue-kue.
"Makasih ya mbak Sarah...." Dewi langsung mengambil tas kertas itu dengan cepat nya. Sehingga baru hitungan detik, tas yang terbuat dari kertas itu sudah berpindah tangan. Dari tangan ku sekarang sudah ada ditangan Dewi.
Aku pun segera duduk dan mengambil laptop ku yang tadi aku taruh di atas meja. Aku melanjutkan mengetik novel online ku.
"Mbak Sarah lagi apa sih? kok sepertinya sibuk banget kayak orang kantoran. Padahal kan mbak Sarah hanya pelayan toko kue?," tanya Dewi.
Memang ya, kalau sifat tidak bisa dirubah. contohnya ini Dewi. Mulut nya lemes banget, perkataannya sangat menyakitkan.
"Memang kenapa dengan pelayan toko kue?," tanyaku dengan tatapan tajam.
"Oohh... ya nggak apa-apa sih mbak Sarah. hehehe...." jawabnya sambil nyengir kuda. Seperti tak menyadari kalau omonganya itu sangat menyakitkan. Membanding-bandingkan dan merendahkan pekerjaan orang lain.
"Ini sudah mau magrib, apa kamu nggak dicari suami mu?!," tanya ku. Kali ini aku sudah nggak begitu respect padanya.
Jujur sih, dari aku tau sifat nya yang bermuka dua, saat kita bertemu belanja di tukang sayur depan rumah nya. Aku sudah tak suka dengan nya, sudah tak respect sama Dewi.
Namun sebenarnya tadi aku hanya berniat menggoda dia, ingin ngerjain dia saja.
Eh emang dasarnya tak punya malu, Dewi datang meminta kue itu lagi setelah bersikap tak baik padaku tadi.
"Suami ku belum waktunya pulang, mbak Sarah. Masih dia hari lagi dia pulang." jawabnya.
Aku tak bertanya-tanya tentang pekerjaan suami nya, karena aku sudah malas dengan nya.
"Mas Bima belum pulang ya, mbak?," tanya nya sambil matanya berkeliling melihat setiap sudut ruangan rumah ku.
"Dasar nggak sopan!!," gumamku dalam hati.
"Belum!," jawabku singkat.
"Mas Bima itu orang nya baik ya, mbak? Ganteng pula." puji Dewi pada mas Bima.
"Sungguh suami idaman." lanjutnya.
"Kamu tau nggak? kamu itu muji siapa?. Kamu itu lagi muji suami orang, dan itu hukumnya dosa!. Harusnya kamu memuji dan membanggakan suami sendiri!,"
Kini ucapan ku pertegas, rasa nya tidak baik di terus-teruskan berteman dengan orang seperti dia. Bisa membuat emosi setiap hari.
"Udah ngomong nya?!," tanya ku.
"Mbak Sarah cemburu ya?,"
Aku yakin Dewi ini manusia yang tak punya otak. Bisa jadi saat pembagian otak, dulu ia tak datang. Jadi ya beginilah jadi nya.
"Sekarang sudah mau Maghrib, dan aku tak bias menerima tamu di waktu Maghrib. Sekarang kamu bisa pulang." jujur baru kali ini aku mengahadapi orang seperti Dewi. Aku berkata sambil menunjuk pintu keluar.
"Mbak Sarah kok usir aku?," tanya nya dengan muka polos seperti tak punya dosa.
"Karena ini sudah mau Maghrib, dan waktu Maghrib itu pantas untuk bertamu." ucap ku jutek.
"Wah suara mobil mas Bima." celetuk Dewi saat mendengar mobil mas Bima masuk kedalam garasi.
"Mas Bima datang mbak!," ucap Dewi memberi tahu ku.
"Uda tau!!!," jawabku ketus sambil terus menatap layar laptop.
Sebenarnya otak ku sudah tak bisa berkonsentrasi saat kedatangan Dewi. Aku menatap layar laptop saat ini bukan untuk mengetik novel online. Tapi hanya untuk mengalihkan pandangan ku pada Dewi yang tak tau malu ini.
Laptop ku tutup dan dengan segera aku taruh di bawah bantal sofa. Karena mau meletakkan kedalam lemari rasanya sudah tak keburu waktunya.
"Assalamualaikum..,"ucap salam mas Bima saat membuka pintu.
"Waalaikumsalam." jawabku tersenyum sambil berdiri untuk menghampiri nya.
Kuambil tas kerjanya, dan ku cium punggung tangan nya.
"Mas Bima mau mandi dulu?," tanya ku.
"Mas Bima...," sapa Dewi, sungguh Dewi ini memang orang yang tak punya sopan santun.
Padahal ia tau kalau aku masih bicara dengan mas Bima, malah ia memotong nya.
"Eh ternyata ada tamu?," tanya mas Bima dengan senyum ramah.
"Kamu lanjutkan ngobrol mu, biar mas mandi dulu." ucap mas Bima dengan tangan nya mengambil lagi tas kerja nya yang sudah aku pegang.
Lalu mas Bima berjalan kekamar, dan tersenyum menyapa Dewi yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
Dan aku kembali duduk di tempat ku semula, dan kali ini aku duduk dengan menyandarkan punggung ku dan melipat kedua tanganku. Dan aku terus menatap tajam kearah Dewi.
"Mas Bima itu romantis ya, mbak?," tanya Dewi sambil mencuri-curi pandang pada kamar ku. Yang ia tau kalau mas Bima masuk kedalam situ.
"Kamu pernah dengar cerita, istri sah membunuh perempuan yang ganjen pada suaminya?," aku sengaja menggertak nya.
"Oo....mbak Sarah, kalau gitu Dewi pamit pulang dulu ya....," wajah Dewi terlihat sekali kalau ia ketakutan.
Jujur dalam hati ini, aku ingin sekali tertawa melihat wajah Dewi yang memerah karena ketakutan.
Ia langsung berdiri dan berlari menuju pintu yang masih terbuka tadi.
"Mbak Sarah, terimakasih ya kue nya." ucap Dewi sambil kaki nya sedikit berlari.
Pintu segera ku tutup saat Dewi sudah berada di luar rumah.
"Dasar!!! nggak tau diri?!!," gerutuku.
Aku berjalan menuju kamar, untuk menyiapkan baju ganti untuk mas Bima.
Saat mas Bima masih belum selesai mandi, dengan cepat aku ambil laptop yang aku taruh di bawah bantal sofa tadi untuk aku pindahkan ke dalam lemari.
cekleeek
Suara gagang pintu yang di tekan terdengar, dan pintu kamar mandi pun terbuka.
"Ini bajunya, mas." aku menyodorkan baju dan celana yang akan di pakai oleh mas Bima.
"Terimakasih ya, Sarah."
"Sama-sama,".
Kini kami bertiga makan malam bersama, Putri tak jadi pulang bersama mas Bima. Karena ia masih ingin menginap di rumah neneknya.
...****************...
Pagi ini mau masak, bahan di lemari es habis. Sayur mayur pun tak ada.
Sebenarnya malas mau belanja di tukang sayur yang biasa mangkal di depan rumah Dewi. Karena aku yakin para tetangga toxic akan berkumpul disitu.
Namun aku harus bagaimana lagi, mau tak mau aku harus belanja disitu. Karena ini sangat darurat. Biar nanti sebelum aku ke toko kue, aku mampir ke pasar induk. Sekalian aku belanja untuk seminggu, agar aku tak lagi bertemu dengan tetangga-tetangga julid. Seperti Dewi dan mbak Ana.
Aku keluar dan berdiri di teras rumah, dan benar tebakan ku. Depan rumah Dewi, tukang sayur sudah mangkal di sana.
Dan perkumpulan ibu-ibu ghibah sudah dimulai. Terlihat sangat jelas dari teras rumah ku, ada Dewi, ada mbak Ana serta mbak Sri tetangga sebelah rumahnya Dewi.
Tapi aku tak melihat istri pak Edi, dimana dia? Dan apakah semalam ada tamu lagi seperti malam-malam sebelumnya?
Ah... aku nggak tau, karena semalam aku sudah tidur setelah sholat isya.
Aku berjalan sengaja tidak say hai pada mereka, berjalan dengan langkah yang tak terdengar oleh telinga-telinga mereka yang sedang asyik menggibah.
"He mbak Sri, mbak Ana tau nggak?!, tetangga kita yang nama nya mbak Sarah itu, ih..gaya nya sok banget."
"Sok banget gimana, wi?," tanya mbak Sri.
Sedangkan mbak Ana hanya diam saja sambil melengos.
"Ya gitu mbak Sri, gaya nya sok kaya. Di rumah nya itu loh, hmmm.... dia itu mainan nya laptop. Udah kayak pegawai kantoran aja. Ya... padahal hanya pelayan toko roti." Dewi berbicara sampai bibir nya monyong-monyong dengan air liur yang keluar-keluar. Jujur perut langsung mual melihat Dewi berbicara.
"Ya mungkin dia lagi nonton YouTube, sekarang kan jaman sudah canggih." jawab mbak Sri.
Pemikiran mbak Sri lebih maju dari pada Dewi. Padahal kalau di lihat dari usia Dewi lebih mudah dari mbak Sri. Tapi kalau masalah otak seperti nya mbak Sri yang lebih pintar.
Aku makin yakin kalau Dewi dulu ketinggalan, saat pembagian otak.
"Trus kamu ngapain kesana? kerumah orang yang sok cantik itu?!," kali ini mbak Ana membuka suara juga.
"Mmmm.... itu mbak Ana. Aku nggak kesana, tapi... e..." Dewi tergagap-gagap menjawab pertanyaan mbak Ana.
"Kalau kamu nggak kesana, kamu tau darimana kalau dia itu mainannya laptop kalau didalam rumah?,"
Nah loh!!! kena skak mat Dewi oleh mbak Sri. Ternyata mbak Sri itu kalau bicara menggunakan logika, dan tidak langsung percaya dengan omongan orang lain.
Dasar manusia tukang ghibah, saking asyiknya menggibah sampai mereka tak tau kalau aku ada di belakang nya.
"Iya itu karena aku melihatnya!," ucap Dewi dengan agak emosi.
"Emang kamu kerumahnya?," tanya mbak Ana lagi kali ini tangannya sambil memilih sayuran yang ada di depan nya.
"Mmmmm..iya sih. Kemarin sore aku kerumahnya." jawab Dewi sambil menggaruk tengkuknya yang aku rasa itu tak gatal.
"Memang kamu ngapain kesana, wi?," tanya mbak Sri yang juga sedang memilih daging ayam.
"Gini loh cerita nya, kapan hari itu dia minta ubi rebus padaku. Ya aku antar lah kerumahnya. Terus dia cerita kalau ia bekerja sebagai pelayan toko kue. Ya aku nggak enak aja, akhirnya aku coba nitip ke dia untuk di belikan. Dan kemarin ia bawakan kue itu, dan sore nya aku ambil kerumahnya." ucap Dewi.
__ADS_1
Hmmm..... pintar sekali dia kalau bicara. Pintar sekali memutar balikkan fakta.