
Hari ini aku dan karyawan ku menyiapkan Snack box pesenan Sinta untuk acara pengajian dirumahnya.
Kebetulan paman Udin yang bertugas mengantarkan orderan kue dalam jumlah banyak, hari ini tidak masuk karena sedang tidak enak badan.
Jadi mau tidak mau, aku lah yang harus mengantarkan pesanan Snack box pesenan Sinta.
Jam sudah pukul dua sore, semua orderan sudah selesai dan sudah siap untuk diantar.
Kali ini aku mengajak Reni untuk menemani ku mengantarkan pesanan Snack box kerumah Sinta.
Setelah semua sudah siap didalam mobil, aku segera masuk. Dan Reni juga sudah siap di bangku depan sampingku.
Ku lajukan mobil dengan kecepatan tinggi, karena waktunya sudah agak mepet. Acaranya dimulai jam tiga, dan saat ini sudah jam dua lebih.
"Hati-hati, Bu." ucap Reni mengingatkan aku.
"Iya, Ren. Waktu nya sudah mepet banget nih. Bisa-bisa nanti kita diomelin oleh Sinta karena telat." aku terus fokus menyetir.
Mulai dari tadi handphone ku berbunyi, aku yakin itu pasti Sinta yang menelpon ku.
"Handphone nya dari tadi berbunyi, Bu. Apa tidak diangkat dulu?," tanya Reni. Mungkin dia juga risih dengan suara handphone yang berisik. Karena aku yang mendengar nya pun juga begitu.
"Tolong ambilkan handphone ku, Ren." ucapku sambil mengarahkan pandangan ku ke tas hitam yang ku taruh di samping tempat duduk ku.
Reni segera mengambil handphone didalam tas yang aku maksud.
"Ini, Bu." ia menyodorkan handphone padaku.
"Makasih, Ren." aku mengambil dengan menoleh kepada Reni. Lalu kembali fokus lagi pada jalan yang ada di depan ku.
Benar dugaan ku, ternyata yang daritadi menelpon ku adalah Sinta.
"Halo, assalamualaikum Sin." aku mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, apa kue nya udah jalan kesini Sarah?," tanya Sinta. Mungkin ia khawatir kalau kue nya masih belum berangkat.
"Sabar, ini kue nya sudah sampai di pertigaan dekat komplek mu." jawabku.
"Memang yang antar, kamu apa paman Udin?," tanya Sinta penasaran.
"Ada deh....," jawabku menggoda Sinta.
"Ok deh! terserah pokoknya kue datang tidak terlambat." jawab nya.
Lalu Sinta menutup teleponnya setelah mengucapkan salam.
"Tolong Ren, masukkan lagi dalam tas!," perintah ku pada Reni. Dan Reni segera mengambil handphone yang ada di tangan ku dan langsung memasukkan kedalam tas yang semula.
Mobil sudah masuk kedalam komplek perumahan Sinta. Dari sini masih belum terlihat rumah Reni. Karena sedikit agak jauh dari pintu masuk komplek.
Setelah melewati beberapa rumah yang berjejer rapi. Kini sudah nampak rumah dengan bangunan minimalis modern yang berwarna putih salju.
Nampak dari posisi ku saat ini, disana masih belum ada orang yang datang. Segera aku tancap gas, agar segera sampai sana lebih dulu. Sebelum para tamu undangan datang.
Dan akhirnya sampai juga aku di depan teras rumah Sinta. Dengan segera Reni mengangkat beberapa kotak kardus besar kedalam rumah Sinta. Aku pun ikut membantu pekerjaan Reni.
"Taruh dimana ini, Sin?," tanyaku pada Sinta yang saat ini memakai gamis warna putih dan pasmina berwarna putih juga.
"Taruh disini aja, Sar." Sinta menunjuk meja yang sudah tertata rapi dengan taplak yang berwarna putih dengan hiasan renda-renda.
Reni pun menata semua Snack box di atas meja yang dimaksud Sinta.
"Tamu nya belum datang ya, Sint?," tanyaku.
"Belum, Sar. Kok kamu yang antar, bukannya kamu bilang paman Udin yang antar?," Sinta bertanya dengan menyusun beberapa piring di atas meja.
__ADS_1
"Paman Udin hari ini ijin tidak masuk, Sin. Beliau sedang tak enak badan." jawabku dengan menata beberapa kue di atas piring untuk jamuan para tamu.
"Sebenarnya aku sih malas mau datang kesini, maksud ku bukan malas sama kamu. Malas ketemu tuh." lanjut ku sambil menunjuk kearah depan rumah Sinta.
"Hahaha.... ," Sinta menjawab dengan tawa yang cukup menggema dan suara tawanya mengagetkan ku.
"Kenapa harus tertawa seperti itu sih?!," ucapku jengkel.
"Ya kamu lucu aja!. Oh, kapan hari ibunya Damar datang kesini. Tau nggak dia ngapain?," tanya Sinta.
Dan aku menggelengkan kepala, karena memang aku nggak tau.
"Dia meminjam uang pada ku, Sar." lanjut Sinta.
"Awalnya sih, mau pinjam lima juta. Dengan alasan ia butuh uang untuk modal Lidya membuka usaha. Entah usaha apa?!." Sinta mengambil satu kue yang sudah tertata diatas meja lalu ia menggigit nya.
"Trus kamu kasih pinjam?," tanyaku penasaran, aku menoleh kan kepala ku pada Sinta yang sedang mengunyah bolu coklat, dan ku hentikan kegiatan tangan ku yang sedang menata kue-kue diatas piring.
"Enggak." jawab nya dengan menggelengkan kepalanya dan mulut nya terus mengunyah.
"Aku beralasan aja, kalau tabungan ku sekarang sudah habis karena sudah buat beli rumah ini." lanjut Sinta dengan langkah ke depan meninggalkan aku.
Saat aku menoleh ke depan ternyata beberapa tetangga dekat rumah Sinta sudah berdatangan. Dan mereka bersalaman dengan Sinta selaku tuan rumah disini.
Aku yang selesai menata kue-kue di piring, ingin segera masuk kedalam. Agar tak diketahui oleh para tetangga ku dulu, yang saat ini menjadi tetangga Sinta.
Sedikit banyak aku kenal dengan mereka. Namun, saat badan ku balikkan kebelakang dan kaki ini akan melangkah. Tiba-tiba ada yang memanggil ku.
"Mbak Sarah, ya?," Suara itu aku sangat mengenal nya. Sungguh hati ini dilema, mau menoleh dan menjawab sapaan nya aku takut. Takut kesini karena masih Ingin tau tentang kehidupan mas Damar. Sedangkan kalau aku tak menoleh dan tak menjawab sapaan nya, bisa-bisa aku jadi gunjingan ibu-ibu sekompleks ini. Karena aku sekarang berubah menjadi sombong.
Dan dengan bismillah, aku tekad kan untuk menyapa balik ibu yang memanggil ku itu.
Aku pun segera membalikkan badan menghadap kepada ibu yang memanggil ku.
"Alhamdulillah baik, mbak Sarah. Mbak Sarah sendiri bagaimana?," tanya sambil meraih tangan ku untuk berjabat tangan.
"Duh, sekarang mbak Sarah tambah cantik ya. Lama loh kita nggak pernah ketemu." lanjut nya sambil memegang pundak ku setelah tangan nya melepaskan tanganku.
"Ibu bisa aja, Silahkan duduk Bu." aku ikut menjamu tamu Sinta, dan mempersilahkan mereka untuk duduk di atas karpet merah yang berbulu sangat halus itu.
"Apa mbak Sarah ini masih saudara dengan mbak Sinta?, kok kalian berdua kenal?," tanya lagi dengan gaya bicaranya yang kepo dengan orang lain.
"Iya, Bu. Aku masih sepupu dengan Sinta." ucapku bohong.
"Wah... pantesan kalian sama-sama cantik." puji nya padaku dan Sinta.
Aku pun segera pamit kebelakang, takut para tetangga datang semakin banyak.
Aku dan Reni menunggu di ruang makan, mau pulang pun tidak bisa. Karena mobil ku terparkir di halaman rumah Sinta. Kalau pun mobil bisa keluar, tapi aku dan Reni yang tak bisa keluar. Karena tak ada pintu dibelakang yang menghubungkan dapur dan halaman rumah.
Jadi kalau ingin keluar, hanya ada satu pintu. Yaitu pintu depan yang saat ini tertutup oleh para tamu undangan.
"Jadi kita disini sampai acaranya selesai, Bu?," tanya Reni sambil memainkan gawai nya.
Saat ini Reni bebas memainkan handphone nya di jam kerja. karena tak ada pekerjaan yang dikerjakan. Pekerjaan kita hanya menunggu, menunggu acara pengajian ini selesai.
Para tamu sudah datang semua dan acara pun segera di mulai. Dari suara yang aku dengar, pengajian di pimpin oleh ibu Jamal. Ibu tadi yang menyapaku, dia dulu adalah temanku setiap hari saat pergi ke tukang sayur yang biasa mangkal di depan rumah nya.
Setelah menunggu sekitar satu jam, acara pengajian sudah selesai. Kini saat nya para tamu menikmati hidangan yang sudah tersedia di meja.
Ada yang langsung makan makanan inti, ada pula yang masih makan kue-kue yang terhidang di piring. Tak sedikit pula yang makan buah-buahan dulu.
"Wah...bolu coklat ini enak banget." ucap salah satu ibu, yang aku tak tau orangnya. Karena hanya mendengar suaranya dari dalam dapur.
Karena yang saat ini sedang membantu Sinta di dalam untuk menjamu tamu adalah Reni.
__ADS_1
"Iya Bu, enak banget. Ini aku juga makan." jawab ibu satunya.
"Yang ini juga enak Bu. ibu wajib mencobanya." jawab satunya lagi.
"OOO... itu bolu gulung ya, Bu?," suara sahut menyahut membicarakan kue-kue ku sangat terdengar jelas.
Dan aku sangat bersyukur, kalau memang kue-kue ku di terima di lidah banyak orang.
"Mbak Sinta, kue-kue nya ini pesan dimana?, rasanya enak dan aku suka. Cocok sekali di lidah ku." kali ini Bu Jamal yang berbicara, karena suaranya sudah tidak asing lagi di telinga ku.
"Itu kue buatan Sarah, Bu." jawab Sinta.
"Hah? Apa benar mbak Sarah bisa buat kue seenak ini?, hebat ya? Nanti kalau acara khitanan cucu ku aku mau pesan di mbak Sarah saja. Nanti mbak Sinta kasih aku nomor handphone nya mbak Sarah ya..?," Bu Jamal berniat pesan kue di toko ku.
Alhamdulillah, ucap syukur ku panjatkan. Karena rasa tak akan pernah bohong.
"Iya, Bu. Bisa kok, setiap hari kue-kue ini juga Redi loh Bu. Karena sekarang Sarah sudah buka toko roti." Wah, Sinta memang is the best deh, dia lihai banget mempromosikan kue-kue ku.
"Oh ya mbak Sinta?, wah jadi misal aku pingin jadi bisa ya sewaktu-waktu beli?," tanya Bu Jamal.
"Nanti mbak Sinta kirim alamat tokonya di Wa ku ya mbak." Lanjut Bu Jamal.
"Beres..," jawab Sinta.
"Memang siapa yang bikin kue-kue ini Bu Jamal?," tanya ibu satu nya. Yang suara nya samar-samar terdengar dengar di telinga ku. Karena suaranya tak begitu keras.
"Sarah, Bu. Ibu ingat nggak sama Sarah?," tanya Bu Jamal. Suaranya Bu Jamal sangat terdengar jelas karena volume suaranya lumayan tinggi.
"Sarah siapa Bu?," tanya ibu itu lagi.
"Sarah itu loh Bu. Yang dulu pernah jadi menantu Bu Linda, yang dulu gosipnya ia di usir dari rumah Bu Linda karena selingkuh. Tapi kenyataannya yang selingkuh ternyata anak nya Bu Linda sendiri, yaitu Damar." kali ini Bu Jamal menggosip. Bu Jamal di komplek ini terkenal sekali kali ia ada bigos alias biang gosip.
Ia pasti mengetahui berita-berita yang sedang viral di lingkungan ataupun luar lingkungan komplek ini.
Aku sesekali mengintip dari dapur, ingin melihat situasi didepan. Ternyata mereka masih asyik memakan hidangan yang tersaji di meja.
Lalu aku kembali lagi duduk di kursi yang ada di dapur rumah Sinta.
"He, ibu tau nggak anaknya Bu Linda yang perempuan? itu loh yang dulu pernah gagal nikah, karena ternyata calon suaminya itu bapak temannya?, Sekarang sering pulang malam dan diantar sama om om loh." ucap ibu-ibu yang aku tak melihat wajah nya. Karena duduknya membelakangi ku.
Ternyata pernikahan yang pernah viral itu masih terukir jelas di ingatan para ibu-ibu di komplek ini.
"Oh ya Bu?!, ibu jangan suudzon dulu. Siapa tau itu cuma taksi online. Kan mereka sekarang tak punya mobil, jadi kalau pulang pergi pasti menggunakan taksi online." Seperti nya ibu ini berpikir bijak tak mau menuduh orang terlebih dulu sebelum melihat buktinya.
"Bisa juga sih Bu, tapi setiap Lidya pulang pasti dia mabuk. Pernah suatu malam, kebetulan AC dirumah rusak. Karena sangat gerah aku dan suami ku memutuskan untuk keluar. Kita duduk santai di teras rumah. Dan tidak sengaja aku melihat Lidya turun dari mobil di bopong sama seorang lelaki seumur suami kita. Dan yang membuat aku dan suamiku kaget, saat sudah sampai di depan pintu mereka berdua beginian." ucap ibu Tris sambil menyatukan ujung jari tangan kanan yang menyatu dengan ujung jari tangan yang kiri.
Kali ini ibu yang berbadan bongsor yang bernama ibu Tris yang bercerita. Rumahnya di sebelah rumah Sinta. Jadi dari rumah ibu Tris ini, bisa dilihat dengan jelas semua aktivitas di halaman rumah mas Damar.
Ada-ada saja yang di gosipkan ibu-ibu komplek ini kalau sudah kumpul.
Aku hanya menggelengkan kepala, semoga saja yang di gosipkan oleh mereka tidak benar. Walau keluarga mas Damar sangat jahat padaku, tapi ada rasa kasihan kalau sampai salah satu keluarga nya ada di jalan yang salah.
Sebelum magrib acara sudah selesai, dan ibu-ibu komplek berpamitan pulang pada Sinta selaku tuan rumah.
Setelah tak ada tetangga satu pun di ruang tamu Sinta. Aku pun segera keluar dari tempat persembunyian.
"Betah ya kamu di dalam?," ledek Sinta sambil membereskan sampah-sampah yang berserakan diatas karpet dibantu oleh Reni.
"Sebenarnya sih nggak betah, tapi mau gimana lagi?," Jawab ku sambil mengangkat kedua bahu ku.
Aku ikut membereskan piring-piring kotor yang ada diatas meja untuk di bawa ke dapur.
"Uda, Sarah. Kamu duduk aja, biar aku yang beresin." ucap Sinta saat melihat ku mengangkat piring ke dapur.
Namun ucapan Sinta tak ku gubris sama sekali, aku terus membantu Sinta dan Reni membersihkan rumah.
__ADS_1