DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Veni Tak Terima


__ADS_3

 Beberapa menit berdiam sendiri dengan kekesalan nya pada Sarah, kini Bima terlihat sedang berjalan menuju Veni yang masih setia duduk untuk menunggu kedatangan Bima. Walau di hatinya diselimuti rasa cemburu dan kesal dengan kedatangan Sarah kesini.


"Apa kabar kamu, Bim?," tanya Veni pada Bima yang terlihat kusut dan lesu itu.


"Apa kamu sedang sakit, Bima?," tanya Veni lagi, seperti tidak memberi kesempatan Bima untuk menjawab.


"Aku tidak sakit, mbak. Hanya saja perasaan ku yang sedang tidak baik-baik saja." jawab Bima dengan menunjukkan wajah nya.


"Kamu tenang, Bim. Sebentar lagi kamu akan keluar dari sini. Ini aku sudah membawa uang itu." ucap,,,,,,,, V,,eni dengan semangat menepuk tas yang taruh diatas meja.


Memang tujuan Veni kesini mau mengeluarkan Bima, karena ia sudah mendapatkan uang yang di butuhkan oleh Bima. Veni mendapatkan uang itu dari Siska, dengan menjaminkan sertifikat rumah Laras yang sudah ia ambil secara diam-diam.


,


Namun, berbeda dengan Veni yang terlihat bahagia,,, karena dia bisa mengeluarkan Bima dari sini. Sedangkan Bima masih tertunduk lesu, seperti tidak ada rasa bahagia dengan berita yang telah di kabarkan oleh Veni.


"Kenapa kamu seperti tidak bahagia, Bim? Bukankah harusnya kamu bahagia setelah mendengar apa yang tengah aku ucapkan tadi?," tanya Veni dengan tatapan aneh dan alis yang bertaut menatap kearah Bima yang sampai saat ini menundukkan kepalanya.


"Bim!!, kamu baik-baik saja kan?," sekali lagi Veni memastikan kalau tidak terjadi apa-apa pada adik ipar yang sekaligus selingkuhan nya.


"Apa kedatangan Sarah yang membuat seperti ini?," tanya Veni lagi. Veni sangat yakin Sarah lah yang membuat Bima seperti ini.


"Mbak Veni tau, kalau Sarah datang kesini?," tanya Bima dengan mengangkat wajahnya dan menatap Veni yang sedang berada di depannya.

__ADS_1


Veni sangat kesal dengan sikap Bima, yang langsung mengangkat wajah nya saat mendengar nama Sarah disebut.


"Iya, tadi aku ketemu perempuan ****** itu di depan sana." jawab Veni dengan ketus.


"Wanita ******?, maksud mbak Veni apa ya?," tanya Bima dengan alis bertaut. Seperti nya Bima tidak terima kalau Sarah disebut wanita ****** oleh kakak ipar nya itu.


"Kalau bukan wanita ******, lalu sebutan apa yang pantas di sematkan untuk perempuan sok alim seperti Sarah itu?!," kali ini Veni benar-benar kesal dan cemburu, sehingga ia tak sadar kalau ia berbicara dengan nada sedikit lebih tinggi.


"Jaga ucapan mu, mbak!!," Bima pun iku kesal dan emosi, saat mendengar istrinya (walau sebentar lagi akan menjadi mantan) di hina seperti itu.


"Kenapa kamu membela dia dan membentak ku?!!, bukankah karena dia kamu ada di dalam sini?," Veni mencoba meracuni pikiran Bima, dengan mengingatkan kalau Sarah lah yang membuat Bima meringkuk di balik jeruji besi.


"Sedangkan aku lah, yang selalu berusaha untuk membebaskan mu dari sini." ucap Veni melanjutkan ucapannya. Kali ini ia berbicara dengan air mata yang mengalir di pipinya.


"Tapi dengan tega nya kamu membela Sarah di depan ku. Sakit hati ini, Bim." Veni terus menangis, dengan memegang dada nya. Veni benar-benar cemburu dengan sikap dan ucapan Bima, yang masih membela Sarah.


"Bima harap mbak Veni jaga ucapan pada Sarah. Jangan pernah bilang kalau Sarah itu perempuan ******. Karena sebenarnya, Sarah itu perempuan baik-baik yang masih ada di dalam hati ku, mbak." ucap Bima dengan tatapan kosong kearah lain.


"Aku lah yang melakukan kesalahan dengan berselingkuh dengan mu, mbak." lanjut Bima dengan tatapan nya beralih pada Veni.


"Kamu bilang Sarah itu wanita baik-baik?!, apa wanita baik-baik itu wanita yang suka merayu kakak suaminya?!," Veni bersih keras untuk menjatuhkan dan menjelekan nama Sarah di hati dan pikiran Bima.


"Maksud mbak Veni?," Bima bertanya dengan alis bertaut, karena memang ia tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Veni tentang Sarah itu.

__ADS_1


"Kamu itu terlalu polos, sehingga dengan mudah dibohongi dengan pakaian Sarah yang selalu tertutup, Bim." ucap Veni dan lagi-lagi membuat Bima bertambah bingung.


"Yang kita lakukan ini bukan kesalahan, Bim. Memang kita ini sudah saling suka." Veni mencoba membenarkan perbuatan nya dengan Bima, yang sudah sangat jelas kalau itu adalah perbuatan yang salah besar.


"To the point saja, mbak. Aku masih bingung dengan apa yang mbak Veni katakan tentang Sarah." ucap Bima.


"Kamu memang sepolos itu, Bim?. Asal kamu tau, Sarah pernah mencoba untuk merayu mas Awan." ucap Veni mencoba menghasut Bima, agar Bima benci dan segera meninggalkan Sarah. Lalu Veni bisa dengan mudah menguasai hati Bima.


"Kamu jangan mengada-ada, mbak. Aku sangat paham betul dengan sifat dan sikap Sarah. Aku pastikan bukan Sarah yang menggoda tapi pasti mas Awan lah yang menggoda duluan." ucap Bima dengan penuh keyakinan.


"Kenapa kamu terus membela Sarah di depan ku?!, kenapa kamu tidak menjaga perasaan ku sama sekali sih Bim?!!," Veni sangat kesal dan kecewa dengan apa yang telah di ucapkan oleh Bima, yang terdengar terus membela Sarah.


"Memang kamu menganggap aku ini apa, Bim?," tanya Veni pada Bima, ia benar-benar kecewa pada Bima yang selalu membela Sarah.


"Hubungan kita hanya sebatas adik dan kakak ipar mbak. Dan aku tak ingin meneruskan hubungan yang terlarang ini. Karena disini aku sadar, bahwa hubungan gelap yang kita jalani ini, telah menyakiti mas Awan kakak kandung ku sendiri." ucap Bima dengan tegas. Dalam hati Bima saat ini, hanya ingin memperbaiki diri. Perceraian dengan Sarah membuat ia sadar kalau selama ini yang ia lakukan dengan Veni istri dari kakak kandungnya itu sangat salah.


"Apa, Bim?!, kamu bilang hubungan kita hanya sebatas adik dan kakak ipar saja?!, lalu selama ini?!," Veni dibuat kaget oleh apa yang di katakan oleh Bima.


",Aku nggak pernah nyangka kalau kamu akan seperti ini, Bim?!!,"


"Aku nggak mau hubungan ini di akhiri, karena aku sudah terlanjur cinta sama kamu." ucap Veni dengan air mata yang berlinang.


"Aku sudah mencarikan mu yang agar kamu bisa bebas dengan cepat dari sini, Bim. Aku sudah mengorbankan semua untuk mu, untuk membebaskan mu dari sini, Bima!!!," Veni menangis semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Kamu tak perlu repot-repot mencarikan aku uang untuk bisa keluar dari sini, Mbak. Karena tanpa uang mu pun aku akan keluar dari sini secepatnya." jawab Bima dengan mengalihkan tatapan nya pada yang lain. Bima tak ingin memperlihatkan kerapuhan hati nya saat ini pada siapapun termasuk Veni yang menjadi kekasih gelap nya.


__ADS_2