DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Jangka Waktu Satu Bulan


__ADS_3

Hari ini Kean sudah boleh di bawah pulang, begitu juga dengan Lidya.


Sarah yang ditemani oleh pengasuh Kean, mengemasi barang-barang yang akan di bawa pulang. Lalu mereka bertiga keluar dari kamar. Pengasuh Kean membawa koper yang berisikan baju dan keperluan Kean.


Terlihat Damar sedang mondar-mandir didepan kamar Lidya sambil menelpon.


Damar sedang menelpon Bianca, karena hari ini Bianca tak datang kesini.


Mulai semalam Damar sudah mencoba menghubungi nya. Namun tak ada jawaban sama sekali.


Sampai siang ini pun, Bianca tak memberi kabar padanya.


Damar saat ini sedang bingung, ia memerlukan kendaraan untuk membawa Lidya pulang. Sedangkan Bianca tak ada datang kembali kerumah sakit.


"Gimana, Mar? apa sudah ada kabar dari Bianca?," tanya Linda yang keluar dari kamar.


"Tak ada jawaban sama sekali dari Bianca, ma." Damar menggelengkan kepala dengan wajah lesu.


"Trus kita pulang naik apa, Mar? masak iya kita naik taksi online?, mama malu sama tetangga, Mar." keluh Linda pada Damar.


Damar semakin dibuat pusing dengan permintaan Linda.


"Lagian, Bianca itu kenapa sih?, Kenapa ia tiba-tiba pulang?. Huh dasar belum jadi menantu udah gitu sikapnya pada calon mertua!!!," kali ini Bianca yang kena julitan Linda mama nya Damar.


"Bianca lagi tidak enak badan, ma! Jadi dia ingin pulang untuk beristirahat." Damar memberi penjelasan tentang Bianca kepada Linda mama nya.


"Mau tak mau, kita ya naik taksi online." lanjut Damar segera memesan taksi online.


"Kamu sih, Mar. kenapa nggak secepatnya mencari kerja lagi sih? terus beli mobil lagi. Biar kita tidak menjadi gunjingan tetangga." Linda merengek pada Damar. Dikata beli mobil itu seperti beli permen apa?


Damar tak menggubris omongan Linda. Dan Damar akhirnya memesan taksi online.


Beberapa menit kemudian, taksi yang sudah dipesan pun datang. Lidya yang duduk di kursi roda didorong oleh Linda, sedangkan Damar membawa tas besar yang berisi keperluan setiap hari selama ada dirumah sakit.


Mereka berpapasan dengan Sarah yang sedang menenteng tas yang tak begitu besar. Sedangkan Kean digendong oleh pengasuhnya. Dan Paman Udin mengangkat tas besar yang berisikan keperluan Kean.


"Sarah, hari ini Kean sudah pulang juga?," tanya Damar.


Sarah yang melihat Lidya yang duduk di atas kursi roda pun akhirnya menyapa. Karena ia merasa tak enak, takutnya dikira sombong oleh keluarga Damar.


"Gimana keadaan mu, Lid?," tanya Sarah. Sarah mengabaikan pertanyaan Damar karena saat ini ia sangat malas berbicara dengan nya.


Namun tak ada jawaban dari Lidya, malah Lidya mengalihkan pandangan nya kearah lain saat Sarah memandang dan tersenyum pada nya.


"Kamu ini sok perhatian sama Lidya, padahal dihati kamu sekarang pasti tertawa bahagia dengan keadaan Lidya saat ini!!!," Linda berucap dengan bibir terangkat sebelah.


"Ma, kenapa mama ngomongnya gitu sih?, Sarah sudah baik loh, perhatian sama Lidya." Kali ini Damar membela Sarah didepan keluarga nya.


Namun bukan bahagia yang dirasakan oleh Sarah, malah membuat Sarah semakin ilfeel dengan sikap Damar.


Kemana saja kemarin, kenapa baru sekarang main bela-belaan.


Sarah sama sekali tak menggubris dengan sikap dan omongan Damar. Sarah berlalu tanpa mempedulikan omongan mantan mama mertua nya yang sangat tajam itu.


Sarah rasa orang seperti mantan mama mertuanya itu tak perlu dipedulikan dan terlalu di baiki. Karena dia itu tipe orang yang tau diri dan tak tau terimakasih.


Tipe seperti mantan mama mertua Sarah itu adalah tipe orang yang baik kalau ada mau nya saja. Dan kalau ia tak butuh jangan harap ia akan baik.


Sarah sudah hafal dengan tabiat semua orang yang berada di rumah Damar.


Paman Udin yang mengambil mobil diparkiran sudah datang. Dan sudah berada di depan Sarah yang saat ini sedang berdiri. Lalu Sarah dan pengasuh yang menggendong Kean masuk kedalam mobil.


Pengasuh Kean dan Kean naik di jok depan tepat nya disamping sopir. Sedangkan Sarah duduk dijok belakang sopir.


Gerakan Sarah tak luput dari pengawasan Damar. Damar terus memperhatikan setiap langkah mantan istrinya itu.


Damar curiga dengan keadaan Sarah saat ini. Damar berpikir kalau saat ini Sarah berada di puncak kesuksesan.

__ADS_1


"Sarah hanya bekerja sebagai karyawan ditoko roti, tapi kenapa kelihatan nya sekarang hidupnya seperti orang yang banyak uang?," ucap Damar dalam hati.


"Mar, kenapa kamu melamun aja sih?, mana taksinya? kaki mama sudah pegel nih." Rengek Linda manja pada Damar.


"Sabar, ma. Bentar lagi juga datang." Damar mencoba menghibur Linda yang terlihat manyun.


"Pasti saat ini Sarah sedang menertawakan kehidupan kita deh, Mar."


"Jangan punya pikiran jelek pada orang lain, ma." Damar mencoba memberi pengertian pada Linda.


"Aku yakin pasti dia sekarang merasa diatas awan. Karena terlihat sekarang hidupnya sudah seperti orang kaya."


"Tapi, dia kan hanya Pelayan toko roti ya?. Atau jangan-jangan dia sekarang menjadi simpanan om-om hidung belang?," Pikiran Linda pada Sarah tak pernah ada baiknya.


"Husss!!, mama nggak boleh ngomong seperti itu. Lagian aku tau, Sarah itu wanita seperti apa. Tak mungkin ia seperti yang mana pikiran." Jelas Damar tak terima, kalau Linda menjelek-jelekkan Sarah. Karena Damar masih ada rasa untuk Sarah.


"Kenapa kamu ini, Mar!! Seperti tak terima kalau aku membicarakan keburukan Sarah," Linda berbicara dengan wajah jutek pada Damar.


"Itu bukan keburukan Sarah, ma. Tapi itu tuduhan mama pada Sarah." Damar membenarkan kalimat yang salah pada ucapan Linda.


"Coba kamu pikir deh, sekarang berapa gaji seorang karyawan toko roti?, kalau dilihat dari penampilan Sarah saat ini dan mobil yang ia naiki tadi. Gaji nya tak ada apa-apa nya buat semua itu. Mungkin gaji nya juga abis untuk dibuat makan dia dan anaknya." Cerocos Linda yang sangat ingin menjatuhkan harga di Sarah pada Damar.


Agar Damar segera mengubur rasa dalam hati untuk Sarah dalam-dalam.


Linda tak ingin Damar kembali pada Sarah, karena Bianca adalah masa depan yang tepat untuk Linda terutama Damar.


Sarah hanya akan menjadi penghalang kebahagiaan yang akan Linda dapat saat Damar sudah menikah dengan Bianca.


Sebelum Damar menjawab pernyataan Linda mama nya. Tiba-tiba taksi online yang sudah dipesan oleh Damar datang.


Mereka bertiga akhirnya masuk kedalam taksi online itu.


Setelah sampai rumah, Damar ingin segera mandi lalu istirahat merebahkan tubuhnya.


Kini ia membuka pintu rumah nya, dan ia menemukan amplop yang berwarna putih di celah bawah pintu rumah.


"Ada apa, Mar?," Linda yang melihat perubahan mimik wajah Damar curiga dengan isi surat itu.


Tanpa menjawab Damar memberikan surat itu pada Linda.


"Mar, mama nggak ingin jadi gembel hiks hiks hiks hiks..." Linda menangis setelah membaca isi surat itu.


Lidya pun sangat penasaran, lalu ia mengambil dan membacanya.


"Apa-apaan ini, mas?, kenapa mas Damar menggadaikan sertifikat rumah ini?!,"


Lidya emosi setelah membaca isi surat itu. "Pokoknya Lidya nggak mau keluar dari rumah ini!!! Ma, Lidya nggak mau jadi gembel!!! Kenapa mas Damar tega sih sama kam?!," Lidya mengira ini semua ulah Damar.


"Kenapa kamu jadi nyalahin aku sih, Lid?!," Damar tak terima dengan tuduhan yang diberikan oleh Lidya.


"Kalau bukan mas Damar, lalu siapa lagi?, Nggak mungkin kan mbak Sarah?!," Lidya masih bersikukuh menuduh Damar.


"Sekarang coba jelaskan pada kita berdua, ma! Dan uang sebanyak itu sudah mama buat apa saja?, jangan bilang uang sebanyak itu buat keperluan dapur dan makan kita. Karena aku rasa, aku sudah mencukupi kebutuhan dapur!," ucap Damar pelan tapi penuh penekanan.


"Maksud kamu, mama yang menggadaikan sertifikat rumah ini, mas?," Lidya mencoba mencerna ucapan dari Damar untuk Linda mama nya.


Damar hanya menganggukkan kepala, karena mau berbicara pun malas. Linda pasti akan terus mendebatnya, dan itu akan membuat Damar semakin pusing dibuatnya.


"Apa benar yang diucapkan mas Damar, ma?," kini Lidya bertanya pada Linda yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.


Tanpa Linda menjawab, Lidya sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa benar apa yang dikatakan Damar pada nya.


"Mama ini benar-benar ya...! Mama mau kita hidup dikolong jembatan?!." Linda menggelengkan kepalanya yang berarti ia tak mau hidup seperti yang dikatakan oleh Lidya.


"Sekarang kita harus mencari jalan keluarnya, bukan main menyalahkan mama aja! Karena yang memakai uang itu bukan hanya aku. Tapi kalian juga ikut menikmati. Apalagi kamu Lidya!!," Linda akhirnya bisa membantah anak-anak nya.


Tak mudah kalau ingin menekan Linda, karena Linda mempunyai seribu cara agar ia tak disalahkan walau nyatanya memang ia bersalah.

__ADS_1


"Kok mama ngomongnya gitu?, mama jangan main tuduh saja kalau tak ada bukti!," Lidya pun tak mau disangkutkan dengan uang hasil menggadaikan sertifikat rumah.


"Kamu ingat waktu kita liburan ke Bali, setelah kamu di pecat dari kantor mu, karena kamu ketahuan selingkuh dengan suami atasanmu? Kamu pikir itu uang darimana? hah?!. Itu yang dibuat kamu mabuk setiap malam di club malam dan kamu buat pesta **** bersama gigolo yang kamu sewa. Kamu pikir itu uang darimana? itu semua uang hasil dari menggadaikan sertifikat rumah ini!!!!," mulut Linda kali ini sangat tajam kepada anak-anak nya.


Linda mengungkit semua kenangan pahit untuk Lidya, dan Lidya mendengar itu langsung lemas seperti tak bertulang. Lidya langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.


Sedangkan Damar yang mendengar pengakuan Linda, ia tidak habis pikir dengan kelakuan mama dan adik perempuannya itu.


Demi kesenangan sesaat yang membawa sesat, dia nekat menyewa gigolo?!


"Sekarang sudah menjadi tugas kalian berdua, bagaimana caranya agar rumah ini tidak jadi disita oleh bank!, Aku nggak mau menjadi gembel!!!."


"Jadi mama membebankan semua ini pada kami?!," Lidya tak menyangka kalau Linda mama nya setega itu pada nya.


"Uang darimana ma?! Kita hanya punya waktu satu bulan untuk mendapatkan uang sebanyak itu!," Damar bingung harus mencari uang dengan cara apa agar satu bulan mendapatkan uang delapan ratus juta.


"Aku nggak mau tau!!," Linda berjalan masuk kedalam kamar nya.


Damar dan Lidya terlihat sangat frustasi dengan apa yang saat ini mereka hadapi.


Damar pun masuk kedalam kamarnya, ia ingin menenangkan pikiran yang ruwet itu.


Didalam kamar, Damar mencoba menghubungi Bianca. Kali ini Bianca mengangkat telepon Damar.


Sebenarnya Damar ingin sekali menceritakan semua masalah yang ia hadapi sekarang. Dan ingin meminta bantuan tapi paman Udin Damar malu, karena ia belum menjadi suaminya. Lalu Damar hanya berbasa-basi dengan Bianca.


Setelah telepon ditutup, dan Damar tak mendapatkan jalan keluar dari masalah nya. Kali ini terlintas dipikirannya adalah Sarah.


Ia berencana meminta bantuan pada Sarah, tapi Damar tak yakin Sarah akan membantu nya. Karena Sarah hanya karyawan biasa di toko roti. Tak mungkin ia mempunyai uang sebanyak itu.


Damar sangat bingung mencari cara untuk menebus sertifikat rumah ini. Akhirnya Damar tertidur karena tubuh dan pikirannya sangat capek.


Keesokan pagi nya Damar bangun dari tidurnya, dilihat jam di dinding sudah menunjukkan jam delapan pagi.


Ia keluar kamar untuk pergi ke dapur, Damar melihat Lidya sudah berpakaian rapi.


"Mau kemana kamu, Lid?, masih pagi kok sudah rapi?," tanya Damar yang heran melihat Lidya berdandan sangat cantik. Padahal ia masih dalam masa pemulihan habis operasi pengangkatan rahimnya.


"Semalam Lidya nggak bisa tidur, mas. Lidya terus memikirkan rumah ini. Lidya tak bisa terima kalau sampai rumah ini disita oleh bank. Karena rumah ini adalah rumah satu-satunya peninggalan almarhum papa." Lidya berbicara dengan meneteskan air mata di pipinya, dengan cekatan ia langsung menyekanya.


"Terus, sekarang kamu mau kemana?," tanya Damar yang curiga, Lidya akan berbuat nekat.


"Lidya mau cari kerja, mas! Doa kan Lidya agar cepat dapat kerja." ucap Lidya.


"Tapi kondisi mu kan masih sakit, Lid?, Biar mas Damar saja yang mengusahakan uang itu."


Damar tak ingin terjadi apa-apa pada Lidya, karena ia baru saja sembuh dari sakitnya. Saat ini yang diperlukan oleh Lidya adalah istirahat yang banyak.


Namun Lidya tetap memaksa, akhirnya Damar pun mengijinkan nya.


Lidya pergi setelah taksi online yang dipesan sudah datang. .


Damar pun tak mau kalah dengan Lidya, ia juga bersiap-siap untuk mencari pekerjaan. Lidya yang kondisinya masih lemah saja semangat mencari kerja.


Damar juga pergi menggunakan taksi online. Damar saat ini pergi ke perusahaan-perusahaan yang sedang ada lowongan pekerjaan.


Sudah beberapa perusahaan yang didatangi nya, namun penolakan yang ia terima.


Lalu ia mencoba menghubungi Bianca, kali ini Damar benar-benar ingin meminta bantuan Bianca untuk diberikan pekerjaan.


Mereka bertemu di salah satu resto dikota ini, yang posisinya saat ini dekat dengan Damar berada. Bianca langsung meluncur ke resto tersebut.


Kini mereka berdua duduk berdampingan dan memesan beberapa makanan.


Damar pun langsung pada intinya, ia menginginkan pekerjaan. Dan meminta pada Bianca agar dimasukkan kedalam perusahaan nya.


Damar menceritakan semua masalah yang membelitnya sekarang.

__ADS_1


Namun Bianca tak berani memberikan Damar pekerjaan di perusahaan nya. Karena takut semua akan terbongkar.


__ADS_2