
Pagi ini kita sarapan bersama, Kean susah memakai seragam sekolah dan mas Bima juga sudah rapi untuk berangkat ke toko.
"Kamu libur kerja, Sarah?," tanya mas Bima sambil melihat ku, yang masih memakai piyama.
"Sarah, masuk mas." jawab ku.
"Tumben jam segini masih belum siap-siap?," tanya nya.
"Bersiap lah, sekalian aku akan mengantarmu ke tempat kerja mu, sayang." ucap mas Bima.
"Kamu yakin mau antar aku, mas?," jujur baru kali ini mas Bima menawarkan diri untuk mengantarkan aku ke toko.
"Ya iyalah aku yakin, sayang. Apa salah nya sih antar Istri ke tempat kerja nya?,"
Aku segera mandi dan berganti pakaian, tak lupa ku poles kan bedak tipis-tipis dan ku aplikasi kan lipstik berwarna nude di bibirku. Agar terkesan natural di wajah ku.
"Sarah, sudah siap mas." ucapku yang kini sudah berdiri di samping mas Bima.
"Mashaallah, sangat cantik sekali istri." puji mas Bima sambil menatap ku dari ujung atas dan sampai ujung bawah.
"Terimakasih, mas." mas Bima selalu bisa membuat pipi ku merah karena tersipu malu oleh pujian nya.
Kami bertiga pun akhirnya berangkat, mas Bima mengantarkan Kean ke sekolah terlebih dahulu.
Setelah Kean aku antar kedalam kelas, kini aku kembali masuk kedalam mobil mas Bima.
"Sarah!!," panggil mas Bima saat aku mengatur posisi untuk duduk di jok samping mas Bima.
"Iya mas?," tanya ku sambil ku tatap mata coklat mas Bima.
"Terimakasih ya," ucapnya yang membuat ku bingung.
"Terimakasih untuk apa mas?," tanyaku.
"Terimakasih kamu sudah mau menjadi pendamping hidup ku. Dan terimakasih saat ini kamu mau mengerti keadaan ku." ucap mas Bima dengan mata coklat nya yang berkaca-kaca.
"Aku bangga punya istri seperti mu." lanjut mas Bima sambil memegang erat tanganku.
"Sarah juga bangga mas punya suami seperti mu." ucapku sambil tersenyum pada nya.
"Aku yakin kamu bisa melewati masalah ini, mas. Dan terimakasih kamu sudah mencintai ku." ucapku.
"Ayo, mas. Ini sudah siang." ucapku mengingat kan mas Bima sambil menunjuk arloji yang melingkar dipergelangan tangan ku.
Mas Bima menghidupkan mesin mobilnya, dan melaju dengan kecepatan sedang.
Kini mas Bima menuju toko ku, untuk mengantarkan aku. Baru kali ini selama seminggu menikah mas Bima mengantarkan aku ke tempat kerja.
"Makasih ya, mas. Sudah mau mengantarkan ku ketempat kerja?," senyum ku mengembang untuk mas Bima.
"Sama-sama, sayang." jawab nya sambil menoleh kearah ku sebentar dan langsung pandangan kembali ke depan untuk melihat jalan.
Kini aku sudah sampai di toko ku, dan mas Bima langsung berangkat ke toko nya.
Toko roti ku kalau jam-jam pagi seperti ini sudah banyak customer yang datang.
Aku segera membantu melayani pembeli. Kali ini sengaja aku tak menggantikan Reni di meja kasir.
Tiba-tiba datang dua orang wanita yang salah satunya berdandan seperti toko perhiasan berjalan. Perhiasan emas dengan ukuran besar menempel di bagian-bagian tertentu tubuhnya. Dari ujung jalan aku sudah tau siapa wanita yang memakai perhiasan emas yang ukurannya besar-besar itu.
__ADS_1
Dan aku memberi kode kepada karyawan ku, agar jangan sampai bilang aku pemilik toko ini.
Semua karyawan ku sudah mengerti dengan maksud ku. Dan mereka menjawab dengan anggukan kepala.
"Selamat datang mbak Veni.... ada yang bisa saya bantu? Kayla nggak ikut mbak?," aku melayani nya dengan ramah.
"Wah... kamu sudah langganan disini ya Ven? Sampai pelayan toko nya kenal sama kamu dan Kayla?," tanya perempuan cantik dengan dandanan glamor.
"Ya begitulah, Sis?, aku di kenal dimana-mana itu sudah biasa," jawab mbak Veni.
"Duh jadi pingin nyoba kue-kue nya." ucap teman mbak Veni sambil melihat berbagai macam kue yang ada dietalase.
"Ya udah kamu pilih saja sesuka mu, biar aku yang bayar." Mbak Veni berkata sambil melirik ku.
"Yakin kamu mau traktir aku?," tanya perempuan cantik itu.
"Iya jelas lah, kemarin uang jajan ku baru di transfer sama mas Awan. Padahal uang jajan bulan kemarin belum habis." ucap mbak Veni sambil mata nya melihat ke arah ku.
"Waahh... suami sudah ganteng, royal pula. Sungguh suami idaman," teman mbak Veni sangat antusias memuji mas Awan.
"Iya, donk. Kemarin saja aku diantar perawatan wajah di klinik kecantikan beuaty skin." mbak Veni sangat membanggakan mas Awan.
"Hah? kamu habis dari situ? itukan klinik kecantikan yang lumayan mahal." teman mbak Veni terkejut.
"Aku aja mau kesana masih maju mundur." lanjutnya. Padahal di lihat dari penampilan nya, teman mbak Veni seperti orang yang banyak uang. Tapi kenapa bicara nya seakan-akan dia tak punya uang?
Apa mungkin dia seorang yang bergaya elit tapi ekonomi sulit?. Ah... entahlah, itu urusan mereka.
"Ehemm.... ini jadi yang mana kue nya mbak Veni?," aku memutus pembicaraan mereka. Karena dari tadi mereka terus mengobrol memamerkan harta dan suaminya. Sedangkan disini masih banyak customer yang belum dilayani.
Apalagi mbak Veni, dengan bangga nya ia memamerkan mas Awan ke teman nya.
"Maaf mbak, bukan maksud ku seperti yang mbak omongkan. Tapi karena masih banyak customer yang belum dilayani, jadi kalau bisa di percepat kalau memilih kue-kue nya." ucap ku dengan sedikit kesal, tapi sebisa mungkin kekesalan ku sembunyikan.
"Wah ini pelayan yang memberi pelayanan yang tidak baik, aku akan melaporkan kamu pada owner toko kue ini, Biar kamu dipecat!!!," ancam mbak Veni padaku.
"Tapi, maaf mbak. Aku tak......,"
"Memang kamu kenal sama owner SKcake ini?," belum selesa aku ngomong, tapi sudah di potong oleh teman mbak Veni ini. Dasar menyebalkan!!
"Hmmm... ya kenal lah!!, malah aku sangat akrab dengan pemiliknya ini. Aku yakin sekali aku ngomong sama pemilik SKcake ini, dia akan langsung di pecat!," mbak Veni menunjuk ku di akhir kalimat.
"Tapi janganlah, Veni. Kasian dia, siapa tau ini adalah satu-satunya penghasilan nya untuk menghidupi keluarga nya dirumah." ucap teman mbak Veni bijaksana.
"Terus apa hubungannya sama aku?," tatapan sinis mbak Veni padaku.
"Kamu hebat ya Ven, kamu termasuk orang yang berpengaruh." ucap teman mbak Veni.
"Iya donk!, maka nya jangan macam-macam sama aku." lagi-lagi mbak Veni berkata sambil melirik ku.
"Udah, kamu pilih kue mana yang kamu mau!!!," mbak Veni memerintah temannya itu.
"Mbak, aku mau ini tiga, yang ini tiga, trus sebelah sini juga tiga eh dua aja cukup deh kayaknya. Dan mau yang itu sebelahnya dua juga, sama yang ini dia eh... tunggu yang ini tiga, sepertinya enak." ucap teman mbak Veni. Dia memilih beberapa jenis kue dengan bar-bar.
Saat teman nya memilih kue dengan bar-bar, sesekali aku melirik ke wajah mbak Veni. Mulut mbak Veni melongo saat melihat teman nya itu.
Sepertinya ia kebingungan, mau negur malu dengan omonganya yang setinggi langit.
Dalam hati ini aku tertawa jahat melihat ekspresi wajah mbak Veni.
__ADS_1
"Mampus kamu, mbak!!!! omongan mu sih setinggi langit, sok dekat pula sama pemilik SKcake ini." ucapku dalam hati di ikuti tertawa jahat.
"Yakin kamu memilih kue sebanyak ini?," tanya mbak Veni dengan wajah heran.
"Kenapa Ven? kebanyakan ya? uang mu kurang?," tanya teman nya dengan sangat lugu.
Jujur aku tidak bisa menahan tawa ku. Namun aku harus menahan nya dengan mengeluarkan semua kekuatan ku. Tapi tetap saja aku nggak bisa.
Akhirnya bibir ini tersenyum dengan sendirinya, sat melihat mimik wajah mbak Veni.
"Apa kamu tertawa?!, kamu menghina ku?, kamu kira aku nggak mampu bayar itu semua?!," mbak Veni sangat emosi saat melihat aku tersenyum padanya.
"Aku mampu bayar ini semua kok, Siska kalau kamu mau silahkan tambah kue yang kamu mau!!," lanjut mbak Veni. Mbak Veni terlihat begitu emosi.
"Kamu beneran, Ven?," tanya teman Veni yang bernama Siska itu.
"Iya, beneran sis!. Kalau kamu mau borong sekalian semuanya!!," ucap mbak Veni dengan berkacak pinggang.
"Oke deh!!, mbak bungkus semua jenis kue, masing-masing lima biji ya." ucap Siska teman mbak Veni.
"Hah?, yakin mbak?," tanya ku pada mbak Veni.
"Ya yakin lah!!, kamu benar-benar menyepelekan ku ya!!!!," ucap mbak Veni sambil menunjuk ku.
"Oke mbak, siap kami bungkus." jawabku dengan sangat semangat.
"Aku sungguh baik sekali, Ven. Makasih ya...," ucap Siska sambil memeluk mbak Veni.
"Yakin kamu masih ragu padaku?!," tanya mbak Veni pada Siska teman nya.
"Sama sekali kamu tak perlu di ragu kan, Veni." jawab Siska sambil tangan semakin mempererat pelukannya.
"Ditunggu sebentar ya, mbak. Masih di packing, bisa ditunggu disana, mbak." ucapku sambil menunjuk kursi panjang yang berbahan dasar stainless.
" hmmmm... ," jawab mbak Veni ketus.
Aku dibantu Reni, menyiapkan dua puluh macam kue dan masing-masing kue lima biji dengan harga tujuh ribu lima ratu rupiah untuk di packing.
"Ibu, kue nya sudah selesai." panggil Reni, sengaja Reni yang aku suruh memanggil nya. Karena aku mau melanjutkan melayani pembeli yang lain.
"Kamu tunggu disini saja, Sis. Biar aku yang membayar dan mengambil nya." terdengar suara mbak Veni bicara dengan teman nya.
"Iya, Ven. makasih ya....," jawab Siska teman nya mbak Veni.
Mbak Veni berjalan menuju Reni yang berada di meja kasir.
"Berapa semua totalnya?," tanya mbak Veni dengan ketus.
"Total semua tujuh ratus lima puluh ribu, ibu." jawab Reni dengan sangat ramah.
"Hah?, mahal sekali sih?!," bisik mbak Veni, tapi tetap aku mendengar nya.
Lalu ia mengeluarkan tujuh lembar uang pecahan seratus ribuan dan satu lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Lalu ia menyerahkan uang itu kepada Reni.
"Saya hitung dulu ya, Bu?," ucap Reni sambil menerima uang yang diberikan oleh mbak Veni. Reni pun menghitungnya.
"Oke, Bu. uangnya pas ya. Dan ini kue-kuenya." Reni memberikan tiga paper bag yang berisikan seratus biji kue.
"Sama-sama!!." ucap nya ketus sambil melirik penuh kebencian padaku.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua keluar dari toko roti ku, secara bersama-sama aku dan Reni tertawa.