DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Mendatangi Sarah


__ADS_3

"Sarah!!!, keluar kamu!!," Laras menggedor pintu yang masih tertutup di rumah Sarah, dengan suara yang sangat keras.


Sarah yang ada di belakang pun, dengan sangat jelas mendengar suara mantan mertua nya itu.


"Saraaaaah!?!, ayo keluar lah?!!," suara Laras semakin keras membuat sakit telinga yang mendengar nya.


cekleeek... Pintu pun terbuka bersamaan dengan suara gagang pintu yang ditarik oleh Sarah.


"Ada apa ibu kesini?," tanya Sarah yang bingung dengan kedatangan Laras dan Veni.


Pagi yang datang hanyalah Laras dan Veni. Karena Veni melarang Awan untuk mengantarkan ibu nya.


"Kamu jangan sok polos, padahal hati mu busuk. Sekarang kamu cabut tuntutan kamu pada Bima!!," ucap Laras dengan dengan sangat emosi.


"Kenapa aku harus mencabut nya, Bu?," tanya Sarah, kali ini Sarah mencoba mengikuti permainan yang dilakukan oleh Laras.


"Karena Bima tidak bersalah, Sarah!!!," jawab Laras dengan berteriak.


"Jangan pernah membuat ke gaduhan disini. Karena satpam akan datang kesini, untuk mengusir kalian dari sini!!," ancam Sarah.


"Kamu berani mengancam kami wanita jal*Ng?!, aku rasa siapapun termasuk satpam yang berjaga di komplek ini pun tak akan berani mengusir kami dari sini." ucap Veni dengan sombongnya.


"Ya, kalau kalian tidak percaya, silahkan di coba." jawab Sarah sambil berjalan masuk kerumahnya, tanpa menyuruh mereka berdua untuk masuk kedalam rumahnya.


"Saraaaaah?!, mau kemana kamu!!!," geram Laras saat melihat Sarah tak memperdulikan nya.


"Aku mau masuk dan mau beristirahat, Bu. Hari ini rasanya sangat capek sekali." jawab Sarah dengan sengaja dibuat-buat, agar Laras semakin emosi.


"Saraaaaah!!! Jangan pernah macam-macam padaku. Karena aku juga bisa berbuat apapun dengan uang!,"


Suara Laras semakin lantang, sehingga beberapa tetangga yang rumah nya berdekatan dengan rumah milik Sarah pun segera keluar.

__ADS_1


Seperti nya, mereka sangat terganggu dengan suara


Laras sangat keras itu.


"Bu, kalau memang ibu ingin bertamu, berani lah yang baik. Dengan ibu seperti ini, sungguh mengganggu waktu istirahat kami." tegur dengan sopan tetangga depan rumah Sarah.


Disini sangat beda dengan di rumah yang Sarah tinggal bersama Bima. Komplek ini adalah kompleks perumahan elit. Yang rata-rata pemilik perumahan ini adalah orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan nya. Jadi di hari libur seperti saat ini, sangat dijadikan waktu istirahat yang maksimal untuk mereka.


Dan yang membuat beda dengan kompleks perumahan Sarah yang di kosongkan itu adalah tak ada tetangga julid disini.


Tak ada pula perempuan-perempuan yang suka ngumpul di teras rumah dengan menggibah orang lain.


Sarah sangat nyaman di rumah yang telah ia beli untuk kedua orang tua nya ini.


"Kamu jangan ikut campur dengan urusan ku, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!!," usir Veni pada perempuan mudah yang telah menegur nya.


"Apa kalian tidak malu, di tonton orang banyak seperti ini?," ucap perempuan yang bernama Rena itu dengan menunjuk beberapa warga komplek yang saat ini berdiri di depan rumah masing-masing menatap kearah Laras dan Veni.


"Aku rasa yang kampungan adalah kalian berdua, karena tak punya sopan santun di rumah orang lain." ucap perempuan yang berusia sekitar tiga puluh tahun lebih itu.


"Aku tidak peduli dengan yang kamu ucapkan. Karena tindakan ku kali ini benar." Laras berkacak pinggang dengan memandang perempuan mudah itu.


"Ya sudah terserah kalian, aku yakin petugas keamanan komplek ini akan segera datang kesini." jawab Renata sambil berjalan kembali menuju rumah nya meninggalkan mereka berdua. Karena Sarah pun tak ada di sana, ia sudah masuk dan mengunci pintu rumah nya dengan cepat, saat Laras dan Renata terlibat cekcok.


"Sarah!!!! keluar lah kamu perempuan bajing*an!!!!." ucap Laras semakin kasar. Untung saja saat ini dirumah Sarah tak ada siapapun, karena Kean anak nya ikut ke kampung halaman bersama ibu bapak Sarah.


"Kalau kamu tidak keluar, aku akan melempar rumah mu dengan batu-batu ini!!," ucap Veni yang emosi nya sudah naik ke ubun-ubun.


"Kalau kalian mau tinggal bersama dengan mas Bima di balik jeruji besi, ya silahkan saja kalian melempar batu-batu itu kerumah ku. Dan aku pastikan kalian akan mendekam bersama di sana." teriak Sarah dari dalam rumah.


Sarah sebenarnya sedang mengumpulkan kekuatan didalam rumahnya, untuk melawan Laras mantan mertua nya itu.

__ADS_1


Karena sebenarnya Sarah sangat pantang sekali untuk melawan orang lain, apalagi dia lebih tua darinya.


Namun kalau orang seperti Laras di diamkan begitu saja dan di turuti semua kemauan nya. Perempuan tua itu akan semakin melunjak.


"Keluar lah kamu!!, jangan sembunyi seperti itu!!," lagi-lagi Laras berteriak sekencang-kencangnya.


"Permisi ibu, ibu di sini ada keperluan apa? Dan asal ibu tau, kedatangan ibu di lingkungan kami sungguh mengganggu kedamaian penghuni kompleks perumahan ini." tiba-tiba satpam keamanan komplek ini pun datang, setelah di hubungi oleh perempuan yang menegur Laras dan Veni yang telah membuat keributan disini.


"Saya tak berbuat kegaduhan disini, saya hanya ingin bertemu dengan menantu Saya." ucap Laras dengan suara yang lembut. Seperti nya ia ingin mengecoh satpam kompleks ini.


"Hah? Menantu?!," Veni sedikit terkejut dan kesal dengan apa yang di ucapkan mertua nya.


"Kenapa ibu harus menyebut perempuan gat*l itu dengan sebutan menantu sih?!," bisik Veni pada Laras mertua nya itu dengan wajah yang benar-benar kesal.


Veni merasa kedudukan nya terancam saat Sarah di sebut sebagai menantu Bu Laras.


"Diam, kamu!!. Ikuti saja permainan ku, aku yakin kita akan selamat setelah ini." bisik Laras pada Veni dengan sangat pelan.


"Tapi, Bu...," bisik Veni tak terima dengan apa yang di ucapkan Laras.


Namun Laras pun tak menggubris ucapan menantu nya itu. Sehingga Veni menghentikan ucapan nya.


Rasa kesal terlihat sekali di wajah Veni. Namun dia hanya bisa diam saja, tidak bisa berbuat apapun kalau mertua nya sudah memutuskan sesuatu itu.


"Kalau memang ibu adalah mertua Bu Sarah, saya rasa ibu datang kesini dengan baik-baik. Tidak harus berteriak mengganggu kenyamanan penghuni lain kompleks ini." ucap satpam itu.


"Lebih baik, sekarang ibu pergi dari sini. Sebelum para warga mengusir ibu." saran satpam itu.


"Tapi aku kesini ingin bertemu Sarah!!!," jawab Laras dengan emosi. Karena satpam itu terus menyuruh nya pergi dari sini.


"Mungkin Bu Sarah lagi tidak ada dirumah, karena dari tadi pintunya di tutup." ucap satpam itu mengira-ngira. Karena memang satpam kompleks ini tidak tau kalau sebenarnya Sarah itu ada di dalam rumah nya.

__ADS_1


__ADS_2