
"Mbak!! Emang Mas Damar dan mama nya tadi dari sini ya?," tanya Mayang yang datang dari luar dengan menggendong Kean.
Sedangkan mbak Mirna pengasuh nya, berjalan di belakang Mayang sambil membawa beberapa kantong kresek belanjaan.
Karena sore ini kita mau pergi kerumah ibu dikampung. Bersama Mayang dan Sinta, rencana kita mau menginap semalam saja disana.
Rasa kangen yang begitu besar sudah sangat menumpuk didalam hati.
"Iya, May. Kok kamu tahu?," tanyaku pada Mayang sambil mengambil alih Kean dari gendongan Mayang.
"Tadi kita berpapasan di depan mbak. Tapi entah kenapa wajah mama nya mas Damar jutek sekali saat menatap Kean." ucap Mayang sambil mencomot irisan kue yang aku taruh di meja tamu.
Aku hanya tersenyum pahit mendengar ucapan Mayang.
"Memang mereka kesini cari apa, mbak?," tanya Mayang sambil mencomot lagi sepotong kue coklat itu.
"Mereka datang mencari masalah!!, ha ha ha!." aku terkekeh saat mengingat apa yang di ucapkan oleh mama Linda dan mas Damar. Saat mereka mau membawa aku dan Kean kembali kerumahnya.
"Kamu sudah belanjakan ibu juga kan, May?," tanya ku.
"Sudah donk, sudah lengkap dikantong belanja." jawabnya sambil menunjuk kantong belanjaan yang berjejer di depan televisi.
"Kamu belanja apa aja, May? kok banyak banget?," mataku terbelalak saat melihat beberapa kantong tas belanjaan.
"Ya kebutuhan kita bertiga dan kebutuhan ibu dan bapak." ucapnya sambil terus mengunyah kue coklat.
Mayang sangat suka sekali dengan kue buatan ku itu, sampai tak terasa ia sudah menghabiskan beberapa potong kue coklat yang ada di atas piring meja tamu.
"May, ingat!! Jangan banyak-banyak kalau makan kue nya. Itu banyak coklat nya loh!," ucapku memperingati Mayang. Takut saja kalau Mayang gendut karena habis banyak kue coklat.
Namun ia tak menjawab terus saja dia mengunyah kue coklat itu.
Aku pun kedepan untuk membantu Mita dan Reni melayani pembeli. Aku pun mengganti Reni di meja kasir.
Alhamdulillah, para pencinta kue kue iku semakin hari semakin bertambah. Kini tabungan ku pun bertambah. Aku berencana membeli rumah, walaupun tak di tempati. Kalau membeli rumah pasti nanti tak akan ada ruginya. Karena semakin lama harga rumah akan naik.
Biar nanti aku bahas ini dengan Sinta. Karena Sinta lah yang lebih mengerti tentang ini.
Setelah pembeli sudah agak sepi, karena jam makan siang sudah habis. Aku kembali masuk rumah, untuk mempersiapkan kebutuhan ku dan Kean yang akan dibawa nanti sore kerumah ibu dan bapak dikampung.
Handphone ku berbunyi, saat kubuka ternyata pesan dari Sinta.
"Sarah, nanti sore kita jadikan berangkat ke kampung?, aku sudah tak sabar nih, Uda kangen banget sama rumah," pesan dari Sinta.
__ADS_1
"Iya jadilah!, kamu pikir cuma kamu yang rindu dengan kampung halaman?, aku juga rindu tau!!," balasku. Asyik juga punya teman yang berasal dari kampung yang sama seperti ini. Jadi kita bisa pulang kampung bersama.
Lalu Sinta membalas pesan ku dengan stiker cartoon yang tertawa terkekeh-kekeh.
"Mbak Sarah ada dirumah kah?," satu pesan aku buka secara tak sengaja. Aku kira pesan dari Sinta masih dilanjutkan.
Tapi setelah aku lihat dengan seksama, ternyata pesan itu bukan dari Sinta. Nomor baru yang tak bernama dan tak ada foto di profil wa nya.
"Ini siapa?," walau aku tak tahu dia siapa, aku harus tetap membalasnya dengan sopan. Karena bisa saja mereka ada customer kue dan roti ku.
"Ini aku Lidya, mbak Bisakah aku bertemu dengan mbak Sarah sekarang?," balasnya pesan itu sangat cepat. Mungkin dia saat ini sedang memegang handphone.
Ada apa lagi ini? mama Linda dan mas Damar sudah pulang, kini ganti Lidya yang ingin bertemu dengan ku.
Perasaan makin tak enak saja, dan yang jadi pertanyaan. Sejak kapan Lidya menyimpan nomor handphone ku?
Selama ini dia sangat anti dengan apa yang aku punya.
"Maaf, Lid. Hari ini aku sangat sibuk. Mungkin lain kali saja!," balasku.
"Sebentar saja, mbak. Lidya mohon." Lidya mengirimkan pesan disertai stiker tangan yang di satukan.
Sebenarnya aku tak terlalu sibuk, karena masih ada waktu sekitar dua jam sebelum aku berangkat ke kampung.
"Bu...Bu Sarah!," panggil Reni dari luar.
"Ada apa, Ren?." aku menoleh kebelakang, kearah Reni yang berjalan mendekat padaku.
"Ibu ada yang mencari." jawabnya.
Aku pun mengerutkan kedua alisku. "Siapa Ren?," tanyaku sangat penasaran.
"Lidya, Bu. Adiknya pak Damar, yang sering bikin keributan di sini itu Loh Bu." jelas Reni.
"Baru saja dia kirim pesan singkat, dan aku tolak permintaan nya. Ternyata sudah sampai sini aja dia!," gumamku lirih.
"Kenapa, Bu?," tanya Reni. Mungkin dia mendengar ucapan ku yang tak begitu keras itu.
"Oh tidak ada apa-apa kok." jawab ku.
"Apa dia disuruh masuk, buk?," tanya Reni.
"Iya, suruh saja dia masuk." jawabku. sebenarnya aku sangat malas mau bertemu dengan Lidya, mengingat apa yang telah ia lakukan padaku.
__ADS_1
"Assalamualaikum, mbak." terdengar salam saat ia sudah berada diambang pintu.
Wah.. ternyata sekarang Lidya sudah ada kemajuan. Untuk masuk kerumah sudah mau mengucapkan salam. Dulu? mana pernah ku dia begitu.
"Waalaikumsalam, masuk Lid." jawabku.
"Aku kira tadi kamu masih sebuah rencana kamu ingin bertemu dengan ku. Ternyata kamu sudah sampai sini.Ada perlu apa sih? Sepertinya kok penting banget." ucapku tanpa basa-basi.
Karena menurut ku, berbicara dengan orang seperti Lidya tak perlu banyak basa-basi. Lebih baik langsung ke pointnya.
"Aku mau pinjam uang pada mbak Sarah." ucapnya tanpa basa-basi juga.
"Lidya lihat sekarang hidup mbak Sarah sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Jadi sudah waktunya mbak Sarah membalas kebaikan ku dulu waktu mbak tinggal bersama dirumah." lanjut nya.
"Hah? maksud kamu dengan balas Budi, balas Budi yang seperti apa?!," tanyaku kaget dengan dahi ini ku kerutkan.
"Iya, bukannya dulu mbak Sarah tinggal dirumah secara gratis? makan pun juga gratis?, jadi sekarang lah waktunya mbak Sarah mengganti itu semua. Mengganti semua kebaikan keluarga kami kepada kamu, mbak!" ucapan Lidya semakin ngelantur. Entah abis makan apa sampai ia mabuk kepayang seperti itu.
Nggak habis pikir aku dengan jalan pikiran keluarga mas Damar ini. Semua pada aneh..
"Ya Allah, mimpi apa aku semalam. Kenapa hari ini dipertemukan dengan orang-orang aneh seperti mereka." ucapku dalam hati.
"Dulu aku kan istri nya mas mu, jadi sudah menjadi kewajiban mas Damar untuk memberi aku sandang, pangan dan papan. Terus kenapa kamu minta ganti padaku?!," ucapku sambil tersenyum aneh.
"Dasar pemikiran yang aneh!," ucapku dalam hati.
"Ya nggak bisa gitu donk, mbak. Walau kamu dulu menjadi istrinya mas Damar, kamu tetap harus mengganti semua." ucapnya lagi semakin membuat ku emosi.
"Oke!!, sekarang begini! Siapa yang menyuruh mu datang kesini untuk menagih balas Budi pada ku?," tanya ku.
"Mas Damar!," jawabnya dengan tenang.
"Senin mas Damar suruh kesini, kalau mas Damar yang minta semua pemberian nya di kembalikan. Akan aku kembalikan semuanya tanpa terkecuali. Asalkan mas Damar yang ngomong secara langsung. Senin Aku tungguin kedatangan nya di cafe Yy," ucapku.
"Ok siap, aku akan membawa mas Damar kesini. Ucap ya.
"Sekarang kamu pergi dari sini!," usir ku pada Lidya sambil menunjuk arah pintu keluar dan masuk.
Lidya berjalan keluar melalui pintu yang aku tunjuk. Dan akhirnya dia meninggal kan rumah ini.
Kenapa dengan hari ini? Kenapa aku didatangi dengan orang-orang yang telah memberi kenangan buruk di masa laluku?
Entah cerita apa yang ditakdirkan Allah padaku, sehingga aku di pertemukan kembali dengan orang-orang yang tak pernah baik dimasa lalu ku. Aku yakin akan ada sesuatu yang indah sedang direncanakan Allah untuk ku dan anak ku..
__ADS_1