DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Kedatangan Mama Linda dan Mas Damar


__ADS_3

"Ada perlu apa mama datang kesini?," aku pun langsung to the point pada mama Linda dan mas Damar yang tiba-tiba datang mencari ku.


Karena biasanya mereka datang hanya untuk membeli kue-kue ku dan menghina ku.


Entah ada angin apa mereka tiba-tiba datang dan ingin bertemu dengan ku. Dan tidak seperti biasanya, kali ini tatapan mama Linda sangat baik padaku. Tidak seperti kemarin-kemarin.


Sedangkan mas Damar juga tak seperti biasanya. Ia menatap ku sampai tak berkedip. Saat aku sapa sekali pun, ia tak menjawab dan masih terus menatap ku. Sampai ia di cubit oleh mama Linda.


"Gini loh Sarah, sebenarnya mama datang kesini ada sesuatu. Tapi rasa nya tidak enak kalau kita bicara disini." ucap mama Linda sambil mengedarkan pandangan nya keseluruh sudut toko.


Memang saat ini toko kue ku sedang ramai banyak pembeli. Mungkin mama Linda tidak enak kalau pembicaraan nya di dengar orang lain


Akhirnya dengan rasa terpaksa, aku membawa mereka berdua masuk kedalam rumah.


Mama Linda berjalan pas dibelakang ku, sesekali aku melihat kepadanya. Matanya tertuju pada setiap sudut dalam rumah.


Sedangkan mas Damar berjalan mengikuti kami dari belakang.


"Silahkan duduk, ma, mas Damar!," aku mempersilahkan mereka duduk.


"Terimakasih Sarah," ucap mama Linda dengan mata nya sambil terus jelalatan. Seperti memeriksa seisi rumah. Padahal dirumah ini tak ada sesuatu barang yang mewah dan mahal.


Mas Damar hanya mengangguk saat aku mempersilahkan dia duduk.


"Lalu aku pun duduk di kursi yang bersebrangan dengan mama Linda. Aku duduk berhadapan dengan mama Linda dan mas Damar.


"Kean mana, Sarah?," tanya mas Damar.


"Oh.. Kean sedang keluar , mas!," jawabku. Memang kebetulan darimana saat mama Linda dan mas Damar datang kesini Kean tak ada dirumah. Jadi hati ini sangat tenang, karena Kean tak harus bertemu dengan nenek dan ayah nya yang tak tau diri ini.


Aku beranjak berdiri, dan melangkah ke dapur. Tujuan ku ingin membuatkan minum untuk mereka. Namun mereka melarang ku untuk itu.


Dan aku pun kembali duduk di kursi yang semula. Namun, kenapa mas Damar terus menatap ku seperti itu?


Tatapan itu sangat membuat ku tidak nyaman, karena tak ada rasa sedikit pun untuknya. Setelah rasa sakit yang telah mereka gores di hati ini.

__ADS_1


"Aku kesini karena aku rindu Kean, Sarah. Tapi sayang Kean lagi keluar." ucap mas Damar ada rasa kecewa di wajahnya.


"Memang dia keluar sama siapa, Sarah?," sambung mama Linda.


"Kean keluar bersama Mayang adik ku, ma." jawab ku. Aku sangat tidak nyaman atas kedatangan mereka berdua. Jadi aku harus mencari cara agar mereka segera pergi dari sini, sebelum Kean datang.


"Kamu itu jangan teledor, anak jangan di dibiarkan keluar dengan orang lain. Tanpa pengawasan mu sendiri. Banyak orang jahat yang berwajah baik loh sekarang." ucap mama Linda sok bijak. Padahal apa yang mereka lakukan pada Kean dan mbak Mirna adalah tindak kejahatan.


"Mayang itu adik kandung ku, ma. Jadi mana mungkin ia akan menyakiti anak ku. Kecuali orang yang otak nya tidak waras yang mau menyakiti cucu nya??," ucapku dengan sengaja agar dia tau diri.


"Maksud kamu, Sarah?," namun nyatanya dia tak pernah sadar diri atas kejahatan yang ia lakukan pada Kean anak ku.


"Ya lupakan saja!!," ucapku sangat singkat.


"Oh ya,,, tadi katanya ada yang ingin mama bicara kan dengan Sarah. Ada apa ma?," tanya ku, mungkin sudah saat nya untuk tidak basa basi. Karena aku sudah tidak nyaman dengan kedatangan mereka berdua.


Apalagi dengan tatapan mas Damar yang membuat ku makin ilfeel.


"Sarah, ini rumah kamu apa kamu ngontrak?," kurasa pertanyaan-pertanyaan mana Linda sangat tidak berbobot dan terlalu basa-basi, semakin membuat ku muak pada mereka berdua.


"Oo... jadi kamu disini masih kontrak?, mama rasa rumah ini sangat sempit. Jadi menurut mama rumah ini sangat tidak efisien buat Kean yang sangat aktif dan kurang luas untuk area bermain Kean." Ucapan mama kali ini semakin mengada-ada. Sejak kapan ia memperhatikan setiap kepentingan Kean. Sampai kepentingan tempat bermain yang nyaman untuk Kean.


"Trus maksud mama, Sarah harus mencari rumah kontrakan yang besar dan luas? Agar Kean leluasa bermainnya?!," tanya ku dengan wajah agak sinis. Karena ucapan nya berhasil membuat ku emosi.


"Ya kamu nggak harus kontrak lagi, Sarah. Bukankah Kean punya papa." jawaban mama Linda semakin membuat ku bingung.


"Maksud mama?," tanyaku dengan mengerutkan kedua alisku.


"Ya rumah kami cukup besar dan nyaman untuk Kean." Jawabnya sambil senyam-senyum seperti tak punya malu.


"Jadi tujuan kalian kesini mau mengambil Kean dariku?!," Aku berdiri dan menunjuk dua manusia yang tak punya malu itu.


"Sabar, Sarah. Maksud mama bukan begitu." ucap mantan mama mertua ku sangat halus seperti tepung yang sudah disaring.


"Terus mama ngomong seperti itu, maksudnya apa?!," kali ini aku berdiri sambil melipat kedua tanganku di atas perut.

__ADS_1


"Maksud mama, kita nggak mau hanya membawa Kean saja. Namun aku mau bawa kamu juga untuk pulang dan tinggal bareng aku lagi di rumahku." Kali ini mas Damar yang bicara. Ia bicara seakan-akan ia dan mama nya tak pernah melakukan kesalahan.


Tak pernah meminta maaf sama sekali, ini datang tiba-tiba mau memboyong aku dan Kean untuk berada di neraka nya.


Iya, neraka aku menyebut nya. Karena disana tak ada kebahagiaan sedikit pun untuk aku dan Kean. Mereka menciptakan neraka untuk ku dirumahnya.


"Aku akan melupakan semua kejadian dimasa lalu, atas perselingkuhan mu dengan Randy." kali ini ucapan mas Damar membuat ku terkaget-kaget, dan memancing emosiku.


Bisa-bisanya dia bilang semua yang terjadi itu atas kesalahanku yang telah berselingkuh dengan Randy.


"Bisa-bisanya kamu ya, mas! Bilang seperti itu, seakan-akan aku yang bersalah atas perceraian kita. Dengan mudah kamu menuduhku selingkuh dengan Randy. Trus apa kabar dengan mu mas? yang pergi liburan ke Bali, bersenang-senang dengan gundik mu disaat aku bertaruh nyawa melahirkan Kean?!!!," Kali emosi ku benar-benar memuncak.


"Kalau tujuan kalian berdua datang kesini hanya untuk membuat aku emosi, sebaiknya kalian pergi dari sini!!," ucap ku dengan sangat tegas pada dua manusia yang tak punya urat malu. Ku tunjuk pintu keluar rumah, berharap mereka segera pergi dari sini, Sebelum Kean datang.


"Kamu ini perempuan berhijab tapi kok nggak punya sopan santun kepada orang tua. Kami datang kesini berniat baik. Ingin memungut mu kembali, daripada kamu terus kontrak rumah. Mau sampai kapan? Kamu cuma seorang perempuan, mana bisa kamu membeli rumah dikota besar seperti ini? Karena harga rumah dikota besar seperti ini tidak ada yang murah seperti dikampung mu!!,"


Wahh... kali ini keluar sudah sifat aslinya si mantan mama mertua, alias neneknya Kean. Belum apa-apa dia sudah berani menghinaku lagi.


Kebayangkan kalau sampai aku tinggal serumah lagi dengan mereka?


Ah... itu tidak akan pernah. Karena aku juga sudah mempunyai rumah sendiri.


"Bukan maksud ku untuk tidak sopan kepada orang yang lebih tua, tetapi kalau orang yang lebih tua itu tak punya attitude apa iya aku harus tetap sopan?," mungkin kaki ini ucapan ku sangat tercela. Tapi aku ingin sekali memberi pelajaran pada kedua orang yang ada di depan ku ini.


"Maafkan aku ya Allah, mungkin aku berdosa berbicara seperti ini pada orang yang lebih tua. Namun apa daya aku hanya manusia biasa yang tak bisa menahan emosi," ucapku dalam hati.


"Aku pastikan kamu akan menyesal berbicara seperti itu pada mama, Sarah!!," Kali ini mas Damar berdiri berbicara sambil menunjuk ku.


"Ayo ma, kita pulang!," ajaknya pada mantan mama mertua.


"Ini bawa pulang saja, Mar!!," ucap mama Linda sambil menyerahkan satu kantong kresek yang berisi mainan dan beberapa Snack.


"Sebenarnya mau aku kasih buat Kean, tapi setelah sikap mu pada ku dan Damar, lebih baik aku bawa pulang saja!!!," mantan mama mertua pun berjalan keluar menuju pintu yang sudah aku tunjuk tadi.


Aku pun malas mau mengantarkan mereka kedepan. Biarkan saja mereka keluar sendiri. Kali ini sikap tega ku harus benar-benar aku pakai untuk menghadapi mereka.

__ADS_1


__ADS_2