
Aku pun segera mengantarkan mantan mama mertua dan Lidya untuk pulang. Sampai di depan rumah mereka, ada sebuah mobil mewah yang ku duga milik gundik mas Damar.
Saat mereka turun dari mobil, aku tak ikut turun. namun tak ada sedikit basa basi dari mulut mereka berdua untuk sekedar menyuruh mampir dan minum teh.
Namun tak sedikitpun ada rasa ingin turun untuk mampir, apa lagi saat ini ada gundik mas Damar.
Saat aku akan menghidupkan mobil, terlihat mas Damar dan gundiknya keluar. Mungkin karena terdengar ada mobil yang datang.
"Mama? Lidya?," Terlihat mas Damar sangat terkejut melihat kedua wanita yang dia sayangi datang dengan keadaan seperti gembel.
Dandanan acak-acakan dan baju yang lusuh. Serta baju Lidya pun sangat mengenaskan. Penuh darah yang sudah mengering.
Aku yang melihat itu, tak jadi menghidupkan mobil. Ku pikir setelah mereka berempat masuk baru aku akan menghidupkan mobil itu.
Rasa sakit dihati saat melihat gundik mas Damar memakai baju ku, sepertinya sudah hilang. Karena saat ini biasa saja aku melihat pemandangan itu.
Apa mungkin sudah tak ada rasa dihatiku untuk mas Damar?
Ah... semoga saja memang hati ku sudah mati untuk nya.
Namun tak seperti dugaan ku, bukan nya mereka masuk. Malah terlihat mas Damar menuju mobil ku.
Aku yakin ia tak tahu kalau ini mobil ku. Mas Damar terus berjalan munju mobilku yang berada di luar pagar rumah.
Mungkin mantan mama mertua dan Lidya sudah bercerita, maka nya mas Damar saat ini mendatangi ku.
Setelah sampai di pintu kemudi, mas Damar mengetuk pintu itu. Dan gundik mas Damar mengikuti nya di belakang lelaki yang pernah menjadi suami ku.
Lalu aku buka pintu mobil ku, dan bertapa terkejutnya mereka.
"Sarah!!!," ucap mas Damar dengan mata melotot.
"Oh jadi kmu yang sembunyikan mertua dan adik iparku?," tuduh Bianca yang semakin ngelantur.
"Kok kamu bilang nya aku yang sembunyikan?," tanya ku santai, bukan karena santai tapi mencoba untuk santai.
__ADS_1
Karena dari ucapannya ia ingin memojokkan ku didepan mas Damar.
"Sejak kapan kamu bisa menyetir mobil?," tanya mas Damar, yang aku rasa pertanyaan ini sangat tak ada hubungan nya dengan masalah mantan mama mertua dan Lidya.
Belum aku menjawab pertanyaan mas Damar, Kean yang saat ini duduk di jok mobil bagian depan. Menangis histeris melihat keberadaan mas Damar.
Dengan Kean menangis, mas Damar mengira kalau Kean menangis karena ia ingin ikut dirinya.
Mas Damar mencoba mengulurkan tangannya pada seperti ingin menggendong nya.
Namun tangannya ditolak oleh bayi lelaki kecil itu.
"Ingat ya Sarah, dia itu anak ku! Dia darah daging ku. Jadi jangan pernah kamu mempengaruhi nya untuk tak mau bersama ku!!," ucap mas Damar terlihat kesal kepada ku.
Namun aku hanya menjawab dengan senyum sinis kepadanya.
Kenapa manusia seperti mas Damar tak menyadari tentang apa yang ia sudah lakukan padaku dan pada Kean anak nya sendiri.
"Kenapa kamu tersenyum sinis seperti itu padaku?," tanya mas Damar yang ternyata dia melihat senyum sinis ku padanya.
Mungkin dia pikir Kean tak mengerti dengan kelakuan nya. Dasar manusia tak punya otak.
Namun kaca jendela itu ditahan oleh mas Damar. Bertujuan agar aku tak menutup nya.
"Apa benar kamu punya hubungan dengan Randy?," tanya mas Damar yang sudah repot-repot menahan kaca jendela mobilku hanya ingin bertanya hal ini saja.
Ku coba melirik kearah Bianca, namun terlihat tatapan nya dialihkan pada yang lain. Seperti sedang menahan air mata.
Memang secinta itu dia pada mas Damar, trus bagaimana mana dengan pak Handoko?
Bukan nya ia lebih kaya dari mas Damar?, ah... aku dibuat bingung dengan memikirkan gundik mas Damar ini.
"Sarah!!, kenapa kamu hanya diam saja!! Jawab pertanyaan ku!!," ucap mas Damar dengan emosi.
"Itu bukan urusanmu, mas!! Jadi kamu tak perlu cari tau tentang semua itu." ucap ku tak mau kalah dengan mas Damar.
__ADS_1
Dan aku memegang kunci mobil, bertujuan untuk menghidupkan mobil ku. Namun dengan cepat nya ia mengambil kunci mobil ku.
"Sekarang kembali kunci mobil ku, mas!!," ucapku pelan tapi penuh penekanan.
Karena tak mungkin sekali aku bersuara keras di depan anak ku Kean.
Dan wajah Bianca sangat terlihat begitu kesal melihat kelakuanku mas Damar.
"Jadi benar ini mobil ku, Sarah?," tanya mas Damar.
"Kalau iya. Kenapa? Bukan kah itu juga bukan urusanmu, mas?!," ucap ku lagi.
"Ya jelas ada dong, kamu ibu dari anak ku dan aku ayah dari anak mu!!, jadi kalau ini mobil ku, berarti itu juga mobil ku!!!," ucap mas Damar makin ngelantur.
Entah ia dapat pikiran dari mana dengan perkataan nya itu. Sejak kapan mobil ku menjadi mobilnya karena ia ayah dari anak ku. Sedangkan aku dan dia juga sudah bercerai.
"Apa?!, Ini mobil mu Sarah?!," suara mantan mama mertua terdengar dari dalam halaman rumah dan ternya ia berjalan menuju kesini di mana aku dan mas Damar sedang berdebat yang disaksikan oleh Kean dan gundiknya mas Damar.
"Jadi benar ini mobil mu?," tanya mantan mama mertua seperti memastikan dengan apa yang dia dengar dari perkataan ku dengan mas Damar.
Kali ini mantan mama mertua sudah tak terlihat seperti gembel lagi, mungkin dia sudah mandi dan berganti pakaian. Karena sudah tercium bau wangi dari tubuhnya.
Tapi, gimana dengan Lidya, nggak tau kenapa aku jadi kepikiran pada Lidya. Karena ia terlihat sangat pucat sekali dan jalan pun sempoyongan.
"Sarah!! kenapa kamu tak menjawab pertanyaan ku?!, Dasar ya kamu ini wanita tak punya sopan santun pada orang yang lebih tua," ucap nya lagi.
Aku menganggukkan kepala, sengaja aku menjawab pertanyaan mantan mama mertua. Karena hanya ingin mengetahui bagaimana reaksinya setelah tau kalau ini memang mobil ku.
"Jadi benar ini mobil mu?!," mata mama membulat seperti tak percaya.
"O..mmm.. cucu nenek. Sini di gendong sama nenek, nak,"
Eh... ada apa dengan perempuan yang pernah menyandang status mertua ku dulu. Kenapa tiba-tiba ia sangat baik pada anak ku.
Kemarin-kemarin dan tadi kemana saja?
__ADS_1
Padahal tadi juga cukup lama dia bersama Kean, tapi....
Ah... pikiran ini buruk sekali kepada perempuan yang saat ini menyandang mantan mama mertua ku.