
Mobil Veni kini meluncur ke kantor polisi tempat Bima ditahan.
"Bu, aku ke toilet dulu ya. Ibu bisa masuk kedalam duluan." ucap Veni pada Laras.
Tanpa mengatakan apa-apa pada Veni, Laras pun segera masuk kedalam untuk menemui Bima. Karena ini memang sudah jam besuk, jadi dengan mudah Laras masuk untuk menemui Bima yang menjadi tahanan di sini dengan kasus perusakan.
"Bagaimana, Bu? Apa Sarah mau mencabut tuntutan nya?," tanya Bima yang sudah tidak sabar ingin tau jawaban dari ibunya.
"Sabar dulu, Bim. Ibu mau duduk dulu, tubuh ibu sangat capek sekali. Dari tadi ibu kesana-kemari untuk mengurus bagaimana caranya agar kamu bisa keluar dari sini." lalu Laras duduk di bangku yang sudah di sediakan untuk pengunjung.
"Cepat ceritakan semua yang di katakan oleh Sarah, Bu. Aku sangat yakin pasti ia mau membebaskan aku dari sini, karena dia masih mencintai ku." ucap Bima dengan senyum sumringah penuh harapan.
"Kamu salah, Bima. Sarah mengusir dan mempermalukan aku di depan orang banyak, Bim. Dia bilang tidak akan pernah mencabut laporan nya." Laras bercerita dengan mata berkaca-kaca, untuk meyakinkan Bima kalau omonganya itu benar.
"Benarkah seperti itu, Bu?!, apa Sarah mengusir ibu karena ibu berkata kasar padanya?," tanya Bima, karena Bima sudah tau dengan karakter ibu nya yang suka menyalahkan orang lain.
"Aku tak marah-marah pada dia, malah aku bersujud untuk meminta maaf pada nya. Namun apa yang dilakukan Sarah padaku, kakinya dengan sengaja menendang ku Bim. Hingga aku tersungkur ke tanah." jelas Laras dengan penuh kebohongan. Lagi-lagi untuk meyakinkan Bima, Laras pun bercerita sambil menangis sesenggukan.
"Kurang aj*r kamu Sarah!!!, tega kamu melakukan itu pada ibu ku." ucap Bima sangat geram pada Sarah saat ia mendengar semua cerita dari Laras ibu nya.
Sungguh pintar sekali akting perempuan itu, sehingga anaknya saja terkelabui.
"Aku sangat malu, Bim. Sarah melakukan itu di depan orang banyak. Karena banyak tetangga yang datang untuk melihat ku di tendang oleh kaki kanan Sarah." Laras melanjutkan ceritanya agar Bima semakin percaya.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu Sarah, kalau aku sudah keluar dari sini." gumam Bima dengan pandangan kosong kedepan.
Mendengar apa yang diucapkan anaknya itu, terselip senyum kemenangan di bibir Laras.
Ia sangat puas kalau bisa membuat Sarah itu susah dan sengsara.
__ADS_1
"Lalu bagaimana aku keluar dari sini, Bu?, aku mohon jual semua perhiasan emas ibu untuk menebus ku dari sini." Bima memohon pada Laras, namun Laras tak bergeming sama sekali.
"Bima janji akan menggantinya, setelah Bima keluar dari sini." lanjut Bima untuk meyakinkan hati ibunya.
"Perhiasan ibu sudah habis ibu jual, Bim. Jadi kamu jangan terus meminta itu pada ibu." jawab Laras dengan mengalihkan pandangan nya ke benda lain, ia tak mau menatap mata anak nya yang ada di depan nya itu.
"Perhiasan sebanyak itu habis, Bu?!, memang ibu buat apa?," tanya Bima yang sangat terkejut mendengar pengakuan Laras ibu nya itu.
"Ya untuk kebutuhan sehari-hari, Bim." jawab Laras dengan enteng nya.
"Bukankah selama ini, untuk kebutuhan setiap hari Bima yang menanggung nya, Bu?!," Bima seperti tidak terima dengan apa yang Laras ucapkan.
"Kenapa kamu omong seperti itu, Bim?, apa kmu tidak ikhlas memberikan semua itu padaku?," Laras sakit hati dengan apa yang di ucapkan Bima pada nya.
huuuufft... Bima menghembuskan nafas besar. Sengaja ia lakukan untuk memberi ruang sesak di dadanya saat ia mendengar hal yang tidak ia inginkan.
Mau tidak mau, terima tidak terima. Bima harus tetap menjalani hidup di sini untuk beberapa bulan kedepan.
"Lalu bagaimana dengan toko ku, Bu?. Siapa yang akan menghandle nya?, kasian Ina harus berfikir sendiri disana." ucap Bima. Karena Bima tau dengan keadaan tokonya yang sudah tidak seperti dulu lagi.
"Biarkan ibu yang menghandle, nanti ibu yang akan terus memantau Ina yang sedang bekerja." jawab Laras.
Padahal maksud Bima, bukan untuk memantau Ina bekerja. Namun untuk memberi solusi disaat keuangan toko sedang pailit.
Kalau untuk pekerjaan Ina, Bima tak pernah komplain. Karena dia cukup profesional dalam bekerja.
"Maaf waktu nya sudah habis." penjaga tahanan masuk dan menginformasikan kalau waktu jenguk sudah habis.
"Kalau begitu, ibu pamit pulang ya Bim. Kamu baik-baik disini. Kamu harus memperbesar rasa sabar mu, agar hari-hari mu disini akan terasa indah." ucap Laras dengan sangat tega nya.
__ADS_1
Bima yang mendengar ucapan ibu nya itu, tak menjawab apapun. Bima menundukkan wajahnya ke bawah. Ia tak menatap sama sekali mata ibu nya.
Sampai Laras berjalan keluar dan sudah tak terlihat oleh pandangan matanya. Bima masih tetap menundukkan kepala nya.
Lalu penjaga tahanan pun segera membawa Bima ke balik jeruji besi.
Laras yang berjalan keluar dari kantor polisi pun terlihat sangat bahagia, dengan senyum tipis yang berkembang di bibir nya.
"Bu, kok sudah keluar?, baru saja Veni mau menyusul ibu kedalam." ucap Veni yang berpapasan dengan Laras di lorong menuju ruang jenguk.
"Waktu nya sudah habis, lagian kamu kemana saja?!, ke kamar mandi kok lama sekali!." ucap Laras dengan ketus, ia terus berjalan meninggalkan Veni yang berhenti saat berpapasan dengan nya.
"Tadi Veni lapar, Bu. Jadi habis dari toilet, Veni ke warung depan untuk sarapan terlebih dahulu." jelas Veni.
"Dasar!!, yang dipikirkan hanya isi perut saja!, ada saudara kesusahan tak mau bantu!!." ucapan yang keluar dari mulut Laras sangat kejam.
Dan untung saja, Veni sudah terbiasa dengan ucapan-ucapan pedas dari Laras.
"Bukankah uang untuk membebaskan Bima sudah ada, Bu?," tanya Veni. Karena Veni tau kalau Laras sudah membawa uang puluhan juta di rekening toko kelontong Bima.
"Kamu itu jangan sok tau, Veni!!!. Jangan pernah bilang seperti itu, karena bisa saja ke sok tau'an mu menjadikan itu fitnah." ucap Laras dengan tatapan penuh ancaman.
Veni pun tak berani membantah lagi, ia takut Laras akan semakin marah padanya.
"Sekarang kita kemana, Bu?," tanya Veni saat ia masuk kedalam mobil.
"Aku lapar, dan aku lagi ingin makan nasi Padang." ucap Laras.
"Baiklah...," jawab Veni dengan singkat.
__ADS_1
Mobil pun berjalan menuju rumah makan yang sudah menjadi langganan Laras. Veni sangat hafal dengan makanan favorit mertua nya itu.