DERITA SEATAP DENGAN MERTUA

DERITA SEATAP DENGAN MERTUA
Acara Tunangan


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu kejadian memalukan di pernikahan Lidya. Tapi berita itu masih menjadi tranding di sosial media. Banyak netizen yang super super kreatif, membuat meme dari video yang viral itu.


Malahan ada hadiah untuk pembuat meme yang kreatif. Aku pun tak habis pikir, sehebat itu netizen Indonesia dengan mudah membuat video perkelahian mantan mama mertua, Lidya dan Diana menjadi viral.


Sampai saat ini aku tak mendengar siapa penyebar pertama video itu, mungkin penyebarnya adalah orang yang sudah menguasai dunia IT. Jadi tak mudah untuk melacak keberadaan nya.


Kemarin dan hari ini aku sangat di sibukkan dengan pesanan kue untuk acara tunangan anak pemilik perusahaan terbesar di kota ini.


Aku bekerja sama dengan cafe milik pak Randy. Sebenarnya ini job pak Randy, dan pak Randy memintaku untuk menyuplai kue-kue nya.


Setelah kue sudah siap berangkat, aku segera berganti pakaian. Kean sengaja tak ku ajak karena dipastikan nanti aku sangat sibuk.


Aku meluncur ke cafe milik pak Randy, karena hanya pak Randy yang tau alamat rumah nya.


Sebelum berangkat aku menyiapkan kado tunangan untuk adik ku Mayang. Karena hari ini ia bertunangan, namun aku tak bisa hadir karena pekerjaan. Aku harus profesional dengan pekerjaan ini, karena aku sudah tanda tangan kerjasama ini sebelum Mayang memberi tahu tentang acara pertunangan nya.


Aku kirim kan kado itu lewat ojek online, karena alamat yang menjadi tempat pertunangan itu tidak terlalu jauh dari tempat ku.


Setelah semuanya sudah siap kami berangkat bersama, namun berbeda mobil.


Sampai lah aku di halaman depan rumah yang sangat luas. Terlihat rumah itu tinggi dan besar, aku di buat kagum dengan kemewahan yang nampak dari depan rumah ini.


"Masih depannya aja sudah seperti ini, gimana dalam nya?," gumamku dalam hati.


Reni dan karyawan lain juga nampak kagum dan tak mengedipkan mata saat melihat bangunan megah di depan matanya itu.


Ku Lirik kearah mereka, kelihatan nya mereka sedang berbisik-bisik.


"Seandainya, aku yang jadi menantu di rumah ini. Aku akan hidup bahagia yg tujuh turunan," celuk Reni sambil tersenyum yang di tutup telapak tangan nya.


"Kalau aku yang jadi menantu dirumah ini, ibu ku dikampung langsung aku belikan sawah dua hektar. Biar ibu nggak jadi kuli terus," lanjut Mita.


Dan di aamiin kan yang lain.


"Kalau aku yang menjadi menantu di rumah ini, aku gratiskan kalian makan dirumah ku selama sebulan penuh." ucap Diana tak mau kalah.


Aku tersenyum sendiri mendengar obrolan para karyawan ku yang ber andai-andai.


"Beruntung sekali ya Bu Sarah, yang menjadi menantu dirumah ini?!. Dari rumor yang aku dengar nih, Bu. Perempuan yang jadi menantunya pak Handoko group ini dari desa, anak seorang buruh tani dan ia perempuan Yang sangat sederhana", ucap Reni berbisik pada ku sambil berjalan menuju ruangan Yang akan di pakai untuk acara.


"Kamu ini tau aja, Ren," aku menanggapi dengan tersenyum.


"Beneran, Bu. Mana anak nya pak Handoko itu ganteng banget. Duh hati ku meleleh saat melihat foto dia berkeliaran di sosial media." ucapnya meneruskan menggosip.


"Emang seterkenal apa sih keluarga ini, Ren?," tanya ku yang memang tak tahu tentang keluarga Handoko group.


"Ya ampuuun, Bu Sarah. Ibu ini cupu banget sih. Masa tak pernah mendengar tentang keluarga pak Handoko," ucap Reni keheranan melihat ku.


Aku pun menjawab dengan gelengan kepala.


"Pak Handoko itu pemilik perusahaan Handoko group, orang terkaya urutan pertama di kota ini. Kalau masalah perusahaan nya aku tak mengerti di bidang apa. Yang jelas dia itu sangat kaya sekali, dan satu lagi dia hanya punya anak cuma satu. Yaitu anak lelaki yang akan bertunangan hari ini. Duh...nggak kebayang kalau jadi istri pewaris tunggal kekayaan orang terkaya dikota ini," ucap Reni panjang lebar sambil membayangkan betapa enak nya menjadi menantu di keluarga kaya ini.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Reni yang sambil berandai-andai.


Lalu sampai lah ditempat yang dimaksud, lumayan capek berjalan dari depan ke tempat acara. Karena rumah ini sangat lah luas.


Akhirnya aku mulai menata masakan dan kue dimeja. Karyawan laki-laki yang mengangkat makanan dan kue dari parkiran mobil ke tempat acara. Yang jarak nya lumayan, karena rumah ini sangat besar dan panjang.


Dekorasi sangat mewah dan terlihat elegan. Aku sangat takjub melihat nya.


Setelah selesai menata semua makanan aku dan pak Randy ada dibelakang layar. Sekarang saat nya para karyawan lah yang bekerja.


Jam masih belum menunjukkan acara akan di mulai, namun tamu-tamu undangan sudah ada yang datang.


Terlihat sekali tamu yang datang bukan lah orang-orang sembarangan. Mereka datang dengan mobil mewah.


Semakin lama semakin bertambah banyak tamu yang datang. Setelah tamu sudah datang semua, MC acara pun sudah mengambil tempat untuk memulai acaranya.


Namun pemilik acara ini masih belum menampakkan batang hidungnya. Aku sangat penasaran, ingin sekali melihat orang terkaya di kota ini.


Dan acara pun akhirnya di mulai, aku mendengarkan suara MC yang sedang membuka acara. Aku sangat menikmati acara ini, karena baru kali ini di hidup ku melihat acara tunangan yang semegah ini.

__ADS_1


Mungkin kalau di kampung ku ini seperti acara hajatan tiga hari tiga malam. Saat sedang asyik melihat rangakaian acara, panggilan alam tak bisa di hindari.


Aku yang pamit pada pak Randy mau pergi ke toilet, namun pak Randy melarang ku untuk pergi sendiri. Ia takut kalau nanti aku akan tersesat, karena rumah ini sangat besar.


Akhirnya pak Randy pun mengantarkan aku ke toilet, memang benar letak toilet nya sangat jauh dari tempat acara.


Nggak kebayang kalau tamu acara sedang kebelet, mungkin dia akan ngompol lebih dulu sebelum sampai di toilet.


Aku berjalan melewati lorong yang panjang bersama dengan pak Randy.


Brakkk,


Tiba-tiba ada wanita yang terlihat terburu-buru menabrak ku.


"Maaf-maaf," ucap wanita itu dengan membenarkan gaun yang ia pakai.


Setelah kita saling berpandangan, ternyata dia adalah gundik mas Damar.


Hati ini seketika langsung terbakar, entah kenapa setiap aku melihat perempuan mas Damar ini bawaan nya emosi.


"Sarah?!," Ia menyebut namaku dengan wajah terkejut dan terlihat cemas.


Kenapa dia ekspresi nya seperti itu?, seperti orang melihat setan di siang bolong. Wajah ketakutan nya sangat terlihat.


"Sarah!!! Ngapain kamu disini?!," tanyanya dengan wajah judes, aku rasa ekspresi judes itu bertujuan untuk menutupi keterkejutan nya saat melihat aku.


Aku bisa melihat wajah itu seperti sedang menutupi sesua dari ku. Tapi apa itu?...


Aku tak menjawab pertanyaan gundiknya mas Damar, lalu terlihat ia sangat terburu-buru berjalan kearah ruangan acara yang seluas lapangan bola itu.


Aku pun tak mau ambil pusing dengan kehadiran si gundik itu. Tapi yang membuat sedikit ada yang kurang, mas Damar tak ada di samping perempuan itu.


"Mungkin ia sedang kerja," ucapku lirih.


Pak Randy hanya melihat saja saat aku bertabrakan dengan Bianca.


Lalu aku melanjutkan kembali perjalanan untuk mencari toilet di rumah ini.


Akhirnya sampai juga kita didepan toilet, aku pun masuk lebih dulu.


Kita pun berjalan berdua menuju ketempat acara. Kami saling mengobrol tentang pekerjaan. Setelah sampai ditempat acara, ternyata acara tukar cincin akan segera dimulai.


Terlihat dari kejauhan dari tempat ku saat ini, terlihat lelaki muda yang tampan berdiri berhadapan dengan perempuan muda.


Tapi, sepertinya aku kenal dengan perempuan itu. Benar kah itu Mayang? aku mengucek kedua mata ku dan kembali memandang wanita muda itu, untuk memastikan kalau memang benar itu Mayang.


Karena rasa tak percaya ini masih menggelayut dihati, aku edarkan lagi pandangan kebelakang pria muda itu.


Dan terlihat pria paruh baya seumuran bapak ku, namun ia kelihatan gagah dan berwibawa menunjukkan bahwa ia adalah orang yang kaya raya.


Namun perempuan muda disampingnya itu, bukan kah itu Bianca? perempuan yang tadi menabrak ku saat aku pergi ke toilet?


Iyap, benar itu Bianca. Karena aku masih ingat betul dengan gaun yang ia pakai tadi.


Trus, sebagai apa Bianca disitu?..


Namun aku tinggalkan sementara Bianca saat ini, sekarang aku masih penasaran dengan perempuan muda yang berhadapan dengan lelaki tampan yang bersiap untuk tukar cincin.


Benar kah itu Mayang, adik ku?


Ku menoleh pada kedua orang tua yang berada di belakang perempuan muda itu, dan betapa terkejutnya aku saat aku melihat mereka.


Mereka adalah bapak dan ibu ku, walau dari kejauhan aku sudah pastikan kalau mereka adalah kedua orang tua ku.


Berarti benar perempuan muda itu adalah Mayang adik perempuan ku


Tiba-tiba air mata ini menetes dengan sendirinya karena terharu.


Jadi, Mayang yang mengabarkan akan bertunangan hari ini. Ternyata disini ia tempat ia bertunangan.


Aku langsung mengambil handphone dan membuka chat ku bersama Mayang, saat ia mengabari ku akan bertunangan.

__ADS_1


Saat ku baca lagi alamat yang ia berikan, aku langsung bertanya pada pak Randy yang kebetulan sedang menyaksikan acara pertunangan itu berdiri disamping ku.


Setelah bertanya pada pak Randy alamat rumah ini, lalu aku cocokkan dengan isi chat yang disampaikan Mayang.


Dan ternyata sama, ya Allah... aku tak habis pikir ternyata adik perempuan ku lah yang berdiri diatas sana bertukar cincin dengan lelaki pilihannya.


Aku pun menangis terharu melihat semuanya, air mata ini menetes dipipi dengan sendirinya.


"Kamu kenapa, Sarah?," tanya pak Randy membuyarkan lamunanku. Dengan segera ku usap air mata yang mengalir dipipi ini. Supaya pak Randy tak melihatnya.


"Aku tidak apa-apa, pak." jawabku sambil tersenyum kearah pak Randy.


"Tapi kenapa kamu menangis?," tanya nya lagi.


"Aku menangis terharu melihat mereka," aku menjawab dengan menunjuk kearah panggung yang saat ini berdiri kedua orang tua ku dan Mayang adik perempuan ku.


"Memang seperti nya keluarga dari pihak perempuan itu terlihat sangat sederhana, ya?," ucap pak Randy dengan pandangan tertuju pada orang yang berada diatas panggung.


Aku pun mengangguk dengan mengusap air mata yang semakin deras membasahi pipi.


"Om, maaf kan aku yang telat datang. Tadi saat om kirim pesan aku masih ada urusan disini." ucap lelaki muda dari belakang dan langsung menyapa Randy.


"Akhirnya ponakan om datang juga, aku kira kamu nggak jadi datang, Ram?!," ucap pak Randy pada lelaki muda itu.


"Oya a, Sar. Kenalkan ini Rama ponakan ku yang paling ganteng," ucap pak Randy padaku sambil menggoda ponakannya.


Lalu lelaki muda yang bernama Rama itu langsung menyodorkan tangan nya padaku, untuk bersalaman.


"Sarah," ucapku sambil ku tempelkan kedua telapak tangan, dan ku angkat setinggi dada.


Dan seketika ia menarik tangan nya, dan membalas dengan apa yang aku lakukan.


Dan ia menyebut kan namanya Rama.


Aku sedikit tersenyum padanya. Tapi kenapa tatapan nya pada ku seperti......


" Ah.. Sarah jangan berprasangka buruk pada orang lain" ucapku dalam hati.


Dan aku pun tak mau memandang nya lebih lama, karena takut ia akan berpikir macam-macam pada ku.


Aku langsung mengalihkan pandangan kepada kedua orang tua ku yang saat ini berada di atas panggung.


Lalu ku edarkan pandangan pada para tamu yang datang, terlihat wanita muda yang wajah nya tak asing.


Saat ku perhatikan dengan seksama, ternyata dia adalah Diana. Perempuan yang waktu itu menggagalkan acara pernikahan Lidya dengan bapak nya.


Ku lihat sekilas Rama dan pak Randy sedang asyik mengobrol. Dan langsung ku alihkan pandangan ku pada yang lain.


Karena aku tau kalau Rama diam-diam memandang ku. Ada tatapan aneh dari nya, dan itu membuat ku tidak nyaman.


Aku terus memandang wajah kedua orang tua ku dan aku teringat kembali pada gundik mas Damar yang saat ini berdiri disana.


"Siapanya Celvin, gundik masa Damar itu? kenapa ia ikut mendampingi Celvin?," ucapku dalam hati.


Apa jangan-jangan dia.........


"aaa tidak mungkin, ini sangat tidak mungkin", aku menolak pikiran yang saat ini menghantuiku. Yaitu tentang Bianca yang saat ini berdiri disamping pak Handoko pemilik perusahaan terbesar di kota ini.


"Sarah, kamu kenapa?," lagi-lagi pak Randy memergoki aku melawan dengan ketakutan ku.


Lalu aku hanya menjawab dengan senyuman pertanyaan pak Randy.


Setelah tukar cincin selesai, terlihat Bianca berbisik pada pak Handoko. Lalu ia berjalan turun dari panggung. Ia pun keluar dari tempat acara. Ku tatap terus arah ia berjalan. Dan dia masuk di dalam rumah yang megah itu.


"Celvin!!!!,"


Tiba-tiba berteriak di tengah pintu masuk, dan seketika suara itu terdengar oleh semua undangan yang ada di dalam ruangan itu.


Celvin dan para undangan bersamaan menoleh kearah Lidya.


Lidya nampak cantik dengan balutan gaun yang sangat mewah berwarna merah muda.

__ADS_1


Lalu ia berjalan kearah panggung di ikuti oleh mantan mama mertua ku.


Seperti orang yang tak punya malu ia berjalan di tengah-tengah para undangan dan menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disitu.


__ADS_2