
Pagi ini aku sudah rapi, dan bersiap untuk pergi ke kantor. Namun semenjak aku bangun dari tidur, aku tak melihat pak Handoko di sampingku.
Sampai aku selesai berganti pakaian pun, pak Handoko tak menampakkan batang hidungnya.
Aku berjalan menuruni anak tangga sambil mengedarkan pandanganku keruangan keluarga yang berada dibawah. Namun tetap saja aku tak melihat keberadaan suami pertamanya ku itu.
Sampai di meja makan, makanan pun sudah tersaji rapi. Terlihat mbok Sumi masih sibuk di dapur, sepertinya ia sedang mencuci piring.
"Mbok...mbok Sumi?!," panggil ku, sambil aku mendekat kearahnya.
"Iya, Bu?," mbok Sumi menoleh kearah ku yang berada di belakang nya.
"Bapak kemana, mbok? Dari tadi aku tak melihat nya?," aku bertanya pada mbok Sumi, karena yang bangun lebih pagi dirumah ini adalah mbok Sumi.
"MMM bapak anu Bu, itu.. anu," mbok Sumi terlihat menjawab dengan gugup.
"Ada apa mbok? Bapak kemana?," aku menegaskan pertanyaan ku lagi pada mbok Sumi.
"Semalam bapak dapat telepon dari den Celvin, trus tadi sebelum subuh bapak terbang ke Singapura. Bapak pamitnya begitu sama si mbok. Katanya mau bangunin ibu, bapak nggak tega. Karena ibu terlihat sangat lelap tidurnya."
Huh!!! Ada apalagi anak itu? Merepotkan saja!!!. Kalau tidak ada apa-apa dengan Celvin Handoko si tua bangka tak mungkin akan terbang ke Singapura sebelum subuh!
Tapi... kenapa aku harus marah?, ini kan keberuntungan buat ku. Aku bisa sesuka hati ada dirumah Damar.
Setelah berdiri mematung dibelakang mbok Sumi yang melanjutkan mencuci piring. Aku pun langsung berjalan ke arah meja makan.
Pagi ini aku putus kan untuk tidak sarapan, hanya susu yang sudah di buatkan oleh mbok Sumi yang aku minum.
"Mbok, aku berangkat ke kantor ya." pamit ku pada asisten rumah tangga kesayangan suami ku yang sudah bau tanah itu. Mbok Sumi juga kesayangan Celvin anak tiri ku.
"Ibu nggak sarapan dulu?," tanya mbok Sumi dengan sedikit berteriak, karena aku sudah berjalan menjauh dari dirinya yang saat ini berdiri disamping meja makan.
"Nggak, mbok. Aku terburu-buru." jawabku sambil melambaikan tangan.
Hatiku sangat bahagia, karena tak perlu susah payah mencari alasan untuk keluar dari rumah ini. Karena mulai dari semalam Damar mengirim pesan kepada ku.
Dengan begini, aku bisa leluasa tidur dirumah Damar. Yang saat ini sudah berstatus menjadi suamiku.
Mungkin bawaan bayi yang aku kandung, rasa nya ada rindu yang teramat pada Damar.
Kali ini ku jalan kan mobil langsung kerumah Damar. Aku sudah ijin pada Andin hari ini aku tak kekantor. Aku bilang ke Andin kalau saat ini aku sedang tak enak badan.
Sampai didepan rumah Damar, aku sengaja memarkirkan mobilku di luar pagar. Karena ingin memberi kejutan pada Damar.
Di teras depan rumah, aku lihat ada sepatu laki-laki yang aku yakini itu bukan milik Damar. Karena aku tak pernah tahu ia memakai sepatu itu.
Aku buka pintu rumah yang ternyata tidak di kunci. Pikir ku mungkin didalam ada teman Damar yang datang.
__ADS_1
Lalu aku terus masuk, dan sama sekali tak ada orang satu pun terlihat didalam ruang tamu atau diruang keluarga.
"Mungkin itu sepatu baru Damar," ucap ku dalam hati.
Aku memutuskan untuk melihat Damar dikamar, Entah kenapa rindu pada Damar saat ini sangat menggebu.
Mungkin ini sudah bawaan bayi yang aku kandung. Karena kata orang, orang yang sedang hamil keinginan nya itu bermacam-macam.
Dan yang aku inginkan saat ini berada didekat Damar terus. Sampai dalam kamar, tak ada Damar didalam. Tak lupa, aku juga mencarinya didalam kamar mandi. Namun hasilnya nihil, tak ada siapa-siapa disana.
Aku keluar dari kamar, tujuan ku kali ini ke dapur. Untuk mencari mama, ingin bertanya Damar dimana.
Tapi, saat aku melewati depan kamar mama. Terdengar suara samar-samar seperti suara berbicara, tapi tak jelas. Jadi kedengaran nya seperti seseorang yang sedang mendesah.
Namun pikiran ini masih berpikir positif, mungkin saja itu suara mama yang sedang pijat refleksi.
Aku melangkah terus ke belakang, tujuan ku kali ini dapur. Selain untuk mencari Damar, tenggorokan ku juga terasa kering. Aku ambil air mineral yang ada didalam lemari es.
Saat aku buka lemari es, terdengar jelas suara itu. Iya, suara yang bersumber dari kamar mama.
Hati ini sungguh penasaran, tak jadi aku meminum air mineral itu, ku kembalikan air mineral kemasan botol itu kedalam lemari es.
Lalu aku berjalan mendekat dengan mengendap, agar suara langkah kaki ku tidak terdengar. Lalu aku buka pintu kamar mama yang memang tak tertutup dengan sempurna.
"Mama?!!!!," mata ku melotot dan sangat terkejut melihat mama sedang telanjang bulat berada diatas tubuh seseorang. Dan lelaki itu tak terlihat jelas oleh pandangan ku.
Mungkin kepalang tanggung, ku lihat ia masih meneruskan aksinya diatas tubuh pria itu.
Setelah itu mereka mencari baju nya yang berserakan di lantai kamar nya. Lelaki itu juga melakukan hal yang sama dengan mama mertua ku. Ia mengambil baju nya dan segera memakai nya.
Tapi kenapa lelaki menatapku seperti itu? Lalu ia juga mengedipkan mata kiri nya padaku. Lelaki yang jauh lebih muda dari mama ini terus menatap ku dan tersenyum padaku.
Hiii..... aku sangat geli dibuat nya. Bukan nya suka, malah aku sangat ilfeel melihat nya.
""Kamu ini tak punya sopan santun ya!!!!," ucap mama sangat geram melihat ku.
"Seharusnya kamu ketuk pintu dulu kalau mau masuk!!!," Mama marah kepada ku. Namun sikap ku biasa aja, tak ada rasa takut sama sekali walau dia marah-marah.
"Mama itu tak pernah sadar umur ya?!, nggak malu apa ? bermain seperti itu di siang hari dalam keadaan pintu tak dikunci. Jadi jangan salahkan aku karena aku langsung nyelonong masuk. Lagian mau ketuk pintu atau enggak kan itu bukan urusanmu, ma! Karena aku juga salah satu anggota keluarga disini juga."
"Lancang kamu!!!," tangan mama diangkat dan dilayangkan kearah muka ku, tapi dengan tangan yang kecekatan aku menangkis nya dan segera memegang pergelangan tangan nya dan ku cengkram erat-erat. Kelihatan sekali kalau ia sangat kesakitan dengan cengkraman ku itu.
"Sekali tangan mama menyentuh kulitku, akan
ku buat kamu terusir dari sini!!!, apa kamu lupa kalau aku yang saat ini membayar cicilan rumah ini?," ucapku pelan dengan tatapan sinis pada nya. Dan sedikit menekan pada nya agar ia tak sewenang-wenang lagi dengan ku.
Mama langsung menurunkan tangan nya, dan mimik wajahnya pun berubah. Dari yang terlihat sangat emosi, kini menjadi sangat manis sambil tersenyum padaku.
__ADS_1
Tapi cuih... aku tak akan pernah tertipu dengan wajah-wajah ular berkepala dua seperti mama mertua ku ini.
Dia akan baik kalau ada mau nya, aku sudah bisa membacanya dari awal saat aku bertemu dengannya.
Kalau bukan karena aku cinta sama anaknya, aku tak akan sudi menerima dia menjadi mertuaku.
"Bianca, aku mohon jangan bilang semua ini pada Damar. Bisa-bisa ia akan marah sama mama." Kali ini dia memohon padaku agar aku tak mengadu pada Damar.
Sebenarnya aku tak peduli dengan apa yang ia lakukan, kalau pun dia mau berzina itu sudah menjadi urusan nya sendiri.
Namun yang saat ini membuat aku penasaran, siapa lelaki itu? Dia sangat muda, jauh lebih muda dari Lidya. Pantasnya dia menjadi anak mana mertua ku.
"Siapa dia?!," tunjuk ku pada lelaki yang terus menatap ku dengan senyum yang sulit diartikan.
"Kanu tak perlu tau, yang jelas mama mohon kamu jangan beri tahu Damar tentang ini." ucap mama padaku.
Lalu laki-laki itu segera keluar saat taksi online sudah datang didepan.
Rupanya saat aku sedang berdebat dengan mama, rupa nya dia sedang memesan taksi online.
Setelah ia pergi, aku pun masuk kedalam kamar. Tujuan ku kesini ingin mencari Damar. Namun yang ku temukan adalah pergulatan mama dengan brondong nya di siang bolong yang terik seperti ini.
Aku pun merebahkan tubuh ku di atas ranjang, lalu kuambil handphone yang kutaruh diatas nakas. Ku coba menghubungi Damar, ternyata ia sedang keluar mencari lowongan pekerjaan.
Aku memutuskan untuk pergi ke kantor, entah kenapa hati ini terasa tidak enak. Lagian disini tak ada Damar, karena tujuanku kesini adalah Damar.
Mobil ku lajukan dengan kecepatan sedang, karena suara jalan sangat ramai. Jadi aku harus sedikit berhati-hati.
Dan yang aku heran saat masuk ke lobby kantor. Semua orang yang berpapasan dengan ku memandang ku. Padahal biasa nya mereka tak berani memandang ku secara langsung seperti ini. Pasti mereka akan menundukkan kepala dan pandangan nya saat berpapasan dengan ku.
Aku mempercepat langkah ini menuju ruangan ku. Saat aku naik Lift untuk ke lantai tiga dimana ruangan ku terletak, disitu aku bersama dua orang karyawan ku.
Bukan nya mereka menyapaku, malah seperti nya mereka menggunjing ku. Dengan berbisik-bisik satu sama lain.
"He, kenapa kalian tak punya sopan santun seperti ini?!, Bukannya memberi hormat pada atasan, kalian malah berbisik-bisik didepan ku!!!, Setelah ini kalian segera ke ruangan ku!!!." Aku harus memberi pelajaran kepada karyawan yang bersikap seperti mereka berdua. Agar tak menjadi contoh yang tidak baik pada karyawan lain.
Pintu lift pun terbuka, saat mereka belum menjawab.
"Ingat ya?!, Habis ini kalian keruangan ku!! Aku sangat ingat dengan wajah kalian berdua!!," ucapku penuh ancaman.
Namun sama sekali mereka seperti tak ada rasa takut sama sekali padaku. Tapi lihat saja bukan Bianca namanya kalau aku tak memberi sanksi pada mereka berdua.
Aku keluar dari Lift lebih dulu dari mereka, dan ku percepat melangkah. Rencana ku setelah ini, ingin memanggil Andin untuk memberi sanksi pada mereka.
Namun betapa kagetnya aku, saat aku melihat pemandangan di depan ruangan ku.
"Andin...!! Andin...!!," aku berteriak memanggil sekertaris ku.
__ADS_1