
Hari ini mas Damar janji menjemput ku untuk pulang kerumahnya. Jujur aku masih sangat betah ada dirumah ku sendiri walaupun dengan bangunan yang sangat sederhana.
Tin.... Tiiiiiiin....
ku dengar bunyi klakson mobil mas Damar.
"Sarah, itu Damar sudah jemput", ucap ibu.
"Iya, Bu. Sarah mau siap-siap dulu", ucapku berdiri mau mengambil tas berisi baju-bajuku yang ada didalam kamar.
Kulihat mas Damar turun dari mobil, dan berjalan dihalaman menuju rumah ibu.
"Assalamu'alaikum Bu", ucap salam mas Damar terdengar dari kamar.
"Waalaikumsalam, nak. Duduk lah Damar, Sarah masih mengambil tas dikamar nya.
Mas Damar pun duduk di kursi panjang dan saling berhadapan dengan ibu dan Mayang.
Aku pun membawa tas yang berisi baju keluar dari kamar. Melihat mas Damar membuat hati ini sangat senang, karena dua minggu lebih tak jumpa dengan nya. Ada rasa rindu di dada, jujur memang aku sangat cinta dengan mas Damar.
"Mas, mas Damar mau minum apa?", tanyaku sambil mencium punggung tangan nya.
"Nggak usa repot-repot Sarah, mas buru-buru. Jadi kalau beres-beres nya sudah selesai kita jalan sekarang ya?", ucap mas Damar.
"iya, mas. Oya mas, kenalkan ini adik ku Mayang. mas Damar pasti nggak tahu kan sama Mayang? karena saat kita menikah dulu dia tidak datang", ucapku memperkenalkan Mayang.
Mayang dan mas Damar pun bersalaman, tapi tak ada basa basi mas Damar untuk menanyakan tentang Mayang. Terlihat mas Damar nggak begitu suka pada Mayang.
"Kamu sudah siap Sarah?", tanya mas Damar.
"sudah, mas", jawabku.
"Oke kalau begitu kita jalan sekarang ", ajak mas Damar.
Kita berdua pun berpamitan pada ibu dan Mayang tanpa bapak. Karena pagi-pagi sekali bapak sudah berangkat ke sawah.
"Titip salam ke bapak ya, Bu", ucapku.
Iya, nak. Hati-hati dijalan. Nak Damar nyetir mobilnya hati-hati ya. Titip anak ibu dan calon cucu ibu ya, nak", pesan ibu sambil mengelus perutku yang sudah membuncit.
"iya, Bu", jawab mas Damar singkat. Dan dia langsung mengangkat tas ku yang berisi baju.
"Ayo, Sarah", ajak nya.
Kami pun masuk mobil dan mobil melaju sangat kencang.
"Pelan-pelan, mas", ucapku dengan memegang perutku karena sedikit takut.
"Biar kita cepet sampai", jawab nya tanpa menoleh sedikit pun kepadaku.
Aku pun diam, tak berbicara sedikit pun. Karena kulihat mas Damar badmood.
__ADS_1
Perjalanan yang seharusnya ditempuh 3jam, Kini hanya ditempuh dengan waktu 2jam. Sampai lah aku dan mas Damar di halaman rumah.
Aku pun turun dari mobil dan terlihat pemandangan yang begitu menjijikkan. Banyak sampah berserakan di mana-mana. Lantai teras berdebu sangat tebal.
"Mas, rumah nya kok kotor sekali?", tanyaku pada mas Damar.
"Ya itu tugas kamu sekarang membersihkan nya", jawab mas Damar sambil berlalu masuk kedalam rumah.
Aku pun mengikuti dibelakang ya dengan membawa tas yang lumayan agak berat. Terlihat mama makan di ruang keluarga sambil nonton tivi dengan kaki di taruh diatas meja.
"Assalamualaikum, ma", ku ucapkan salam dan mengambil tangan mama lalu kucium punggung tangan nya.
"Eh... kamu sudah pulang Sarah? Lama banget nginepnya!! Tuh pekerjaan rumah sudah menanti!!", tak menjawab salam ku, malah mama menyuruh ku untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah yang banyak banget.
"Sabar, Sarah. Kamu pasti bisa melewati ini semua ", ucapku dalam hati mesugesti diri sendiri.
"Oya, abis ini buat kan mama teh hangat ya. Dan setelah itu bersihkan semua ruangan rumah ini!! Karena sudah kotor banget.", perintah mama.
"Sarah, nggak sanggup kalau harus mengerjakan sendirian ma. Kita kerjakan sama-sama ya ma?", ajak ku.
"Enak aja, kamu menyuruh-nyuruh ku!!!!!. Aku yang punya rumah disini. Sedangkan kamu cuma numpang. Jadi kamu harus sadar diri!!!", bentak mama.
"Ini semua kan tugas mu, salah sendiri ditinggal lama-lama. Jadi nya menumpukkan?!. Cepat bikinin aku teh dan bersihkan ini semua!! Karena aku sudah pusing melihat rumah berantakan!!!", ucap mama sambi berlalu masu ke dalam kamarnya.
Sungguh aku kecewa dengan mas Damar, tak ada sedikitpun membelaku. Saat mama menyuruhku dan membentak ku.
Aku pun beranjak ke dalam kamar untuk menaruh tas ku yang berisi pakaian. Terlihat mas Damar tiduran sambil main handphone.
Membersihkan rumah yang sangat kotor dan mencuci pakaian yang segunung ini, sangat menyita waktu. Tak terasa sudah sehari penuh aku mengerjakan ini semua.
Punggungku terasa nyeri, dan perutku kram. Mungkin karena terlalu capek. Setelah rumah dan cucian selesai, aku bergegas mandi dan ingin sekali merebahkan tubuhku ini.
Tiba-tiba Lidya datang. "Oh.. mbak Sarah sudah datang? kebetulan nih perutku lapar banget mbk. Masakin aku ya?," ucap Lidya dengan senyum meledek.
"Aku mandi dulu ya, Lid. Karena seharian mbak Sarah bersihin rumah," jawab ku.
"Duh... gimana sih mbk?! perut ku uda sakit banget. Kalau maag ku kambuh, kamu mau tanggung jawab mbk?!," bentak Lidya.
"Ada apa sih kok ribut-ribut?," tanya mas Damar keluar dari kamar.
"Ini mas, istrimu nggak mau masak!," tunjuk Lidya padaku.
"Bukannya aku nggak mau masak, Lid. Tapi aku mau mandi dulu," belaku.
"Uda... kamu masak aja dulu, sarah. Mandinya nanti setelah masak, biar nggak bau minyak. Cepetan masak gih, aku juga lapar nih," perintah mas Damar sambil mengusap perutnya.
Akhirnya aku pergi lagi ke dapur untuk masak, ku buka kulkas tak ada satu bahan pun yang bisa dimasak. Di dapur hanya ada nasi putih aja, akhirnya aku bikin nasi goreng.
Setelah selesai aku hidang kan nasi goreng dimeja makan.
"Wah, bau nya sedap," ucap mama keluar kamar dengan wajah bantal menunjukkan kalau baru bangun.
__ADS_1
Dia pun langsung duduk di kursi makan tanpa mencuci muka dan tangan nya.
"Cepetan kamu panggil Damar dan Lidya!!! Kasian mereka, mungkin sudah kelaparan!!," bentak mama.
Tanpa menjawab aku pun berlalu menuju kamar Lidya.
tok tok tok....
"Lid, nasi nya Uda matang. Silahkan kamu makan," ucapku memberi tahu Lidya.
Walau belum ada jawaban, aku tinggal kamar Lidya menuju kamarku untuk memanggil mas Damar. Tanpa mengetuk pintu, aku pun langsung masuk.
Terdengar mas Damar sedang menelpon, aku masuk dengan pelan-pelan agar dia tak mendengar suara langkah kaki ku.
"iya sayang, aku juga rindu sama kamu. Rindu dengan permainan mu. Kamu hebat, sayang. Aku puas bercinta dengan mu. permainan ranj@ngmu candu sekali," ucap mas Damar dengan seseorang di sebrang sana.
Deg.
Dada ini terasa sesak sekali, gemuruh amarah berdesir hebat. Ingin sekali aku mendekat dan membanting handphone nya.
"Jadi selama ini kamu bermain-main dibelakang ku mas?!," batin ku.
"Akan ku balas semua perlakuan mu dan keluarga mu padaku, mas!!!!!," gumamku dengan mengepalkan tangan.
Aku pun berbalik keluar dengan pelan-pelan agar ia tak mendengar. Setelah sampai luar kamar. Aku kembali lagi sambil mengetuk pintu.
Ku tenang kan amarah ku, walau dada terasa sangat sesak sekali. Mendengar perselingkuhan mas Damar.
"Mas, mas Damar... masakan nya Uda siap. silakan makan," ucapku sambil berjalan kedalam kamar.
Terlihat mas Damar tergesa-gesa menutup sambungan telepon nya.
"Iya, Sarah. Abis ini aku keluar," jawab mas Damar dengan menaruh handphone nya di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Ya Uda, mas Damar keluar untuk makan. Sarah mau mandi dulu mas," ucapku menuju kamar mandi.
Tanpa menjawab, mas Damar keluar kamar dan menutup pintu kamar.
Kulihat dia sudah keluar, aku pun keluar dari kamar mandi. Ku ambil handphone nya, ingin sekali mengetahui dengan siapa dia selingkuh.
Tapi sayang handphone nya di kunci, dan aku tak tahu apa sandi handphone mas Damar.
"Sabar Sarah, kamu pasti bisa bongkar perselingkuhan mas Damar," ucapku dalam hati.
Aku pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh ini. Setelah mandi ku rebahkan tubuhku diatas ranjang, kuambil handphone ku. Dan aku mulai mengetik novel online ku.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
makasih readers ku Uda mampir, jangan lupa like dan komen ya biar aku tambah semangat nulis nya 😘.
mampir juga ke novel temen ku yagesya
__ADS_1