
Nenek Peki keluar dengan wajah yang sangat menyeramkan, karena suara berisik sangat mengganggu nya.
Dan Linda menjelaskan atas kedatangan nya ke desa yang amat jauh dari kebisingan kota ini.
Suara kicauan burung dan serangga terdengar merdu ditambah suara air gemericik dari sungai kecil yang berada disamping rumah nenek Peki menambah suasana yang menenangkan. Tak ada bising lalu lalang kendaraan bermotor disini.
Nenek Peki pun mempersilahkan Linda dan Lidya masuk kedalam rumahnya. Rumah yang berdinding anyaman bambu ini terlihat sangat usang. Bangku kayu yang saat ini Lidya dan Linda duduki penuh debu.
"Ma, Lidya duduk dimana? ini kotor," bisik Lidya kepada Linda dengan wajah manja nya.
Namun bisikan itu didengar oleh nenek Peki. Tatapan tajam nenek Peki di arah kan ke mata Lidya.
Lidya yang melihat itu langsung ketakutan, Ia memeluk tangan Linda dan segera duduk dibangku yan penuh dengan debu itu.
"Sebentar, kalian tunggu di sini. Aku akan menyiapkan alat-alat nya." Nenek Peki masuk kedalam bilik yang tak ada pintu nya hanya tertutup tirai dari kain yang terlihat sudah usang.
Didepan Lidya dan Linda duduk terdapat dipan tua yang terbuat dari kayu dan beralaskan tikar. Dan ada satu bantal di bungkus dengan kain berwarna putih.
Tak ada yang mewah di dalam rumah ini. Lidya mengedarkan pandangan di setiap sudut rumah.
Banyak sarang laba-laba di langit-langit rumah, semakin membuat kesan horor.
Nenek Peki keluar dari bilik itu dengan membawa beberapa alat seperti pisau, gunting, jarum, baskom dan beberapa lembar jarik batik khas Jawa.
Nenek Peki menaruh semua peralatan itu diatas dipan kayu yang ada didepan Linda dan Lidya duduk.
Lidya yang melihat itu, langsung ketakutan. Jantung nya berdegup dengan kencang. Keringat dingin keluar bercucuran sebesar biji jagung. Tangan dan kaki Lidya gemetar. Lidya terus memegang erat lengan Linda.
Setelah menaruh semua peralatan di atas dipan, Nenek Peki masuk lagi belakang, kali ini seperti kearah dapur.
"Ma, Lidya takut," Lidya terus memegang tangan Linda sambil ia menangis karena ketakutan.
"Tenang kan dirimu, Lid. Ingat ini semua untuk masa depan mu." ucap Linda dengan mengelus tangan Lidya yang saat ini sedang memegang lengan nya dengan erat.
Namun bukan tenang yang dirasa oleh Lidya, tapi ketakutan itu bertambah saat nenek Peki membawa satu ember air yang sangat panas, terlihat dari asap yang mengepul dari air itu.
"Ma... mending kita pulang aja. Lidya takut, ma." Rengek Lidya dengan pelan karena takut nenek Peki mendengarnya
"Tenang, Lid. Kamu nggak sendirian, kan ada mama," ucap Linda mereka berdua saling berpegangan tangan.
Sebenarnya hati Linda pun sangat ketakutan melihat yang ada didepan matanya saat ini.
"Kita lakukan ini di dokter saja, ma." Lidya kembali merengek pada Linda.
"Kalau kita ke dokter, prosedur nya ribet, Lid. Kamu tenang ya, karena teman mama pernah berhasil disini." Linda terus membujuk Lidya.
Kali ini nenek Peki keluar dari dapur membawa dupa yang dibakar didalam gerabah kecil yang terbuat dari tanah liat.
Bau dupa menyebar ke seluruh penjuru ruangan yang hanya sepetak ini.
Ia menaruh gerabah kecil yang berisi dupa itu dibawah dipan kayu.
Mbah Peki mengambil air putih dari dalam kendi, lalu ia bacakan mantra-mantra.
Lidya yang melihat nya bergidik ngeri, bulu kuduknya seketika berdiri. Lidya terus memeluk Linda.
Dihati kecil Linda pun ia sebenarnya sangat takut. Namun demi masa depan Lidya ia menentang rasa takutnya.
Lidya dipanggil untuk mendekat pada nenek Peki, tapi Lidya ragu untuk melangkahkan kakinya kearah nenek tua itu.
Lidya sangat takut akan terjadi apa-apa pada dirinya. Namun karena desakan Linda mamanya, akhirnya ia memberanikan diri.
Lidya berjalan dengan sangat pelan, nenek Peki terlihat marah saat melihat tingkah Lidya yang seperti tidak percaya dengan kemampuan nya.
__ADS_1
"Cepat kesini!!!!!, kalau jalan jangan lelet!!!," teriak nenek Peki dengan suara serak nya.
Lidya yang ketakutan dengan tatapan nenek tua itu, akhirnya berjalan dengan cepat kearah yang ditunjuk nenek Peki. Yaitu ia harus berbaring di atas dipan yang terbuat dari kayu itu.
Lidya pun berbaring sesuai arahan nenek Peki itu. Lalu nenek itu menyelimuti nya dengan sehelai kain jarik yang bermotif batik Jawa.
Nenek Peki mulai meraba perut Lidya, dan terlihat Lidya sangat ketakutan saat nenek Peki itu memegang perut nya.
"Aaaaaaaaaaaaa...." Teriak Lidya saat nenek Peki menekan bagian perut Lidya.
Linda yang mendengar teriakkan anak perempuan nya itu langsung berdiri dan berlari kearah Lidya. Ia sangat was-was dengan apa yang dia lihat di depan matanya itu.
"Janin yang ada di perutmu ini sudah besar, kalian yakin ingin menggugurkannya?," ucap nenek Peki yang mengedarkan pandangan setelah ke Lidya kini beralih ke Linda.
Linda mengangguk kepalanya, walau rasa ragu dihatinya itu sangat besar.
"Kalau kalian memang yakin janin ini akan digugurkan, kalian harus menyiapkan mahar di muka untuk ku, sebelum eksekusi di mulai." Ucap nenek Peki dengan memegang pisau kecil dengan mata pisau yang terlihat sangat tajam sekali. Membuat nyali Linda dan Lidya semakin menciut.
"Berapa uang yang harus aku siapkan, nek?," tanya Linda dengan ucapan terbata-bata karena rasa ketakutannya itu sangat besar.
"Sepuluh juta!!," ucap nenek tua itu memasang tarif untuk jasa nya itu.
"Hah?! sepuluh juta?!," ucap Linda dan Lidya bersamaan dengan mata keduanya melotot karena kaget. Dan Linda beralih duduk di dekat kepala Lidya, bertujuan untuk berjaga-jaga takut terjadi sesuatu pada anak perempuan nya itu.
"Kalau kalian tidak mau membayar itu, kalian silahkan pergi dari sini." Ucap nenek Peki dengan ketus.
"Aku akan membayarnya setelah eksekusi ini berhasil, nek," Linda memberanikan diri untuk tawar menawar dengan nenek tua yang menyeramkan itu.
"Itu sudah menjadi peraturan disini, bayar dimuka sebelum pengeksekusian. Kalian jangan pernah meremehkan ku. Karena aku tak pernah gagal." Ucap nenek Peki menyombongkan diri.
Linda dan Lidya saling bertatapan, dan Lidya menganggukkan kepala nya. Itu berarti Lidya menyetujui apa yang menjadi peraturan disini.
"Nek, ini hanya ada tiga juta. Karena saya kesini hanya membawa uang ini saja. Itupun nanti kita pulang sudah tidak ada ongkos lagi. Tapi kami janji setelah semua ini berhasil, aku akan kembali lagi kesini untuk mengantarkan sisa uang itu," Linda mencoba bernegosiasi dengan nenek Peki tentang pembayaran.
Dan semua itu disepakati kedua belah pihak. Setelah semuanya deal, Lidya diberi minuman jampi-jampi, seperti ramuan dari akar-akaran.
Dan Linda disuruh pindah posisi duduk nya di kursi kayu yang panjang, seperti semula.
Lidya merasa mual perutnya saat meminum minuman itu, ingin sekali ia muntah kan jampi itu. Karena selain rasanya pahit, bau nya pun sangat aneh.
Namun nenek Peki menyuruh Lidya untuk menghabiskannya. Lidya yang perutnya saat ini sangat mual, akhirnya ia memuntahkan jampi itu.
Nenek Peki dibuatnya marah, tatapan tajam nenek Peki membuat Lidya ketakutan.
Nenek Peki berdiri dari duduknya untuk kembali kedapur. Nenek Peki membuat lagi ramuan itu.
Lali di bawanya lagi kedepan dan diberikan ke Lidya. Kali ini nenek Peki berpesan harus di habiskan. Kalau tidak proses nya akan lebih panjang dan lama.
Lidya pun memaksakan dirinya untuk meminum habis ramuan itu. Dan sekali lhep, tersisa gelas kosong.
Nenek Peki pun menyeringai lebar, terlihat dia sangat senang. Sambil menunggu reaksi jampi yang diminum Lidya.
Nenek Peki mengambil gunting yang terletak jadi satu dengan pisau dan peralatan lainnya di nampan stainless.
Saat nenek Peki mengacungkan gunting itu kearah Lidya, Lidya sangat ketakutan. Ia langsung menyeret tubuh nya agak sedikit menjauh dari nenek Peki.
Melihat tingkah laku Lidya, nenek Peki tertawa lebar. Namun tertawa nenek Peki membuat Linda dan Lidya ketakutan. Nenek Peki mulai mendekati Lidya dan mengambil ujung rambut Lidya dengan cara mengguntingnya.
Hati Lidya dan Linda sangat lega, karena hanya rambut yang nenek Peki gunting.
Hari pun semakin sore, langit sudah nampak gelap. Namun prosesnya masih belum di lakukan. Sepertinya mereka berdua akan bermalam di gubuk bambu nenek Peki.
Setelah beberapa menit, akhirnya jampi-jampi itu mulai bereaksi. Perut Lidya mulai mules, rasanya seperti diaduk-aduk.
__ADS_1
Linda tidak tega melihat anaknya yang saat ini sedang kesakitan. Ingin sekali ia memeluk anak perempuan nya itu. Namun dilarang oleh nenek Peki. Dan Linda takut untuk membantah nya.
Lidya terus memegangi perutnya, tubuhnya berguling-guling diatas dipan kayu yang hanya beralaskan tikar.
Dan kali ini darah segar keluar dari jalan lahir Lidya, nenek Peki tertawa lebar dan bahagia saat melihat darah itu. Ia langsung mengambil kendi kecil dan mengambil beberapa tetes darah yang mengalir di kaki Lidya lalu dimasukkan nya kedalam kendi itu.
Linda yang melihat itu pun bergidik ngeri, rasa mual dan pusing melihat darah itu tak terhindarkan. Akhirnya Linda tak sadarkan diri di atas bangku kayu itu.
Lidya yang saat ini sudah lemas tak bertenaga karena rasa sakit yang ia rasa dan darah segar yang banyak keluar, tak bisa apa-apa saat melihat Linda mama nya terkapar tak berdaya diatas bangku panjang itu.
Lalu akhirnya Lidya juga tak sadarkan diri, karena tak mampu menahan rasa sakit yang ia rasa saat ini. Dengan keadaan seperti ini nenek Peki sangat muda melancarkan aksi nya untuk mengambil janin yang berada di perut Lidya.
Dan proses pengambilan janin itu akhirnya sudah selesai. Namun Linda dan Lidya masih belum tersadar dari pingsannya.
Sedangkan Sarah saat ini sedang liburan ke Jogja bersama semua karyawan nya tanpa terkecuali. Mereka ke Jogja naik kereta bisnis. Rama yang diminta Randy untuk menemani Sarah dan karyawan-karyawan nya itu sangat senang sekali.
Karena menurut Rama inilah yang saat ini Rama inginkan. Dekat dengan orang yang ia suka.
Rama sangat kagum pada Sarah, yang berpenampilan sangat sederhana namun menarik. Rama juga sudah tau tentang Sarah yang sudah menjanda dan beranak satu. Dan itu sangat tidak masalah buat Rama.
Saat di kereta Rama tak berhenti memandangi Sarah yang duduk di kursi sebelah nya.
Sarah duduk dengan Kean. Saat Sarah sedang asyik bercanda dengan Kean, Rama pun tersenyum melihat nya.
Sarah yang tak menyadari sedang di lihat oleh Rama, masih terus mengajak bercanda Kean. Rama yang sangat menikmati indahnya pemandangan didepannya itu, kaget dengan handphone nya yang berbunyi.
Ternyata teman nya sudah menyiapkan Mobil dan hotel yang sudah Rama pesan. Padahal Sarah belum tau tentang ini.
Rama memesan hotel bintang lima untuk Sarah dan karyawan-karyawan nya. Namun Sarah sudah di booking kan kamar Presidential suite yang bersebelahan dengan nya. Dan untuk para karyawan nya Rama sudah memesan yang double room. Jadi satu kamar bisa di isi dengan dua orang.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sudah sampai di stasiun kereta di Jogja. Dan mobil yang menjemput mereka pun juga sudah menunggu.
Sarah sangat kaget, karena sudah ada mobil yang menjemput nya. Ia berpikir kalau ini pasti sudah direncanakan oleh pak Randy.
Mereka naik mobil itu menuju hotel yang sudah dibooking oleh Rama. Sarah berjalan dengan menggendong Kean di temani pegawai hotel menuju kamar sesuai nomor yang diberikan.
Lalu pegawai hotel itu membukakan pintu untuknya, betapa kaget nya Sarah. Karena baru kali ini ia melihat kamar hotel yang begitu mewah. Karena seumur-umur baru kali ini ia tidur di hotel.
Sarah pun masuk bersama Kean, sedangkan pegawai hotel membawakan koper milik Sarah.
Mereka berdua pun malam ini beristirahat dengan tenang di kamar hotel yang super mewah itu.
Damar yang saat ini sedang sendiri dirumah, sangat mengkhawatirkan Linda dan Lidya. Karena sudah malam begini mereka masih belum pulang juga.
Berkali-kali Damar menghubungi Lidya dan Linda n
tapi handphone nya tidak aktif.
Damar takut akan terjadi apa-apa pada mama dan adiknya itu. Ia mencoba menghubungi Bianca, karena menurut Damar mungkin saja mereka berdua pergi bersama.
Namun handphone Bianca juga tak bisa di hubungi. Entah ada masalah apa, akhir-akhir ini Bianca sangat sulit di hubungi. Dan Damar pun tak tahu alasan Bianca.
Malam ini Damar sangat kesepian, karena dirumahnya tak ada orang sama sekali. Ingin keluar pun sekarang Damar tak punya kendaraan.
Jangankan kendaraan, uang di dompetnya saat ini hanya tinggal pecahan sepuluh ribuan. Sedangkan beberapa lamaran yang sudah di kirim ke beberapa perusahaan masih belum ada panggilan lebih lanjut.
Akhirnya Damar memutuskan untuk merebahkan tubuhnya, dan mengistirahatkan otak nya. Agar besok pagi saat ia bangun, otak nya sudah dapat digunakan untuk berpikir secara jernih.
Saat mata di pejamkan, tapi otak Damar masih terus berpikir tentang Linda dan Lidya. Lalu ia kembali terbangun, lalu ia pergi kedapur untuk membuat kopi.
Mungkin dengan meminum kopi, Damar bisa menenangkan pikirannya saat ini. Damar pun membawa kopi itu ke sofa ruang tamu, dan meletakkan nya diatas meja. Dia duduk di sofa sambil menghisap rokok dan sesekali ia menyeruput kopi hitam yang agak sedikit pahit.
Kopi di cangkir habis, dan Damar pun terlelap di atas sofa ruang tamunya.
__ADS_1