
Ternyata, dua perempuan tukang nyinyir itu di giring ke kasir oleh satpam yang saat ini sedang bertugas.
Aku dan Sinta yang saat ini masih berdiri di depan kasir, melihat apa yang terjadi pada mbak Ambar dan mbak Veni saat ini.
"Apa kalian melihat ku seperti itu?!," ucap mbak Ambar dengan kedua pasang matanya melotot kearah ku.
Aku dan Sinta tak menjawab dengan sepatah kata pun, hanya saja kami berdua terus menatap mereka berdua sampai mereka berhenti di depan kasir.
"Maaf, Bu. Ibu bisa menyelesaikan dulu tagihan pembayaran perawatan yang telah ibu berdua lakukan di salon kami." ucap pegawai kasir itu dengan sangat sopan.
"He, asal kamu tau!!. Aku tak ada niatan untuk tak bayar semua tagihan perawatan ku dan melarikan diri dari sini!!!, aku kesini juga bawa uang!!." teriak mbAk Veni dengan sangat kencang, sehingga semua pengunjung salon ini yang sedang menunggu antrian pun langsung memandang kearah nya.
"Kenapa kalian memandang ku seperti itu?!," ucap mbak Veni dengan murka nya, saat ia menyadari kalau saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian di salon ini.
"Asal kamu tau!!! Aku ini teman dekat pemilik salon ini!!, jadi aku bisa membuat kalian berdua yang telah mempermalukan aku di sini, kehilangan pekerjaan!!." ancam mbak Veni pada petugas kasi dan pada satpam itu.
Namun mereka berdua hanya diam, seperti tidak takut dengan apa yang di katakan oleh mbak Veni.
"Aku akan mengingat-ingat wajah kalian berdua, karena kalian sudah mempermalukan ku di depan orang banyak." ancam mbak Veni. Itulah salah sikap mbak Veni yang sangat aku tidak suka. Dia dengan mudah mengancam orang yang di bawah nya. Walau mereka tak berbuat salah.
"Segera bayar semua tagihan itu, Ven. Dan segera kita tinggal kan tempat ini. Saya sangat malu dengan perlakuan buruk mereka!!, Dikira aku ini orang miskin yang tak mampu bayar, apa?!," sahut mbak Ambar.
"Suami ku itu pengusaha sukses, jadi aku sangat mampu sekali membayar semua uang perawatan yang tak seberapa itu!!," ucap mbak Ambar lagi dengan menyombongkan diri nya.
"Hmmm.... pengusaha sukses? Hahahaha..." celetuk Sinta. Seperti nya ucapan yang di katakan Sinta sengaja ia katakan pada mbak Ambar. Karena ia tau kalau suami mbak Ambar mempunyai istri muda lagi, yang tak lain adalah Lidya mantan adik ipar ku. Yang saat ini menjadi tetangga Sinta.
"Apa maksud ucapan mu?!, apa kamu tidak percaya kalau suami ku itu pengusaha yang kaya raya?!," mbak Ambar sangat marah mendengar ucapan Sinta.
"Percaya sih." jawab Sinta dengan santai.
__ADS_1
"Karena suami anda itu kaya, anda harus hati-hati." ucap Sinta lagi.
"Memang kenapa aku harus hati-hati?!," tanya mbak Ambar dengan berkacak pinggang dan menatap Sinta.
"Ya, biasanya kalau lelaki itu sudah kaya, pasti di luar punya wanita idaman lain." lanjut Sinta.
Setelah berkata, Sinta pun tersenyum seperti mengejek pada Ambar.
Berani juga Sinta berbicara seperti itu pada mbak Ambar. Aku akui, Sinta memang tak pernah takut kalau memang dia tak salah.
"Yuk Sarah kita pulang!," ajak Sinta, lalu ia menarik tangan ku. Dan aku pun berjalan di belakang Sinta.
"He, Sarah!!!," panggil mbak Ambar. Aku pun menoleh kebelakang kearah Ambar.
"Aku tau, kamu pasti sedang menertawakan aku karena kejadian ini, kan?!!. Asal kamu tau, uang ku banyak di dalam sini." ucap mbak Ambar dengan suara yang sangat keras sambil menepuk-nepuk tas nya.
Aku dan Sinta yang mendengar nya, hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu mbak Ambar.
Sampai di luar salon aku dan Sinta pun tertawa terbahak-bahak mengingat tingkah laku mbak Ambar dan mbak Veni yang seperti anak kecil.
"Sudah tua tapi kelakuan masih seperti anak SD." celetuk Sinta.
Dan aku hanya tersenyum dengan apa yang di ucapkan Sinta.
"Aku tak bisa membayangkan, bagaimana sengsara kamu hidup di lingkungan yang toxic seperti itu, Sar." ucap Sinta sambil menyetir mobil.
"Tak perlu di bayangkan, Sin. Kalau kamu membayangkan dengan kehidupan rumah tangga ku yang selalu gagal ini. Aku yakin, kamu akan semakin takut untuk berumah tangga." ucapku.
"Padahal tak semua rumah tangga akan berakhir seperti rumah tangga ku. Buktinya masih banyak rumah tangga- rumah tangga yang lain yang baik-baik saja dan bahagia." lanjut ku.
__ADS_1
"Sepertinya aku juga terlalu butuh dengan peran lelaki di hidupku." jawab Sinta.
"Dengan sendiri saja, aku mampu membiayai hidup ku dan kedua orang tua ku di kampung. Aku takut lelaki yang datang padaku, bukanlah lelaki yang baik dan tulis mencintai ku." ucap Sinta lagi.
Kemandirian dan kesuksesan Sinta lah yang membuat ia mempunyai pikiran seperti ini. Dan ditambah lagi dia tau dengan kehidupan rumah tangga ku yang gagal Samapi dua kali.
"Kamu jangan pernah berpikir seperti itu, tidak semua lelaki itu seperti mas Damar dan mas Bima, Sin. Diluar sana masih banyak lelaki baik dan tulus." ucapku pada Sinta.
Drrrttttt
Drrrttttt
"Assalamualaikum...," ku ucapkan salam saat panggilan telepon sudah terhubung.
"Apa maksud mu dengan menjual rumah itu tanpa persetujuan dari ku, Sarah?!," suara mas Bima sangat kencang dan membuat telinga ku sakit.
"Kenapa aku harus meminta persetujuan mu, mas?. Memang kamu punya hak apa pada rumah itu?," tanya ku dari sambungan telepon.
"Ya jelas aku masih punya hak dengan rumah itu, karena aku masih berstatus suami mu." ucap mas Bima dengan percaya diri yang sangat tinggi.
"Kita ini sudah sah bercerai di mata agama, mas. Jadi kamu sudah bukan suami ku lagi. Jadi sekarang, cepatlah kamu urus perceraian kita di pengadilan agama. Agar kita segera resmi bercerai di mata agama dan negara."
Aku sudah sering sekali meminta pada mas Bima, agar segera mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama. Namun mas Bima tak pernah menghiraukan ucapan ku.
"Kalau kamu nekat menjual rumah ini, aku akan membuat pembeli rumah ini tidak betah berada di rumah ini." ancam mas Bima.
"Dan asal kamu tau, saat ini aku berada di rumah ini. Dan kami tahu apa yang telah aku lakukan di rumah mu ini?, tunggu sebentar, aku akan mengirimkan foto terbaru rumah mu ini." lalu mas Bima mematikan telepon secara sepihak.
Pikiran ku pun menjadi tak was-was, takut mas Bima berbuat nekat di rumah ku.
__ADS_1
"Kenapa dengan Bima, Sar?," tanya Sinta yang mungkin melihat kecemasan di wajahku.