
"Kamu ini kenapa sih?, datang-datang main tuduh orang saja!! Lebih baik kamu keluar dari sini. Karena aku sudah tak Sudi melihat mu!!," ucapan pak Handoko berhasil membuat Celvin, Mayang dan Sarah terkejut.
"Jangan-jangan kamu sengaja merencanakan ini semua agar kamu leluasa mendekati suami ku!!," kali ini Bianca mendekati Sarah dan menarik Khimar panjang milik Sarah.
"Auw.... lepaskan Bianca!!!!, Aku sama sekali tak mengerti dengan maksud ucapan mu." Ucap Sarah sambil menahan kesakitan.
"Lepaskan Tante!!!," kali ini Celvin yang maju dan memegang tangan Bianca dengan sangat keras.
Bianca terlihat sangat kesakitan, ia mengernyitkan dahi nya.
"Lepas Celvin!!!," Bianca teriak sambil mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari tangan Celvin.
Celvin pun melepaskannya dengan kasar, sehingga Bianca memegang pergelangan tangannya.
"Ternyata kamu memang wanita murahan ya, Sarah!," kali ini Bianca mengambil handphone nya dan merekam Sarah bersama pak Handoko.
Setelah puas merekam, ia pun kembali memasukan handphone nya ke dalam tas nya.
"Kamu rela melakukan ini, agar hidup mu enak? Agar kamu dan anak mu tidak kelaparan dan tidur di kolong jembatan? Heb.....," Belum selesai Bianca bicara, Sarah pun langsung berdiri dan menampar pipi Bianca.
"Sekali lagi kamu ngomong yang tidak-tidak tentang aku, aku tak segan menampar pipi kiri mu, Bianca!!," ucap Sarah mengancam Bianca.
"Kamu masih bisa mengelak dengan bukti yang sudah ada didepan mata ku ini, Sarah?! Jelas-jelas saat ini kamu sedang bersama suami orang!! Kamu sadar nggak kalau dia itu suami ku!!," ucap Bianca dengan mata melotot menatap Sarah.
"Hah? Suami? Jadi pak Handoko ini suami kamu? trus bagaimana dengan mas Damar? yang status nya juga suami kamu." kali ini Sarah berbicara sambil tersenyum getir pada Bianca, teringat kembali kelakuan Bianca dan Damar saat Sarah masih menjadi istri sah Damar.
"Kamu jangan pernah ikut campur dengan urusan ku!!!, Dan kenapa kamu tega memfitnah ku dengan bicara seperti itu, Sarah?! Aku dan Damar tak mempunyai hubungan apapun. Kita hanya sebatas rekan kerja!," Bianca berakting seakan-akan ia Korban fitnah Sarah.
"Ternyata akting mu keren juga ya, Bi?," Sarah tersenyum sinis pada Bianca.
"Sudah hentikan, Bianca!!!!," ucap Handoko sambil memukul meja.
Seketika Bianca pun terdiam, ia tak berkutik saat Handoko marah. Sebenarnya ia sangat takut kalau suaminya marah, karena apapun bisa terjadi padanya.
"Tujuan mu kesini itu untuk apa?! jangan kamu rusak acara Celvin!!!!," ucap pak Handoko.
"Aku kesini ingin menjelaskan tentang semua yang terjadi, Pi. Aku tak seperti yang kamu kira, tentan foto dan video, aku yakin itu hanya perbuatan Sarah ingin memfitnah ku. Karena Sarah ingin mengambil papi dari ku," ucap Bianca dengan meneteskan air mata.
Plak!!!!
"Jaga ucapan mu!! Jangan sekali-kali kamu memfitnah Sarah hanya agar aku bisa percaya padamu!!!, Sekarang kamu pergi dari sini!!!!!," ucap Handoko sangat geram dengan sikap Bianca.
"Tapi aku mohon jangan usir aku dari sini, Pi. Kamu kan tau, kalau aku tak punya siapa-siapa lagi di sini selain kamu." Bianca memohon dan bersujud di kaki Handoko.
"Lepaskan kaki ku!!! Kalau memang kamu tak punya siapa-siapa di sini. Kenapa kamu melakukan itu padaku?!," Handoko mencoba melepaskan tangan Bianca yang memegang erat kaki nya.
"Sekarang kamu pergi dari sini atau aku akan memanggil sekuriti untuk menyeret mu keluar dari rumah ini?!," Handoko mengancam Bianca.
Bianca pun berdiri dan langsung pergi meninggalkan mereka berempat, tapi sebelum ia keluar dari ruangan itu.
Bianca menghampiri Sarah, "Ingat ya, aku akan membalas semua yang kamu lakukan padaku, lebih kejam dari ini!!!!!," Suaranya pelan namun penuh penekanan.
Namun tak ada rasa takut sedikitpun dihati Sarah dengan ancaman dari Bianca. Karena saat ini ia sudah memegang kartu As milik Bianca.
Kini Bianca masuk kedalam mobil nya, hanya mobil dan apartemennya lah harta yang ia punya dan tidak disita oleh pak Handoko.
Perusahaan, ATM, kartu kredit dan rekening sudah dibekukan oleh pak Handoko. Namun tak menutup kemungkinan suatu saat nanti apartemen nya pun ikut diambil oleh pak Handoko. Itu tergantung sikap Bianca sendiri.
Bianca langsung menghidupkan mesin mobilnya, dan keluar dari halaman rumah pak Handoko.
Setelah sampai di jalan yang agak sepi, ia menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobilnya.
"Kalau kamu bisa mempermalukan aku didepan Sarah, aku juga akan mempermalukan mu di depan kolega-kolega bisnis mu tua bangk4!!!," geram Bianca.
"Aku yakin setelah video ini viral, semua kolega bisnis dan semua investor mu akan menarik semua kerja sama dengan mu," ucap Bianca tersenyum sinis.
Lalu ia mengambil handphone yang berada di dalam tas nya, ia mencoba mengunggah video yang ia rekam tadi. Dia hanya merekam Sarah dan pak Handoko saja. Tidak dengan Celvin dan Mayang, yang jelas-jelas mereka juga berada di situ.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku papi?, Aku kurang apa di mata mu papi?," itu caption yang Bianca tulis.
Seakan-akan ia menjadi korban di masalah ini. Dengan sangat percaya diri, ia pun mengklik tombol ok diakun Facebook dan Instagram nya.
Kini Bianca tertawa jahat setelah melihat video yang ia posting berhasil di unggah.
Lalu ia mengembalikan handphone nya didalam tas dan menghidupkan kembali mesin mobilnya. Kini ia meluncur pulang kerumah Damar.
Namun sebelum nya, ia ingin mampir ke toko roti milik Sarah. Sampai detik ini Bianca belum tau kalau sebenarnya toko roti itu milik Sarah.
Yang dia dan Damar tau, Sarah hanya bekerja di toko roti itu.
"Duh, perut'ku lapar banget," gumam Bianca sambil tangan kirinya memegang perut dan tangan kanannya memegang setir mobil.
"Ini gara-gara kelakuan Lidya sialan itu!!!, Bisa-bisanya ia masak yang rasanya tak enak sama sekali!!," geram Bianca.
"Mending aku ketoko roti tempat Sarah bekerja aja, sekalian aku ingin bicara dengan owner nya untuk memperlihatkan video yang aku rekam tadi," ucap Bianca dengan tersenyum sinis.
"Aku yakin, kali ini ia akan dipecat dari pekerjaan nya itu. Dan aku pastikan ia akan menjadi gembel bersama anak nya ha ha ha," Bianca tertawa lebar terlihat sangat puas dengan ide yang ia punya.
Kini ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai ditoko tempat Sarah bekerja.
Setelah sampai, ia segera memarkir mobilnya tepat didepan toko roti milik Sarah.
Ia segera turun dan berjalan masuk kedalam toko. Lalu ia menaruh tasnya diatas etalase kaca tempat kue-kue yang di pajang.
Reni terus memperhatikan setiap gerakan Bianca, karena Reni sudah tau sikap Bianca yang suka bikin keonaran disini.
"Ada yang bisa saya bantu, ibu?," sapa Reni dengan nada sangat sopan.
"Aku ingin ketemu owner toko ini," ucap Bianca sambil menunjuk etalase kaca didepan nya.
"Maaf Bu, owner kami saat ini sedang keluar." ucap Reni.
"Masa sih setiap kali kesini pasti owner nya keluar!!! Kamu yakin jujur padaku?!, kalau kamu berbohong padaku, aku pastikan kamu akan dipecat dari sini!!," ucap Bianca sangat ketus.
"Aku semakin penasaran dengan pemilik toko ini, kenapa sangat sulit sekali untuk ditemui!," ucap Bianca dalam hati.
Lalu ia memutuskan untuk membeli beberapa potong kue. Sedangkan pembeli saat ini sangat ramai, ada beberapa customer duduk dan bermain handphone sambil menunggu pesanan nya.
"Loh bukannya ini owner SKcake?!," ucap salah satu pelanggan yang sedang duduk dan bermain handphone.
"Kok dia bersama pemilik perusahaan terbesar dikota ini? Bukankah ini pak Handoko pemilik Handoko group?," lanjutnya lagi. Dan menunjukkan video itu pada seseorang yang ada disampingnya.
"Iya, benar. Itu pemilik Handoko Group, wah hebat ya Bu Sarah bisa ketemu dengan orang terkaya di kota ini." sambung customer yang lain yang melihat video itu.
"Hah?, Sarah pemilik toko roti ini?," gumam Bianca dalam hati, ia sangat kaget mengetahui kalau pemilik toko sebesar ini adalah Sarah yang ia anggap kampungan.
"Tapi kenapa caption si pengunggah seperti itu?," ucap pemilik handphone alias orang yang pertama melihat video itu.
Lalu ia mencoba melihat profil pengunggah video itu, dan sangat jelas kalau pemilik akun itu adalah Bianca. Orang yang berada tepat di depan nya itu.
"Jadi ibu ini yang mengunggah video itu?," tanya si customer pada Bianca.
"Ini lah saat nya aku menjatuhkan nama baik Sarah didepan pelanggan kue-kue nya. Maafkan aku Sarah, karena kamu lah yang memulai permainan ini." ucap Bianca dalam hati.
Hiks hiks hiks hiks hiks ....
Bianca menangis saat di cerca pertanyaan itu oleh orang yang berada di depannya.
"Karena Sarah lah, sekarang aku di tendang oleh suami ku, hiks hiks hiks." kali ini ia menangis lebih keras dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Jadi benar ibu ini istrinya pemilik Handoko group?," salah satu customer yang ada disitu juga mengajukan pertanyaan.
Bianca menganggukkan kepalanya, sambil terus menangis dalam kepalsuan.
"Wah, tak kusangka pemilik toko roti ini ternyata pelakor." ucap salah satu ibu-ibu yang memakai kaos oblong putih.
__ADS_1
"Iya, kelihatan nya alim ya? Karena selalu pakai gamis dan Khimar panjang." sahut ibu yang sedang hamil tua sambil memegang perutnya.
"Jangan mudah percaya dulu, kita tidak tau yang terjadi di sana. Siapa tau mereka hanya bertemu untuk membicarakan kerjasama. Secara kan pak Handoko itu pemilik beberapa perusahaan di kota ini, sedangkan Bu Sarah pemilik toko roti yang lumayan ternama di kota ini. Siapa tau pak Handoko memerlukan konsumsi untuk acara-acara penting dikantor nya." Kali ini asumsi positif dilontarkan oleh seorang bapak-bapak yang terlihat wajahnya sangat teduh.
"Iya, bisa jadi seperti itu." Sahut seorang ibu yang memakai dress warna merah.
"Aku juga berfikir sama dengan bapak ini. Kita tidak boleh berfikir buruk terlebih dahulu, tanpa mengetahui penjelasan dari kedua belah pihak." ucapan terlontar dari ibu yang memakai Khimar panjang berwarna hitam.
Toko roti Sarah pun dalam sekejap menjadi tempat tanya jawab tentang video yang di unggah oleh Bianca.
Bianca saat ini dikerubungi banyak orang yang ingin tau tentang kebenaran video itu.
Bianca layaknya seorang artis yang di hujani dengan banyak pertanyaan.
Ini lah kesempatan Bianca untuk berakting seakan-akan ia lah yang tersakiti.
Tak hanya satu orang namun banyak orang merekam kejadian siang ini.
Ada yang hanya merekam dan ada pula yang siaran langsung di Facebook.
Hati Bianca tertawa bahagia melihat ini semua, ini lebih dari rencana yang Bianca susun.
Yang awalnya ia hanya ingin Sarah dipecat dari pekerjaan nya. Namun yang ia dapat lebih dari itu. Yaitu Bianca berhasil membuat malu Sarah di depan umum khususnya didepan para langganan-langganannya.
Reni yang melihat keributan ini pun, tak hanya tinggal diam. Ia lari kebelakang untuk mengambil handphone dan segera menghubungi Sarah.
Reni tau saat ini Sarah ada dimana, memang benar Sarah ada dirumah pak Handoko. Tapi bukan untuk berduaan dengan pak Handoko. Melainkan menghadiri undangan makan siang dari pak Handoko yang akan menjadi mertua adik perempuan satu-satunya Sarah.
"Assalamualaikum, Bu." salam Reni saat panggilan telepon sudah terangkat.
"Bu, gawat. Ibu bisa pulang sekarang? ditoko terjadi keributan yang disebabkan oleh ulah ibu Bianca." Reni langsung memberi tahu Sarah lewat telepon.
" Waalaikumsalam, Ok Ren, aku segera pulang." Sarah segera menutup teleponnya setelah mengucapkan salam pada Reni.
"Ada apa mbak? Sepertinya ada yang nggak beres di toko?," tanya Mayang sangat penasaran.
"Bianca Berulah ditoko may," jawab Sarah.
Handoko, Celvin dan Mayang pun tercengang mendengar ucapan Sarah barusan.
"Aku minta maaf pak, aku pamit pulang dulu. Bianca membuat keributan di toko roti ku, dan sepertinya para karyawan ku tak bisa menghandle masalah ini sehingga mereka menelpon ku, meminta untuk aku segera pulang." ucap Sarah sambil menelangkupkan kedua telapak tangan nya.
Handoko pun menganggukkan kepala, yang artinya ia mengerti dan menyetujui permintaan Sarah.
"Aku ikut kamu mbak," ucap Mayang. Lalu ia memalingkan pandangan nya pada Celvin. Celvin yang paham dengan maksud Mayang pun menganggukkan kepalanya.
"Kalau Celvin mengijinkan, silakan ikut." ucap Sarah.
Mayang dan Sarah pun masuk kedalam mobilnya dan Sarah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ia ingin segera tiba di ruko miliknya. Sedangkan Celvin dan pak Handoko juga mengikuti mereka dari belakang.
"Apalagi yang dilakukan istri papi itu?!," ucap Celvin sambil berdecak.
Handoko hanya diam saja, karena tak ingin berdebat dengan anak semata wayangnya mengenai Bianca.
Karena dari awal Celvin tak pernah setuju kalau papi nya itu menikah lagi dengan Bianca.
Berkali-kali handphone pak Handoko berbunyi, banyak pesan masuk kedalam aplikasi WA nya.
"Kok tumben banyak pesan masuk, Pi?," tanya Celvin yang masih terus konsentrasi nyetir.
"Bukannya kalau papi bersama Celvin, semua yang menghandle adalah Sinta?," lanjut Celvin yang sangat heran, karena tak seperti biasanya saking banyaknya pesan masuk ke handphone papi nya.
"Entah lah, papi juga nggak tau. Tumben-tumben saja handphone ku berbunyi seperti ini," jawab Handoko.
"Coba papi buka, siapa tau itu hal penting." ucap Celvin.
__ADS_1